
Tinggallah Frisca yang duduk lemas di samping tempat tidur ayahnya.
Sambil menggenggam tangan ayahnya, Frisca pun tertegun menatap dalam,wajah ayahnya yang terpejam.
Ternyata sikap jutek nya Frisca terhadap sekitarnya, tak bisa Ia lakukan terhadap ayahnya.
Pak Herman sangat menyayangi Frisca, hingga Frisca pun sangat menyayangi ayahnya.
Beliau, selalu bersikap sabar, walaupun Frisca memiliki watak yang keras dan pembangkang.
Hingga, Ia pun mau dipekerjakan di perusahaan, walaupun dengan posisi yang tidak seberapa dibanding dengan posisi ayahnya yang seorang pemegang saham.
Pak Herman selalu mengajarkan kebaikan dan rasa sabar terhadap putrinya, itulah mengapa Frisca hanya ditempatkan sebagai sekertaris diperusahaannya.
Semuanya Ia lakukan, agar putrinya itu tidak terlalu manja dan bisa menjadi wanita yang mandiri ketika orang tuanya kelak tidak ada, khususnya bila Pak Herman tiada.
Frisca pun berusaha untuk menjadi anak yang diharapkan oleh ayahnya, oleh karena itu Ia tidak pernah membangkang dan sangat takut kepada ayahnya.
Frisca tidak ingin ayahnya marah ,dengan sikapnya yang selalu menimbulkan masalah.
Ia selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh ayahnya, walaupun terkadang bertentangan dengan hati dan pikirannya .
Karena lelah dengan lamunannya memikirkan sang ayah, Frisca pun tertidur.
Entah berapa lama Ia tertidur.
Frisca terbangun oleh suara decit pintu terbuka.
KRETT...
Ternyata sudah malam, kulihat di jam dinding ruangan , menunjukkan jam 8 malam.
Dokter masuk bersama seorang suster.
"Maaf Mba, pasien di periksa dulu" kata suster sambil mempersilahkan Dokter untuk segera melaksanakan tugasnya.
Seperti biasa,Dokter memeriksanya dengan telaten.
Frisca memperhatikan ayahnya dan tiba-tiba Ia melihat tangan ayahnya bergerak.
"Dok...tangan ayah bergerak..." Frisca hampir berteriak.
Dokter hanya tersenyum melihat itu, kemudian melanjutkan kembali pemeriksaannya.
Setelah selesai, sang dokter menghadap ke arah Frisca.
"Alhamdulillah...ada perkembangan, sepertinya Pak Herman akan mulai sadarkan diri setelah ini" lanjut dokter tersebut.
Frisca sedikit lega dengan penjelasan dokter dan Ia punya harapan , kalau ayahnya cepat sembuh.
"Sabar saja.."
"Iya Dok...Terima kasih" Frisca menganggukkan kepalanya.
Sepeninggal dokter, Frisca langsung menghubungi Mamanya dan mengatakan agar Mamanya jangan terlalu khawatir akan kondisi ayahnya.
__ADS_1
Ia menceritakan analisis dokter tadi, mengenai perkembangan kesehatan ayahnya.
Tante Elis pun sedikit lega mendengar kabar tersebut, setidaknya untuk malam ini bisa tidur dengan nyenyak, pikirnya.
Setelah menutup pembicaraannya dengan Mama nya, Frisca lalu mendekati kembali tempat tidur sang ayah.
Di tatapnya dengan penuh pengharapan, siapa tahu saja ada keajaiban malam ini , pikirnya.
Tiba-tiba perut Frisca berbunyi.
Ya, hari ini ,karena sangat khawatir terhadap ayahnya, membuat Ia lupa untuk makan.
"Daripada ikut sakit, cari makan dulu deh" gumam Frisca.
Dengan berat hati,Frisca melangkah keluar ruangan untuk mencari makanan.
Sesampainya di depan Rumah Sakit, Frisca segera menuju kantin yang berada di ujung gedung dekat parkiran.
Untung suasana kantin masih ramai, Frisca tidak terlalu takut walaupun kondisinya malam hari.
Setelah memesan beberapa makanan, yang berat dan ringan , kemudian Frisca kembali menuju ruangan tempat ayahnya dirawat.
Tanpa lirik kiri kanan, Frisca langsung melangkahkan kakinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Frisca..." sapa seseorang dari belakang.
Friscs sedikit tertegun, karena siapa yang memanggilnya di tempat ini dalam keadaan malam hari.
Walaupun ragu, Ia membalikkan badan.
Frisca berdiri tertegun dan memicingkan mata ke arah pria tersebut.
"Ini aku...Viandra.." sahut pria tersebut.
Viandra memang sahabat Axcelvian, namun Ia kenal pula dengan Frisca, karena ayah Frisca yang seorang pengusaha.
Sehingga, untuk orang sepintar Viandra tidak mungkin tidak mengenal para pengusaha yang berada di kota tersebut.
Makanya tidak sulit untuk Viandra dijadikan sekretaris oleh Pak Sinatra, karena Ia benar-benar sudah memahami dunia perbisnisan, walaupun Ia seorang laki-laki.
Setelah yakin Frisca mengenalinya, Viandra pun langsung menghampiri.
"Ooh ..kamu.." sapa Frisca.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Viandra.
"Ayah aku sakit, kamu lagi apa?" Frisca balik bertanya.
"Aku mengantar keponakan, Ia jatuh dari tangga tadi" jelas Viandra.
"Aku antar ya..sekalian jenguk aja" lanjut Viandra
Frisca hanya mengangguk, lalu melangkahkan kaki nya menuju ruangan sang ayah ,yang diikuti Viandra.
__ADS_1
Tanpa banyak pembicaraan , mereka pun sampai diruangan dan langsung masuk melihat kondisi Pak Herman.
"Kenapa bisa masuk sini ,Fris? " tanya Viandra memecah keheningan.
"Aku juga tak tau pasti, yang membawa kesini Mama, aku sedang di kantor" jelas Frisca.
"Ooh..." hanya itu yang Viandra ucapkan.
Mereka memang sedikit kaku ketika bertemu, karena mungkin masih ada sedikit kecanggungan akibat cinta Viandra pernah ditolak oleh Frisca.
Viandra sendiri tidak pernah tahu kalau Frisca mencintai sahabatnya , yaitu Axcelvian Sinatra.
Mereka bertiga memang pernah menjadi teman bermain, ketika menduduki bangku kuliah dulu,saat Axcelvian dan Frisca kuliah, dan Viandra sudah mulai memasuki dunia kerja.
Karena malam yang semakin larut, membuat Viandra tidak bisa berlama-lama di tempat tersebut
Dan lagi, Ia harus mengecek keponakannya yang tadi Ia antar.
"Fris, maaf aku gak bisa lama-lama ya...keponakanku takut nanyain" kata Viandra.
Frisca menoleh ke arah Viandra, dan tersenyum.
"Ya..Ndra..gak apa-apa" sahutnya singkat.
"Salam ya buat Om Herman, semoga lekas sembuh dan salam ku buat Tante Elis" jelas Viandra sambil melambaikan tangan berlalu dari ruangan.
Frisca hanya mengangguk dan kembali fokus pada ayahnya.
Karena sedikit bosan berdiam diri sendiri, Frisca mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
Meng scroll beranda dan melihat-lihat status Whatsappnya.
Frisca teringat kalau Ia belum makan ,karena perutnya kembali berbunyi.
"UPS..." sambil memegangi perutnya.
Kemudian, Ia mulai menyantap makanan yang tadi dibeli di kantin dekat parkiran sebelum bertemu Viandra.
Selesai makan,Frisca tertegun kembali memperhatikan ayahnya.
Namun, karena rasa kantuk yang menyerang karena kenyang, membuat Frisca memutuskan untuk tidur walaupun seperti tadi, sambil duduk di kursi samping tempat tidur ayahnya.
Ruangan menjadi hening, hanya tinggal suara detak jam dinding yang terdengar.
Frisca terlelap, sampai Ia tidak memperhatikan gerakan-gerakan kecil dari tangan dan mata ayahnya.
Malam terus beranjak dan siap-siap untuk berganti hari.
Kokok ayam pun mulai terdengar, seiring dengan suara adzan yang berkumandang dari sekitar Rumah Sakit tersebut.
Frisca mulai tersadar, Ia menggeliatkan tubuhnya yang pegal-pegal karena kondisi tidurnya semalam.
Dilihatnya jam dinding, menunjukkan pukul 5 pagi.
Betapa kagetnya ,ketika melihat sang ayah menggerakkan tangannya dan mulai menggerakkan kedua matanya.
__ADS_1
Frisca memperhatikan dengan seksama dan berdebar-debar seperti tidak bernafas.
Ayahnya kemudian membuka mata, walaupun belum memperhatikan keberadaan Frisca disampingnya.