Dilema Hidup

Dilema Hidup
19. Lift Berhenti


__ADS_3

Sementara itu, selama Frisca mengambil cuti merawat ayahnya, pekerjaan Frisca di handle oleh Sabrina, yang notabene hanya seorang resepsionis baru, dan merupakan karyawan baru pula.


Sudah ketiga hari nya sekarang, Sabrina membantu Pak Handi dalam menyelesaikan berkas-berkas yang tertumpuk karena Frisca tidak masuk.


Dengan kepintaran Sabrina, semua pekerjaan yang Ia berikan dengan cepat diselesaikan.


Pak Handi sangat menyukai hasil kerja Sabrina.


Bahkan Pak Handi berpikir untuk mengganti posisi Frisca oleh Sabrina.


"Sabrina..terima kasih atas kerjasamanya, saya harap kamu bisa mempertahankan kinerja kamu" ucap Pak Handi.


Sabrina hanya tersenyum bangga atas hasil kerjanya.


Dalam hatinya tidak menyangka kalau pekerjaannya bisa memuaskan.


"Terima kasih Pak" balas Sabrina.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Sabrina segera meninggalkan ruangan Pak Handi.


Tanpa Ia sadari, Pak Axcel terus memperhatikan dan menguntitnya ketika Sabrina keluar dari ruangan tersebut.


Tanpa berpikiran apa-apa, Sabrina melangkahkan kakinya menuju lift.


"Sabrina.." panggil Pak Axcel.


Dengan sedikit kaget , Sabrina menoleh ke arah suara tersebut.


"Boleh aku temani? " tanya Pak Axcel setelah berdiri tepat di depan Sabrina.


Sabrina hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Mereka masuk ke dalam lift secara bersamaan.


Pintu lift tertutup, suasana hening di dalam tanpa pembicaraan.


Sabrina yang kaku, karena hanya berdua dengan seorang pria yang baru Ia kenal, walaupun itu atasannya.


Sementara, jantung Axcel berdetak sedikit kencang karena rasa yang ada dalam hatinya,yang walaupun grogi tetap bersikap tenang .


Tiba-tiba lift terhenti dan tombolnya tidak berfungsi.


Sabrina kaget bukan main, raut mukanya berubah menjadi panik.


"Ma...maaf Pak...gimana ini..." tanya Sabrina terbata karena panik.


Axcel hanya melirik santai, padahal Ia pun sama kagetnya, sambil mencari sinyal handphonenya untuk mencari bantuan,Ia berusaha tenang.


Sabrina semakin bingung, walaupun Ia berusaha tenang.


"Tenang ...ada sedikit kesalahan instalasi listrik, sedang dibetulkan dulu" terang Axcel santai.


Sabrina terdiam mendengarkan, Ia mengeluarkan handphonenya untuk mengurangi rasa panik di otaknya.


Namun sayang, handphone Sabrina tidak secanggih punya Axcel, jadi tidak berfungsi seperti yang Ia inginkan.


Sabrina kembali terdiam sedikit melamun, tiba-tiba lift bergerak , yang membuat Sabrina kaget dan dengan refleks langsung memeluk lengan Pak Axcel sambil membenamkan wajahnya disana.


Axcel tentu saja kaget, namun ada sedikit senyum tipis di bibirnya, jantungnya semakin berdetak kencang, wajahnya menggambarkan hatinya.


Tanpa sadar tangan Axcel membelai rambut Sabrina.


TRIINGG...

__ADS_1


Pintu lift terbuka.


Ketika mendengar suara lift dan pintu terbuka, Sabrina tersadar, dan sangat kaget dirinya memeluk lengan Axcel.


"Ma...maaf Pak.." ucap Sabrina.


Langsung Ia melepaskan pelukan tersebut dan melangkah mendahului Axcel.


Wajah Sabrina terlihat merah karena malu.


"Gak apa-apa" sahut Axcel sambil melangkahkan kakinya keluar dari lift.


Karena kejadian lift yang sedikit macet tadi, membuat Sabrina lupa untuk memesan gojek padahal hari sudah semakin larut.


Ia mengambil handphonenya untuk segera memesan gojek, namun Axcel nenghampiri.


"Aku antar ya ,udah malam.." ucap Axcel.


"Tidak usah Pak, nanti merepotkan, saya udah biasa pulang sendiri" jawab Sabrina sambil tersenyum.


Axcel tidak akan menyia-nyiakan kesempatan walaupun hanya sesaat.


"Ayo...gak baik perempuan pulang malam sendiri" lanjut Axcel.


Sabrina terdiam tanpa menolak, Ia hanya mengikuti langkah kaki Axcel menuju parkiran.


Axcel menekan remote ditangannya untuk membuka mobilnya.


Dan segera Ia membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Sabrina masuk.


Sabrina tersenyum menoleh Axcel, ketika membukakan pintu.


Hati Axcel melayang melihatnya, namun Ia tahan dengan hanya membalas senyuman Sabrina.


" Duh...ko jadi naik ini ya..." gumam Sabrina sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling mobil.


Ada rasa bangga juga dalam hatinya bisa naik mobil mewah.


Maklum, keluarga Sabrina bukan dari orang yang berada.


Axcel segera masuk setelah menutup pintu.


Ia segera menstater dan melajukan mobil nya membelah jalanan Ibukota yang lengang.


Tak ada pembicaraan selama perjalanan, yang terdengar hanya suara mesin mobil yang melaju dan suara klakson yang sesekali di tekan.


Sabrina hanya terdiam menatap jalanan dan hanya memberikan petunjuk kemana Axcel harus mengantarkannya.


Tak berapa lama, sampai di depan rumah Sabrina.


Axcel turun duluan untuk membukakan pintu.


Sabrina segera turun setelah Axcel membukakan pintu.


"Terima kasih Pak...: ucap Sabrina sambil membungkukkan badan.


Axcel hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, ketika Sabrina masuk ke dalam rumahnya.


Axcel kembali masuk ke mobil dan mulai melajukan menuju rumahnya.


Hatinya tak bisa dibohongi , kalau telah terisi oleh seorang gadis bernama Sabrina.


Axcel tersenyum sendiri selama perjalanan menuju rumahnya.

__ADS_1


Ia teringat kejadian yang menggelikan tadi ketika di dalam lift.


"Andai.. " gumam Axcel yang membayangkan dirinya bisa memeluk Sabrina.


"Ah ...gila.." lanjutnya lagi dengan tersenyum.


Sesampainya di rumah, Sabrina langsung masuk kamar dan membersihkan diri.


Sabrina langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Karena tidak keluar kamar lagi, mama masuk ke kamar Sabrina.


"Vi...gak makan dulu?" tanya mama sambil menghampiri Sabrina yang sedang rebahan.


"Gak ma...gak lapar..." sahut Sabrina sambil menoleh .


"Yang nganter kamu tadi siapa?" tanya mama tanpa basa basi.


"Teman ma..." sahut Sabrina.


"Ooh..." mama hanya membulatkan mulutnya.


Ya, memang benar, pikir Sabrina.


Pak Axcel bukan siapa-siapa, lalu mau bilang apa.


Tapi mama seakan tidak percaya atas jawaban Sabrina.


"Hati-hati Vi...kalo berteman, apalagi ama orang kaya" jelas mama.


Sabrina hanya terdiam tak menjawab, karena pikirnya memang tidak ada apa-apa.


Mama pun meninggalkan kamar Sabrina.


Sepeninggal mama, Sabrina termenung, bukannya tidur malah melamun.


Ia membayangkan tingkah gilanya yang tiba-tiba memeluk lengan Pak Axcel ketika lift bergerak.


Saat itu, Sabrina pikir lift itu akan jatuh, makanya Ia mencari pegangan dulu.


Nyatanya lift tersebut tidak apa-apa dan langsung terbuka normal.


Sabrina memukul jidatnya sendiri, kenapa pula Ia harus memeluk lengan Pak Axcel.


Sangat memalukan, pikirnya.


Sabrina berharap tidak bertemu kembali dengan Pak Axcel, agar rasa malunya tidak teringat terus.


Berbeda dengan Axcel, sesampainya di rumah, Ia tidak menghiraukan mamanya, yang telah menyediakan makan malam dan sabar menunggu Axcel pulang.


Yang Axcel bayangkan hanya gadis pengisi hatinya.


Ia berharap akan selalu bersama dengan gadis tersebut dan bisa memiliki sepenuhnya.


Senyum Axcel tak lepas dari sudut bibirnya.


Mamanya ,mulai memperhatikan perubahan yang terjadi pada putra bungsunya tersebut.


Namun sebelum adanya ucapan kepastian dari Axcel, Ia tidak akan menggubris tingkah aneh tersebut.


Yang ada dalam pikiran mamanya saat ini, Axcel masih tetap sendiri yang belum punya tambatan hati.


Sehingga niat untuk menjodohkan Axcel pun masih ada dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2