
Sepeninggal Sabrina, tinggallah para atasan yang selalu dengan loyalitas nya .
Mereka selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaan yang mereka jadikan tempat kerja saat ini.
Selalu merelakan pulang malam demi kemajuan perusahaan.
Hanya bedanya Pak Handi sudah memiliki keluarga, sementara Pak Axcelvian masih sendiri alias bujangan.
Sehingga tak sedikit wanita yang selalu melirik ketika Pak Axcel lewat di depan mereka.
Pak Axcel pun selalu bersikap ramah tanpa maksud apapun terhadap setiap orang yang menyapanya.
Sehingga, wanita mana yang tidak menginginkan Pak Axcel, pria yang memiliki jabatan, tampan , ramah lagi.
Bahkan, sekretaris nya pun waktu itu, Frisca, tergila-gila oleh Pak Axcel.
Mungkin pula karena memendam rasa cintanya, semenjak mereka kuliah.
Tapi, sampai saat ini Axcel belum menemukan tambatan hati.
Bahkan, cinta Frisca pun yang termasuk teman kuliahnya ,Ia tolak.
Padahal, di gedung ini,wanita cantikpun mencapai ribuan.
Semuanyapun bertanya, bahkan ada yang menganggap Pak Axcel tidak suka wanita alias homoseksual yang dalam arti kata, suka sesama jenis.
Karena mungkin tidak pernah berjalan dengan seorang wanita, bahkan terlihat akrab dengan Pak Handi ataupun sekretarisnya yang sekarang yaitu Viandra, yang jelas mereka laki-laki.
Mungkin itu hanya pemikiran sebagian para karyawan wanita ,yang tidak tersampaikan rasa cintanya.
Tapi Pak Axcel tidak menggubris selentingan tentang dirinya.
Bahkan, ucapan kedua orangtuanya pun tidak pernah didengar.
Yang Pak Axcel pikirkan hanya pekerjaan dan pekerjaan, seperti tidak ada niatan untuk menjalin cinta.
Namun, ketika bertemu Sabrina seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, entah itu apa.
Lembur pertama di ruangan Pak Handi, seperti mengalirkan angin yang semilir dalam hati Pak Axcel.
Ketika melihat seorang wanita muda belia dengan berwajah polos, matanya tak berhenti melirik.
Pak Handi memperhatikan rekan kerjanya tersebut dan hanya tersenyum dalam hati.
Ia tidak ingin mencampurkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi.
Begitulah Pak Handi, selalu profesional dalam hal pekerjaan.
Meskipun, Ia sangat ingin mengatakan sesuatu diluar pekerjaan, namun ia tahan.
Dan lagi, takut nya pekerjaan tidak cepat selesai apabila sambil ngobrol, pikir Pak Handi.
__ADS_1
Karena kecepatan hasil kerja Sabrina yang membantunya kemarin, apalagi ditambah dopping secangkir kopi yang disuguhkan, membuat mereka bekerja dengan semangat.
Ya, begitulah kaum adam.
Mereka yang memiliki kebiasaan minum kopi, pasti akan bersemangat lagi apabila meminumnya dalam keadaan lelah.
Setelah hampir menyelesaikan pekerjaannya, Pak Handi mulai mengutarakan isi hatinya, yang Ia pendam dari tadi.
"Cel..." panggilnya sambil masih mengetik, yang kemudian menyeruput kopi di depannya.
Sruutt...Sruuutt...Sruutt...
"Ahh...mantap.." lanjut Pak Handi.
Pak Axcel hanya mendongakkan kepalanya ketika dipanggil Pak Handi.
Tanpa menjawab, Pak Axcel ikut menyeruput kopi di depan nya.
Hanya senyuman yang tersungging di bibir Pak Axcel sehabis meneguk kopi tersebut.
"Hebat tuh anak...udah kerjanya cekatan, pinter bikin kopi lagi..." ucap Pak Handi memecah keheningan di antara mereka, karena yang dari tadi terdengar, hanya bunyi papan keyboard yang di gunakan untuk mengetik.
Sedikit tertegun, Pak Axcel mulai berurai konsentrasinya.
"Ya...polos lagi..." tanpa sadar Pak Axcel berkata.
"Ha...ha...ha..." Pak Handi malah tertawa mendengar perkataan Axcel.
"Kenapa..." tanya Pak Axcel menatap Pak Handi.
"Yang polos itu kamu..hehe.." sahut Pak Handi masih tertawa.
"Aku..." masih bingung.
"Duh ...Axcel...kamu kenapa? lagi hilang koneksi yaa...cas dulu otaknya.." lanjut Pak Handi.
Axcel malah tambah kebingungan dengan perkataan Pak Handi.
Tanpa mau memikirkan pembicaraan yang tidak jelas, Axcel melanjutkan pekerjaannya.
Pak Handi pun kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun dengan senyuman masih di bibir nya.
"Finish..." gumam Axcel yang menutup laptopnya, kemudian meregangkan tubuhnya karena pegal setelah konsentrasi bekerja.
Setelah membereskan tegukan terakhir kopinya, Axcel menyilangkan kedua tangan nya dibelakang kepala sambil menggoyang-goyangkan kursi tempat duduknya.
Pak Handi pun selesai dengan pekerjaannya dan langsung menata kembali alat-alat yang Ia gunakan tadi, termasuk laptopnya.
Hal yang sama dilakukan Pak Handi, yaitu menghabiskan kopi nya.
Mereka tidak langsung meninggalkan ruangan tersebut, walaupun hari sudah larut.
__ADS_1
Karena penasaran dengan penglihatannya tentang perubahan raut muka Axcel hari ini, membuat Pak Handi bertanya kembali.
"Cel...apa kamu tidak punya niat mendekati wanita?" penuh tanya.
Axcel menghela nafas panjang , namun ada sedikit senyuman dibibirnya , seperti memikirkan sesuatu.
"Entahlah..." jawabnya singkat.
"Kamu normal kan hahaha..." Pak Handi menggodanya.
"Gila...ya aku normal lah!!" sahutnya masih dengan senyum dibibirnya.
Pak Handi makin penasaran melihat Axcel yang selalu tersenyum.
"Kamu kenapa sih ...dari tadi aku perhatikan kamu senyun-senyum terus" desak Pak Handi dalam tanya nya.
"Iya gitu..." Axcel ngeles dengan senyum nya.
"Aku lihat, dari karyawan baru itu masuk ,siapa tuh tadi namanya..Sabrina...,
kamu tiba-tiba senyum sendiri...kamu lagi mikirin Dia ya..." Pak Handi makin menggoda.
" Ah ..." Axcel mengibaskan tangannya menyangkal.
" Aku suka cara kerja tuh anak, cepat tanggap dan tidak basa-basi, walaupun baru keluar sekolah tapi memiliki potensi yang bagus, sekali diajarin langsung bisa mengerjakan" pujian Pak Handi untuk Sabrina.
Andai Sabrina mendengar pujian tersebut, mungkin hati nya sudah terbang kemana-mana melewati deretan gedung tinggi tersebut.
"Jangan-jangan nanti bisa jadi sekretaris aku, menggantikan mantan sekretaris mu itu...hahaha..." lanjut Pak Handi dengan tawanya.
"Oh ya...ya terserah sih kalo memang mampu" jawab Axcel datar tanpa reaksi keras, hanya terlihat sorot mata yang mengatakan, Ia tidak setuju dengan ucapan Pak Handi.
"Lagian gak jelek-jelek amat sih, dengan make up seperti itu aja udah terlihat cantik, apalagi kalo di tambah lagi polesannya, bisa-bisa istriku gak ngijinin kerja haha..." Pak Handi terus mancing perasaan Axcel.
Raut wajah Axcel makin tidak nyaman, namun Axcel juga belum jelas dengan pikirannya.
Ia hanya mendengarkan setiap ucapan Pak Handi, namun entah apa, terdengar sedikit berbeda di telinga Axcel.
Hatinya serasa ada yang meronta-ronta menginginkan sesuatu, namun apa itu, Ia pun tak paham.
Sehingga ,telinganya pun tidak menginginkan orang lain memuji Sabrina didepannya, dan Ia hanya menginginkan kalau Ia yang mengucapkan semua itu.
Namun apa...siapa itu Sabrina..mengapa...kenapa melihatnya ada yang aneh...hatinya kenapa...
Itu yang ada dalam pikiran saat itu.
Axcel menghindar ,dan mengajak Pak Handi untuk pulang, dengan alasan sudah terlalu larut ,dan besok masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Pak Handi pun mengikuti saran Axcel, walaupun penasaran.
Tapi ,Pak Handi pun menyadari kalau keluarganya sedang menanti.
__ADS_1
Akhirnya mereka bergegas meninggalkan ruangan tersebut.