Dilema Hidup

Dilema Hidup
2. Panggil aku Via


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 4 sore.


Satu persatu para karyawan meninggalkan meja kerjanya.


Begitupun dengan mereka karyawan baru, mulai merapikan alat tulis yang tadi dipergunakan.


Pak Dani, yang tadi menjadi Mentor pun merapikan peralatan di depan mejanya.


"Baiklah, hari ini cukup dulu sekian dengan penjelasan saya, semoga dapat di mengerti oleh kalian semua" ujar Pak Dani sambil tersenyum.


"Selamat sore, selamat beristirahat" lanjut Pak Dani menganggukkan kepalanya dan mulai meninggalkan ruangan.


Serentak kami beranjak dari tempat duduk setelah Pak Dani keluar ruangan.


"Sabrina, pulang baru yuk..!" ajak Ranti.


Sabrina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar.


"Ran, kayaknya kamu panggil saja aku Via deh..." jelas Sabrina.


"Kenapa?" jawab Ranti.


"*Bi*ar mudah aja memanggilku " jelas Sabrina.


"Ooh..." Ranti manggut- manggut.


Karena menunggu angkutan umum yang cukup lama, membuat kami duduk dulu di bangku depan warung tempat kami berdiri.


"Huh...lama banget sih " keluh Ranti.


Sabrina meliriknya tanpa berkomentar, hanya memijat lembut kakinya karena sedikit agak pegal.


Tak lama kemudian angkutan pun muncul dan berhenti tepat di tempat kami menunggu.


"Syukurlah..."


Kamipun masuk ke dalam angkutan tersebut, Alhamdulillah masih mendapatkan tempat duduk.


Sabrina menyandarkan punggungnya ke kursi karena lelah.


" Nyaman nya..." gumam Sabrina.


Ranti tak berucap, Ia hanya melihat ke jendela memperhatikan kendaraan yang lewat melalui kaca angkutan tersebut.


"Ran, liat apa sih? capek yah...?" tanya Sabrina.


"Ia nih Sab....eh Via" jawab Ranti sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Maklum belum terbiasa.


"Santai, kaliii..." sahut Sabrina.


Ranti menghentikan angkutan, pertanda Ia sudah sampai pada tempat tujuan.


"Vi... aku duluan ya..." kata Ranti sambil berdiri.


"Oh ya, sampai ketemu besok..." jawab Sabrina.


Ranti berlalu sambil melambaikan tangan.


"Daahh..." lambai Ranti.


"Daahh..." balas Sabrina sambil melambaikan tangannya.


Ranti turun, tinggallah Sabrina yang menunggu sampai tujuan.


Rasa lelah mulai terasa dan rasa kantuk pun mulai datang.


Akhirnya sampai juga Sabrina ke rumahnya.


Ia melangkahkan kakinya menuruni kendaraan tersebut, dan berjalan sedikit gontai menuju rumah.


"*Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam*" terdengar Mama menyahut dari dalam rumah.

__ADS_1


Pintu terbuka dan Mama tersenyum melihat Sabrina sudah pulang.


Diambilnya punggung tangan Mama dan menciumnya.


"Sudah pulang Vi..." tanya Mama sambil mengusap puncak kepala Sabrina.


"Iya, Ma..."


Kamipun masuk beriringan, Sabrina melihat adiknya sedang asyik menonton tv acara kesukaan nya.


" Kakak..." sambut adik Sabrina sambil menoleh dengan tersenyum.


"Hei...lagi nonton apa sih, serius amat" sapa Sabrina.


Tanpa menunggu jawaban,Sabrina melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Bersihkan badanmu sana lalu makan " jelas Mama.


"Baik ..Ma.."


"*H*emm." Sabrina menghempaskan badannya ke atas tempat tidur.


Dipejamkan matanya merilekskan badan sebelum Ia membersihkan tubuhnya.


Setelah mulai merasa santai, Sabrina mengambil handuk dan segera menuju kamar mandi.


"Byurr...byurr..."


"Seger nya..." gumam Sabrina setelah keluar dari kamar mandi.


Selesai berpakaian, Ia melangkahkan kakinya keluar kamar menuju dapur.


Dibukanya tudung saji dan mulai duduk di depan meja makan.


"Baca doa Vi..." ujar Mama.


"Iya Ma..."


"Bismillahirohmanirrohim..." Sabrina mulai menyuapkan makanan.


Dengan lahap Ia menyantap makanan Mama, karena memang lapar sekali.


"Glekk...glekk...glekk"


"Alhamdulillah..." gumam Sabrina sambil memegang perut yang sudah kenyang.


"Sudah kenyang Vi..." tanya Mama yang melihat Sabrina membereskan bekas makannya.


"Sudah Ma..."


Ia menghampiri Mama yang sedang menemani adiknya menonton tv.


"Papa belum pulang ? " tanya Sabrina pada Mama.


"Ada sedikit pekerjaan tambahan katanya, jadi agak telat " jawab Mama.


"Ooh..." Sabrina membulatkan mulutnya.


Ia pun mulai duduk di samping Mama dan memperhatikan acara tv yang sedang mereka tonton.


Kami semua tertawa cekikikan , melihat acara lawakan di salah satu stasiun tv.


"Bagaimana kerjaan mu Vi..nyaman?" tanya Mama sambil melirik Sabrina.


"Alhamdulillah ..Ma..aku suka " jawab Sabrina sambil tersenyum.


"Aku sudah punya teman baru, namanya Ranti" jelas Sabrina.


"Oh ya...bagus dong,, anak mamah pintar sekali bergaul ya, baru sehari sudah punya teman" sahut Mama sambil tersenyum pada Sabrina.


"Siapa dulu dong Ma...Viaaa..." jawab Sabrina sambil menepuk dadanya.


"Huuhhh.." adiknya nimbrung.


Kamipun tertawa bersama.


Senja mulai berganti malam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" seseorang mengucapkan salam didepan pintu.


"Waalaikumsalam ..." jawab kami serempak.


Ibu melangkahkan kaki untuk segera membukakan pintu.


"Clekk...eh Papa" sambut Mama.


Papa pulang, Sabrina dan adiknya segera berdiri menyambut Papa.


Mama mencium punggung tangan Papa, begitupun dengan mereka.


"Capek ya Pa..." tanya adik pada Papa.


Papa hanya melempar senyum dan mengelus puncak kepala adik.


Mama menyiapkan makan malam untuk Papa, dan kami mulai asyik menonton kembali acara barusan.


Setelah membersihkan dirinya, Papa menghampiri Mama yang sedang berada di dapur, kemudian duduk di meja makan.


"Gimana katanya Ma? " tanya Papa.


"Gimana apanya..." Mama balik bertanya, sambil menyodorkan makanan ke depan Papa.


"Ya itu...pekerjaan nya Via" lanjut Papa.


"Ooh... baik-baik saja katanya, malah udah punya teman baru.." jelas Mama.


"Syukurlah...semoga betah " sahut Papa sambil menghabiskan makan malam nya.


Papa mendekati kami yang sedang menonton tv.


"Pa..." sapa Sabrina sambil menggeser duduknya.


"Gimana Vi ...apa rasanya mulai bekerja? " tanya Papa.


"Sangat menyenangkan Pa..." sahut Sabrina melemparkan senyum.


Papa menoleh ke adik Sabrina.


"Kamu sekolah gimana? " tanya Papa.


"Aman ...Pa.." jawabnya dengan sedikit tergelak.


Memang begitulah Papa, walaupun sibuk dengan aktivitas nya mencari nafkah.


Beliau selalu memberikan perhatian pada kedua anaknya.


Meskipun secara finansial mereka hidup pas-pasan, namun suasana rumah selalu nyaman dan bahagia.


"Terima kasih yaa Allah" gumam Sabrina dalam hati.


"Pa..." kata Mama memasang wajah serius.


Papa melirik ke arah Mama.


"Iya...:" jawab Papa dengan menatap heran.


"Ko Mama ga di tanya..." jawab Mama.


Serentak kami semua tertawa.


"Iihh Mama... masa iri ama anaknya sih..." sahut Sabrina tertawa.


Papa hanya tersenyum melihat anaknya protes melihat tingkah Mama nya.


"Abis...setiap pulang kerja yang ditanyain cuman kalian sih...ya Mama boleh dong komplen dikit...hi hi" sahut Mama sambil tersenyum.


Papa tidak menanggapi celoteh kami.


"Ah Mama...ko jadi ikutan mgelawak kayak acara tv sih..." sambung Papa sambil menunjukkan jarinya ke atah tv yang sedang kami tonton.


"Haha...iklan..." jawab Mama dengan tawanya.


Malam semakin larut, dan kami pun mulai merasakan kantuk.


Kamipun mulai memasuki ruangan masing-masing untuk beristirahat melepas lelah hari ini.

__ADS_1


Mama segera mematikan tv dan lampu- lampu yang sekiranya tidak penting di malam hari.


Ia pun kemudian mengikuti Papa untuk segera beristirahat.


__ADS_2