Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 21 - Hamil


__ADS_3

Stevani terbangun dengan rasa mual yang luar biasa, suara muntahannya membuat seen tersadar dari tidurnya.


" Van kamu baik - baik saja ?? " tanya seen khawatir.


" Kepala ku sangat pusing " keluh Stevani dengan lemas bersandar di wastafel kamar mandi setelah memuntahkan semua makanan yang di makannya tadi malam.


" Apa tidak sebaiknya kau ke dokter saja " kata seen membimbing wanita itu ke arah kasur.


Sudah sejak beberapa hari dia seperti ini, tapi setiap seen mengajaknya ke dokter selalu tak mau dan mengatakan ia hanya masuk angin biasa.


" Tapi ini sudah lebih tiga hari Van, takutnya bertambah parah. Setidaknya kau tau itu suatu penyakit atau benih yang di tabur oleh suami tampan mu " gerutu seen menyodorkan air putih ke arahnya setelah membetulkan posisi Stevani di tempat tidur.


Stevani yang sedang minum sontak saja tersedak mendengar penuturan seen.


" Seen sialan.. " makinya kesal setelah batuknya mereda. Seen yang di maki hanya tertawa terbahak - bahan melihat temannya yang nampak panik.


" Tidurlah, besok aku akan menemani mu ke dokter " putus seen final.


" Hm " lirih Stevani.


" Tapi tunggu, bukannya bulan ini aku belum mendapat tamu bulanan. Astaga bagai mana kalau benar yang di katakan seen " batinnya gusar.


" Kalau benar bagaimana nasib anak ini, dan aku bahkan baru akan melamar pekerjaan " dia terduduk di tengah rasa gelisah yang melandanya.


Di liriknya sahabatnya seen, wanita yang bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi menemaninya di kota yang baru pertama kali mereka injak.


" Aku tidak tega kalau harus membebani wanita ini lagi " lirihnya menatap lekat seen yang sudah tertidur pulas karena waktu memang masih dini hari.


Pagi harinya Stevani di berondong oleh omelan seen yang khawatir kepadanya.


" Kenapa pakai acara tidak tidur segala sih, kalau kau nanti sakit gimana. Coba lihat wajahmu itu pucat seperti drakula saja " omelnya dari sejak tadi hingga membuat Stevani jengah karenanya.


" Sudahlah seen, aku tidak apa - apa. Kau pergilah bekerja atau tidak kau akan dipecat dari kantor mu " kata Stevani mengalihkan perhatian seen.


" Oh astaga, karena asik mengomel aku sampai terlambat. Ini semua karena mu " kesalnya menggerutu lalu berlari secepat kilat ke arah pintu dan tak lama terdengar suara mobil yang menjauh.


" Dasar seen " kekeh Stevani.


Seen memang sudah mendapat pekerjaan sejak seminggu kedatangan mereka ke kota itu, berbeda dengan Stevani yang agak kesulitan mendapatkan pekerjaan karena pengalaman seen dalam bekerja memanglah baik lain halnya Stevani yang sejak lulus kuliah langsung membuat butik sendiri.


" Apa kabar pria kaku itu " bisik Stevani tersenyum tipis terkenang beberapa kebiasaan Morgan.


Tak di pungkiri ia merindukan Morgan di sisinya, terkadang ia menangis di tengah malam karena terlalu merindukan Morgan. Kebiasaan memeluk Morgan saat tidur membuatnya kesulitan memejamkan mata hingga menimbulkan kantong hitam di bawah matanya setiap bangun tidur.


" Apakah dia masih marah karena kepergian ku waktu itu, atau ia telah mempunyai pengganti ku di sisinya " batinnya merasa tak rela membayangkan tubuh hangat Morgan menjadi milik wanita lain.

__ADS_1


" Awas saja !! " serunya kesal tanpa sadar.


" Hiks.. hiks.. awas saja kalau kamu punya perempuan lain, akan ku potong anu mu hiks.. " katanya sambil terisak.


Entah mengapa akhir - akhir ini Stevani mudah sekali menangis bahkan hanya untuk hal sepele sekali pun.


Bahkan beberapa kali ia menangis saat menonton sebuah drama di televisi. Aneh sangat aneh.


Siang harinya seen datang memenuhi janjinya pada Stevani, memeriksakan keadaan wanita itu ke dokter.


" Sudah siap ??" tanya seen.


" hm, tapi apa kau sudah makan siang " tanya Stevani merasa tak enak telah sering merepotkan sahabatnya itu.


" Sudah kok, ayo lah kita berangkat karena aku cuma izin satu jam " ucap seen menggandeng Stevani ke arah mobilnya berada. Lalu keduanya berangkat ke rumah sakit terdekat di sana dan segera mendaftarkan nama Stevani di nomer antrian.


" Nyonya Stevani Carlla !!" seru perawat memanggil namanya.


" Saya sus, " katanya lalu memasuki ruangan poli dokter umum.


" Keluhannya nona, " kata dokter Merly tersenyum ramah.


" Suka muntah di tengah malam, juga kesulitan tidur " jawab Stevani.


Dengan sigap seorang perawat wanita membatu Stevani menaiki ranjang pemeriksaan.


" Apa anda sudah punya suami " tanya dokter membuat nya bingung.


" Sudah, " jawabnya singkat. Ya setidaknya Morgan memang menganggap dirinya istri.


Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan juga denyut nadinya dengan dahi sedikit mengerut, tapi sedetik kemudian ia tersenyum.


" Sudah selesai " katanya kembali ke kursi kerjanya di ikuti Stevani setelahnya.


" Perkiraan pertama saya anda mengalami morning secknes dan hal itu sering di alami pada wanita yang sedang hamil " ucapnya tersenyum pada calon ibu itu tapi lain halnya dengan Stevani yang dunianya seakan runtuh seketika.


" A.. apa ?? " lirihnya merasa tak percaya.


Ia teringat saat melakukannya mereka tak pernah menggunakan pengaman, beberapa kali juga Stevani dalam keadaan subur kala melakukannya.


" Tapi saya sarankan anda pergi ke dokter kandungan untuk memastikannya, untuk sekarang saya resep kan vitamin dan obat penahan mual " jelas dokter itu.


Selesai pemeriksaan Stevani berjalan gontai kearah seen yang menunggunya.


" Bagaimana, apa kata dokter ??" berondong seen namun Stevani diam mengacuhkannya.

__ADS_1


" Hey, apa yang terjadi. Apa kamu mengalami sakit parah, dan kenapa wajah mu seperti itu" kata seen seperti kereta api.


" Aku hamil " singkat Stevani malas meladeni seen.


" Yasudah. " ucapnya santai namun sedetik kemudian.


" Apa ?? kamu hamil, kamu nggak serius kan Van " pekiknya terkejut membuat Stevani segera membungkam mulutnya dengan tangan karena suara nyaring seen menarik perhatian beberapa orang disana.


" Diam dan jangan bicara lagi, kamu membuatku malu seen " bisiknya menyeret seen kearah parkiran dengan tangan masih membungkam mulut wanita itu.


Seen pasrah di perlakukan tidak manusiawi oleh sahabatnya itu, hampir saja ia kehabisan nafas kalau saja ia tak memberontak.


" Kau ingin membunuhku " kesalnya meraih oksigen sebanyak yang ia bisa.


" Maafkan aku seen, hm kau tak baik - baik saja " ucap Stevani dengan cengirnya merasa bersalah.


" Tak masalah, ayo kita pulang !! " serunya semangat.


Dengan lesu Stevani mengikuti langkah seen menuju mobil mereka terparkir, dilema membuatnya tak bersemangat.


" Kenapa aku bahkan tak bisa membuang jejak pria itu, dan kini ia menitipkan benihnya di rahimku. Aku bingung apakah harus senang atau sedih sekarang ?" batinnya frustasi dengan ke adaannya dan membelai perutnya yang masih rata.


Asik bermain dengan fikirannya sampai tak sadar menabrak seen yang berbicara dengan seorang pria sampai temannya itu tersungkur ke tanah.


" Eh, maaf " ucapnya kaget.


" Kamu kenapa sih van, jalan aja bisa nabrak seperti ini " gerutu seen memandangnya sinis.


Ia malu di depan atasannya harus nampak konyol seperti ini karena ulah Stevani.


" Maaf seen, kan aku sudah bilang maaf tadi " rengek Stevani seperti anak kecil bahkan hampir menangis. Jiwa sensitif ibu hamil itu sedang muncul di permukaan.


" Ekhem !! saya permisi dulu. Kamu segeralah kembali ke kantor " ucap pria tampan itu mengalihkan fokus kedua wanita itu, lalu memandang stevani sekilas dan pergi dari sana.


" Maaf Van aku harus kembali kekantor sekarang, kamu.. " ucapnya terpotong oleh Stevani.


" Pergilah seen, aku akan pulang naik taksi " jawabnya tersenyum menenangkan sang sahabat.


Ia tau seen pasti khawatir kepadanya, apalagi Stevani sedang mengandung rasa khawatirnya akan menjadi berkali lipat.


" Cepatlah atau kau akan terlambat dan diomeli si cerewet " kata Stevani mencoba menakut - nakuti seen dengan atasan wanita itu yang terkenal killer.


" hm, baiklah. Kau berhati - hatilah dan segera telfon aku kalau sudah tiba di rumah " katanya memasuki mobilnya.


Mereka memang mengontrak sebuah rumah sederhana sejak tiba beberapa hari di kota itu.

__ADS_1


__ADS_2