Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 30 - Hati yang hancur ( Stevani POV )


__ADS_3

Suasana restoran tampak lenggang,di tambah lampu warna - warni menampilkan kesan elegan sangat cocok untuk sepasang kekasih.


" Perasaan kandungan kamu udah hampir 6 bulan kan, tapi kok masih ngidam aja sih van?? " gerutu seen.


Kini keduanya , maksudnya ketiganya karena dokter Diego entah muncul dari mana memaksa bergabung dengan mereka,sedang berada di sebuah restoran khusus untuk pasangan kekasih.


" Aku juga bingung, kenapa tanya begitu. Kamu nggak percaya kalau aku ngidam ??" ucap ku dengan mata berkaca - kaca.


Semenjak hamil aku memang mudah sekali menangis,bahkan hanya ketika melihat anak kucing yang tubuhnya kurus karena kelaparan.


" Eh, bukan gitu maksudnya Van, aku percaya kok " ucap seen cepat sembari menggenggam tanganku meyakinkan.


Aku sebenarnya tak enak kalau harus terus merepotkan nya, tapi apa daya hanya seen yang ku punya saat ini.


" Ya sudah, mari makan sebelum dingin " ucap Diego menengahi.


Mata ku berbinar saat melihat hidangan di depanku, hampir saja liur ku menetes. Sungguh bumil yang rakus, akan seberapa gemuk bayi ku kelak.


Setelah kenyang kami memutuskan untuk segera pulang karena kalau kata seen yang cerewet " udara malam tidak baik untuk ibu hamil " .


Namun sebelum kami benar - benar keluar restoran mata ku tak sengaja melihat seseorang yang sangat aku kenal.


" Ekhem, seen kalian pergilah dahulu. Aku akan ke toilet sebentar " ku langkahkan kaki mendekat ke arah mereka.


" Morgan, apa yang di lakukan nya di kota ini ?? dan siapa yang bersamanya " batinku, rasa takut akan kemarahannya membuat ku reflek bersembunyi di balik dinding pembatas.


Entah apa yang mereka bicarakan hingga wanita itu bersemu malu lalu morgan tampak mengusap pipinya yang memerah.


" Siapa wanita itu ??" batinku bertanya - tanya merasa penasaran siapa sosok wanita yang bersama Morgan, meski perasaan kecewa lebih dominan.


Hati Stevani hancur melihat betapa manisnya perlakuan morgan pada wanita itu, bahkan pria itu rela menarikan kursi untuknya hal yang belum pernah Stevani rasakan.


" Entah sudah apa saja yang sudah mereka lalui ?? kenapa hatiku rasanya sakit sekali membayangkannya " batinnya pilu.


Karena terlalu fokus dengan perannya Morgan tak menghiraukan aroma khas yang sangat ia sukai.


Lalu Morgan beranjak dari sana dengan menggandeng mesra Olivia, ya kini Morgan bersama Olivia calon tumbalnya.


Dengan tak sabar Stevani mengikutinya kearah parkiran meski perut buncitnya memperlambat gerakannya.

__ADS_1


Lama ia menjadi seorang penguntit bahkan melupakan kedua orang yang menunggunya dengan rasa khawatir.


" Kenapa mereka lama sekali di dalam mobil, apa yang sedang mereka lakukan ??" gumam Stevani gelisah.


Tidak bisa di pungkiri bayangan buruk berkelebat di fikirannya, membayangkan Morgan melakukan yang tidak - tidak dengan wanita lain tiba - tiba air matanya menetes.


" Kenapa rasanya sakit sekali " ucapnya, hatinya hancur berkeping keping dengan air mata membanjiri pipi mulusnya.


" Dasar lelaki sialan, inikah sifat asli mu ? " sedetik kemudian rasa sakit hatinya berubah menjadi amarah.


Wanita mana yang bisa berfikir positif saat prianya berduaan dengan wanita lain di dalam mobil yang masih terparkir.


Perlahan mobil itu mulai bergerak membuat Stevani panik dan mempercepat langkahnya, beruntung ada sebuah taksi yang baru saja mengantar penumpang tak jauh darinya.


" Jalan pak, ikuti mobil itu " ucapnya menunjuk mobil yang di kendarai Morgan di depan mereka.


Satu jam telah berlalu namun mobil Morgan tak juga berhenti juga jalanan yang mereka lewati semakin dalam jauh dari keramaian ,dahi Stevani mengerut dengan fikiran yang berkelana memikirkan kemungkinan buruk.


" Kemana mereka, apa mencari hotel untuk melampiaskan hasrat biadab mereka lagi " makinya pelan.


Sopir yang mendengarnya memilih untuk tidak ikut campur fokusnya hanya mengantar penumpangnya.


Terlihat keduanya turun sambil bergandengan mesra membuat hati Stevani terbakar cemburu.


" Dasar brengsek, tega sekali kau berbuat seperti ini padaku Morgan hiks.. " gumamnya sedih,


Menangis tertahan, sungguh hatinya hancur atas pengkhianatan Morgan meski pun dulu ia yang meninggalkan pria itu, tapi kini ia menyadari bahwa telah mencintai pria itu.


" Apa anda baik - baik saja nona ??" tanya supir taksi bernada khawatir, membuyarkan lamunannya.


" Iya saya baik - baik saja " jawabnya memaksakan senyuman di balik mata sembabnya karena terlalu lama menangis.


" Kamu harus kuat Stevani, kini ada baby Super yang harus kamu jaga. Tapi sebelum itu aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu " batinnya menarik nafas dalam - dalam agar tangisnya berhenti.


" Bapak bisa tunggu sebentar, saya tidak akan lama " ucap Stevani tanpa menunggu jawaban sang supir taksi.


Dengan langkah pasti Stevani memasuki villa lalu menuju resepsionis bertanya dimana kamar Morgan dengan dalih mengantar ponselnya yang tertinggal.


Villa disana di disain berbentuk tabung dengan jarak yang agak jauh dari kamar satu kekamar yang lain, demi menjaga privasi pasangan.

__ADS_1


Lama Stevani berjalan karena kamar Morgan berada yang paling ujung namun tak membuat semangatnya padam dengan rasa penasaran yang menggunung.


" Aaaaaahc !! " suara pekikan wanita membuat hati Stevani bergetar membayangkan betapa dahsyatnya permainan mereka.


Kakinya lemah untuk menopang tubuhnya sendiri dan hampir saja terjatuh kalau saja tak berpegangan pada tiang yang ada di sana.


" Morgan.. " lirihnya.


Dengan rasa penasaran ia berusaha sekuat tenaga berdiri secara perlahan mendorong pintu, namun yang tak terduga bukan adegan romantis yang di temukannya di dalam kamar itu.


" Kau... ?? " ucapnya shock.


Morgan yang sedang menghisap nikmat darah Olivia menoleh mendengar suara yang tak asing baginya.


" Sweet ?? " kagetnya meski tak merubah ekspresinya.


" Si.. siapa kau sebenarnya ??" ucapnya pada ayah dari bayi yang di kandungnya.


Meski tubuhnya bergetar ketakutan tak membuat Stevani diam saja, dengan keberanian yang tersisa ia mencoba menarik Olivia dari kukungan Morgan.


" Dasar iblis, lepaskan wanita ini " katanya menarik kuat Olivia yang sudah terkulai namun tak bergerak karena Morgan masih menahannya.


" Tunggulah sweet, kita akan membicarakannya " lirih Morgan menggendong Olivia dan meletakkannya di atas kasur.


Dengan gaya yang santai Morgan membersihkan sisa darah yang menempel di bibirnya dengan tissu yang ada di meja.


" Duduklah sweet, akhirnya kamu tau siapa saya sebenarnya " katanya menepuk sofa di sebelahnya namun Stevani tak bergeming.


Menghela nafas berat akhirnya Morgan pasrah juga tak memaksa wanita itu, ia faham Stevani pasti takut kepadanya.


" Apa yang ingin kamu ketahui ??" tanya Morgan kemudian.


" Si.. siapa kamu sebenarnya ??" tanya Stevani terbata.


" Pangeran iblis " singkat Morgan.


" Apa !! ja.. di selama ini yang menggauliku adalah seorang iblis dan parahnya meninggalkan calon penerusnya di rahim ku " batin Stevani shock.


" Kenapa wajah mu seperti itu " ucap Morgan tersinggung melihat Stevani yang melongok dengan wajah bodoh dan mulut terbuka.

__ADS_1


__ADS_2