Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 32 - Pengakuan Diego


__ADS_3

Menghilangnya Stevani memberikan rasa khawatir kepada seen sahabatnya.


" Apa sebaiknya kita lapor polisi saja ??" saran Diego.


" Tapi ini bahkan belum 24 jam, bagai mana bisa " lirihnya tanpa menatap Diego di sebelahnya.


" Kalau begitu kita tunggu di sini saja, siapa tau dia kembali lagi kesini " saran Diego lagi.


" Kita tunggu di dalam saja " kata seen, tidak mungkin mereka berdua di dalam mobil itu pasti canggung sekali fikir wanita itu.


Lalu Diego mengikutinya dari belakang, pria itu tersenyum senang bisa berduaan dengan wanita yang di taksirnya.


Sebagai pria dewasa dengan karir yang bagus Diego adalah pria kaku untuk masalah urusan wanita dan ini pertama kalinya dia jatuh cinta bahkan dengan Stevani ia hanya sekedar suka saja.


Di dekat seen membuat jantungnya berdegup dengan kencang dan setiap kali ia menggodanya wanita itu akan marah yang malah terlihat menggemaskan di matanya.


Sungguh cinta itu aneh, makian seen saja bagai lagu pengantar tidur baginya, dasar Diego bucin he..


" Hai Abang sepupu !!" seru suara yang menyebalkan baginya.


" Sialan, apa yang di lakukan mahluk ini disini" kesalnya mengalihkan atensinya dimana suara itu berasal di ikuti seen yang mengerutkan alisnya.


" Hai kakak ipar, kenalkan aku Alferd adik sepupu kekasih mu " ucap pria itu dengan gaya yang terlihat sekali di buat - buat.


" Maaf tapi aku bukan kekasihnya " tegas seen.


" Oh ayolah kakak ipar, jangan malu - malu " celoteh Alferd mendudukkan bokongnya di sebelah seen tanpa tahu malu.


Diego menggeram melihat kelakuan adik sepupunya yang tak tahu malu itu namun ia berusaha menahannya di depan wanita pujaannya.


" Kenapa kalian tidak memesan apa pun, ayolah kak kamu seperti orang susah saja " celotehnya lalu kemudian memanggil pelayan dan memesan beberapa minuman untuk mereka bertiga.


" Alferd pergilah sekarang sebelum aku benar - benar marah " tekan Diego dengan wajah memerah.


Seen sebenarnya agak ngeri melihat kemarahan pria itu yang baru kali ini di lihatnya namun ia berpura - pura tak peduli.


" Ayolah kak jangan marah, niat ku baik hanya ingin mengenal kakak ipar lebih baik " jawab Alferd santai tak terpengaruh oleh kemarahan Diego.


Pelayan datang mengantarkan beberapa minuman membuat Diego menghentikan ucapannya yang sudah di ujung lidah.


" Silahkan di minum kakak ipar " ucapnya yang tak di hiraukan seen.


" Aku tidak haus " lirih seen santai.


Sedangkan Diego menegak habis minumannya untuk mendinginkan kepalanya yang serasa terbakar tanpa curiga dan tanpa keduanya sadari Alferd tersenyum jahat melirik gelas Diego yang telah kosong.


" Ekhem, kak sebaiknya aku pergi sepertinya kehadiranku menggangu kemesraan kalian " ucapnya mengedip sebelah matanya genit lalu beranjak dari sana.

__ADS_1


" Siapa sebenarnya dia ??" tanya seen melihat arah perginya Alferd.


" Anak dari bibi ku, Ayah dan bibi ku adalah saudara tiri jadi hubungan kami tidak terlalu baik " jelas Diego.


" Pantas saja " lirih seen.


Diego merasa ada yang berbeda pada tubuhnya, " Ada apa ini ? sial ini obat perangsang" batinnya panik.


" Kemana sih Stevani ?? hp nya nggak aktif buat orang khawatir saja " keluh seen mengotak atik handphone nya.


Pandangan Diego terarah pada bibir seksi itu fikirannya mulai liar tak terkendali , belum lagi tubuhnya yang terasa terbakar yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.


" Diego apa kau mendengarkan ku " seruan seen membuyarkan lamunannya.


" Iya kamu cantik sekali ?" jawab Diego tak fokus membuat seen menatapnya aneh.


" Ka.. kamu ngomong apa sih, nggak nyambung " Kesal seen namun berbeda dengan respon pipinya yang memerah merona.


Tatapan Diego menjadi semakin tajam dengan bagian inti yang semakin menegang, di matanya seen tambah menggemaskan dengan wajah memerah.


" Ayo sadarlah Diego !! apa yang di taruh si brengsek Alferd di minumanku " pekik batinnya.


Iya berdehem demi membuang fikirannya kotornya lalu beranjak berdiri dengan nafas yang memburu.


" Ayo saya antar pulang " ucap Diego.


" Saya bilang pulang sekarang" tegas Diego membuat seen mendelik tak suka.


Dengan tak sabar Diego menarik paksa seen ke arah dimana mobilnya berada, bukan tanpa alasan Diego memaksa seen pulang ia takut Alferd punya rencana jahat untuk mereka lagi.


Makian seen tak di pedulikan nya lalu dengan segera mendorong paksa seen pada bangku penumpang.


" Apa - apaan sih nih orang, aneh banget " kesal seen melipat kedua tangannya.


Lalu Diego menyetir seperti orang kesetanan kearah apartemen miliknya yang tak jauh dari sana.


***


" Dan akhirnya sa..ya melakukannya tanpa sadar " lirih Diego mengakhiri ceritanya dengan tatapan menyesal.


" Tega sekali kau membuat sahabatku menderita hiks.. maafkan aku seen, aku bahkan tak ada di saat kamu sedang terluka seperti sekarang " ucap Stevani terisak membuat beberapa pengunjung memperhatikan mereka namun keduanya seolah tak peduli.


" Saya harus apa Van, please. tolong bantu agar seen memaafkan saya " ucap Diego memohon, menggenggam tangan Stevani.


" Ya kamu memang harus menikahinya dan aku akan membantu mu " janji Stevani.


" Dan ku harap ini terakhir kalinya kamu menyakiti hati sahabatku " final Stevani dan tanpa permisi beranjak dari sana.

__ADS_1


Wanita itu sebenarnya masih marah dengan atas apa yang di lakukan Diego kepada sahabatnya namun ia mengerti Diego juga tak sepenuhnya bersalah atas kejadian ini, dia di jebak.


Stevani kembali ke rumah, berpura - pura tidak tahu adalah terbaik saat ini.


Seen yang pulang di jam seperti biasa namun berbeda saat ini wajahnya sangat pucat tak seperti biasanya, Stevani yang melihat perubahan itu bergegas menyusulnya.


" Seen kamu baik - baik saja ??" tanya Stevani khawatir.


" Kepala ku pusing " lirihnya memijit kepalanya pelan.


Stevani berjalan mendekat meraba kening seen dengan rasa khawatir.


" Kamu demam seen, tunggulah disini aku akan membawakan makanan dan juga obat " titah Stevani membantu seen berbaring di tempat tidur lalu beranjak ke dapur.


Seen memandang kepergian Stevani dengan sedih, sebenarnya dia bukan marah kepada sahabatnya itu namun ia tak ingin Stevani mengetahui masalahnya, biarlah ia sendiri yang menanggung nasib malangnya ini


Tak lama kemudian Stevani datang dengan nampan di tangannya.


" Seen ayo kita makan dulu " bisik Stevani lembut.


Wanita itu mengangguk dan dengan sigap Stevani membantunya bersandar pada bantal yang telah di susunnya agar memudahkan seen untuk makan.


" Terimakasih " lirih seen.


" Kenapa bisa sakit seperti ini, apa kau di suruh bekerja seperti robot oleh bos mu " celetuk Stevani mencairkan suasana canggung diantara mereka.


Menyendok makanan dan mengarahkannya ke mulut seen.


" Buka mulutnya " perintahnya yang langsung di turuti seen tanpa protes.


Stevani asik berceloteh sesekali menyalahkan sahabatnya itu sedangkan seen hanya diam mengunyah makanan yang di suapkan wanita itu hingga tandas.


Hatinya menghangat dan merasa bersalah telah mengacuhkan wanita di depannya ini.


" Maaf ??" lirih seen.


" Untuk apa ??" pancing Stevani berharap seen bercerita dengan sendirinya.


" Telah mengacuhkan mu beberapa hari ini " jawabnya.


"Hm, tak masalah seen. Apa kau mempunyai masalah karena kamu tak seperti biasanya bahkan sampai sakit seperti ini " pancing Stevani lagi.


" Ti.. tidak ada, aku baik - baik saja " jawab seen dengan gugup mengalihkan pandangannya tak mau menatap wajah Stevani.


Wanita hamil itu menghela nafas berat dengan ke keras kepalaan seen, ia juga tak ingin memaksa sahabatnya itu biarlah ia bercerita dengan sendirinya nanti.


" Kamu beristirahatlah dulu " ucapnya lalu membawa piring kotor sisa makan seen bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2