
Sebuah bangunan yang tampak usang dari luar dengan reruntuhan di bagian sebelah kirinya menambah kesan seram apalagi jika di malam hari tidak ada satu cahaya pun yang berasal dari sana.
Kehadiran Morgan seperti menyatu dengan gelapnya malam melangkahkan kakinya secepat kilat sampai tidak di sadari penghuni di sana.
Berbeda yang terlihat dari luar ketika Morgan memasuki bangunan kesan mewah menyambutnya, lampu - lampu kristal menggantung di beberapa tempat. Seorang wanita tua duduk di sebuah kursi goyang menoleh sekilas kearahnya.
" Siapa kau berani memasuki wilayah ku ?" desisnya tak suka.
" Apa kamu penghuni bangunan ini, saya sedang mencari Lucia Arven " ucap Morgan dingin.
" Ada keperluan apa kau mencari ku ??" ujarnya tak peduli.
" Oh, jadi kau orangnya. Kenalkan saya pangeran Morgan dari kerajaan gaib " ucap Morgan.
" Lalu apa mau mu mencari ku ?" potongnya bernada sinis.
" Kitab tanpa nama '' kata Morgan lagi.
" Haha.. apa untungnya bagi ku ?" lirihnya memandang Morgan tanpa takut seolah tak terpengaruh dengan aura kebangsawanannya.
" Apa tawarannya ??" tanya Morgan.
" Hm, menarik. Aku akan memberitahunya nanti " katanya lalu bangun dari posisi duduknya.
" Ayo ikut " ucap nenek Lucia semangat.
Lucia Arven adalah seorang penyihir yang telah berumur ribuan tahun, menariknya wajahnya tak pernah tua meski rambutnya sudah mulai memutih.
Ia sendiri keturunan elf yang menikah dengan manusia makanya la memiliki keterampilan meramal juga sihir darah elf nya lebih dominan di tubuhnya makanya Lucia berumur panjang.
Di beberapa ribu tahun terakhir hidupnya Lucia hanya mengumpulkan buku - buku tua yang menjadi buruan semua mahluk karena buku - buku itu terhitung langka bahkan mungkin hanya ada satu di dunia termasuk Morgan yang membutuhkan salah satu buku koleksinya untuk menemukan cara agar kalung Stevani dapat terlihat ke permukaan.
Wanita tua itu menuntun Morgan ke sebuah ruangan sempit yang mungkin hanya muat dua orang saja, namun ia tak banyak komentar tetap memasang wajah dinginnya.
" Kau siap ? ku harap seorang bangsawan seperti mu tidak pernah mengingkari janji " ucap Lucia santai namun dari nadanya penuh sindiran.
__ADS_1
" Tentu saja. Jangan khawatir " lirih Morgan.
Sekilas Morgan melihat mulut wanita itu komat Kamit menyebut mantra yang rumit yang tak di pahaminya dan setelah Lucia membuka mata dinding di salah satu sisi terbuka, mereka berdua seolah tersedot ke dalamnya.
Sedetik kemudian Morgan merasakan tubuhnya terhentak di sebuah batu yang keras, saat di amatinya sekitar ternyata mereka sudah berada di sebuah goa yang sangat indah dan banyak berjejer lemari batu yang berisikan banyak buku.
" Apa kau akan terus diam di situ " ucap Lucia sinis sambil bersidekap dada.
Mendengar nada sinis Lucia dengan cepat Morgan berdiri perlahan melangkahkan kakinya kearah sebuah rak buku yang terasa menarik baginya.
" Jangan sentuh itu, mari ikut aku " ujar Lucia berjalan kearah pojok ruangan namun karena rasa penasarannya Morgan tak mempedulikan peringatan wanita itu saat jarinya menyentuh buku itu tubuhnya langsung terlempar ke belakang karena tak siap.
" Oh astaga. Dasar iblis keras kepala " desis Lucia. Bukan tanpa alasan ia memperingati Morgan karena semua buku di sana sudah di berinya mantra perisai hanya dirinya yang bisa menyentuh buku - buku di sana.
" Kenapa tidak kau katakan sejak tadi " gerutu Morgan meski tubuhnya menghantam batu dan menghancurkannya namun wajah Morgan biasa saja seperti tak merasakan sakit sama sekali.
" Kemarilah. Nanti aku menemukan buku itu " ucap Lucia. Karena tak mendapat respon Lucia kembali berkata.
" Aku sudah membuka perisainya jadi kamu bisa menyentuhnya semua mu " sambungnya menatap Morgan meyakinkan.
Akhirnya dengan gerakan malas Morgan berjalan kearahnya tapi sedetik kemudian matanya sedikit membesar melihat tumbukan buku yang seperti gunung.
Karena saking banyaknya buku Lucia dia sendiri pun lupa di mana menaruhnya bahkan seperti apa buku tanpa nama yang di inginkan pangeran iblis ini tapi seingatnya itu buku yang seribu tahun yang lalu di temukannya dan di tumpukan di hadapan mereka.
Tanpa banyak bicara keduanya langsung mencari harta itu di tumpukan buku yang tampak usang.
Keduanya menggunakan kekuatannya untuk mempersingkat waktu, Morgan menggunakan kemampuan terbaiknya dengan kekuatan flasnya begitu pula Lucia mengerahkan kekuatan sihirnya terlihat hanya mensensornya saja lalu meletakkan nya lagi di sebelah yang lainnya.
Tidak membutuhkan waktu lama Lucia akhirnya menemukan buku yang mereka cari.
" Aku mendapatkannya !" serunya senang.
" Benarkah ?" sini berikan padaku " kata Morgan dingin namun Lucia segera menarik buku itu menjauh.
" Ets, tidak semudah itu. Cepat katakan untuk apa kau menggunakannya ?" tegas Lucia. Dia pun tidak ingin buku itu di gunakan untuk sebuah kejahatan karena yang dia tahu iblis yang pernah di temuinya berwatak serakah.
__ADS_1
Morgan geram karena merasa telah di permainkan tapi akhirnya dia mengalah karena membutuhkan bantuan wanita tua itu lalu dengan malas ia menceritakan masalah Stevani kepadanya.
" Benarkah begitu ?" ucap Lucia membuat Morgan jengkel.
" Cukup. Saya tidak punya banyak waktu sekarang berikan buku itu " tegasnya.
" Oh dasar pemarah. " desis Lucia. dia tahu Morgan berkata yang sebenarnya jadi dengan ringan dia memberikan buku itu.
" Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah " peringatnya.
" Baiklah. "
Lalu mereka beranjak kembali seperti jalan saat mereka menuju kesana.
Selesai dengan Lucia Morgan kembali saat waktu sudah mencapai pagi di kediamannya, terlihat orang yang di sayangnya meringkuk saling memeluk. Pemandangan yang menghangatkan hatinya yang dingin segera dia bergabung disana membaringkan tubuh lalu memeluk keduanya dengan tangan besarnya.
" Saya mencintai kalian " lirihnya.
Banyak hal yang harus segera di selesaikan nya atau semua akan berakibat fatal bagi keluarga kecilnya yang pertama ia harus menyelesaikan masalah kalung leluhurnya terlebih dahulu.
Sebenarnya Morgan tidak berniat memberikannya pada kerajaan karena menurutnya Stevani lebih berhak memilikinya karena istrinya itu keturunan seorang peri terakhir. Ia hanya ingin Stevani mengetahui yang sebenarnya agar ia lebih berhati - hati karena banyak yang menginginkan kalung itu termasuk dirinya sebelum jatuh hati kepadanya.
Morgan sadar hukuman yang akan di terimanya karena melindungi Stevani bahkan terbuang dari kerajaannya tapi dia bisa apa, perasaan cintanya membuatnya tidak bisa tidak melindungi mereka.
Suara bising membuat Morgan tersadar dari tidurnya, membuka mata yang terasa sangat berat.
" Ada apa ?" tanya Morgan dengan suara serak bahkan matanya hanya terbuka sedikit saja.
" Maaf baby Steve sedang rewel aku akan membawanya keluar " kata Stevani beranjak menggendong bayi yang sedang menangis itu keluar kamar.
" Tetaplah di sini " ujar Morgan menghentikan Stevani.
" Tapi... ??" katanya ragu.
" Hm, baiklah " sambungnya.
__ADS_1
" Kemarilah boy, tidur di pelukan ayahanda " ucap Morgan lirih ajaibnya tangis bayi itu langsung mereda.Akhirnya Stevani faham bayi itu merindukan ayahnya karena Stevani melarangnya mendekat Morgan bayi itu jadi menangis.
" Astaga dasar bayi keras kepala " lirih Stevani membuat bayi itu tertawa.