Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 23 - Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Stevani sudah 7 bulan lebih dan melewati masa ngidamnya.


Hari ini seperti biasa rutinitas setiap bulannya, memeriksakan kandungan di klinik langganannya.


Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya juga pelayanan nya yang ramah menjadikan ia betah di sana dan tak berkeinginan pindah kemana - mana lagi.


Dengan perut yang membuncit Stevani tampak lebih segar dengan wajah cabi nya dan lemak mengisi bagian - bagian tubuhnya yang lain tapi anehnya ia tampak lebih mempesona dari sebelumnya.


" Adek bayinya sehat ya Bu. pola makannya tetap di jaga dan biasakan olahraga pagi menjelang kelahiran seperti ini " ucap dokter paruh baya bername tag Karina.


Menyerahkan plastik yang berisi vitamin kepada stevani dan melontarkan beberapa nasihat untuk calon ibu muda tersebut.


" Baiklah, terimakasih dok " ucapnya melangkah keluar dari klinik.


" Sepertinya aku sekalian mampir ke supermarket aja kali " ucapnya melihat jam di tangannya, lalu menyetop taksi beruntung keberadaan klinik itu di jalan besar jadi ia tak perlu kesulitan mencari taksi.


Di tempat lain Morgan mendapat tugas dari kampus untuk mengisi sebuah acara pertemuan dosen muda antar wilayah dan entah apa rencana Tuhan hingga mengantarnya sampai ke kota Birmingham. Kota di mana keberadaan Stevani.


Morgan menggunakan pakaian kasual tampak santai dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya menambah ketampanannya berkali lipat, membuat semua perhatian wanita teralihkan kepadanya.


Tapi dengan cuek dan wajah datar ia menyeret kopernya berjalan ke pintu keluar bandara.


" Tuan Josep " sapa seorang pria yang ternyata di tugaskan menjemputnya.


" Iya, saya Josep " ucap Morgan. Karena itulah identitas pemilik tubuh yang di gunakannya.


Dengan sigap pria berambut pirang itu mengambil alih kopernya lalu menuntun Morgan kearah dimana mobilnya terparkir.


" Terimakasih .. ??" ucapnya bingung saat pria itu membukakan pintu mobil untuknya.


" Arsen, nama saya tuan " katanya tersenyum memperkenalkan dirinya.


" Panggil saya Morgan tanpa embel - embel tuan " ucap Morgan membenarkan di balas anggukan sopan oleh arsen.


Mobil melaju membelah keramaian, beberapa bangunan asing yang tak pernah di lihat Morgan karena ini pertama kalinya ia datang ke kota itu bahkan memori jeson pun tak ada yang berarti jeson pun tak pernah kesana.

__ADS_1


Arsen menjelaskan beberapa bangunan yang mereka lewati saat Morgan menjelaskan baru pertama kali menginjak kota itu, setidaknya itu mengobati rasa penasaran sang pangeran.


" Bisa mampir sebentar di market depan " ucap Morgan membuyarkan fokus arsen.


" Bisa tuan, eh Morgan " katanya terbata.


Ia masih merasa sungkan hanya memanggil pria itu dengan sebutan namanya saja.


Dengan terampil arsen membelokkan mobilnya ke arah parkiran market terbesar di kota itu yang kebetulan mereka lewati.


" Tunggulah, saya cuma sebentar " ucap Morgan lirih tanpa mendengar jawaban arsen.


Morgan melangkah tegap memasuki area dimana makanan ringan berada, setiap langkahnya menarik perhatian wanita di sekitarnya.


Pria itu lebih tampak macho dengan rambut yang agak memanjang di tambah bulu - bulu halus di wajahnya, perubahan pada dirinya terjadi semenjak kepergian Stevani di hidupnya.


" Wangi ini.. " batinnya menghentikan gerakannya sejenak mempertajam penciumannya.


" Permaisuri " lirihnya menoleh ke segala arah namun tak menemukannya, tak mungkin jika ia menggunakan batu safir nya di depan banyak orang.


" Dimana dia ??" tanya batinnya.


Sungguh rasa rindu sangat menyiksanya bahkan beberapa bulan yang lalu ia sempat mengalami susah makan juga tidur hingga membuat penurunan pada berat badannya namun rasa gengsi menahannya mencari Stevani.


" Mungkin aku salah orang " lirihnya dengan langkah yang melemah, rasa kecewa dirasakannya meski wajahnya tetap saja datar.


Bergegas kembali ke mobil melupakan tujuan awalnya, namun suara pekikan seorang wanita menghentikan langkahnya, suara yang sangat di kenalnya.


" Permaisuri " batinnya menoleh kemana suara itu berasal.


Terlihat seorang wanita hamil menggunakan gaun berwarna putih dengan pita bunga di dadanya sedang memungut belanjanya yang berhamburan.


Tubuh berisi itu membuat Morgan meneguk ludah kasar dengan fikiran liarnya.


" Dasar mesum " fikirnya menggelengkan kepala membuang fikiran kotornya.

__ADS_1


" Perutnya. Apa dia sedang hamil ?? tapi anak siapa, apakah anak dariku atau.. " tapi segera di tepisnya, stevani nya bukan wanita seperti itu yakinnya.


" Saya akan segera mengetahuinya " tegasnya lalu melanjutkan langkahnya kearah di mana arsen telah menunggunya.


Morgan sengaja tak menemui Stevani terlebih dahulu sebelum memastikan kepemilikan nya atas anak yang di kandung Stevani.


Rasa lega di rasakan hatinya karena Stevani baik - baik saja , cukup melihatnya dari jauh walau dirinya ingin sekali segera menerkam wanita itu melampiaskan rasa rindunya, tapi tak ia lakukan dan mungkin akan membuat Stevani semakin takut kepadanya.


" Jalan " ucapnya tegas setelah sebelumnya memperhatikan Stevani dari dalam mobil hingga wanita itu menemukan taksi dan membawanya pergi.


Suasana hening dan terasa lebih mencekam sejak Morgan kembali dari mobil membuat arsen merasa sungkan bahkan hanya untuk membuka mulutnya.


Dua puluh menit kemudian Mobil berhenti di sebuah hotel yang di sediakan oleh pihak penyelenggara.


Setelah mengucapkan terima kasih Morgan keluar dari mobil dan di pintu masuk sudah ada seorang karyawan hotel yang di tugaskan mengantar Morgan ke kamarnya.


Morgan berhenti sejenak karena rasa pusing yang mendera di kepalanya, pandangannya tampak berbayang.


" Ada apa dengan ku ??" tanya batinnya.


" Anda baik - baik saja tuan " tanya karyawan itu khawatir, Morgan menjawab dengan libasan tangannya sebagai jawaban bahwa ia baik - baik saja lalu mempercepat langkahnya.


" Tunjukkan segera kamar saya " ucapnya pelan berusaha tak menunjukkan kesakitan nya.


" Di sini tuan " kata karyawan itu segera menggeret koper Morgan ke dalam kamar setelah membuka pintu.


" Pergilah " usir Morgan tegas.


Memastikan karyawan itu pergi Morgan memekik keras merasakan gelombang sakit yang menghantam kepalanya semakin kuat, untung sebelumnya ia sempat memantrai ruangan itu dengan pelindung agar suaranya tak dapat di dengar dari luar kamar.


Raja Flipe yang merasakan putranya dalam bahaya segera mengirim pesan darurat ke fikiran Morgan.


" Kamu harus mencari penangkal sakit itu di Goa neraka dan temukan bunga mawar berwarna hitam yang ada di dasar kolam yang ada di dalam goa itu juga darah gadis perawan yang harus kamu minum di malam purnama " Pesan sang raja tak lama setelahnya sakitnya perlahan - lahan mereda.


Sakit itu terjadi akibat dari tubuh jeson yang belum sepenuhnya menyatu dengan Morgan jadi setiap waktu yang tak dapat di tentukan ia harus melakukan ritual persembahan demi mendapatkan tubuh jeson seutuhnya.

__ADS_1


" Ayahanda, terimakasih " lirihnya memejamkan mata karena kelelahan akhirnya jatuh tertidur sampai menjelang pagi dan melewatkan makan malamnya.


__ADS_2