Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 41 - Rasa khawatir


__ADS_3

Terbangun di tengah malam, menatap gelapnya malam melalui jendela kamar adalah kebiasaan baru Stevani.


Sejak saat itu tak ada lagi senyum manis yang terpampang di wajah cantiknya seolah semua telah di renggut dan semakin ia mengetahui misteri tentang Morgan semakin pula ia merasa Morgan akan sulit di gapainya meski pria itu terus berkata tak akan meninggalkannya.


" Apa yang kamu fikirkan ?" tanya sebuah suara.


" Bukan suatu hal yang penting " lirih Stevani menatap Morgan memaksakan senyumnya. Pria itu sadar itu bukan senyum tulus seperti biasanya,namun ia hanya diam tidak ingin bertanya takut membuat Stevani merasa tak nyaman.


Ia mengerti tentang kekhawatiran wanita ini dan tidak bisa di bantah bahwa ia juga takut tidak mendapat restu raja yang nantinya pasti mempersulit hubungan mereka.


" Tidurlah ini sudah larut malam, saya tak ingin kamu jatuh sakit " bisiknya menggendong tubuh ramping itu tanpa aba - aba lalu meletakkannya di atas tempat tidur.


" Jangan pergi " ucap Stevani menarik tangan Morgan saat terlihat hendak menjauh darinya.


" Saya hanya akan ke kamar mandi " jelas Morgan.


" Hanya sebentar " bujuk Morgan karena Stevani tak kunjung melepaskan tangannya.


Akhirnya dengan berat hati wanita itu melepaskan lalu membalikkan tubuhnya kearah yang lain.


" Jangan takut, saya tidak akan meninggalkan kalian sweet. Ku mohon percayalah " kata Morgan merengsek naik keatas tempat tidur di sebelah Stevani, melupakan tujuannya yang hendak ke kamar mandi.


Bukan jawaban yang di dapatnya namun suara Isakan lirih wanita itu meski berusaha di redamnya tapi karena keadaan kamar yang sunyi Morgan bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


" Menangis lah jika itu membuat mu lega, tapi setelah ini ku harap jangan pernah lagi menjatuhkan setetes pun air mata mu. Karena itu sungguh membuat ku merasa seperti pecundang " lirih Morgan mengeratkan pelukannya hingga tubuh keduanya menempel sempurna.


Kata - kata Morgan sungguh menghangatkan hati, sangat manis untuk pria kaku sepertinya membuat tangisnya bertambah keras.Dengan sigap Morgan membalik tubuh wanita itu ke arahnya lalu mata keduanya bersitatap.


" Maafkan aku telah meragukan mu, aku hanya takut kehilangan mu " ucap Stevani dengan suara parau berusaha menghentikan tangisnya.

__ADS_1


" Hm, tak masalah " jawab Morgan lembut.


Setidaknya wanitanya telah kembali seperti sediakala, Morgan selalu merindukan senyum manis itu akhir - akhir ini bukan sebuah senyum palsu yang biasa di tampilkannya.


Pembicaraan mereka terhenti karena suara tangis baby Steve yang memandang kearah orang tuanya dengan wajah memerah karena menangis.


" Kenapa sayang ??" kata Stevani mendekat setelah melepaskan lilitan tangan Morgan di pinggangnya.


Namun tangis bayi itu tak juga berhenti bahkan bertambah nyaring saat Morgan mendekat berniat mengambil alih bayi itu membuat dua orang dewasa itu saling memandang bingung.


Bayi yang ia kira tak pandai menangis itu akhirnya memacah rekornya dengan menangis sampai sesegukan membuat Stevani kebingungan sendiri dengan cara apa ia mendiamkannya.


Di tengah ke bingung nya Morgan tersenyum tipis akhirnya mengerti kenapa bayi itu menangis.


" Hey boy, Jangan berfikiran buruk kepada ayahanda mu, bukan ayahanda yang membuat ibunda menangis. Benarkah sweet ?" ujar Morgan.


" Ya nak. Bukan ayahanda pelakunya " jawab Stevani membenarkan. Anehnya tangis bayi tampan itu langsung berhenti menyisakan bekas air mata di pipi chubby nya menatap Stevani dengan mata membulat seolah sedang mencari kebenaran di sana.


Sungguh ajaib, bayi yang terlihat rentan itu bisa mengkhawatirkan ibunya.Bayi yang sangat, sangat manis. Siapa yang tidak akan meleleh di perhatikan orang tercintanya termasuk Stevani bahkan saking terharunya ia sampai meneteskan air mata bahagianya.


" Ayahanda percayakan ibunda kepada mu nak " bisik Morgan merengkuh keduanya dalam pelukannya.


Perasaan Morgan menghangat di tengah kekalutan di hatinya, walau ia sudah berusaha menghilangkan jejak namun tak menutup kemungkinan Justine dan King Jacob tengah gencar - gencar mencarinya. Terlebih bawahannya mengatakan Justine sempat terlihat di area kantornya yang di London seperti sedang mengintai sesuatu.


" Saya akan menghabisi siapa saja yang berusaha menyakiti mereka dengan tangan saya sendiri " batinnya.


Morgan tidak pernah tahu apa yang akan di hadapinya kelak, belum lagi masalah kalung leluhurnya. Kalung itu baru muncul hanya ketika Stevani terdesak saja jadi ia harus menemukan cara agar kalung itu bisa terlihat oleh mata biasa.


" Em, Sweet. Saya akan keluar malam ini. Ada beberapa hal yang harus saya urus, kamu tidurlah saja jangan menunggu ku pulang " ucapnya memecah keheningan.

__ADS_1


" Kemana ? Apa tidak sebaiknya besok pagi saja, ini bahkan sudah lewat tengah malam " jawab Stevani, dia sepertinya lupa bahwa Morgan bukanlah seorang manusia.


Mendengar kata bernada khawatir itu Morgan menyentil hidung mancung Stevani dengan gemas sambil terkekeh pelan.


" Kamu khawatir pada orang yang salah Sweet " katanya.


" Apa yang salah dengan mengkhawatirkan suami sendiri " ucapnya tanpa sadar.


" Jadi kamu sudah mengakui ku sebagai suami ?" kata Morgan antusias meski wajahnya tetap saja flat.


Bagi sebagian orang akan menganggap Morgan terlihat marah tapi untuk Stevani yang telah mengenal Morgan sangat hafal di mana Morgan yang marah atau tidak.


Wajah Stevani langsung gelagapan, lalu dengan cepat menutup mulutnya kesal sambil menggerutu pelan yang masih terdengar jelas oleh Morgan yang masih memeluknya.


" Pe.. pergi saja sana. Aku akan segera tidur " gugup wanita itu melepaskan lilitan tangan kekar di bahunya dan segera membaringkan tubuhnya juga baby Steve lalu mengeluarkan sumber tenaga untuk baby Steve yang langsung melahapnya dengan rakus karena kehausan setelah menangis tadi.


" Baiklah saya akan pergi sekarang " ucap Morgan berjalan menuju walk in closet, selang beberapa menit ia keluar dengan pakaian lengkap serba hitam lengkap dengan jacket kulit yang juga berwarna hitam.


" Kenapa harus terlihat tampan seperti itu sih" gerutu batin Stevani kesal.


" Ada apa ? kenapa melihat ku seperti itu " ucap Morgan tersenyum tipis. Ia tahu permaisurinya itu sedang kesal kepadanya.


" Tidak ada. Pergilah cepat sana " katanya pura - pura tak peduli memalingkan wajahnya kearah lain.


Bukannya menuruti tapi Morgan malah melangkah mendekat ke kasur, mengecup pucuk kepala wanita itu sekilas dan mengucapkan kata - kata yang menenangkan.


" Saya akan pulang secepatnya " ucap Morgan namun wanita itu tetap saja membisu hingga Morgan pergi dari sana.


" Dasar pria menyebalkan " desisnya kesal menatap di mana terakhir keberadaan pria itu.

__ADS_1


Menghela nafas memandang langit - langit kamar dengan pandangan kosong, setidaknya Morgan telah berjanji tidak akan meninggalkannya sendiri di sini fikirnya.


Entah apa yang akan terjadi kedepannya hanya misteri, tak ada yang tau pasti apakah mereka akan tetap bersama ataukah terpisah oleh perbedaan alam keduanya.


__ADS_2