
Selalu di junjung tinggi dan di hormati oleh rakyatnya membuat sang pangeran iblis menjadi kesal karena tatapan Stevani namun sedetik kemudian ia tersenyum tipis.
" Apa kau merindukan ku sweet " ucap Morgan menggoda Stevani dan tanpa aba - aba menarik wanita itu ke pangkuannya lalu mengendus - endus aroma kesukaannya.
Berbeda dengan Morgan, Stevani malah ketakutan setengah mati memejamkan matanya erat menghalau rasa takutnya.
Bayangan Morgan menghisap darah Olivia tertanam kuat di fikirannya, rasa was - was saat kulitnya tak sengaja bergesekan dengan pria itu juga bau amis darah membuat ia mual.
" Tidak mungkin dia menyakiti mu, kan sedang mengandung anaknya. Sama saja membunuh anaknya sendiri " batin Stevani memberanikan diri membuka matanya.
" Le.. lepas !! " serunya memberontak pelan.
" Jangan bergerak, kau mengganggu kesenangan ku " geram Morgan membuat nyali Stevani ciut.
Ia menyesal selalu memakai perasaan hingga berakhir bersama iblis tampan ini di sini, coba saja ia lebih menahan perasaannya pasti tidak kejadian seperti sekarang.
Kenyataan bahwa Morgan adalah iblis membuat psikologis nya merasa terguncang, belum bisa menentukan sikap bahkan ketakutannya pada Morgan semakin berakar saat matanya tak sengaja melihat mayat Olivia yang tergeletak di tempat tidur.
Merasakan tubuh wanita di dekapannya bergetar membuat Morgan merasa bersalah.
" Tenanglah saya tidak mungkin menyakiti mu sweet, sungguh " bisiknya lembut menenangkan.
Namun yang terjadi malah tubuh rapuh itu tambah berguncang lebih keras dan pecahlah tangis Stevani.
Dengan sigap Morgan memeluknya dengan penuh sayang yang mampu menghangatkan hati wanita yang di landa bingung itu akan kah menerima Morgan yang seorang pangeran iblis demi anak ini atau tidak.
Setelah tangis Stevani mereda di urainya pelukan keduanya lalu di baliknya tubuh wanita itu kearahnya.
" Tatap mata ku, apa diriku berbohong. Saya memang pangeran iblis namun tidak mungkin menyakiti istrinya sendiri, permaisurinya " jelas Morgan menatap kedua mata indah itu intens.
" Tapi kenapa kamu membunuh wanita itu, hiks.. aku takut " jawab Stevani terisak pelan.
" Sssstt jangan menangis, ini belum saatnya kamu mengetahui semuanya namun yang harus kamu ketahui aku tak mungkin menyakiti dirimu " kata Morgan lagi.
" Tapi... ?? " ucap Stevani namun terputus oleh kecupan singkat Morgan di bibirnya.
" Kalau kamu bicara sekali lagi aku akan memakan mu di sini " bisik pria tampan itu menyisipkan senyum miring khasnya.
__ADS_1
Dengan cepat Stevani mendelik galak saat mendengar penuturan pria di depannya.
" Dasar mesum. Lepas, aku harus pulang " kata Stevani serak.
" Jangan sekarang, masih kangen " lirih Morgan bukan melepaskan tapi malah mengeratkan pelukannya.
" Aku jijik di sini, lagian supir taksi yang mengantarku masih menunggu di depan " jelas Stevani.
Cepat Morgan menoleh ke arah sekitar, darah berceceran di lantai dan jasad Olivia terbujur kaku di tempat tidur, menghela nafas berat akhirnya ia mengangguk mengizinkan Stevani pergi dari sana.
" Aach !! " desis Stevani saat akan melangkahkan kakinya kearah pintu.
" Ada apa ? apa yang sakit " dengan rasa khawatir Morgan mendekat memeriksa tubuh wanita hamil itu lalu menggendongnya dan membaringkan stevani kearah sofa yang baru saja di dudukinya barusan.
" Pe..rut ku aah.. sakit "rintihnya.
" Di sini ??" ucap Morgan menyentuh perlahan perut buncit Stevani, kembali ia merasakan perasaan luar biasa seperti kemarin.
Ajaib bayi itu seperti sedang ingin bermanja - manja kepada sang ayah, ia tak rela jika berpisah darinya maka ketika Morgan mengelusnya rasa yang dirasakan Stevani terasa berkurang secara perlahan.
" Sudah berkurang " lirih Stevani takjub atas keajaiban tangan Morgan.
Lama keduanya dalam posisi itu sampai Stevani memejamkan matanya dalam hati ia merutuki tubuhnya yang tak tau diri, bisa - bisanya merasa nyaman saat berada di dekat maut.
Morgan dengan sigap menyandarkan tubuh Stevani ke dada bidangnya, hatinya senang merasakan lagi momen yang sangat ia rindukan meski dalam keadaan yang tak tepat seperti sekarang.
Rasa penasaran masih menggantung di benak Morgan tentang anak yang di kandungan Stevani, ingatkan dirinya untuk menanyakan status anak itu kepada stevani.
Bahkan ia akan dengan kejam menghukum permaisurinya jika wanita itu berkhianat kepadanya.
Seminggu berlalu sejak kejadian itu, dimana akhirnya Morgan mengantarkan Stevani kerumahnya dengan teleportasi dan hingga kini keduanya tak pernah bertemu kembali hingga kini, setidaknya Stevani bersyukur untuk itu karena ia masih belum siap untuk bertemu Morgan.
Berbeda dengan Morgan yang melanjutkan misinya yang gagal dengan kehadiran Stevani waktu itu jadi dia harus mencari tumbal baru untuk malam purnama berikutnya.
" Seen ayo sarapan aku sudah masak makanan kesukaan mu " ucap Stevani namun seen hanya berlalu tanpa merespon ucapannya.
Stevani mengerti seen masih marah kepadanya, namun ia tak menyangka hingga selama ini.
__ADS_1
" Seen ayolah, aku sudah minta maaf !! " seru Stevani kesal.
Rasanya ada yang kurang saat sahabatnya itu mengacuhkannya.
" Entah apa yang terjadi kepadanya ??" lirihnya menatap mobil seen yang semakin menjauh.
Stevani merasa aneh dengan sikap seen yang tak biasa dan yang anehnya lagi setiap hari ada Dokter Diego yang selalu mencarinya namun seperti dirinya Diego selalu di acuhkan.
" Apa sebaiknya aku mencari tau sendiri, ah baiklah sepertinya itu lebih baik " lirihnya lalu melangkahkan kakinya ke arah kamarnya.
Setelah membersihkan tubuhnya kini ia telah rapi dengan dress marun polosnya dengan pita di dadanya. Aura ibu hamil satu itu terpancar sempurna di tambah senyum memikat miliknya setiap mengajak baby Super berbicara.
Dokter memang menyarankan Stevani untuk sering mengajak bayinya berkomunikasi karena di usia kandungan 6 bulan bayi mulai bisa mendengarkan maka dilarang keras untuk mengeluarkan kata - kata kotor atau makian.
" Sebaiknya kita berangkat sekarang nak, atau paman Diego akan kembali sibuk dengan pasiennya " ucapnya mengelus lembut perut buncitnya.
Ia memang telah menelfon Diego dan membuat janji bertemu dengan dokter tampan itu di sebuah kafe yang ada di depan rumah sakit tempatnya bekerja.
Dan kini ia telah sampai di hadapan Diego, dan segera meletakkan bokongnya perlahan. Perut buncitnya tak menjadi masalah baginya meski gerakannya menjadi agak lambat.
" Apa kamu sudah lama ??" ucap Stevani kemudian.
Karena taksi yang di tumpanginya terjebak macet di jalan sehingga membuatnya terlambat untuk tiba di sini.
" Tak masalah, saya juga baru sampai " jawab Diego menenangkan padahal dia sudah menunggu hampir setengah jam disana.
" Benarkah " ucap Stevani ragu yang di jawab anggukan pasti pria tampan di depannya.
" Jadi apa yang ingin kamu bicarakan ??" tanya Diego berbasa basi meski sebenarnya ia sudah mengetahui alasan Stevani menemuinya karena seen.
" Ini tentang seen " lirih Stevani sesuai dugaannya.
" Seen berubah semenjak dimalam itu, apakah ada sesuatu terjadi diantara kalian karena aku sangat mengenal seen, ia tidak mungkin marah sampai seperti ini kepadaku hanya karena hal sepele. Kau tau bahkan aku pernah hilang berhari - hari tapi ia tak marah kepada ku tapi sebaliknya ia mengkhawatirkan ku " jelas Stevani panjang lebar.
Tatapan intens wanita di depannya membuat Diego menelan ludahnya kasar, teringat akan peristiwa seminggu yang lalu dimana Stevani menghilang dan meninggalkan dirinya bersama seen, wanita yang di sukainya.
" Kenapa kau bertanya seperti itu " gugup Diego mengalihkan tatapannya kearah lain.
__ADS_1