
" Cukup Jacob, bukankah sudah ku katakan itu cuma salah faham. Raja Flipe tidak membunuh orang tua mu, mereka itu sahabat lama. "
" Sudahi dendam mu " sambung Morgan lirih.
" Salah faham kata mu " desisnya sinis.
Mata king Jacob berkilat marah dan segera menyerang tanpa aba - aba, perkelahian kedua penguasa itu pun tak terelakkan saling melempar serangan demi serangan mematikan.
" Boom !! "
" Boom !! "
" Boom !! "
Suara ledakan menghantam ke arah Morgan, beruntung ia dapat menghindar kalau terlambat beberapa detik saja mungkin tubuhnya akan menjadi abu karena dahsyatnya kekuatan yang menghantamnya.
" Baiklah kalau ini mau mu tapi jangan menyesal karena diriku tak akan bisa berhenti sebelum memusnahkan mu !!" marah Morgan bersiap membalas serangan dengan kekuatan penuh.
Kilatan - kilatan cahaya mewarnai hutan kesegala arah menghancurkan pohon - pohon yang ada di sana.
Sudah tiga jam keduanya saling menyerang namun keduanya masih dalam posisi prima tak ada yang mau mengalah.
Di lain tempat, di sebuah kamar yang remang terlihat Stevani yang tertidur setelah menyusui baby Steve.
Empat jam yang lalu setelah king Jacob yang selalu gagal hendak menyentuh baby Steve akhirnya ia menyerah dan menyuruh Stevani pergi ke sebuah kamar yang ada di sana.
Dan di sinilah kedua ibu dan anak itu, Stevani mulai terjaga dan menyadari keberadaannya di kandang musuh suaminya.
" Hah, menyebalkan " desisnya kesal.
__ADS_1
Stevani menyadari bahwa bayinya menuruni darah murni ayahnya yang seorang pangeran iblis, bahkan di usianya yang baru beberapa bulan baby Steve bisa melindungi dirinya dari musuh sang ayah.
" Bayi pintar " gemas Stevani menciumi pipi gembul itu membuat baby Steve terjaga dengan mata membulat lucu.
" Ayo kita pergi dari sini " ujar Stevani yang di sambut tawa renyah baby Steve seolah - olah mengerti apa yang di katakan oleh ibunya.
Dengan menggendong anaknya Stevani melangkahkan kakinya perlahan keluar, sepi.. itulah yang di lihatnya pertama kali akan tetapi Stevani tidak kunjung merasa senang karena yang di lawannya kini bukanlah seorang manusia sepertinya melainkan seorang iblis.
" Kita harus kemana sayang " bisiknya. Di situasi genting seperti sekarang insting anaknya lebih berguna menurutnya.
Sambil tertawa renyah baby Steve menunjuk sebuah lukisan yang tak jauh dari mereka berada.
" Lukisan " batinnya mengerutkan kening, tapi apa salahnya mencoba fikirnya.
Di dekatinya lukisan yang di tunjuk baby Steve tadi dan tanpa terduga tangan kecil bayi itu mengeluarkan cahaya merah keunguan yang samar lalu menepuk - nepuk lukisan itu.
Berikutnya lukisan itu berubah menjadi sebuah pintu bewarna keemasan, Stevani memandang bayinya takjub ia merasa berpetualang kedunia lain yang sebelumnya hanya ada di imajinasinya.
" CKLEK !! "
Saat pintu di buka pemandangan hamparan Padang rumput hijau menyambut mereka, ia sempat terpana beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dari tujuannya sebelumnya dan segera ia melajukan langkahnya keluar dari sana.
Diiringi tawa bayi itu Stevani akhirnya melewati hamparan rumput dan pelariannya mengarah kesebuah hutan, ternyata Kastil itu di kelilingi oleh sebuah hutan yang lebat. Suara hewan - hewan buas tak membuat Stevani takut malah mempercepat langkahnya memasuki hutan semakin dalam.
Mencium aroma segar tanpa di komando para hewan buas segera berlomba - lomba untuk mendekat.
" Kita berhenti dulu nak, ibu sangat lelah " ucapnya mendudukkan bokongnya di sebuah pohon yang tumbang.
Baby Steve menepuk - nepuk dada Stevani dan tanpa di sadari kalungnya bersinar membuat beberapa hewan buas yang hendak mendekat kearah mereka merasa takut, kemudian menunduk dan bersimpuh di sekitaran sana seperti menjaga tuannya.
__ADS_1
Stevani mengira bahwa bayinya menepuk dadanya karena haus lalu mengeluarkan asupan tenaga bagi baby Steve.
" Apa kamu hanya bisa tertawa nak " ujar Stevani heran, karena dari umur satu bulan baby Steve sudah tidak pernah menangis lagi hanya saja bayi itu sering tertawa membuat Stevani merasa heran namun karena ia tau betul siapa bayinya jadi ia tak terlalu menghiraukan kelakuan berbeda anaknya.
Karena asik berceloteh dengan bayinya ia sampai tidak menyadari hari sudah mulai gelap, akhirnya dengan berat hati wanita itu memutuskan untuk beristirahat disana tapi sebelum itu ia memanjat salah satu pohon yang ada disana agar hewan buas tidak bisa memangsanya. Tak sadar saja dia jangankan untuk memangsa bahkan hewan buas disana takut untuk mendekatinya.
Bukan hanya hewan buas beberapa mata merah hanya berani menyaksikan keduanya dari jauh.
Tapi ada seorang wanita kerdil seperti kurcaci dengan membawa tongkat di tangannya perlahan mendekat dengan langkah kecilnya, mengendus endus kearah Stevani dan baby Steve meski hanya dari bawah pohon karena ia tidak bisa memanjat dengan tubuh mungilnya.
Leher pendeknya mendongak namun karena terlalu bersemangat membuat tubuhnya terjengkang kebelakang sontak membuat baby Steve tertawa lucu.
" Apa yang kau tertawakan bayi kecil " ucap Stevani lirih sambil mendesel - dusel hidung mungil itu gemas,karena kejadian barusan hanya baby Steve yang bisa melihatnya tapi tidak dengan Stevani yang hanya bisa merasakan hawa yang membuat bulu kuduknya merinding.
Beruntung ada baby Steve di dekatnya, setidaknya bisa menghibur hati Stevani yang sedang merasa takut akan kegelapan malam apalagi di tengah hutan belantara seperti ini.
Hingga rasa kantuk merenggut kesadarannya dengan masih tetap memeluk erat bayinya menyalurkan rasa hangat dari tubuhnya sedangkan mahluk kerdil yang tak kasat mata itu tetap saja menunggu di sana dan harus puas menghirup aroma memabukkan yang di keluarkan dari tubuh stevani.
____
Matahari pagi muncul di sela - sela dedaunan mengenai wajah cantik seorang wanita yang sedang memeluk erat bayinya.
" Hm, sudah pagi " lirihnya menatap sekilas bayi yang sedang memandang kearahnya dengan mata membulat menggemaskan.
" Apa kamu senang berpetualang bersama ibu hm.. Kelak kamu akan merasakan petualangan yang sangat panjang dan ibu harap kamu akan sekuat ayah mu nanti " ucap Stevani seperti doa lalu mengalihkan tatapannya pada hamparan pepohonan lebat yang terjangkau oleh matanya.
Ia sadar hidup anaknya kelak tidak akan mudah karena terlahir dari kisah terlarang orang tuanya yang berbeda ras, di tambah dengan keadaan dirinya yang berbeda dari manusia pada umumnya karena memiliki tanduk yang menurut Stevani akan memanjang setiap anaknya itu bertambah usia.
Tidak bisa di bohongi wanita itu bahwa ia selalu khawatir pada masa depan anaknya nanti, akankah mereka bisa menerima keadaan anaknya yang berbeda ini.
__ADS_1
Setelah melihat situasi aman segera ia turun dari sana dengan baby Steve yang di ikatnya di punggungnya seperti waktu ia memanjat naik.
Dengan perasaan was - was ia berjalan mencari sebuah sungai untuk minum demi menuntaskan dahaganya sesekali ia memetik beberapa buah yang di temuinya sebelum sampai ke sungai dan segera memakannya dengan rakus karena merasa kelaparan.