
Paginya Morgan terbangun dengan rasa lapar sehingga menimbulkan suara demo yang berasal dari perutnya.
" Memalukan " gerutunya dalam hati.
Seorang pelayan datang ke kamarnya menyajikan beberapa menu yang tampak menggoda untuk Morgan, sudah sejak sebulan ini nafsu makannya bertambah banyak ia pun khawatir akan menimbulkan lemak di tubuh berototnya.
" Terimakasih " ucapnya lalu melahap tanpa menghiraukan pelayan wanita itu yang masih berada disana.
" Pergilah " usirnya ketus merasa terganggu tatapan pelayan itu kepada tubuh telanjangnya.
" Maaf. saya permisi " ucapnya gugup berlalu dari sana.
" Bahkan saya yang seorang pria saja merasa di lecehkan oleh tatapan mu itu " decihnya sinis.
20 menit kemudian Morgan selesai melahap semua hidangan tanpa tersisa sedikit pun, wow nafsu makan yang fantastis.
" Kenapa aku menjadi rakus seperti ini, prilaku ini bisa mencoreng wibawa ku sebagai seorang pangeran " desahnya prihatin melirik perutnya yang sedikit membuncit.
Selesai dengan segala rutinitasnya Morgan telah rapi dengan kemeja marun yang melekat di tubuhnya.
" Baiklah saya segera turun " ucapnya melalui sambungan telfon.
Merasa yakin tak ada yang tertinggal ia segera melangkahkan kakinya menuju lif, saat masuk ke dalam lif sudah ada seorang wanita cantik yang tersenyum tipis kepadanya.
" Lantai berapa ??" tanya nya ramah.
" Lobi " singkat Morgan. Lalu hening kembali, wanita di sebelahnya tampak sibuk dengan gawainya karena tujuannya sama dengan Morgan.
Ketika pintu terbuka Morgan melangkahkan kakinya keluar dengan cepat tanpa menoleh ke arah wanita itu.
Tapi kakinya berhenti mendadak saat penciumannya mencium wangi yang familiar.
" Permaisuri " lirihnya menoleh ke segala arah .
" Dasar seen sialan " kata suara yang sangat di kenalnya, ingin rasanya Morgan berbalik dan merengkuh wanita mungil itu namun sekuat tenaga di tahannya, karena tak mau kehilangan Stevani lagi.
" Ayolah biar aku yang memberikan nama untuk ponakan ku " jawab suara lain.
" Tunggulah hukuman mu sebentar lagi sweet" bisiknya lirih melanjutkan langkahnya di mana sudah ada mobil yang dimenunggunya.
Hari ini Morgan menghadiri acara yang diadakan salah satu pihak kampus ternama di kota itu, tak tanggung - tanggung semua kampus yang ada di negara Inggris di undang tanpa terkecuali.
Gedung serbaguna itu di sulap menjadi sangat elegant dengan hiasan bunga lili di setiap sudut ruangan, sekitar seribu orang yang hadir setiap kampus boleh satu atau dua orang yang hadir tapi dari kampus hanya ada satu orang saja.
__ADS_1
" Silahkan tuan " ucap seorang wanita yang bertugas memeriksa undangan di bagian depan gedung mempersilahkan dirinya masuk setelah pria itu mengisi buku tamu.
Mengangguk lalu mengedarkan pandangannya mencari di mana teman - temannya berada.
" Jeson, di sini !! " seru Tonny salah satu temannya yang berasal dari kampus yang berbeda.
Morgan mengenalnya saat sedang di acara seminar beberapa bulan yang lalu, jadi mereka berkenalan. Lagi pula Tonny adalah teman ngobrol yang asik.
Segera ia melangkahkan kakinya mendekat kearah meja yang di huni tonny dan beberapa orang temannya yang tak Morgan kenal.
" Duduklah bro " kata Tonny.
" Thanks ton "Morgan mendudukkan bokongnya di sebelah Tonny.
Aura sang pangeran tak bisa di pungkiri Morgan selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada seperti saat ini.
" Kenalkan ini sepupu saya Jasmine Antonio " ucap pria Asia itu tersenyum tipis melihat wajah mupeng sang sepupu.
" Saya jeson " ucap Morgan kaku mengulurkan tangannya yang dingin.
" Jasmine " ucap gadis itu menyambut uluran tangan itu malu - malu.
" Ekhem !! ini Luis dan ini Marco " sambung Tonny memperkenalkan temannya satu persatu.
Sesekali Jasmine memasukan morgan ke dalam obrolan mereka, tampak jelas sekali ketertarikan Jasmine terhadap Morgan meski wajahnya tetap saja kaku namun bagi Jasmine itulah tantangannya, biasanya pria seperti itu sangat romantis.
" Bagaimana kalau kapan - kapan kita nongkrong " tanya Marco yang di balas acungan jempol oleh Luis dan Tonny yang hanya terkekeh kecil.
" Sorry aku nggak ikut " jawab Jasmine, ia tau betul nongkrong yang di maksud Marco si pria mesum itu.
Marco emang tipikal penganut *** bebas, jadi setiap Minggu ia akan pergi ke sebuah bar yang menyediakan ******.
" Jeson ikut loh, awas aja menyesal " godanya pada Jasmine.
" hm, akan aku fikirkan " lirihnya melirik Jeson lalu menggigit bibirnya sendiri.
" Sungguh, pria ini sangat menggairahkan bahkan meski masih berpakaian lengkap " batinnya, ia sangat menginginkan pria ini untuknya sendiri.
Tak lama suara pembawa acara mengalihkan fokus mereka ke podium, suasana khidmat dengan berlangsungnya acara hingga selesai.
Mereka berpisah dan kembali ke hotel masing - masing, berjanji akan bertemu kembali esok malam di sebuah bar ternama yang ada di sana.
" Aaakkh.. !! " jerit lirih Morgan Memegang kepalanya , membuat supir menoleh kearahnya.
__ADS_1
" Apa anda baik - baik saja tuan " tanya nya khawatir.
" Ya. cepat jalankan mobilnya " pintanya lirih. menahan rasa sakit yang menderanya.
Keringat dingin bercucuran dari keningnya sungguh tak pernah ia merasakan sakit yang seperti sekarang bahkan saat saudaranya meracuninya dulu.
" Lebih cepat pak " lirihnya hampir tak terdengar, tapi supir yang mengerti lalu menambah kecepatan laju kendaraannya.
" Apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja tuan ??" ucapnya tetap fokus pada jalanan sesekali menoleh kearah Morgan, memastikan pria itu masih dalam keadaan sadar.
" Tidak perlu, saya hanya perlu beristirahat saja " jawab Morgan semakin terdengar lirih.
Perlahan di pejamkan matanya, sekilas ia melihat seorang anak kecil yang sangat mirip seperti dirinya tapi bedanya matanya berwarna merah gelap bukan ungu seperti dirinya, anak kecil itu tersenyum lebar dan menyentuh keningnya lembut dengan tangan bercahaya kemerahan seperti matanya lalu menghilang.
" Siapa dia ??" batinnya setelah membuka mata.
Yang lebih membuatnya bingung adalah sakit di kepalanya tak terasa lagi, perlahan - lahan tenaganya mulai pulih kembali.
" Apa ini, siapa anak kecil itu. Apakah diri ku yang lain " fikirnya menerka - nerka arti dari kilasan di pelupuk matanya barusan.
" Nanti saja ku cari tau soal itu, sebaiknya fokus pada tubuh ini terlebih dahulu " fikirnya.
Sesampainya di hotel ia segera beraksi mengganti pakaiannya, membuka laptop mencari tempat dimana goa neraka yang di bilang ayahandanya waktu itu berada.
Setidaknya dia harus memiliki tubuh ini sebelum terlambat.
" Indonesia, di mana itu " ucapnya dengan cepat menggerak - gerakkan jarinya dengan tatapan tetap fokus ke arah layar laptop.
" Kenapa jauh sekali " keluhnya.
" Tapi bukannya bisa menggunakan teleportasi, ya teleportasi " katanya bergegas membacakan mantranya, namun ia berhenti saat teringat waktunya untuk menghadiri pesta 4 jam lagi.
" Hm, sebaiknya nanti saja setelah urusan jeson selesai di sini " katanya.
Malam harinya Morgan telah siap dengan kemeja warna marun menutupi otot lengannya yang menyembul.
" Ok. sebentar lagi saya berangkat, anda tenang saja pak saya tidak mungkin terlambat" ucapnya mematikan sambungan telefon dan menghela nafas berat.
Biasanya dialah yang memerintah tapi di dunia manusia ini dirinya yang diperintah, sungguh menyebalkan fikirnya.
" Ingatkan diriku untuk lebih menghargai bawahan ku " lirihnya lalu menyampirkan jas hitamnya ke bahunya menampilkan kesan bad boy pada dirinya.
Lalu menelfon supir yang di sewanya untuk memudahkan nya selama di sana.
__ADS_1