Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 43 - Tamu tak di undang saat ritual


__ADS_3

Setiap peristiwa selalu menjumpai sebabnya begitu pula kisah mereka.


Morgan baru saja menerima kabar dari bawahannya bahwa perusahaan mereka yang di sana mengalami kebakaran padahal Morgan sangat yakin sudah memasang mantra di sana agar setiap yang berniat jahat akan celaka.


" Pasti mereka yang melakukannya agar saya keluar dari persembunyian, rencana yang licik. " fikir Morgan geram.


Dan benar saja dua orang pria tampan berjalan santai di sebuah bandara, memasuki sebuah taksi yang mengantar mereka ke hotel terdekat.


Wajah flatnya membentuk senyum manis kepada resepsionis hotel dengan maksud lain. Justine yang menyadari itu segera menyingkir darinya memberikan ruang dengan berjalan seorang diri menuju kamarnya.


Malam harinya resepsionis wanita itu datang memenuhi undangan Jacob di kamar hotelnya.


" Masuklah " ujar Jacob membuka sedikit pintunya pada wanita bernama Maria itu.


Jacob menyeringai melihat mangsanya dengan mudah masuk perangkapnya, tanpa wanita itu sadari fisik Jacob berubah dengan mata Semerah darah saat Maria berbalik ia memekik histeris.


" Si.. siapa kamu. di.. di mana tuan Jacob ?" ucapnya terbata.


" Saya malaikat maut mu **** " desisnya dengan raut kejam, perasaan senang membuncah karena melihat mangsanya ketakutan membuat dirinya puas.


" Ti.. dak mungkin " shock Maria.


Tanpa aba - aba Jacob secepat kilat mendekat lalu dengan kejam menggigit lengan Maria menghisap darahnya dengan rakus, dalam hitungan detik tubuh wanita yang awalnya cantik itu berubah menjadi keriput karena kekeringan darah dan tewas seketika.


" Masuklah. " ucapnya menyadari keberadaan Justine dan melempar tubuh wanita itu lalu membersihkan tetesan darah di bibirnya.


Justine masuk dengan menyunggingkan senyum miring di bibirnya menatap mayat yang tergeletak tak jauh darinya.


" Ayo, aku sudah menemukan lokasinya " ucap Justine kemudian.

__ADS_1


" Apakah akurat ?" kata Jacob mengangkat alisnya meragukan.


" Tentu saja, kali ini bawahan ku sendiri yang mengurusnya " jawab Justine arogan karena tak terima di remehkan pria di depannya padahal ia hanya gagal sekali tapi pria di depannya selalu mengungkitnya.


" Kalau tidak ada untungnya bagiku, mana sudi aku menjadi kacungnya. sialan !!" maki batinnya geram.


" Ayo pergi !!" kata Jacob berseru pelan seperti mendesis.


* * * * *


" Apakah kau siap, ini akan terasa agak menyakitkan apa kau yakin bisa menahannya ? " ucap Morgan yang entah ke berapa kalinya.


Setelah mempelajari buku tanpa nama akhirnya ia menemukan sebuah cara untuk memisahkan kalung itu dari tubuh Stevani.


Dengan sebuah ritual penyucian orang yang melakukan ritual itu harus berendam di dalam sebuah air yang mengalir deras selama satu malam penuh dan di malam bulan purnama, tak hanya itu ia juga harus meneteskan darahnya pada tempat letak dimana barang yang ingin di pisahkan dari tubuh orang itu sebagai persembahan terakhir.


Wanita itu mulai jengah menatap malas pada Morgan, bukankah ia yang menyarankan ritual ini kenapa dia yang jadi khawatir fikirnya. Meski sebenarnya Stevani merasa agak sedikit takut karena pertama kali baginya melakukan hal semacam ini.


Akhirnya Morgan memulai dengan membacakan beberapa mantra sebagai pembuka ritual dan di sambung Stevani dengan mantra agak pendek yang telah di hafalkan sebelumnya.


Dan tanpa terlihat ragu wanita yang hanya menggunakan tank top hitam itu menenggelamkan tubuhnya hingga menyisakan kepalanya saja berpose seperti orang bersimedi.


Beruntung baby Steve tertidur pulas dengan perut kenyang di sebuah tenda yang di bangun Morgan di tepi sungai jadi tak akan mengganggu prosesnya.


Setelah Morgan menyingkir Stevani memfokuskan fikirannya lajunya air terasa menusuk di kulit hingga ketulang tapi tak melunakkan tekadnya.


Semakin lama tajamnya air bagai jarum yang menembus kulit sampai ke dagingnya membuat rasa sakit tak tertahankan sampai ia harus mengatupkan giginya menimbulkan bunyi gemelatuk tapi Stevani terus berusaha agar tetap fokus.


Stevani mengerutkan keningnya dalam seperti ada sesuatu yang mengarahkan fikirannya pada bayangan yang mengerikan, tak tau dirinya berada dimana.

__ADS_1


Cairan lengket dengan aroma pekat seperti darah yang telah mengering, saat tersadar tempatnya berada dirinya bahkan tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya dan memaksakannya melihat pemandangan di depannya suku elf dan iblis saling membantai satu sama lain.


Salah satu dari mereka berlari mengangkat tombak ke arahnya dan menancapkan di bahu membuatnya memekik dengan kencang tapi anehnya Stevani tak merasakan apa pun seperti yang tertancap senjata tajam itu bukanlah dirinya.


Dari ketepian Morgan terlihat resah berjalan mondar - mandir di tepi sungai, melihat wanitanya menahan kesakitan membuat pangeran menjadi tak tega ia bimbang kalau menghentikan di tengah jalan maka berakibat fatal bahkan bisa menghilangkan nyawa wanita yang di cintainya itu.


" Sialan !! mereka menemukan ku " makinya saat merasakan aroma lain di sana, sejenak hatinya bergetar bukan karena takut tapi karena merasa geram kepada bangsanya itu terutama untuk adik tirinya Justine, Morgan merasa telah di khianati oleh saudaranya sendiri.


" Mau main - main dengan ku !! baiklah kalau begitu " batinnya menyeringai.


Mata tajam itu terpejam beberapa detik dengan membaca mantra yang rumit lalu menggerakkan satu tangannya kearah anak dan juga permaisurinya membuat sebuah pola sebagai perisai.


" Datanglah !! " ucapnya dengan seringaian bengis lalu berlari secepat kilat menghadang para pengganggu menurutnya.


" Mencari ku heh !! " ucap Morgan dengan angkuh saat tiba di hadapan rombongan Jacob juga Justine.


" Wow besar juga nyali mu " ucap Jacob di sambung tawa meremehkan menatap lawan bicaranya.


" Oh yah, sepertinya kau terlalu memandang tinggi dirimu Jack " balas Morgan.


" Dan kau sialan sepertinya sudah bosan hidup. " desis Morgan mengalihkan tatapannya kearah Justine yang di balas tawa remeh sang adik.


" Coba saja atau kau sendiri yang akan mati di sini " ucap Justine tanpa menghentikan tawanya membuat dada Morgan bertambah panas oleh amarah lalu dengan gerakan cepat menghantamkan pukulan kearah Justine namun segera di tangkis oleh Jacob yang berada di sebelahnya.


" Maju !! " seru Justine pada bawahannya.


Pertempuran yang tak tak seimbang pun tak terelakan, meski begitu sang pangeran tidak merasa gentar.


Memiliki kekuatan yang melegenda membuat Morgan tak tersentuh tampak seperti sang raja sesungguhnya, itulah yang membuat Justine selalu merasa iri kepadanya.

__ADS_1


" Majulah Justine !! temani saudaramu ini bermain " ucap Morgan tak sabar di sela perkelahiannya.


__ADS_2