Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 25 - Mencari target


__ADS_3

Morgan berjalan di red karpet, acara penutupan ini bukan hanya di hadiri para dosen tapi banyak juga dari kalangan pejabat juga artis yang di undang.


" Acara yang meriah " ucap Marco yang entah datang dari mana.


" Hm, Marco. Dimana yang lain ??" tanya Morgan.


" Yang lain siapa ?? Tonny, Luis atau Jasmine " godanya menaik turunkan alis tebalnya.


" Tentu saja mereka semua " kata Morgan lagi.


" Oh, aku kira Jasmine. Dia masih virgin bro " bisiknya ke telinga Morgan di ujung kalimatnya.


Mendengar kata virgin Morgan lalu teringat sesuatu, " Darah gadis perawan " batinnya.


" Saya akan menemui tuan Miley Anderson terlebih dahulu, apa kau mau ikut ??" ucap Morgan.


" No thanks, aku akan menunggu yang lain saja " jawab Marco lalu keduanya berpisah diantara lautan manusia.


Morgan menyeringai tipis yang menyeramkan melihat banyaknya manusia disana.


" Ini akan mudah " batinnya menebar pesona pada para gadis dengan tersenyum manis, namun menurut Stevani senyum yang sangat aneh.


Dia terus berjalan sampai menemukan titik tuan Anderson berada.


" Selamat malam tuan Anderson , perkenalkan saya Jeson perwakilan dari Universiti of Glasgow " ucap Morgan basa - basi.


" Selamat malam tuan Morgan, silahkan duduk " ucap Miley.


" Terimakasih " ucapnya tanpa sungkan duduk di hadapan Miley karena hanya kursi itu yang tersisa di sana.


" Apa kau menikmati pestanya tuan Morgan ??" katanya.


" Tentu saja, pesta ini sangat meriah " puji Morgan.


Lalu ia memperkenalkan satu persatu orang - orang yang duduk disana, dengan sopan Morgan mengangguk tanda mengerti.


Dan tak lama kemudian Morgan berpamitan dengan dalih ingin menikmati pesta ini bersama teman - temannya.


" Saatnya mencari mangsa." lirihnya lalu membelokkan kakinya menargetkan di mana para gadis - gadis cantik sedang berkumpul.


" Hey, boleh bergabung ??" ucapnya tersenyum tipis membuat beberapa gadis memekik girang kedatangan pria tampan di meja mereka.


Berbeda dengan Morgan yang sedang bercengkrama bersama para gadis, rombongan Tonny termasuk Jasmine sedang menanti - nanti ke hadiran Morgan.


" Silahkan tuan " jawab salah satu dari mereka mewakili yang lain.


" Thanks cantik " jawab Morgan.

__ADS_1


" Aku Lauren dan siapa nama mu ??" tanya wanita dengan gaun yang paling terbuka, hingga hampir menampakkan buah melon yang ranum miliknya.


Morgan yang duduk di sebelahnya menatapnya dengan mata elang miliknya memindai tubuhnya.


" Sial hot banget " batinnya menggigit bibirnya sendiri merasa tubuhnya terbakar bahkan baru hanya di tatap oleh Morgan.


" Namaku Morgan " ucapnya membuat yang lainya memekik tapi tidak dengan satu orang, pakaiannya juga biasa saja tidak terlalu terbuka.


" Dan kalian " sambungnya dan satu - satu memperkenalkan diri sampai pada gadis yang nampak biasa tadi ia sibuk dengan handphone nya tak mengikuti obrolan, salah satu temannya menyenggol bahunya.


" Ada apa ??" ucapnya dengan raut bingung.


" Siapa namu mu cantik ??" tanya Morgan mengedip sebelah matanya.


" Eh, aku Olivia " jawabnya tertunduk malu yang langsung menjadi candaan teman - temannya.


" Dia masih polos tuan, jadi jangan menggodanya " jawab Lauren.


" Benarkah, itu lebih menantang untukku menaklukan gadis polos sepertinya " ucap Morgan semakin membuat pipi Olivia bersemu merah di buatnya.


" Aku izin ke toilet " jawab Olivia dengan segera pergi dari sana, tak lama Morgan pun berpamitan dengan dalih ingin menemui teman - temannya.


Olivia yang baru keluar dari toilet tercekat melihat Morgan di hadapannya, tak menyangka pria tampan itu mengikutinya sampai ke toilet.


" Tu.. tuan " gugupnya.


" Hai Olivia, boleh saya mengenal mu lebih jauh " ucap Morgan secara langsung.


" Boleh tuan, tapi apa yang membuat ingin mengenalku lebih jauh ??" tanya nya penasaran mengalahkan rasa gugup dengan tatapan Morgan kepadanya.


" Kau berbeda, sangat cantik alami " rayu Morgan berbisik dan menghimpit tubuh Olivia di lorong toilet.


" Tu..an " kata Olivia tercekat.


Dengan nakal jari Morgan menyentuh bibir tipis gadis polos itu, lalu mengusap - usapnya pelan.


" Apa kamu sudah mempunyai kekasih ??" bisik Morgan memajukan wajahnya tepat di depan bibir gadis itu.


Olivia tercekat dengan posisi intim mereka, bahkan jarak wajah mereka hanya beberapa senti, bergerak sedikit saja hidung mereka akan bersentuhan.


" Diam berarti belum " sambar Morgan.


" Sekarang kamu milik ku dan saya tak menerima penolakan " tekan Morgan membuat jantung Olivia berdetak tak karuan, demi apa pria di hadapannya memaksanya menjadi ke kasihnya.


" Itu sungguh tak romantis " batinnya cemberut.


" Saya orang yang posesif jadi jangan biarkan lelaki mana pun mendekati mu " bisiknya mengecup singkat bibir di hadapannya lalu tersenyum tipis sebelum benar - benar pergi dari sana.

__ADS_1


Sepeninggalan Morgan, Olivia masih terdiam seperti orang linglung.


" Apa aku sedang bermimpi ??" batinnya tak percaya atas apa yang menimpanya barusan.


" Kita lihat apa dia serius dengan ucapannya ata hanya sedang mengerjai gadis jelek seperti ku " sinis nya.


Olivia seorang dosen yang berasal dari Inggris bagian barat, terkesan pendiam dan agak pemalu jadi tak banyak yang mau berteman dengannya, memiliki wajah lugu yang manis di tutupi rasa minder akibat dirinya yang pemalu.


Waktu semakin larut acara di tutup dengan meriah, Morgan diam di antara kegelapan dengan mata elangnya menanti seseorang.


Tampak incarannya keluar dari gedung membuatnya tersenyum miring.


" Dapat !! " seru batinnya senang membuang puntung rokok lalu menginjaknya dengan senyum miring di bibirnya.


" Honey.. " panggilnya saat Olivia melewatinya membuat wanita itu tersentak saat mengenali suaranya.


" Morgan. dia serius " batinnya terkejut.


" Biar saya antar " kata Morgan menarik lembut tangan putih itu.


" Tapi aku ber.. " protes Olivia namun terpotong oleh Morgan.


" Ssst diamlah. Saya tak menerima bantahan " kata morgan dingin, dengan terpaksa Olivia menerima tawaran itu.


" Masuklah " ucap Morgan membukakan pintu mobil untuk Olivia.


Perlakuan manis itu berefek pada jantung wanita itu yang memompa lebih cepat dari biasanya menimbulkan efek menyenangkan, perasaan yang pertama kali ia rasakan.


" Thanks Morgan " lirihnya dengan pipi bersemu merah.


Demi rencananya Morgan menyetir sendiri dengan bermodalkan aplikasi Google map di smart phone miliknya dan menyuruh supir yang di sewanya untuk pulang.


" Di mana kau tinggal ??" tanya Morgan.


" Hotel King Edward " singkat wanita itu lalu hening kembali.


Perjalanan singkat itu terasa lama sekali bagi Olivia, ia ingin sekali cepat sampai di kamar hotelnya dan memekik semaunya untuk melampiaskan rasa yang membuncah di dadanya.


30 menit kemudian mobil berhenti di parkiran hotel, dengan segera Olivia hendak turun namun tertahan suara Morgan.


" Besok malam bersiaplah, saya akan menjemput mu jam 7 malam " kata Morgan.


" Oke. " singkatnya.


Melambaikan tangan pada mobil Morgan yang semakin menjauh.


Tanpa ia sadari ada bayangan gelap yang menyelimuti seluruh tubuhnya menandakan ajalnya semakin mendekat.

__ADS_1


Setelah mobil pria itu tak terlihat barulah ia memasuki area dalam hotel, ia ingin segera sampai di kamarnya karena tubuhnya terasa sangat lelah seakan tenaganya terserap oleh sesuatu.


Setiap seseorang menjadi target tumbal oleh sosok iblis, maka setiap berdekatan dengan iblis yang menandainya itu energinya akan terserap secara otomatis oleh sosok sang iblis.


__ADS_2