Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 34 - Aroma hutan


__ADS_3

Suara leguhan pelan mengisi kesunyian kamar yang diisi oleh kedua insan yang sedang berpelukan erat menghalau dinginnya udara pagi.


Suara merdunya kicauan burung serta wanginya aroma hutan yang telah disirami air hujan semalaman membuat keduanya tak kuasa hanya untuk sekedar membuka mata.


Morgan memang telah membeli villa mewah ditengah hutan dengan harga fantastis dan jangan ditanya dari mana ia mendapatkan uang karena ia bahkan memiliki kerajaan dengan limpahan harta Karun didalamnya.


Semuanya dia lakukan untuk istrinya tercinta yang sangat menyukai aroma hutan, hobi yang unik bagi sebagian orang namun bagi Morgan itu sangat istimewa karena hutan adalah tempat tinggal mereka para mahluk yang tak kasat mata sepertinya.


Morgan memang telah mengakui perasaannya bahwa ia memang telah mencintai Stevani sejak hari dimana ia mengalami putus asa atas kepergian Stevani meski berkali - kali ia terus menolak perasaan itu karena egonya yang tinggi sebagai pangeran iblis.


" Sweet bangunlah " bisiknya pelan.


" Em, sudah pagi " lirihnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


" Bersiaplah, saya ingin mengajak mu ke suatu tempat " kata Morgan meregangkan pelukannya.


" Apa itu tempat yang spesial " kata Stevani dengan semangat menatap Morgan penuh harap.


" Tentu " kata Morgan mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Dan dengan penuh semangat ia beranjak kekamar mandi tapi sedetik kemudian ia berbalik kearah Morgan, dengan ragu ia berkata.


" Boleh aku meminjam baju mu " ucapnya malu.


" Tidak boleh " jawab Morgan membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya bingung.


" Karena saya telah menyiapkan baju mu di sana " sambungnya menunjuk arah kesebuah salah satu pintu yang ada disana.


Segera saja wanita itu berlari kearah yang di tunjuk Morgan tanpa menghiraukan perkataan pria itu yang menyuruhnya agar berhati - hati.


Matanya membulat melihat banyaknya baju wanita yang berjejer rapih, lengkap dengan berbagai aksesorisnya dan semua itu khusus untuk ibu hamil.


" Morgan.. ini serius " ucapnya pelan menoleh kearah pria yang tak tahu kapan sudah di belakangnya.

__ADS_1


" Ya. dan itu semua milik mu " ucap Morgan menampilkan senyum tipis yang bahkan tak terlihat.


" Terimakasih " bisiknya memandang sekilas pria itu ia terharu atas perhatian Morgan kepadanya.


" Mandilah, saya akan membuat sarapan untuk kita " ujarnya berlalu meninggalkan Stevani yang masih sibuk memilih pakaian yang cocok untuknya.


Satu jam kemudian ia telah rapih dengan dress putih dengan taburan bunga sakura dan rambut panjangnya yang di kuncir satu membuatnya tampak sangat manis, perlahan ia melangkahkan kakinya menuju bawah dimana Morgan sedang menunggunya.


" Sweet kemarilah " ucapnya menyambut kedatangan Stevani lalu menggandengnya penuh perhatian tampak sekali ia memuja wanita itu.


" Apa kamu yang memasak ini semua ??" tanya Stevani dengan mata berbinar, hampir saja air liurnya menetes kalau Morgan tak mengalihkan perhatiannya menyuruhnya duduk.


" Emang siapa lagi " jawab pria itu santai dengan cekatan tangannya memindahkan makanan kedalam piring Stevani.


" Makanlah yang banyak kamu pasti sangat lapar karena makan berdua dengan jagoan kita " ucapnya tersenyum tipis yang hampir tak terlihat.


Wanita itu tersenyum manis sebagai ucapan terimakasih lalu dengan cepat menyendok kan makanan ke mulutnya.


" Ya. ini sangat enak " puji Stevani dengan mengangkat kedua jempolnya.


Mereka makan dengan khidmat sesekali terdengar obrolan keduanya, Stevani mulai membuka dirinya mengeluarkan sifat aslinya, cerewet itulah dirinya yang sebenarnya namun hanya orang - orang yang benar - benar membuatnya merasa nyaman dan secara alami sifatnya akan keluar begitu saja.


Morgan sangat senang melihat wajah ceria wanita itu, yang selama ini tak pernah dilihatnya yang biasanya hanya ada raut wajah takut dan tertekan.


" Selesaikan makan mu kita akan pergi setelah ini " perintah Morgan yang di jawab anggukan semangat wanita itu.


" Kenapa baru sadar ternyata dia memang sangatlah cantik dan bertambah cantik ketika tersenyum " bisik batin Morgan menatap Stevani dengan meningkat dagunya dengan sebelah tangannya sementara matanya terus menatap kegiatan wanita itu.


Setengah jam kemudian keduanya kini berada di sebuah hutan yang tak jauh dari villanya berada, duduk berdampingan di sebuah batang kayu yang tumbang.


Stevani yang awalnya bertanya - tanya kemana Morgan akan membawanya di buat takjub dengan pemandangan di depannya walau harus berjuang dulu untuk sampai ke sana karena harus melewati bebatuan kerikil tajam juga membawa beban di perutnya.


" Terimakasih Morgan, aku mencintaimu " bisik Stevani memeluk sebelah tangan pria itu dengan mata terpejam meresapi aroma dedaunan bercampur aroma tanah yang basah dan juga akar khas hutan.

__ADS_1


" Aku juga mencintai mu sweet, saya senang kamu tidak pergi setelah mengetahui diriku seorang iblis " ucapnya mengecup kening Stevani singkat.


" Itu karena anak ini " jawab Stevani membuka mata menatap Morgan sekilas.


Morgan tersenyum tipis tidak merasa marah justru sebaliknya ia bangga akan Stevani yang mempertahankan buah hati mereka meski harus mengalami ngidam yang parah.


" Kamu harus menjaga ibu mu boy " katanya mengusap pelan perut Stevani.


" Tentu caja ayah " jawab Stevani menirukan bahasa bayi lalu tertawa setelahnya membuat hati Morgan menghangat dengan senyum tipis di bibirnya.


Tidak terasa sudah lebih dari dua jam mereka disana dan wanita itu sepertinya tak pernah bosan menghirup aroma yang sangat ia sukai dan sangat jarang di temuinya.


" Ayo kita pulang sekarang " kata Morgan membuat bibir wanita itu cemberut tak setuju.


" Sebentar lagi Morgan " rayunya mengeratkan pelukannya pada lengan pria itu.


" Tidak sweet, matahari mulai terik tidak baik untuk diri mu " tegasnya menatap tepat di mata Stevani.


" Tapi.. " ucap Stevani terputus karena kecupan singkat Morgan di bibirnya.


" Besok kita kesini lagi, tapi sekarang kita kembali terlebih dahulu " finalnya.


" Janji !! " semangatnya, susah memang berbicara dengan ibu hamil emosinya selalu berubah - ubah. Banyak perubahan wanita itu yang ia sadari selain dari bentuk fisiknya.


Karena tak tega melihat Stevani yang kesusahan bergerak akhirnya Morgan mengambil inisiatif dengan menggendong wanita itu bridal style lalu ia berjalan santai seperti biasa tak merasa keberatan sama sekali.


" Apa tidak berat ??" ucap Stevani yang mengalungkan tangannya di leher Morgan.


" Apa saya terlihat sedang keberatan " tanya nya balik.


" Tidak "


Keduanya berbincang santai menikmati kebersamaan mereka, melupakan seseorang yang sedang sakit sendirian.

__ADS_1


__ADS_2