Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 40 - Pertanyaan morgan


__ADS_3

Hari mulai gelap Stevani terbangun dengan punggung yang terasa pegal karena tertidur dalam posisi yang kurang enak.


" Sudah bangun ?" ucap sebuah suara membuatnya menoleh terlihat Morgan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek santai tampak sangat sangat seksi dengan perut kotak - kotaknya.


" Kenapa tidak menggunakan baju " gerutu Stevani mengalihkan tatapannya lalu melangkah kearah baby Steve yang masih tertidur pulas.


" Apa yang salah dengan itu " bingung Morgan yang mendengar gerutuan wanita itu tapi kemudian ia tersenyum menyeringai.


" Sweet.. mumpung baby Steve sedang tidur bagaimana kalau kita bermain sebuah permainan ?" bisik Morgan sensual serta menampilkan pose seksi seperti ikhlas susu pria dewasa membuat Stevani kesusahan menelan ludahnya seperti ada yang menyangkut di tenggorokannya.


" A.. aku sibuk " gugup Stevani mengalihkan pandangannya kearah lain tapi seolah tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama kepalanya malah mengangguk membuat Morgan terkekeh geli melihat respon istrinya.


" Permaisuri ku sangat lucu " batinnya berseru.


Dengan gemas Morgan mengangkat tubuh wanita itu membuat Stevani memekik tertahan karena terkejut.


" Ssst kau akan membangunkannya " bisik Morgan tersenyum menggoda melirik kearah baby Steve yang terlihat bergerak dalam tidurnya.


" Itu semua gara - gara kamu yang mengagetkan ku " kesal Stevani yang hanya di balas senyum tipis Morgan dan tanpa mempedulikan gerutuan stevani ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan masih menggendong wanita itu.


Pergulatan adegan dewasa pun terjadi disana menyisakan suara ******* - ******* kenikmatan yang berasal dari kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.


Dua jam kemudian terlihat Morgan keluar menggendong Stevani yang terlihat lemas karena melayani nafsu Morgan yang luar biasa itu.


" Maaf Sweet membuat mu jadi seperti ini " bisiknya dengan rasa bersalah lalu meletakkan tubuh itu di sebelah bayi mereka, namun tidak ada balasan berarti karena wanita itu telah terlelap karena kelelahan.


Malam telah tiba keluarga kecil itu telah bersiap untuk pergi keluar untuk mencari makan malam.


" Cepatlah Morgan, aku sudah sangat lapar" keluh Stevani karena menganggap Morgan mengemudikan mobilnya dengan sangat lambat.

__ADS_1


Padahal yang terjadi adalah mereka terjebak macet karena keluar di malam Minggu dimana hari libur di Indonesia.


Morgan sudah berkali - kali menghembuskan nafasnya kasar menahan amarahnya dengan kecerewetan sang istri yang sedari tadi terus saja mempermasalahkan cara mengemudinya.


" Apa semua wanita kalau lapar akan menjadi lebih cerewet seperti ini ?" batin Morgan heran.


Akhirnya setelah penantian panjang keluarga kecil itu tiba di sebuah restoran dengan pemandangan malamnya yang sangat indah membuat Stevani terkagum - kagum.


" Kamu suka ?" ucap Morgan tersenyum tipis.


" Tentu saja, thanks. " jawab Stevani tersenyum manis.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Morgan membawa Stevani keluar, ada hal serius yang ingin di bicarakannya akan tetapi tetapi sebelum itu ia akan membuat suasana hati sang istri senang terlebih dahulu.


Dengan mengikuti arah di mana seorang pelayan membawanya hingga sampai di salah satu ruangan privat, hanya ada satu meja di sana yang terletak di balkon menghadap langsung ke arah jalan raya terlihat indah dengan lampu berkerlap kerlip yang berasal dari kesibukan kota.


" ini.. ?" lirih Stevani sampai tak bisa berkata - kata.


" Hm, sebenarnya ada hal yang ingin saya bicarakan " sambungnya membuat Stevani segera menoleh kearahnya, ini bukan kebiasaan Morgan yang bertanya terlebih dahulu.


" Apakah sangat serius ?" ucapnya mengerutkan keningnya.


Lama Morgan terdiam lalu mendudukkan bokongnya di sebelah Stevani ,kemudian mengalirlah cerita tentang tujuan awal ia pergi ke dunia manusia tanpa ada yang di tutupi sedikit pun.


" Apa kamu tau siapa pemilik kalung yang saya cari selama ini " ujarnya menatap mata Stevani dengan serius.


" Siapa dia ?" lirih Stevani mengerutkan keningnya.


" Yaitu kamu sweet " bisik Morgan di depan wajah Stevani bahkan hidung keduanya hanya berjarak beberapa centi saja.

__ADS_1


" A.. aku !! " balasnya berbisik dengan raut terkejut dan setengah tak percaya, bagaimana bisa dirinya fikir wanita itu.


Kemudian ia teringat kalung pemberian mendiang ibunya di ulang tahunnya yang ke 7 tahun, tapi kalung permata merah itu sudah lama menghilang dan tak tau di mana rimbanya. Ia sudah mencarinya ke semua tempat tapi tidak juga menemukannya.


" Maksud mu kalung dengan permata merah ? tapi kalung itu sudah lama menghilang dan tidak tau sekarang ada di mana " jelasnya membuat pupil Morgan membesar karena terkejut.


" Jadi selama ini dia tidak tahu bahwa kalung itu berada di lehernya dan sebenarnya tidak pernah menghilang " batin Morgan otak berfikir keras.


Kemudian dia mengerti bahwa kalung itu telah menyatu kepada pemiliknya sedangkan Stevani tidak mengetahui kejadian itu.


" Kalung itu tidak hilang, dia melingkar cantik di sana " tunjuk Morgan pada lehernya.


" Di sini ? benarkah ? jangan bercanda aku bahkan tidak mengenakan perhiasan apa pun di sini " ucap Stevani tak percaya.


" Saya serius, bahkan kalung itu bersinar saat kamu melahirkan Steve " ucap Morgan serius.


" A.. aku masih tidak mengerti " desah Stevani nampak frustasi pada berita yang harus saja di dengarnya, akal sehatnya tidak bisa mencerna kejadian pada dirinya. Tapi apa mungkin Morgan sedang membohonginya, untuk ukuran wajah yang selalu serius itu. Mustahil.


" Kita akan mencari cara untuk mengatasinya, kau tenanglah " ucap Morgan menenangkan.


Lama keduanya terdiam dengan fikiran masing - masing sampai sebuah pertanyaan keluar dari mulut Stevani.


" Apa kamu akan meninggalkan kami setelah mendapatkan kalung leluhur mu ?" lirih Stevani memandang baby Steve sedih, tidak terbayang baginya jika Morgan akan meninggalkan mereka. Dulu dia yakin bisa menghadapinya sendiri tapi setelah kembali bersama Morgan ia merasa tidak yakin bisa menghadapi dunia tanpa pria ini di disisinya apalagi baby Steve yang berbeda dari anak kebanyakan.


Mendengar nada sedih wanitanya segera Morgan beranjak menarik tangan lembut itu duduk kepangkuan nya lalu mengarahkan wajahnya mendekat ******* bibir di hadapannya dengan rakus dan menggebu - gebu, beruntung baby Steve sedang tertidur jadi ia tidak melihat kelakuan nakal kedua orang dewasa itu.


Datangnya pelayan yang menyajikan pesanan mereka barulah pagutan keduanya terlepas, dan tanpa tahu malu Morgan masih tetap memangku Stevani meski wanita itu memberontak ingin di lepaskan.


" Ssst.. diamlah. Atau saya akan mengulang yang tadi " bisiknya membuat wanita itu menghela nafas atas kekeras kepalaan pria ini.

__ADS_1


" Saya mencintai kalian seperti saya mencintai nyawa saya sendiri, jadi kamu tak perlu khawatir akan tinggal disini sendirian Sweet. Kamu hanya perlu mempercayai ku saja tak perduli apa pun yang ku lakukan kedepannya " sambung Morgan tegas seperti menegaskan sesuatu yang tidak di mengerti Stevani.


__ADS_2