Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib

Dinikahi Pangeran Dari Kerajaan Gaib
Bab 27 - Menemui stevani


__ADS_3

Dengan kesal ia memutuskan mencari obatnya yaitu Stevani, obat dari segara rasa gelisahnya selama ini.


Memejamkan mata sambil terucap sebuah mantra pelan dari mulutnya.


" Arkana arto melinda asosmo amorf, safir Arkana beri petunjuk dimana Stevani berada " lirihnya.


Tiba - tiba batu itu bercahaya menandakan ia menemukan keberadaan Stevani.


" Arkana arto melinda komo arsimatz " sambungnya masih dengan mata terpejam.


Dalam bayangannya tampaklah Stevani di rumahnya, dia bisa melihat apa pun yang di fikirkan nya dan yang ingin ia ketahui.


" Rasanya tak sabar melihat mu dari dekat sweet. Saya merindukan mu " bisiknya lirih seolah Stevani ada di dekatnya.


Rencananya dia akan menyelesaikan masalah yang terjadi dengan tubuhnya barulah ia akan menemui Stevani tapi karena perasaan gelisah nya kini rencananya berubah.


( Dasar pangeran plin-plan he )


Dengan membaca mantra sekali lagi tubuhnya menjadi transparan.


" teleportasi rumah Stevani " ucapnya sambil memikirkan tempat tinggal wanita itu.


Semenit kemudian ia telah berada di kamar sang istri, tersenyum tipis melangkahkan kakinya semakin mendekat di pembaringan Stevani.


" Ssst Morgan. " ucap wanita itu mengigau seolah sadar Morgan ada di dekatnya.


Bahkan sakit yang dirasanya ketika tidur pun seolah menghilang tanpa ia sadari sejak Morgan tiba di sana, sungguh ternyata bayi super itu sedang merindukan Ayahandanya.


" Ya sweet, saya ada di sini " bisik Morgan menaiki ranjang sempit itu, merapatkan dirinya kearah permaisurinya dan memeluknya erat dari belakang.


Tersadar saat tangan kekarnya menyentuh perut buncit Stevani, kembali dia merasakan dilema.


" Anak siapa yang di kandungnya ??" batinnya frustasi.


Stevani berbalik kearahnya melelusup kan kepalanya kearah Morgan mencari posisi nyaman.


Bagai anak kucing yang mencari kehangatan kepada ibunya seperti itulah Stevani, ia seperti menemukan tempat ternyaman di pelukan Morgan.


Di liriknya perut buncit itu seperti ada magnet yang menariknya perlahan di sentuhnya dengan satu jarinya, merasa tak puas diusapnya dengan tangannya menimbulkan sensasi menyenangkan di hatinya.


Karena asik dengan kegiatannya dia jatuh tertidur dengan tangan tak bergerak di perut buncit yang di dalamnya ada seorang calon pangeran penerus kerajaan gaib.


Pagi menjelang Stevani masih tertidur pulas sedangkan Morgan telah kembali ke hotel meski terpaksa karena ia harus menyelesaikan urusannya.


" Van !! bangun, nggak baik wanita hamil molor sampai siang " seru si cerewet seen.

__ADS_1


" Sebentar lagi Morgan " lirihnya.


" Hey Van, lo ngimpi ketemu abang tampan " celotehnya lagi sembari mondar - mandir bersiap berangkat kerja.


Biasanya ada Stevani yang membuatkannya sarapan tapi kini tak biasanya wanita hamil itu masih tidur jam segini, membuat mulut cerewetnya beraksi.


" Dasar Stevani " kesalnya.


Tapi tiba - tiba rasa kesalnya berubah menjadi khawatir teringat kesakitan Stevani tadi malam.


" Van.. Van.. kamu oke kan, bangun Van " Desak nya mengguncang - guncang tubuh wanita hamil itu hingga membuatnya terkaget dari tidur.


" Berisik seen " kesalnya.


" ah akhirnya kamu bangun juga, kamu baik - baik saja kan ?? apa perut mu masih sakit ??" cerocosnya.


" Tunggu, kalau tanya satu - satu seen. Aku bingung harus jawab yang mana dulu " lirihnya memegang kepala merasa sedikit pusing.


" Maaf " cengir nya.


" Its oke, kamu tenang saja aku sudah lebih baik bahkan tidur ku terasa sangat nyenyak " ucap Stevani membuat seen bernafas lega mendengarnya.


" Tapi maaf, aku jadi tak membuat sarapan untuk mu " sesal Stevani.


" Tak masalah, aku bisa sarapan di kantor. Aku berangkat sekarang, kamu berhati - hatilah di rumah " ingatnya.


Stevani bangun dan membersihkan dirinya, merasa aneh pada dirinya yang merasa suasana hati yang familiar seperti waktu bersama Morgan dahulu.


" Ada apa dengan ku, apa aku merindukannya ?? jadi akhir - akhir ini sering merasakan kehadirannya " tanya nya pada dirinya sendiri.


" Ah sudahlah, sebaiknya aku menghapus bayangannya dan mungkin saja ia telah menemukan penggantiku " lirihnya namun hatinya merasa tak nyaman saat memikirkan bahwa Morgan telah bersama wanita lain.


Waktu terasa cepat berlalu, malam telah menggantikan siang hingga membuat mereka yang beraktifitas di luar terpaksa menghentikan kegiatannya dan kembali ke tempat tinggal masing - masing.


" Sudah pulang ?? tumben jam segini baru pulang " tegur Stevani saat melihat seen yang melewatinya seperti ia tak kasat mata.


" Sorry aku nggak lihat ada kamu Van " cengir wanita itu meski wajahnya tampak lelah.


" Bersihkan tubuh mu, kita makan bersama " kata Stevani yang di balas anggukan oleh seen.


Seen berjalan kearah dapur di mana Stevani telah menunggunya, wajahnya yang sudah mandi tampak segar.


Lalu keduanya makan dengan sesekali terdengar obrolan menanyakan aktifitas masing - masing.


Selesai makan seen menyibukkan diri pada tugas kantornya di ruang tamu meninggalkan wanita hamil itu sendirian di meja makan.

__ADS_1


Seiring bertambah usia kandungannya nafsu makannya semakin besar karena itu ia selalu menjadi penghuni terakhir meja makan.


" Ting tong "


Suara bell mengalihkan atensi Stevani namun tak menghentikan makannya karena sudah ada seen yang membukakan pintu karena memang wanita itu sedang di ruang tamu.


Tak lama terdengar suara berisik yang berasal dari depan membuat Stevani terpaksa meninggalkan kegiatan yang paling di senanginya akhir - akhir ini.


" Apa yang kalian lakukan ??" ucapnya.


Diego yang nampak sedang memiting leher seen sambil terkekeh sedangkan wanita itu berteriak penuh amarah.


Mendengar suara yang tak asing bergegas keduanya bersikap normal.


" Eh, kita se.. sedang olahraga iya olahraga. Kan dok ??" ucap seen gugup namun berubah galak saat menatap Diego.


" Aduh, eh iya " jawab Diego dengan wajah kesal karena seen menginjak kakinya.


" Olahraga ??" beo Stevani.


" Em, ya sudah kalian lanjutkan saja aku akan kedalam " ucap bumil itu lalu memutar langkahnya ke meja makan.


Setelah Stevani hilang di telan pintu suara bising saling bersahutan namun wanita hamil itu tak peduli yang penting makan fikirnya.


Hehe.. dasar Stevani.


" Hai Van.. " seru Diego.


" Hm, udah selesai ributnya ??" tanya Stevani acuh dengan kehadiran Diego yang sudah mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Stevani.


" Eh, nggak gitu Van. Dasar seen aja yang sensian sama aku " gerutunya diakhir kalimatnya.


" Halah, bukannya kamu yang suka jahilin dia. Ngaku aja, awas nanti suka " ucap Stevani terkekeh.


" Iiih nggak mungkin a.. " kata Diego namun terputus oleh suara seen dari belakangnya.


" Siapa juga yang mau sama cowok rese kaya kamu, sok ganteng banget " kesal seen lalu berjalan cepat ke arah kamar.


Diego menjadi serba salah, ia merasa tak enak telah menyinggung perasaan wanita itu.


" Hayo.. seen marah. Awas aja dia nggak mau beneran sama kamu baru tau rasa hehe.. " ucap Stevani dengan gaya meledek kepada Diego yang tampangnya tak enak di lihat.


Diego memang mulai merasakan perasaan lain kepada seen entah sejak kapan dia pun tak tau, dokter tampan itu sengaja menjahili seen agar bisa lebih dekat dengannya namun naas malah membuat wanita itu marah kepadanya.


" Dasar bodoh !! " makinya dalam hati.

__ADS_1


Tak lama kemudian ia pamit setelah berbasa basi kepada stevani dan memintanya untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada seen.


__ADS_2