Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Alasan


__ADS_3

"Aya, itu kopernya diturunin dulu!"


Aya menoleh. Menatap mamanya yang kini berdiri di dekat mobil sambil menatapnya tajam. Aya mendengus malas. Meskipun begitu, dia tetap berjalan ke arah Mamanya.


"Ma, ini anak perempuan Mama mau serumah sama cowok asing loh, Mama nggak khawatir gitu?" tanya Aya sambil menurunkan koper-kopernya dari bagasi mobil.


"Asing darimana? Dia tetangga kita juga kok," elak sang Mama.


"Ya, tapi kan...," kata Aya menggantung.


"Kamu tuh nggak cuma berdua sama Ivan, ada Alea sama Akbar juga."


Aya mengerucutkan bibirnya. Gadis berusia 17 tahun itu hanya bisa pasrah saat Mamanya bilang kalau dia harus satu rumah dengan cowok yang merupakan tetangganya dulu.


"Mama, nggak kangen gitu sama aku kalau aku tinggal disini?"


"Nggak sih, kan masih ada kakak sama adik kamu di rumah."


"Ma!!"


Aya menghentakkan kakinya kesal. Kemudian berjalan ke arah Alea yang juga sedang sibuk menurunkan barang-barangnya.


"Kita sebenernya diusir nggak sih, kalau kayak gini?" tanya Aya. Dia mendudukkan dirinya di salah satu koper milik Alea sambil menopang dagu.


Alea melirik malas. Dia jauh lebih muda daripada Aya. Umurnya baru 14 tahun, tapi sikapnya jauh lebih dewasa daripada Aya. Alea adalah tetangga depan rumah Aya sekaligus sahabat Aya.


"Aku malah seneng karena aku pisah rumah sama si setan satu itu," balas Alea.


"Dih, bilang aja seneng karena nanti bakalan ada Akbar," sindir Aya.


Alea hanya nyengir kuda. Dia mendorong Aya dari kopernya dan membuat Aya jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Brisik, mending masuk, kak," ajak Alea.


Aya bangkit. Dia mengikuti Alea yang sudah masuk ke gerbang rumah. Mengabaikan mamanya yang kini berteriak marah karena dia meninggalkan kopernya.


"Kak Ivan sama Akbar udah sampe?" tanya Alea.


"Kamu nanya?" balas Aya melucu.


"Nggak sih," sarkas Alea.


Aya hanya tertawa melihat Alea. Menggoda Alea selalu menyenangkan untuknya.


Mereka berdua kini sudah berada di ruang tamu. Memandang sekeliling mereka yang masih tampak rapi. Ruang tamu itu bisa dibilang cukup luas dan terlihat nyaman.


Tiba-tiba dari arah tangga, ada dua orang cowok yang sangat Aya kenal. Salah satu dari mereka terlihat menatap Aya dengan sorot mata tajam dan seringai tipis di bibirnya. Seketika Aya membeku.


"Eh, Akbar sama Ivan udah dateng. Jam berapa tadi kesini?"


Aya dan Alea serempak menoleh kebelakang. Ke arah Mama Alea yang terlihat ramah menyapa dua orang cowok yang membuat mereka berdua terdiam kaku itu.


Aya menelan ludah gugup. Demi apapun dia ingin berteriak sekarang juga. Aya mengigit bibir sambil tangannya meremat lengan Alea kuat. Ivan dan senyumnya yang kelewat ramah tidak pernah baik untuk jantung Aya.


"Kalian udah tau kalau kalian bakal tinggal sama mereka berdua, kan?" tanya Mama Aya sambil melirik Aya dan Alea.


Ivan dan Akbar mengangguk.


"Nah, bagus. Tante titip dua cewek bar-bar ini, ya," kata Mama Alea.


"Maa, apaan sih?" protes Alea.


Aya menatap melas ke arah Mamanya yang hanya di balas oleh pelototan oleh sang Mama.

__ADS_1


"Oke, kami pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik. Aya, kalau ada apa-apa, nggak usah hubungi Mama," ujar Mama Aya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Aya.


Aya melengos menghindari tatapan mata Mamanya. Tapi hal berikutnya malah membuat Aya reflek mengumpat dalam hati. Saat dia mengalihkan pandangannya, matanya justru bersitatap dengan mata Ivan yang kebetulan juga sedang menatap ke arahnya.


Aya mengeluh. Hari-harinya ke depan tentu akan terasa berat untuknya. Alasan dia tidak mau tinggal disini itu bukan karena dia harus berpisah dengan keluarganya. Tapi karena dia harus serumah dengan Ivan yang notabene cowok yang Aya suka selama ini.


...........


Kalau ditanya siapa yang punya ide menjadikan mereka berempat serumah jawabannya adalah ide dari Mamanya Ivan. Tidak ada alasan pasti kenapa dia justru memilih untuk 'mengusir' anaknya dan menyuruhnya untuk serumah dengan orang lain.


"Kakak pertamanya udah nikah, kakak keduanya udah kerja. Nah, daripada aku bosen karena dia jarang dirumah dan kalau di rumah cuma jadi beban, mending kusuruh mandiri." Itu jawaban dari Mamanya Ivan tiap ditanya kenapa dia rela mengusir Ivan dari rumahnya.


Ide itu juga disetujui oleh Mamanya Alea. "Daripada aku pusing liat dia bertengkar terus sama adeknya, yaudah kusuruh ikut Ivan aja."


"Aya anak tengah, nggak guna juga di rumah."


"Yaudah sih, Akbar sekalian, dia dirumah sendiri. Kakaknya kuliah."


Seperti itulah akhirnya mereka terpaksa serumah. Sekali lagi Aya hanya bisa pasrah. Toh dia tau kalau nasib dia dan tiga orang itu sama. Sama-sama biang rusuh dan cuma jadi beban di rumah.


Aya anak kedua dari tiga bersaudara. Sebagai anak tengah perempuan, Aya tau kalau dia orang yang keras kepala. Punya kakak perempuan dan adik laki-laki yang membuatnya sering tidak dianggap. Umurnya baru 17 dan hampir 18 tahun. Dia duduk di bangku kelas 12 yang sudah menjelang lulus. Tapi sampai sekarang tidak pernah ada niatan serius untuk memikirkan masa depannya.


Kalau Ivan, Aya tau dia anak bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Bisa dibilang Ivan itu seumuran dengan Aya. Usianya juga 17 tahun. Tapi karena Ivan telat masuk sekolah, jadi dia sekarang masih kelas 11 di sekolah yang berbeda dengan Aya.


Alea anak pertama dari dua bersaudara. Tetangga depan rumah Aya sekaligus tempat curhat Aya paling setia. Dia masih duduk di bangku kelas 8. Dan setiap hari Aya harus jadi saksi dan penengah tiap kali temannya itu bertengkar dengan adiknya.


Kalau Akbar, dia anak kedua dari dua bersaudara. Sama seperti Alea, Akbar masih kelas 8. Tapi dia sekolah ditempat yang berbeda dengan Alea. Setau Aya, kakak perempuan Akbar baru saja masuk kuliah tahun ini. Mungkin itu alasan kenapa dia justru disuruh ikut tinggal dirumah besar ini.


Aya dan tiga orang itu sebenarnya sudah saling kenal. Meski semua berbeda sekolah, tapi mereka itu tetangga satu komplek dulu. Dan untuk Aya, sangat tidak mungkin dia tidak mengenal Ivan. Tidak mungkin juga dia tidak mengenal Akbar yang merupakan cowok yang Alea suka.


Seharusnya memang Aya beruntung bisa serumah dengan Ivan. Bayangkan saja, dia akan tinggal bersama dengan orang yang dia suka selama ini. Padahal selama ini Aya sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan Ivan. Hanya akun instagram mereka saja yang saling follow.

__ADS_1


Tapi berbeda cerita kalau sebenarnya Ivan sudah tahu bahwa Aya menyukainya. Salah Aya juga kenapa harus mengungkapkan perasaannya pada Ivan hanya karena berpikir kalau Ivan juga menyukainya. Lebih sialnya lagi, Ivan justru memilih untuk diam hingga saat ini.


Aya tahu, kalau bukan dia yang Ivan harapkan. Dan dia jauh lebih tahu kalau Ivan mungkin membencinya karena masih menyukainya.


__ADS_2