
Jam masih menunjukkan pukul 05.15 saat Aya bangun dari tidurnya. Dia meregangkan tubuhnya lalu beranjak dari tempat tidur. Membuka gorden jendela yang menampilkan suasana pagi yang mulai terang. Ada 4 kamar di lantai dua dan Aya memang memilih kamar yang menghadap ke timur.
Hari Senin, seharusnya jadi hari yang menyebalkan. Apalagi hari ini juga hari pertama sekolah setelah libur semester. Tapi berhubung hari ini adalah hari pertama Aya dan Ivan serumah, entah kenapa Aya jadi bersemangat.
Dia segera mandi dan bersiap. Setelah itu dia keluar kamar dan menuju kamar Alea.
"Sayangku!!! Udah bangun, kan?" teriak Aya di depan pintu kamar Alea. Meski sebenarnya matanya terus melirik ke arah pintu kamar milik Ivan yang ada di seberang kamar Alea.
"AL!!" teriak Aya lagi saat Alea tak kunjung menjawab.
Cklek!
"Brisik, nggak usah caper deh, kak," balas Alea begitu dia membuka pintu kamarnya. Dia masih memakai pakaian tidur dan rambut yang masih acak-acakan.
Aya nyengir. "Pengen bangunin, Ivan," rengeknya.
Alea menutar bola mata malas. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.
Aya tertawa kecil. Kemudian memilih untuk turun menuju dapur. Sebelum pergi, dia melirik pintu kamar Ivan yang masih tertutup rapat. Entah apa yang cowok itu lakukan di dalam. Mungkin masih tidur? Aya jadi membayangkan bagaimana wajah Ivan saat bangun tidur. Hah, membayangkannya saja sudah membuat pipi Aya merona merah.
Sesampainya di dapur, sudah ada Bi Ning yang sedang memotong buah-buahan. Memang disini ada asisten rumah tangga dan sopir. Tapi mereka hanya bekerja dari pagi sampai siang hari. Karena sebenarnya Bi Ning itu salah satu ART tetap di rumah Aya dulu. Jadi, hanya bisa sampai siang hari. Alasan lain juga karena kalau ada ART full disini, Aya dan teman-temannya tidak jadi mandiri.
"Pagi, Bi Ning," sapa Aya riang. Dia mendudukkan diri di meja makan dan ikut memotong buah-buahan.
"Pagi juga, Non Aya. Tumben semangat banget. Biasanya sarapan aja masih sambil ngantuk-ngantuk," balas Bi Ning.
Aya mencebikkan bibirnya. "Ya kan ini hari pertama sekolah setelah liburan, Bi."
Bi Ning tertawa. "Bukannya kalau habis liburan malah jadi males buat berangkat sekolah lagi?"
"Eh, ya pokoknya Aya lagi pengen semangat aja."
"Haha, ngomong-ngomong kemarin saya dikasih tau kalau den Ivan, den Akbar sama non Alea nggak pernah sarapan. Tapi katanya mereka harus dipaksa sarapan mulai hari ini. Jadi, bibi buatin salad buah aja," jelas Bi Ning. "Non Aya kalau mau sarapan kayak biasanya, bibi bisa buatin. Mau apa?" lanjutnya.
"Ehmm, Aya sama salad buah aja nggak papa kok, Bi," jawab Aya. "Eh, Aya pengen buat susu boleh?"
__ADS_1
Bi Ning mengangguk seraya tersenyum kecil.
..........
Pukul 06.00. Sarapan siap bersamaan dengan Ivan, Alea, dan Akbar yang turun dari lantai atas. Aya melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Alea. Mengodenya agar duduk di samping dirinya.
"Den, sarapan dulu," kata Bi Ning saat melihat Ivan yang justru berjalan ke depan.
Aya menatap Ivan yang kini berbalik dengan malas. Jantung Aya kembali berdetak tak karuan. Pagi ini Ivan memakai hoodie berwarna coklat muda polos untuk menutupi seragam atasnya. Sambil menenteng tas hitam di bahunya.
"Gue nggak pernah sarapan, jadi mau langsung berangkat aja," jawab Ivan.
"Kata nyonya kemarin, den Ivan harus selalu sarapan mulai pagi ini," terang Bi Ning.
"Ya asal Mama nggak tau juga nggak papa kan kalau gue nggak sarapan?"
Aya meremat tangannya. Dia berusaha kerasa agar tidak menoleh lagi ke belakang. Mungkin kata-kata yang Ivan lontarkan memang tidak sopan, tapi entah kenapa Aya suka. Dia suka suara Ivan yang memang jarang dia dengar. Dia suka semua yang ada pada Ivan.
Berkali-kali membujuk, akhirnya Ivan mau untuk sarapan. Dia mendudukkan dirinya di seberang Aya dan itu sukses membuat Aya ingin pingsan rasanya. Kalau boleh jujur, ini pertama kalainya dia bisa sedekat ini dengan Ivan.
Selesai sarapan, mereka berempat langsung menuju halaman depan.
"Akbar, mau bareng aku sama Alea?" tanya Aya. Meski terkesan cangggung, tapi Aya memberanikan diri untuk bertanya pada Akbar.
"Nggak deh kak, aku bareng kak Ivan," jawab Akbar.
Aya mengangguk. Benar juga kalau Akbar lebih memilih untuk berangkat bersama Ivan. Sekolah mereka berdua itu berdampingan. Sementara sekolah Alea agak jauh dari sekolah Akbar meski masih satu jalur. Berbeda dengan sekolah Aya yang terbilang cukup jauh dari rumahnya dan berlawanan arah dengan sekolah Alea, Ivan dan Akbar.
"Nggak bakalan mau dia berangkat sama aku," dengus Alea. Lalu berbalik menuju mobil putih milik mereka yang sudah terparkir rapi.
Aya menyusul Alea ke dalam mobil. "Nawarin doang elah," ujar Aya.
"Kasian kak Aya kalau harus nganterin Akbar juga, udah bagus dia bareng kak Ivan. Sekolah mereka aja cuma kepisah sama cafe doang," kata Alea. Dia menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. Sementara mobil itu mulai melaju menuju SMP Alea.
"Kenapa aku dulu nggak sekolah di SMA-nya Ivan aja ya?" monolog Aya. Dia ikut menyandarkan tubuhnya sambil menoleh ke arah Alea.
__ADS_1
"Bodoh sih, padahal kak Aya bisa loh keterima di sana."
"Ya aku mana tahu kalau Ivan bakal sekolah sana. Kakaknya semuanya di SMK."
"Hmm, lagian kalau kak Aya sekolah sana juga waktu itu kakak belum suka sama kak Ivan."
"Atau kalau aku satu sekolah sama dia, bisa jadi aku nggak bakalan suka sama dia."
Alea mengangguk. "Akbar juga kenapa harus nggak keterima di sekolahku sih?"
Aya tertawa kecil. "Kita pindah sekolah, yuk!" ajak Aya bercanda.
"Telat, kak. Semoga nanti SMA-nya aku bisa satu sekolah sama Akbar."
"Haha, kalau nggak? Kamu sama dia cuma satu sekolah pas TK doang," ejek Aya.
Alea mendengus. "Ngaca, kak Aya juga cuma satu sekolah sama kak Ivan pas TK doang. Mana beda angkatan lagi."
Aya merengut. "Penting sekarang serumah tau." Mereka berdua kemudian tertawa kecil.
Saat mobil yang mereka tumpangi sudah hampir sampai, tiba-tiba Aya melihat sosok familier yang menyalip mereka dari sebelah kanan.
"Aleaaa, itu Ivan sama Akbar, kan?" ujar Aya heboh.
"Eh, iya. Akbar lucu pake helm kebesaran gitu," kata Alea.
"Ivan ganteng banget ya tuhan, pengen nangis."
"Mukanya nggak keliatan, kak," ujar Alea lelah.
"Lah, punggungnya aja cakep tau, lagian tadi di rumah juga udah liat dengan jelas," sangkal Aya.
Alea menggeleng-gelengkan kepala. "Yah, cinta itu buta, tuli, dan tolol, sih."
"Oh, dasar anjing!"
__ADS_1
..........