
Ivan tidak tahu harus bereaksi apa saat Mamanya bilang dia akan serumah dengan Aya. Dia hanya memberikan respon seadanya saat di depan Mamanya. Tapi begitu sampai kamar, Ivan langsung meloncat kegirangan. Dia akan serumah dengan Aya. Cewek yang selama ini dia sukai.
Ivan sudah lama menyukai Aya. Mungkin sebelum Aya menyukainya, Ivan sudah jauh lebih dulu menyukai cewek itu. Sejak mereka masih SD mungkin. Ivan bahkan lupa detail kapan dia mulai menyukai Aya.
Hari dimana mereka datang ke rumah itu, Ivan tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya saat Aya sampai. Dia berusaha untuk tetap biasa saja, tapi tidak bisa. Jadi dia berusaha untuk tersenyum canggung pada Aya yang sialnya justru lebih mirip seringaian.
Saat sarapan bersama untuk pertama kalinya, Ivan benar-benar bingung harus bersikap seperti apa. Dia memang tidak pernah sarapan, jadi dia inngin melewatkannya begitu saja. Tapi Bi Ning memaksanya dan berakhir dengan dia yang terpaksa sarapan. Padahal, berada dekat dengan Aya sungguh tidak baik untuk jantungnya.
"Lo ngapain masih disini? Nggak pulang? Entar dicariin nyokap lo, gue nggak tanggung ye," kata Arial saat melihat Ivan masih duduk santai di teras rumahnya.
"Nggak akan, gue pindah rumah," jawab Ivan sambil menghembuskan asap rokok.
"Pindah? Kemana anjir, lo kok nggak cerita apa-apa?"
"Hmm, nyokap nyuruh gue mandiri. Ada rumah nganggur di komplek XXX, jadi dia nyuruh gue buat tinggal disana."
"Sendiri?"
"Nggak, sama anak temen nyokap, tetangga gue juga dulu. Dan salah satunya Aya."
"WEH, ANJIR. SERUMAH LO SAMA AYA?" teriak Arial. Dia jelas tahu siapa Aya.
"Hmm ya gitu," gumam Ivan.
"Ya terus, lo kenapa masih disini anjir?"
"Nggak tau."
Emang minta disantet, batin seorang Arial.
"Pulang sono, males banget gue liat lo disini," usir Arial.
Ivan menatap Arial dengan tatapan memelas. Membuat Arial bergidik ngeri melihatnya.
"Canggung banget gue sama Aya di rumah, njing." Ivan justru merebahkan dirinya di karpet yang ada di teras.
"Serah lo."
__ADS_1
......................
Ivan baru berani pulang ke rumah pukul setengah delapan malam. Dia baru sampai di teras rumah saat mendengar suara yang sangat dia hafal.
"Dia kemana, sih? Jam berapa ini? Dikira aku nggak khawatir apa?"
Ivan tak bisa menahan senyumnya saat mendengar suara rengekan Aya. Dia mengurungkan diri untuk membuka pintu. Menunggu kalau-kalau Aya akan mengatakan sesuatu lagi.
"Ishh, Ivan tuh, lupa kalau dia tinggal disini apa gimana, sih? Aku khawatir, anjir. Kangen juga, hikss..."
Ivan menahan diri untuk tidak berteriak sekarang. Gemas dengan suara rengekkan Aya. Dia membuka pintu dan kini bisa melihat wajah cemberut Aya yang terlihat sangat lucu.
"Al!" teriak Aya.
"Apa?" jawab Alea malas.
"Ivan dimana? Aku khawatir loh," rengek Aya pelan sambil mengerucutkan bibirnya.
Ivan masih berdiri di ambang pintu sambil menghisap rokoknya. Berusaha untuk bersikap biasa saja. Meski bibir Aya yang sedang mengerucut benar-benar terlihat menggoda baginya.
"Tuh, dia," tunjuk Alea pada Ivan.
Hari-hari selanjutnya berlalu sama. Ivan selalu sengaja pulang malam untuk melihat bagaimana reaksi Aya. Dan selalu setiap harinya, Ivan akan melihat Aya duduk di ruang tengah saat dia pulang. Entah itu sendiri atau bersama Alea. Ivan juga mati-matian untuk tetap bersikap cuek pada Aya selama itu.
Hari itu hari Sabtu, Ivan sebenarnya sudah bangun sejak pagi tadi. Tapi mengingat dia hanya berdua di rumah dengan Aya, dia jadi ragu untuk keluar. Niat awalnya, dia akan berada di dalam kamar paling tidak sampai Akbar atau Alea pulang. Tapi tiba-tiba dia merasa lapar dan mau tidak mau dia harus keluar.
Baru saja Ivan membuka pintu, matanya tak sengaja bertatapan dengan Aya yang juga baru keluar kamar. Hening sejenak saat itu. Ivan bisa saja bersikap bodo amat dengan berpura-pura tidak melihat Aya seperti biasanya. Tapi penampilan Aya pagi ini membuatnya tidak bisa berpaling.
Ivan baru tersadar dari lamunannya saat Aya berlari pergi melewati dirinya. Membuatnya tersadar kembali tujuan utamanya keluar kamar. Beberapa saat kemudian dia ikut turun ke lantai bawah.
Ivan berdiri di ujung tangga dan melihat Aya yang sedang sibuk di dapur. Dia masih bimbang. Haruskah dia mulai berbicara dengan Aya? Setelah selama ini dia hanya diam dan tak pernah berani memulai pembicaraan.
"Lo masak?" Ivan mengumpat dalam hati. Dia tidak pernah berani memulai pembicaraan dengan Aya dan kata pertama yang dia ucapkan justru pertanyaan tidak berguna seperti itu.
Ivan mengernyitkan dahinya saat Aya tak kunjung menjawabnya. Apa setidak penting itu pertanyaannya?
"Aya?" panggilnya lagi.
__ADS_1
"Ya?"
Ivan mengangkat alisnya. Entah kenapa nada datar Aya membuatnya sedikit kesal. Dia sudah berusaha memulai pembicaraan dengan Aya tapi cewek itu justru merespon datar.
"Lo masak? Kalau iya, gue buatin sekalian," kata Ivan akhirnya.
Ivan melihat Aya yang hanya mengangguk kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. Dia masih sibuk memperhatikan tubuh Aya dari belakang. Kaos oversize, celana pendek setengah paha, dan rambut yang dikucir asal benar-benar membuat Aya tampak berbeda pagi ini. Dan itu sangat tidak baik untuk Ivan.
"Oh ya, lo bisa ganti pakaian dulu? Gue risih liat lo pake celana pendek banget kek gitu."
Bukan risih, gue lama-lama nafsu liat lo begitu, lanjut Ivan dalam hati.
....................
"Lo masih suka sama gue?" tanya Ivan saat dia dan Aya sedang makan bersama.
Dia tidak tahu kenapa dirinya menanyakan hal itu. Dia bukannya tidak tahu kalau Aya juga menyukainya. Cewek itu bahkan sudah mengungkapkan perasaannya padanya 3 bulan yang lalu. Dia hanya penasaran karena beberapa hari terakhir sebenarnya dia sering mendengar Aya dan Alea menyebutkan nama Arvi.
"Jawab aja, sih," kata Ivan saat Aya tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Plis jawab kalau lo masih suka sama gue, batin Ivan penuh harap.
Tapi Aya justru masih diam. Cewek itu bahkan tidak menatap ke arah Ivan sama sekali. Ivan tidak tahu harus berkata apa lagi agar Aya mau berbicara padanya.
"Gue nggak suka sama lo, lo tahu, kan?"
Entah setan mana yang merasukinya hingga dia justru mengucapkan kata itu. Dia ingin sekali berteriak kalau itu semua bohong dan akal-akalannya saja. Tapi kata-katanya seakan terhenti di tenggorokan. Apalagi saat melihat wajah Aya yang terlihat ingin menangis. Ivan benar-benar ikut sakit melihatnya.
Goblok, batin Ivan.
Aya terkekeh pelan, "Iya, aku tahu. Lagian aku juga udah nggak suka sama kamu."
Lo nggak boleh move on dari gue, teriak Ivan dalam hati.
Tapi kalau Aya memang sudah mengatakan hal itu, dia harus bagaimana lagi? Yang bisa dia lakukan justru malah berpura-pura senang mendengar kalimat Aya. Dia justru memilih untuk semakin menyakiti Aya.
"Bagus deh, kalau emang lo udah nggak suka sama gue, berarti lo tahu apa yang harus lo lakuin, kan?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...