
Mama Via dan tante Anisa pamit pulang setelah sarapan tadi. Sekarang di rumah itu tinggal mereka berempat. Aya menyuruh Alea untuk menyapu dan mengepel lantai. Lalu Akbar dia suruh untuk membersihkan kaca jendela juga membereskan ruang depan yang berantakan. Sementara Aya sendiri ada di balkon samping rumah untuk menjemur pakaian. Tadi pagi dia berbaik hati menawari Alea dan Akbar untuk mencuci pakaian mereka.
Kalau bertanya Ivan dimana sekarang. Jawabannya adalah ada di kamar. Sejak tante Anisa pulang tadi, Ivan langsung masuk kamar lagi dan belum keluar sampai sekarang. Aya sendiri tidak terlalu peduli. Mungkin Ivan bermain game atau malah tidur lagi.
"AKBAR, ITU UDAH AKU PEL, SIALAN!" Suara teriakan Alea terdengar sampai ke samping rumah.
"TERUS KENAPA?"
"JADI KOTOR LAGI KALAU KAMU INJEK, IHH!!"
Aya hanya tertawa mendengar perdebatan Alea dan Akbar di ruang depan. Tidak berniat untuk memisahkan mereka sama sekali. Setidaknya karena mereka sudah tidak canggung lagi, suasana rumah besar itu menjadi tampak lebih hidup.
"ALEA, ITU PEL BASAH JANGAN KAMU KIBAS-KIBAS GITU!! KACANYA JADI KOTOR LAGI!!" Sekarang giliran Akbar yang berteriak protes.
"WEH, CURUT. KALIAN KALAU KERJA BISA DIEM NGGAK SIH?"
Kali ini Aya menghentikan gerakan tangannya saat mendengar suara Ivan. Bibirnya terangkat lebih lebar saat mendengar suara Ivan. Jarang-jarang Ivan akan peduli pada sekitar. Apalagi suara berat Ivan yang membuat Aya merinding.
"Lo ngapain senyum-senyum sendiri kek gitu?"
Aya berbalik dan mendapati Ivan yang berdiri di pintu ruang laundry sambil membawa keranjang berisi pakaian kotor. Ivan mengenakan kaos hitam dan celana pendek berwarna sama. Rambutnya terlihat basah yang menandakan cowok ini baru saja mandi.
"Mau ngapain?" balas Aya balik bertanya. Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Ivan.
Sebagai jawaban, Ivan mengangkat keranjang yang dibawanya lebih tinggi. Kemudian berlalu menuju mesin cuci yang ada di sudut ruangan. Aya sendiri kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali dia akan melirik Ivan yang kini mulai memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci.
"Aya, ini gimana?"
Aya menoleh. Melihat Ivan yang kini kebingungan dengan beberapa tombol yang ada di mesin cuci. Kemudian dia berjalan mendekat.
"Apanya yang gimana?"
"Ini pencet yang mana?"
Aya berdecak malas. Meski sebenarnya dia mati-matian menahan senyum bahagia. Tidak ingin terlalu memperlihatkan bahwa dia sedang salah tingkah.
"Kamu pencet ini buat nyuci, terus ini blablabla..." Aya menjelaskan penjang lebar pada Ivan. Sementara Ivan berdiri di belakang Aya sambil sedikit melongok untuk melihat apa yang Aya tunjukkan.
"Paham?" Aya berbalik dan reflek mundur satu langkah saat menyadari tubuh Ivan terlalu dekat dengannya. Posisinya sekarang justru terlihat seperti Ivan yang mengungkung Aya di antara tubuhnya dan mesin cuci.
"Hmm, paham," jawab Ivan singkat.
Aya menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Ivan untuk mempraktekkan apa yang baru saja dia jelaskan.
__ADS_1
"Iya, gue udah paham. Lo bisa balik," ujar Ivan tanpa menatap Aya.
Aya hanya mendengus kemudian berbalik dan kembali dengan kegiatannya. Baru saja dia menunduk untuk mengambil baju, suara Ivan kembali membuatnya berhenti.
"Aya, kok nggak mau muter sih, ini?"
Aya berdecak. "Makanya jangan sok tahu," ujar Aya kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara cuci baju tadi berakhir dengan Aya yang mencuci pakaian Ivan. Membiarkan cowok itu duduk manis di dekatnya tanpa melakukan apapun. Akan lebih baik kalau Ivan diam saja daripada dia merusak apapun yang dia pegang.
Sekarang empat remaja itu sedang berkumpul di ruang depan. Setelah berbagai macam drama di pagi hari, akhirnya perkerjaan rumah mereka selesai. Makanya sekarang mereka hanya rebahan di depan TV.
"Laper," keluh Aya. "Jajan yuk, Yang!" ajak Aya pada Alea.
"Kemana?" tanya Alea.
"Nggak tau, kita muter-muter dulu aja," jawab Aya.
"Males," tolak Alea.
Aya mengerucutkan bibirnya. Membuat Alea mencibir melihatnya. Akbar hanya tertawa kecil, sementara Ivan sibuk dengan Hp-nya sendiri.
"Yaudah, aku juga masih punya jjangmyeon di dapur," kata Aya. Kemudian dia bangkit dan berlalu menuju dapur.
Di dapur, Aya sudah membuka lemari penyimpanan. Kakinya berjinjit karena lemari itu cukup tinggi. Masih ada banyak mie di sana. Aya sengaja membeli banyak mie untuk stock kalau-kalau dia merasa lapar mendadak seperti ini.
"Kamu mau yang mana, Bar?" tanya Aya pada Akbar. Tangannya sibuk mengaduk tumpukan mie untuk mencari mie yang dia mau.
"Geprek ada, kak?"
"Bentar, bentar, ih kenapa tinggi banget, sih, pegel," keluh Aya. Dia menegakkan tubuhnya sebentar sebelum kembali berjinjit.
"Dasar pendek." Sebuah tangan tiba-tiba terjulur melewati samping kepala Aya. Mengambil sebungkus mie goreng dan dua bungkus jjangmyeon.
Tanpa menoleh pun Aya sudah tahu siapa orang yang berdiri di belakangnya saat ini. Aya masih diam dan belum berani berbalik meski Ivan sudah mengambil mie yang dia mau. Sudah berapa kali Ivan membuatnya berdebar hari ini? Bagaimana Aya mau melupakan cowok itu kalau sikap Ivan justru membuat Aya sedikit berharap?
"Buatin buat gue sekalian, ya," kata Ivan. Dia mendudukkan dirinya di samping Akbar. Bersikap seolah dia tidak melakukan apa-apa.
Aya memasang wajah datar untuk menutupi wajahnya yang memerah. Kemudian mulai menyiapkan alat-alat yang dia butuhkan.
"Kak Aya," panggil Alea. Dia sudah berada di ambang pintu dapur.
__ADS_1
"Apa?" jawab Aya tanpa menoleh.
"Mau mie juga."
"Dih, bikin sendiri. Tadi aja aku ajak jajan nggak mau."
Alea mendecih. Dia mengambil mie di lemari penyimpanan dengan susah payah.
Melihat itu, Aya melirik Ivan. Cowok itu sama sekali tidak berniat untuk membantu Alea. Melirik pun tidak. Lalu kenapa tadi dia dengan senang hati membantu Aya untuk mengambil mie? Aya memukul pipinya pelan. Positif thinking aja karena tadi Ivan juga pengen ngambil mie, batin Aya meyakinkan diri.
"Ck, bukannya dibantuin," sungut Alea.
"Ya itu sih, salah kamu yang pendek," balas Aya acuh.
"Ngaca dulu mending," ujar Ivan tiba-tiba. Dia menatap Aya sambil menyeringai tipis.
Aya yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Berada di dekat Ivan lama-lama sangat tidak baik untuk Aya. Jadi dia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya kemudian membawa mienya ke kamarnya. Tentu sebelumnya sempt mengkode Alea untuk mengikutinya.
"Gila, aku capek sialan!" keluh Aya sesaat setelah berada di kamar. Alea menyusul di belakangnya sambil membawa piring mie.
"Soal kak Ivan?" tanya Alea. Dia mendudukkan diri di salah satu kursi kecil yang ada di dekat jendela kamar Aya.
Aya mengangguk. "Sumpah aku capek banget suka sama Ivan. Pengen berhenti," rengek Aya.
"Yaudah, sih, lupain aja," saran Alea asal.
"Dikira gampang? Jarang ketemu dia aja susuah buat move on apalagi sekarang serumah?"
"Iya, juga sih."
"Kamu tahu..." ujar Aya menggantung.
Alea merespon dengan menaikkan sebelah alisnya. Tahu bahwa Aya akan menceritakan sesuatu dan hanya butuh didengarkan.
Aya mulai menceritakan tingkah Ivan kemarin pagi. Alea sempat memotong dengan berteriak "Demi? Yaudah sih, lupain aja." Aya hanya mengangkat bahu. Dia melanjutkan ceritanya hingga tiba dibagian ucapan tante Anisa.
Alea terdiam lama saat Aya menceritakan ucapan tante Anisa tadi malam. Mienya diletakkan di atas meja kecil di belakangnya. "Terus, sekarang kak Aya mau gimana?"
"Kamu tahu, dia dari tadi kayak ngasih harapan ke aku tau," keluh Aya. "Dia ngapain berdiri di depan pintu kamarku? Ngapain natap aku kek gitu? Kalau emang dia nyuruh aku buat berhenti suka sama dia, harusnya dia nggak usah bersikap kek gitu," lanjutnya.
"Saranku, kak Aya turutin apa kata tante Anisa dulu, tunggu kak Ivan sebentar aja, kalau sekiranya kak Aya udah nggak sanggup, yaudah. Selesai. Lupain kak Ivan apapun yang terjadi."
Setelah berkata demikian, Alea langsung meraih mienya kembali dan memakannya seolah baru saja dia tidak mengatakan hal serius pada Aya.
__ADS_1
"Hmm, aku bakal nunggu Ivan," gumam Aya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...