Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Ketika Mama Datang Berkunjung pt 2


__ADS_3

Setelah makan siang yang berakhir rusuh tadi, sekarang mereka berenam berkumpul di ruang tengah. Menceritakan kegiatan mereka selama seminggu terakhir.


"Jadi, tiap malem yang masak itu kamu, Ya?"


"Iya," jawab Aya pelan. Masih malu jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"Udah kayak ibu-ibu dua anak yang suaminya selalu pulang malam, ya kan?" goda tante Anisa.


"Ma, jangan mulai lagi, deh," ujar Ivan. Dia sekarang duduk di karpet dan bersandar pada sofa.


"Ya kamu kenapa pulang malam terus, hah?" tanya tante Anisa.


"Ngerjain tugas," jawab Ivan singkat.


"Kayak punya tugas aja kamu, biasanya juga nggak pernah dikerjain," sindir tante Anisa.


Aya tertawa kecil melihat ibu dan anak itu. Benar-benar berbeda dengan Ivan yang dia lihat setiap hari. Seandainya Ivan juga bersikap seperti itu jika bersamanya. Tidak apa-apa jika Ivan tiak membalas perasaannya. Asal Ivan tidak membencinya dan bersikap seperti seorang teman saja, Aya sudah bahagia.


"Kalau gitu, kayaknya kalian udah nggak butuh Bi Ning lagi, deh."


Aya menatap Mamanya dengan sorot mata protes. "Mana bisa begitu?"


"Bisa aja, toh kamu bisa ngehandle semuanya sendiri, kan? Hitung-hitung belajar jadi istri yang baik kalau udah berkeluarga nanti."


"Ya, nggak papa sih, kak Aya juga udah kayak Mama kedua aku kok," dukung Akbar.


"Iya, aku juga bisa bantuin kak Aya," tawar Alea.


Aya menimpuk Alea dengan bantal sesaat setelah Alea mengucapkan kata itu. "Kamu masak nasi pake ricecooker aja nggak bisa, sok-sokan bantuin."


Alea merengut. Melemparkan kembali bantal itu ke arah Aya yang sialnya justru terkena muka Ivan yang duduk di samping Aya.


"Anj--," umpat Ivan tertahan.


"Hehe, maaf." Alea nyengir lebar.


"Jadi gimana?" tanya Mama Via sekali lagi.


"Aku bisa bantuin motong rumput, nyuci piring, terus ngelap-ngelap, kak," ujar Akbar semangat.


"Aku bisa bantuin nyuci baju, nyapu, ngepel, kak," sambung Alea.

__ADS_1


Aya menghela napas pasrah. Akhirnya dia mengangguk. "Tau kenapa dua bocil itu seneng kalau nggak ada pembantu di rumah ini?" sinis Aya.


"Hmm?"


"Eh?"


"Karena Bi Ning itu mata-mata Mama. Jadi, kalau nggak ada Bi Ning, mereka bakal bebas. Awas aja kalau mereka cuma omong doang soal mau bantuin aku," sungut Aya.


"KAMI JANJI BAKAL BANTUIN KAK AYA!!" teriak Akbar dan Alea bersamaan. Kemudian mereka tertawa bersama.


Tanpa sadar, sudah tidak ada tembok transparan lagi di antara mereka berdua. Setelah ini, mungkin hanya Aya dan Ivan yang masih terpisah oleh tembok tak kasat mata itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, Aya kembali menawarkan diri untuk membuat makan malam. Dibantu oleh tante Anisa dan Alea yang sebenarnya hanya duduk menonton.


"Ivan itu sebenernya baik, kok. Dia peduli banget sama tante, sama papanya juga," kata tante Anisa tiba-tiba.


Aya yang sedang mencuci beras menghentikan sebentar kegiatannya. Menoleh ke arah tante Anisa dengan tatapan bertanya.


"Tante minta maaf kalau kelakuan Ivan selama ini mungkin bikin kamu sedih. Kamu suka sama Ivan, kan?"


"H-hah, A-aya nggak ehmm..."


Aya menunduk. "Maaf," lirih Aya.


"Loh, kenapa minta maaf? Tante seneng kalau ada orang yang suka sama Ivan. Tante seneng banget kalau Ivan tinggal disini sama seseorang yang suka sama dia dengan begitu tulus. Tante yang harusnya minta maaf." Tante Anisa kini sempurna menatap Aya.


"Sayang, Ivan itu sebenernya orang yang perhatian. Mungkin luarnya emang nakal, tapi percayalah Ivan itu anak yang baik. Tante nggak tau dia suka sama siapa, tapi kamu bisa nunggu dia sebentar? Cinta datang karena terbiasa, Aya. Tante percaya sama kamu. Tante mau kamu yang jadi pendamping Ivan nanti."


Aya menangis. Bagaimana bisa wanita yang ada di depannya ini begitu percaya padanya? Kenapa tante Anisa justru memberi harapan besar pada Aya? Sedangkan tadi pagi, Ivan sudah dengan jelas menolak Aya. Tidak ada gunanya tante Anisa berbicara seolah dia merestui hubungan Aya dan Ivan, sedangkan Ivan sendiri tidak akan pernah menyukai Aya.


Tante Anisa meraih tubuh Aya lalu memeluknya. "Tante minta maaf kalau Ivan pernah nyakitin kamu begitu dalam. Tante mohon, tunggu Ivan sebentaar aja, tante nggak mau Ivan akhirnya nyesel."


Aya mengangguk lemah. Meski sebenarnya tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan oleh tante Anisa. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Separuh hatinya menyuruhnya untuk mulai melupakan Ivan. Tapi sekarang, Ibu dari cowok yang dia sukai justru menyuruhnya untuk bertahan.


Mama, Aya harus gimana?,batin Aya sendu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya Aya bangun pukul 04.30 dan langsung menuju lantai bawah. Dia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi ini. Sedikit pencitraan sebenarnya karena Mamanya dan tante Anisa menginap disini. Kalau tidak, Aya juga baru akan bangun pukul 05.30 nanti. Toh, hari ini hari minggu.

__ADS_1


Alasan lainnya karena Aya ingin menghilangkan bengkak di matanya. Tadi malam sebelum tidur, Aya menangis lama. Membuat matanya perih dan membengkak di pagi harinya. Jadi sekarang, sambil memasak dia juga sibuk mengompres matanya menggunakan es batu.


"Wah, anak mama rajin banget. Padahal biasanya kalau di rumah juga masih tidur." Tanpa menoleh pun Aya tahu kalau mamanya sudah berdiri di belakangnya.


"Mau bantuin?" tanya Aya jengah.


"Kamu nyuruh mama?"


"Nggak sih, cuma nawarin."


Sang mama tertawa kecil. Dia mengambil alih daging yang baru saja Aya cuci. "Kamu nyapu atau ngepel aja deh, biar mama yang masak."


"Aku mau masak, males nyapu," sanggah Aya.


"Halah, bilang aja kalau sebenernya kamu pengen Ivan makan masakan kamu," cibir Mamanya.


"Oke, aku mau nyuci dulu. Kemarin nggak sempet," kata Aya mengalihkan topik.


Aya berlari kecil menaikki tangga. Meninggalkan Mamanya yang tertawa puas di bawah. Aya sendiri sepanjang perjalanan sibuk menyumpahi Mamanya.


Aya berjalan melewati kamar Ivan menuju kamarnya. Dia berhenti sebentar di depan pintu yang tertutup itu. Membayangkan apa yang Ivan lakukan di dalam. Apakah cowok itu masih tidur? Jujur saja Aya penasaran seperti apa penampakan Ivan saat sedang tidur. Atau bagaimana wajah cowok itu ketika bangun tidur.


Saat sedang asyik berkhayal, tiba-tiba gagang pintu kamar Ivan bergerak. Aya langsung berbalik dan berlari cepat menuju kamarnya. Kemudian segera mengambil keranjang baju-baju kotor yang ada di kamarnya.


Baru saja membuka pintu, Aya dikejutkan oleh sosok Ivan yang berdiri tepat di depan kamarnya. Aya memekik kecil dan menjatuhkan keranjang baju kotor yang sedang dibawanya.


"K-kamu ngapain d-disini?" tanya Aya tergagap. Dia tidak paham kenapa Ivan berdiri di depan kamarnya saat ini.


"Nggak papa, sih. Gue cuma mau mastiin aja," jawab Ivan asal.


"M-mastiin a-apa?"


Ivan hanya menggeleng sebagai jawaban. Matanya beralih ke arah tumpukan baju kotor yang berserakan di dekat kaki Aya. "Mau nyuci?"


Aya mengangguk. "Iya, kamu mau sekalian?"


"Nggak," jawab Ivan singkat kemudian berbalik menuju kamarnya lagi.


Aya masih berdiri di depan kamar dan mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Ivan bilang mau memastikan sesuatu. Memastikan apa? Aya memegang dadanya yang kini masih berdebar tak karuan.


"Van, please, jangan bikin gue kegeeran kayak gini."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2