Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Aya Sakit


__ADS_3

"Iya, nangis aja. tisu masih banyak kok, asal nanti kalau habis jangan di lap pake bajuku."


Aya memukul Alea dengan HP-nya sesaat setelah Alea mengatakan kalimat tidak berguna itu. Tahukan bagian sudut HP? Yang kalau kena muka sakit banget? Nah, Aya mukul Alea pake itu tepat di mukanya.


"SAKIT ANJENG!" Alea ingin menangis rasanya.


"INI GUE JUGA SAKIT!" Aya juga ikut berteriak.


Alea melirik Aya tajam sambil mengelus tulang pipinya yang menjadi korban kebrutalan Aya. Mereka berdua di kamar Alea sekarang. Alea duduk di ranjang dan Aya tiduran dengan paha Alea sebagai bantal. Tapi itu tadi sebelum Aya memukul Alea. Karena sekarang Alea sudah pindah ke karpet di bawah.


"Gini loh, kak. Pipiku itu berharga tau?"


"Terus lo pikir perasaan gue nggak berharga gitu?" sahut Aya tak terima.


"Ya emang nggak berharga, kak Ivan aja nggak peduli." Alea berkata santai.


Aya langsung bangkit duduk. "Lo bilang apa barusan?"


"Perasaan kak Aya itu nggak penting, bahkan kak Ivan aja juga pasti nganggep perasaan kak Aya nggak penting," balas Alea. "Nggak usah marah, kenyataannya gimana?" Alea buru-buru menambahkan saat melihat Aya yang bersiap melemparkan HP ke arahnya.


"Sakit." Aya menangis lagi.


Melihat Ivan foto bersana dengan cewek lain saja sudah cukup sakit. Sekarang dia harus melihat Ivan mencium orang lain secara langsung. Rasanya sangat sakit. Dia hanya bisa menangis di depan Alea yang sialnya tidak membantunya sama sekali.


Alea menghela napas pelan. "Kak, tahu nggak gimana otak bekerja selama ini?"


Nah, kan. Alea itu memang sama gilanya dengan Aya. Ada saja hal random yang terlintas di otaknya bahkan saat situasi tidak mendukung.


"Kalau kata gue, lo mending diem, sih." Aya membenamkan wajahnya di boneka boba milik Alea. Tidak peduli kalau boneka itu akan basah oleh air mata dan ingusnya.


"Kak Aya tau kan kalau otak itu nggak pernah berhenti bekerja?" Masih juga dilanjut ini keset masjid.


Aya mengacungkan jari tengahnya ke arah Alea sebagai jawaban.


"Sama kayak otaknya kak Aya. Dari dulu otaknya kak Aya nggak pernah berhenti bekerja. Mau itu pas kak Aya tidur juga otak masih bekerja kan? Tapi sekarang kayaknya otak kak Aya lagi berhenti bekerja deh."

__ADS_1


Aya nenegakkan tubuhnya lagi. Dia menatap Alea yang kini juga balas menatapnya dari bawah. "Bentar, maksud lo apaan?"


Alea mengangkat bahunya sambil nyengir tak berdosa. "Otaknya kak Aya emang berhenti kerja sejak kak Aya suka sama kak Ivan. Makanya bego. Cinta boleh, tolol jangan. Cinta boleh, tapi otak tetep jalan," kata Alea sok bijak.


"Oasu!" umpat Aya. Dia beranjak dari kasur dan menerjang tubuh Alea. Berusaha untuk memukul Alea.


"Heh, aduh, kak Aya lepasin. Jangan, wehh!" teriak Alea heboh.


Kini mereka bergulingan di karpet. Aya tahu Alea paling benci skinship. Makanya sekarang dia berusaha untuk mencium pipi Alea. Sedangkan Alea meronta-ronta minta di lepaskan.


"Aku lebih mending dicium Akbar ya, weh, lepasinn!" Alea masih meronta-ronta. Tangannya di pegang kuat oleh Aya.


"Kak Aya kalau sedih ngeliat kak Ivan ciuman, ya jangan gini caranya...AAAA JIJIK ANJING!" Alea berteriak keras saat Aya berhasil mencium pipinya.


Aya tertawa penuh kemenangan. Dia menjauh dari Alea yang kini menggosok pipinya yang baru saja dicium Aya dengan kasar.


Sejenak Aya melupakan fakta soal Ivan. Kalau dipikir, kenapa Aya harus sesedih itu? Toh, bukannya Aya sendiri yang bilang kalau dia sudah melupakan Ivan?


"Kalian ngapain, sih?"


Aya dan Alea saling bertatapan. Mereka mengeluh tertahan sambil menggumamkan kata yang sama.


"Mampus."


...................


Pagi harinya Aya sakit. Tidak parah, hanya pusing biasa. Itupun karena semalam dia terus menangis. Jadi, pagi ini meski dengan mata bengkak dan kepala pusing, Aya tetap memaksakan diri berangkat ke sekolah.


"Kak Aya beneran mau berangkat sekolah?" tanya Alea untuk kesekian kalinya.


"Hmm, ribet kalau aku nggak berangkat. Tetep harus ada yang kesana buat ngijinin," gumam Aya pelan.


"Kalau pusing mending nggak usah sih, kak," ujar Akbar tiba-tiba.


Aya tertawa kecil. "Cuma pusing biasa, tadi malem nggak bisa tidur. Nanti juga sembuh."

__ADS_1


"Tapi kak Aya kayak lemes banget gitu." Akbar menatap Aya khawatir.


Aya memijit pelipisnya. Gimana nggak lemes kalau tadi malam aku nangis terus, batin Aya nelangsa.


Aya mengedarkan pandangannya. Tidak ada Ivan di ruang depan. Bahkan sejak tadi juga Aya belum bertemu dengan cowok itu.


"Kalau nyari kak Ivan, dia udah berangkat bareng kak Arial dari tadi. Ada urusan katanya," kata Alea seolah tahu apa yang ada dipikiran Aya.


"Akbar bareng kita berarti?" Aya menatap Akbar.


Akbar mengangguk.


"Yaudah sekarang aja ya, nanti aku kesiangan," ajak Aya sambil berjalan menuju halaman.


Akbar dan Alea mengikuti di belakang. Setelah mengunci pintu, mereka bertiga segera masuk mobil.


Akbar duduk di samping sopir sedangkan Aya dan Alea di jok tengah. Tidak ada percakapan setelah itu. Setelah kejadian tadi malam, sebenarnya mereka jadi canggung lagi. Aya tidak tahu Akbar dan Ivan mendengar percakapannya dengan Alea sejak kapan. Pun Akbar juga tidak membahas lebih lanjut mengenai hal itu.


Setelah mengantarkan Alea, mobil itu pun melaju menuju sekolah Akbar. Aya menyandarkan tubuhnya. Mungkin tidur sebentar tidak masalah baginya. Toh perjalanan menuju sekolahnya masih lama.


Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di depan gerbang sekolah Akbar. Aya menegakkan tubuhnya saat Akbar berpamitan padanya. Saat itulah, matanya menangkap sosok familier di cafe dekat sekolah Akbar. Cafe itu memang terletak di antara SMP Akbar dan SMA Ivan.


Aya memicingkan matanya. Di cafe, dia melihat seorang cowok yang memakai celana putih, sepatu putih, dan hoodie hitam. Di depannya ada seorang cewek yang juga memakai rok putih dan atasan batik yang sangat Aya kenal. Itu seragam identitas SMA Ivan. Dan cowok yang Aya liat itu jelas-jelas adalah Ivan.


"K-kak Aya?" Akbar mengikuti arah pandang Aya.


Aya tersenyum tipis. "Kenapa? Ada yang ketinggalan?"


Akbar menggeleng. Setelah itu dia langsung turun dari mobil.


Aya kembali menyandarkan tubuhnya saat pintu mobil di tutup. "Balik ke rumah aja, pak. Nanti tolong ke sekolahku buat minta ijin, ya. Aku pusing banget."


"Baik, Non."


Aya melepas sepatu yang sudah dipakainya. Kemudian merebah diri di jok tengah. Dia menghela napas berat. Pikirannya kembali pada apa yang dia lihat barusan.

__ADS_1


Urusan katanya? Iya, urusan dengan pacarnya. Seharusnya Aya tidak perlu berharap lagi, kan? Aya menghela napas berat sekali lagi. Dia bukan siapa-siapanya Ivan. Dia tidak berhak untuk cemburu


__ADS_2