
"Makasih, Vi," kata Aya sesaat setelah sampai di depan gerbang rumahnya.
"Iya, sama-sama. Lain kali, kalau mau nebeng bilang aja," balas Arvi sambil tertawa.
"Itu sih, bukan mau nebeng, tapi suruh nganterin. Oh iya, mau mampir dulu?" canda Aya
"Haha, lain kali aja gue mampir, udah ditungguin Rivan sama yang lain soalnya," tolak Arvi.
"Duh, maaf ya sekali lagi."
"Santai kalau sama gue, yaudah gue pamit ya."
"Iya, hati-hati. Makasih loh."
Motor Arvi kemudian melaju meninggalkan rumah Aya. Aya sendiri masih berdiri di depan gerbang sampai Arvi tidak terihat lagi. Bukannya gimana-gimana, itu hanya sekedar sopan santun Aya saja.
Baru saja Aya membuka gerbang, dari teras sudah ada Alea yang duduk di tangga sambil menatap Aya curiga.
"Weh, dianterin siapa, nih?" teriak Alea.
Aya buru-buru menutup gerbang depan dan berjalan cepat ke arah Alea.
"Motornya Nmax hitam, Al," kata Akbar yang baru saja keluar. "Eh, kak Aya, tadi aku liat dari balkon lanti dua hehe," lanjut Akbar sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Oh, tau aku siapa itu tadi," goda Alea.
"Diem deh, berisik," bentak Aya sambil melepas sepatunya.
"Arvi, kan?" tanya Alea memastikan.
"Apaan, anjir? Dah, minggir aku mau masuk," kata Aya sewot.
Aya menenteng sepatunya dan berjalan ke dalam rumah. Alea dan Akbar mengikutinya di belakang. Baru saja melangkahkan kakinya di ruang depan, Aya dikejutkan oleh Ivan yang sudah duduk manis di sofa ruang tengah sambil bermain game. Cowok itu sudah memakai celana pendek hitam dan kaos abu-abu. Menandakan kalau dia sudah pulang dari tadi.
"Langsung pulang kayaknya dia, soalnya jam empat kurang seperempat tadi udah sampe rumah," bisik Alea di telinga Aya.
Aya melirik Alea tajam. "Kenapa nggak bilang tadi?" desis Aya.
Aya berjalan melewati ruang tengah dan menuju kamarnya sambil menarik tubuh Alea.
"Kak Aya nggak nanya," jawab Alea santai.
"Terus kalau aku nggak nanya, kamu juga nggak ngasih tau gitu? Heh, Ivan jarang-jarang langsung pulang kek gitu," kata Aya kesal.
"Katanya kak Aya mau belajar ngelupain kak Ivan, ya buat apa aku laporan? Harusnya kak Aya nggak peduli apapun yang kak Ivan lakuin, kan?"
Aya menoleh ke arah Alea dengan cepat. Mau marah tapi apa yang dikatakan Alea itu ada benarnya. Dia sudah berniat untuk mulai berhenti suka sama Ivan, jadi buat apa dia peduli dengan cowok itu?
Tok tok tok!!
"KAK AYA, KAK IVAN MINTA DIBUATIN MAKANAN!!" teriak Akbar dari luar kamar Aya.
__ADS_1
Aya nendengus malas. Senentara Alea hanya mengangkat bahu acuh.
"BILANGIN IVAN SURUH NUNGGU BENTAR, AKU MAU MANDI DULU," balas Aya dengan berteriak juga.
"OKE!"
Aya menghempaskan tubuhnya di kasur. Kemudian menatap Alea dengan muka melas. "Al, kamu tau anjing?"
Alea mengangguk. Lagi, Aya dan pikiran randomnya.
"Nah, itu Ivan."
..........
"Kak Aya, tadi yang nganterin kak Aya siapa?" tanya Akbar polos.
Makan malam kali ini seharusnya lancar-lancar saja. Semua sibuk dengan makanannya masing-masing. Bahkan Aya mati-matian untuk tidak mencuri pandang ke arah Ivan yang duduk di seberangnya. Tapi, makan malam yang tenang itu hancur oleh pertanyaan polos Akbar.
"Temen sekelasku," jawab Aya pendek.
Jauh di dalam lubuk hatinya, entah kenapa Aya merasa bersalah pada Ivan. Padahal Ivan sendiri juga tidak peduli.
"Harus sambil pelukan gitu?" tanya Akbar lagi. Dia menatap Aya dengan tatapan mata polosnya.
Aya terbatuk pelan. "Hah? Pelukan apanya?"
"Tapi aku sama Al liat kak Aya dari balkon lantai atas. Keliatan banget kalau kak Aya meluk si cowok itu," terang Akbar.
"Kalau dari atas keliatan kek pelukan, kak. Sumpah deh," tambah Alea.
"Nggak usah kompor ye, babi," umpat Aya.
"Nggak kompor, cuma ngomongin fakta. Tangan kak Aya kek masuk ke saku jaketnya si Arvi Arvi itu."
Aya menendang kaki Alea. Membuat Alea mengumpat pelan. Sementara Akbar hanya cekikikan.
"Rumahnya deket kak?" tanya Akbar.
"Siapa? Si Arvi? Jauh, weh. Mungkin sekitar 22 km dari sini," potong Alea santai.
"Lo mending diem ye anjing," sarkas Aya.
"Lho, jarak dari sini ke sekolah kak Aya kan cuma 10 km," heran Akbar.
"Nah, rumah kita kan 10 km di sebelah timur sekolah kak Aya, rumahnya si Arvi 12 km di sebelah barat sekolahnya kak Aya." Lagi-lagi Alea yang menjawab pertanyaan Akbar.
"Lah, terus kenapa dia nganterin kak Aya sampe rumah, deh?"
Aya menggeram kesal. Dia melirik Alea tajam tanpa berniat menjawab pertanyaan Akbar.
"Oh, namanya effort kalau suka sama cewe itu," jawab Alea.
__ADS_1
"Effort-effort palalu," sinis Aya.
"Gue udah selesai," ucap Ivan tiba-tiba. Memotong pembicaraan. Dia berdiri dari duduknya kemudian pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.
"Lah?"
Aya menatap Ivan dengan penuh tanda tanya. Ada nada marah di ucapan cowok itu tadi. Tapi Aya sendiri juga tidak tahu kenapa.
"Cemburu itu," bisik Alea tepat di telinga Aya.
Aya berdecak. Dia menatap Alea malas. "Lo tau babi?"
"Tau, kenapa?"
"Nah, itu elo."
...............
Aya mencuci bekas makan malamnya sendiri. Bukan karena tidak ada yang mau membantunya, tapi memang Aya yang tidak mau dibantu. Dia masih marah dengan dua curut kecil itu. Makanya tadi dia usir waktu mereka berdua menawarinya bantuan.
Sekarang sudah pukul setengah delapan. Belum masuk jam tidur, tapi entah kenapa Alea dan Akbar sudah masuk ke kamar masing-masing. Jadi, Aya hanya sendiri di lantai satu. Jangan tanya soal Ivan, setelag makan malam tadi, dia sama sekali belum keluar kamar.
Kalau dipikir-pikir Aya masih heran dengan sifat Ivan tadi. Tidak mungkin bukan kalau cowok itu cemburu? Aya memukul pipinya pelan untuk menghalau pikirannya barusan. Mana ada Ivan cemburu karena dia pulang bersama Arvi. Sangat tidak mungkin.
Sedang sibuk menduga-duga Aya mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia menoleh ke belakang dan melihat Ivan berjalan ke arahnya.
"Ada kopi?" tanya Ivan setelah berada di dekat Aya.
Aya menatap Ivan lalu mengangguk. Kemudian berbalik dan kembali melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.
"Dimana?" tanya Ivan sekali lagi.
"Ada di rak paling kiri, cari aja. Kayaknya masih ada, kok," jawab Aya tanpa melihat ke arah Ivan. Dia tidak ingin terlalu berharap dan jangan sampai misi 'melupakan Ivan'-nya gagal begitu saja.
"Nggak ada," kata Ivan datar. Aya masih bisa mendengar suara berisik karena Ivan mengacak-acak rak.
"Cari yang bener!" suruh Aya. Dia mengibaskan tangannya yang masih basah. Dia sudah selesai mencuci piring.
"Dibilangin nggak ada," jawab Ivan.
Aya berbalik. Dia mendekat ke arah Ivan dan menggeser tubuhnya. Berjinjit di dekat rak sambil mendongak ke atas. Seingatnya masih ada beberapa kopi di rak.
Tangannya masih menggapai-gapai sampai dia merasakan tubuhnya terangkat. Sebuah tangan melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke atas. Aya mematung sejenak. Masih mencerna apa yang sedang terjadi. Tapi bukan itu yang harus dia lakukan sekarang. Matanya menangkap sebungkus kopi dan langsung meraihnya.
"V-van t-turunin," ucap Aya terbata saat Ivan tak kunjung menurunkannya.
"Oh, udah?" Ivan berkata santai sambil menurunkan tubuh Aya. Seolah-olah itu hal yang biasa. Padahal Aya sudah ingin pingsan rasanya.
"N-nih, m-makanya k-kalau nyari pake mata." Aya memberikan kopi yang baru diambilnya ke arah Ivan sambil mendorong tubuh Ivan agak keras. Setelah itu dia berlari ke arah tangga.
Baru saja sampai di ujung tangga, suara Ivan membuatnya berhenti.
__ADS_1
"Lo, beneran udah nggak suka sama gue?"