
"Lo masih sakit, Ya. Tolong jangan bikin gue gila," bisik Ivan dengan nada frustasi.
Tubuh Aya menegang. Dia sudah dewasa dan suara frustasi Ivan jelas membuatnya tak bisa berpikir jernih. Apalagi dengan posisinya yang masih berada di pelukan Ivan. Juga hembusan napas Ivan yang membuat lehernya geli.
"Nghh." Aya mendorong Ivan kuat saat Ivan tiba-tiba menggigit lehernya dan menghisapnya kuat. Setelah itu dia menutup mulutnya kaget begitu sadar apa yang telah dia ucapkan.
Ivan terdorong hingga dua langkah ke belakang. Dia menyeringai tipis melihat Aya yang kini terlihat panik.
"Baru leher, belum bibir atau yang lain. Kenapa udah ngedesah gitu?" tanya Ivan dengan sorot mata sayu.
Ivan melangkah mendekati Aya lagi. "Leher lo, sensitif banget, hmm?"
Aya menyentuh lehernya sambil melotot galak ke arah Ivan. Ingin sekali dia menampar Ivan tapi tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama.
"K-kamu g-gila," bentak Aya.
Kemudian Aya berlari cepat menuju kamarnya. Meninggalkan Ivan yang masih terkekeh pelan di tempatnya berdiri.
...................
"Kak Aya udah kuat buat sekolah?" tanya Alea yang membuat Aya sedikit deja vu.
"Di kuat-kuatin, sih. Lagian nanti pulang jam 2. Aku gabut kalau cuma di rumah sendirian," jawab Aya sambil memakai sepatunya.
"Kak Aya? Udah mau sekolah?" Akbar melangkah masuk ke dalam kamar Aya.
Aya mengangguk. "Oh iya, kalian sarapannya mau gimana?"
"Kak Ivan lagi masak di bawah, tuh," jawab Akbar. "Udah pulang dia, mungkin waktu kita udah tidur."
Mendengar nama Ivan disebut, reflek Aya terdiam. Mukanya memanas saat mengingat kejadian semalam.
"Kok kak Aya nggak kaget? Udah tau?" tanya Alea penasaran. Memutus lamunan Aya.
"H-hah? Ivan udah pulang?" tanya Aya pura-pura.
"Kak Aya paling nggak bisa bohong udahlah. Dia udah tau kalau kak Ivan udah pulang. Makanya tadi waktu bangun tidur nggak langsung tanya tentang kak Ivan," sindir Akbar. "Yuk, turun!"
Aya mengerucutkan bibirnya. Tapi kemudian dia mengikuti Akbar untuk ke bawah.
"Kak Aya tau darimana kalau kak Ivan udah pulang?" bisik Alea.
Aya hanya mengangkat bahu dan tidak berniat menjawab pertanyaan Alea. Membuat Alea mendengus kesal.
Sesampainya di dapur, Aya bisa melihat Ivan yang sedang menata sarapan di meja makan. Dia mendongak dan menatap Aya dengan seringai tipis di bibirnya.
"Tumben kak Ivan udah siap," kata Akbar saat melihat Ivan yang sudah memakai seragam.
"Masalah?," jawab Ivan acuh.
Beberapa saat kemudian sarapan sudah siap dan mereka makan dengan tenang. Aya duduk di seberang Ivan. Dia sesekali melirik ke arah Ivan yang sialnya juga sedang menatapnya. Membuat mereka berkali-kali eyecontact tanpa sadar.
"Kak, leher kak Aya kena apa deh, kok bisa lebam gitu?" Tiba-tiba Alea bertanya polos.
Aya tersedak sedangkan Ivan hanya tersenyum tipis.
"Mana?" tanya Aya pura-pura bingung.
"Itu, leher kak Aya kenapa ada kayak lebam gitu?" Alea menjulurkan tangannya untuk menyentuh leher Aya, tapi segera ditepis oleh Aya.
__ADS_1
Aya menyentuh lehernya sendiri gugup. Dia menatap Ivan di depannya yang justru menyeringai semakin lebar.
"Oh, itu. Al, tau ****** nggak?" tanya Akbar sambil menahan tawa yang justru membuat Aya semakin panik.
"Tau lah. Ikan, kan? Kenapa emangnya?"
"Ya nggak papa, cuma nanya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Akbar kemudian beralih menatap Aya dan mengedipkan sebelah matanya.
....................
Pulang sekolah, Aya diantar oleh Arvi sampai rumah. Aya sudah menolak dengan halus tapi Arvi tetap memaksa. Bahkan saat Aya memberi alasan bahwa da dijemput sopir, Arvi juga tetap memaksa. Makanya mau tidak mau, Aya menuruti perintah Arvi.
Mereka berhenti di depan gerbang rumah Aya. Aya menyerahkan helm yang di pakainya kepada Arvi.
"Mau mampir dulu?" ujar Aya berbasa-basi.
"Nggak dulu, deh. Gue ada les. Jadi, habis ini langsung balik ke sekolah," tolak Arvi sambil tersenyum.
"Eh, lo ikut les di sekolah yang tiap Jum'at itu? Yang pengajarnya dari bimbel terkenal itu, kan?"
Arvi mengangguk membenarkan. "Dipaksa ayah gue. Gue sih, nurut karena gue kira lo juga ikutan haha."
Aya ikut tertawa. "Duh, gue males ikut les-les begitu. Ya gue tau itu penting. Tapi jangankan les, sekolah yang gratis aja gue masih males berangkat," canda Aya.
"Tapi kan, lo udah pinter dari sononya," ujar Arvi. "Eh, yaudah gue langsung balik ya? 15 menit lagi lesnya dimulai, nih."
Arvi melirik jam tangannya kemudian menyalakan mesin motornya.
"Mepet banget. Keburu nggak tuh? Sorry, ya," sesal Aya.
"Santai, gue bisa ngebut kok."
"Duh, jadi enak dikhawatirin sama calon pacar."
Aya pura-pura memukul bahu Arvi. "Pergi sana!" usirnya bercanda.
Arvi tertawa sebentar kemudian setelah berpamitan segera melajukan motornya meninggalkan rumah Aya.
Aya berjalan memasuki pekarangan rumah masih dengan senyum di bibirnya. Tidak sadar bahwa ada seseorang yang menatapnya tidak suka di depan pintu.
"Yang dianterin pacarnya sampe rumah, seneng ya?" sarkas Ivan.
Aya menatap Ivan yang menyandarkan tubuhnya di pilar di teras rumah. Di bisa melihat cowok itu menyeringai sinis.
"Pacarnya effort banget ya, nganterin sampe rumah padahal rumahnya jauh," sindir Ivan saat Aya sudah dihadapannya.
"Maksud kamu siapa, sih? Arvi? Dia bukan pacarku," kata Alea kesal.
"Bukan pacar tapi nganterin sampe rumah," kata Ivan lagi.
Aya yang sudah berjalan melewati Ivan berhenti. Dia menatap Ivan tajam. Dia tidak mengerti kenapa Ivan bergitu tidak suka dengan Arvi. Cemburu?
"Setidaknya dia nggak nyium cewek yang bukan pacarnya tepat di bibir," desis Aya. Dia tidak tahu kenapa dia justru mengucapkan kata itu. Aya hanya berniat membalas Ivan kalau memang cowok itu belum memiliki pacar.
Kini Ivan sempurna menatap Aya. Dia mencekal pergelangan tangan Aya kuat saat Aya hendak kabur. "Lo bilang apa barusan?"
Aya menghempaskan tangan Ivan. "Lo sadar nggak sih, kalau lo itu aneh banget. Lo kadang ngebaperin gue, tapi kadang lo juga biasa aja. Lo kadang kayak cemburu tiap kali gue deket sama cowok lain, tapi lo sendiri nyium cewek lain di depan mata gue. LO ANGGEP GUE APA, VAN?!" bentak Aya. "Oke, mungkin emang selama ini gue yang kegeeran. Lo nggak bermaksud buat ngebaperin gue, nggak bermaksud buat nyakitin gue. Anggap aja emang gue yang salah paham dan kegeeran."
Setelah berkata demikian, Aya langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Ivan yang mematung di tempatnya.
__ADS_1
...................
"Kalian berdua ada masalah apa sih, sebenernya? Sekarang kak Ivan pergi kemana lagi coba?" Akbar mengacak rambutnya frustasi.
Sekarang Aya, Akbar, dan Alea ada di gazebo belakang rumah. Aya berdiam di sana sejak sore tadi hingga malam hari. Menolak berbicara pada Akbar dan Alea. Dia hanya menangis tiap kali Alea bertanya padanya.
"Kak Aya, sebenernya tadi kalian berdua kenapa? Aku cuma denger kak Aya teriak-teriak di teras tadi siang," tanya Alea. "Kak Ivan kayaknya nggak pulang lagi hari ini," lanjutnya.
Aya menggeleng sambil terisak pelan. "Aku capek, hiks..."
"Bilang dong, kak. Kita mungkin bisa bantu," bujuk Akbar sambil sesekali mengotak-atik HP-nya. Mencoba menghubungi Ivan.
"Aku cuma minta kejelasan, aku capek kalau dia cuma narik ulur aku doang," kata Aya lirih. "Dia nggak jawab dan sekarang malah pergi."
"Duh, goblok banget itu orang," gumam Akbar.
"Kan, emang kak Ivan itu tolol," gumam Alea.
Tiba-tiba HP Aya berdering menandakan ada telfon masuk. Aya meraihnya dan sebuah nomor tak dikenal tertera di layar HP-nya.
"Siapa, kak?" tanya Alea penasaran.
Aya menggeleng. Dia ragu untuk menjawab telepon itu. Aya itu jarang menerima telepon. Dia lebih suka berbicara lewat chat atau secara langsung.
"Angkat aja deh, kak. Siapa tau penting," saran Akbar.
Dengan ragu Aya mengangkat telepon itu. "Halo?"
Terdengar suara berisik sebentar. Kemudian terdengar suara seseorang dari seberang sana.
'Halo, ini beneran Aya, kan?'
Belum sempat Aya menjawab, terdengar suara lain menimpali.
'Pake nanya, itu kontaknya aja dinamain pake emot love.'
"S-siapa?" tanya Aya takut. Kenapa orang-orang ini bisa tau nomor HP-nya bahkan namanya?
'HAHA NOMOR LO NGGAK DI SAVE SAMA PACAR LO, VAN?'
Aya menjauhkan HP-nya dari telinganya saat orang di seberang sana berteriak. Kemudian memilih ke mode loudspeaker.
'VAN, TANGAN LO BISA BERDARAH, ANJING!'
Aya, Akbar, dan Alea yang mendengar itu langsung terkejut. Terdengar suara ramai dan heboh di seberang sana.
"I-ivan k-kenapa? D-dia dimana sekarang?" tanya Aya panik.
'AYA LO BISA KESINI SEKARANG? IVAN MABUK ANJING'
"H-hah?"
'HEH, BANGSAT. SEKALIPUN DIA LAGI MABUK JUGA JANGAN LO PUKUL, BAJINGAN!'
Suara di seberang sana semakin ramai dan heboh. Aya tidak tau apa yang terjadi sekarang, tapi Aya yakin Ivan sedang tidak baik-baik saja.
'Gue kirim alamatnya ke lo sekarang. Ivan butuh lo, Ya'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1