Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Pacaran


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang. Aya mendusal di leher Ivan setelah Ivan menceritakan hal yang selama ini membuatnya penasaran. Ivan sendiri tersenyum dan mengelus punggung Aya lembut.


"Jadi, yang aku denger di telfon tadi malem itu bohong?" tanya Aya pelan.


Ivan bergumam mengiyakan.


"Termasuk kamu yang mabuk?"


"Aku emang minum, tapi nggak sampe mabuk. Cuma rada pusing sama mual aja," jawab Ivan. Dia mencium kening Aya lembut.


"Aku udah khawatir," cicit Aya.


"Maaf."


"Aku boleh tanya lagi?" Aya menegakkan tubuhnya. Menatap Ivan serius.


"Boleh, tapi sebelumnya aku boleh nanya sama kamu dulu?"


Aya mengerjap bingung. Tapi akhirnya mengangguk. "Nanya apa?"


Lagi-lagi Ivan tersenyum. Dia menatap lurus mata Aya. Mukanya berubah serius dan membuat Aya sedikit takut.


"Kamu...mau jadi pacarku?" tanya Ivan serius.


Aya terdiam. Masih terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Ivan. Itu adalah pertanyaan yang selama hampir satu tahun ini dia tunggu. Tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.


"Eh, kok malah nangis? Jawab dulu." Ivan menangkup pipi Aya dan mengusap air matanya.


"Kamu masih nanya?" Aya memukul bahu Ivan keras.


Cowok itu tertawa kecil. Lalu kembali memeluk Aya gemas sambil berbisik terima kasih di telinga Aya.


"Kamu mau nanya apa tadi?"


"Eumm itu...," ujar Aya ragu. "Kalau kamu udah suka sama aku dari dulu, kenapa waktu 3 bulan yang lalu aku ngungkapin perasaanku ke kamu, kamu malah biasa aja dan kayak nolak?"


Ivan menggaruk tengkuknya canggung. "Malu lah, Yang. Harusnya aku yang bilang gitu. Sebenernya waktu itu aku malu sekaligus seneng banget."


Pipi Aya memerah saat Ivan memanggilnya 'Sayang'. Dia menyembunyikan wajahnya di leher Ivan. Membuat Ivan terkekeh gemas melihatnya.


"I love you, makasih karena kamu udah mau nunggu aku," bisik Ivan.


"I love you too," balas Aya pelan. Dia masih malu.


Ivan menggamit dagu Aya. Memaksa Aya untuk menatap ke arahnya. Cowok itu memajukan wajahnya untuk kembali mencium bibir Aya saat pintu kamarnya di buka lebar.


"KAK IV--" Akbar mematung di dekat pintu.


Aya yang melihatnya langsung berpindah dari pangkuan Akbar. Matanya menatap panik ke arah Akbar. Sementara Ivan di sampingnya masih terlihat tenang.


"--an!?" Akbar membeo. Di belakangnya ada Alea yang ikut melongok ke dalam.


"Hehe, masih ada kak Aya," cengir Akbar.


......................


Mereka berempat kini berkumpul di meja makan. Sekarang memang sudah jam makan siang. Alea dan Akbar tadi berinisiatif untuk membeli makan siang sebelum pulang tadi mengingat Aya tadi pagi juga tidak masak. Tapi makan siang itu jadi tidak nyaman karena Alea dan Akbar terus menatap Aya dan Ivan curiga.


"Bisa jelasin sekarang?" tanya Alea ditengah acara makan siang mereka.


Aya memijit pelipisnya. "Ya gini, udah keliatan, kan?"


"Kalian pacaran?" Kini giliran Akbar yang bertanya.


"Iya," jawab Aya dan Ivan bersamaan.


"Sejak kapan?" tuntut Akbar.


"Barusan," jawab Aya jujur.


"Lah, tadi pagi aku liat kalian udah tidur bareng," heran Akbar.

__ADS_1


"Hah!?" pekik Aya kaget.


Akbar mengangguk. "Tadi pagi aku mau bangunin kak Ivan, tapi pas aku masuk aku liat kak Aya yang lagi tidur bareng kak Ivan. Dan meskipun kalian pake selimut, bahu kalian tetep keliatan. Jadi, kayaknya aku tau kak Aya sama kak Ivan tadi malem ngapain," jelas Akbar santai.


Pipi Aya memerah. Entah malu karena ketahuan atau marah karena ucapan Akbar barusan. Dia melirik Ivan yang kini justru menyeringai lebar ke arah Akbar.


"Iya emang kita ngelakuin itu." Ivan mengangkat bahunya.


Aya melotot. Dia memukul lengan Ivan keras setelah cowok itu mengatakan hal itu. "Van~"


"Kan bener, Yang."


"Ya tapi--"


"Bentar, kak Aya sama kak Ivan tadi malem itu..." ucap Alea menggantung. Menatap Aya dengan tatapan menggoda.


Aya yang melihat itu justru langsung menunjuk Akbar kesal. "Akbar, kamu yang ngerusak otak polosnya Alea?" desis Aya.


"Dih, enggak."


"Trus siapa?"


"Aku tau sendiri tau, kak. Temen-temenku nggak ada yang polos," cengir Alea.


"Heh!"


"Ssttt...udah, jangan marah-marah mulu, kasian dedek bayinya," kata Ivan sok serius. Dia mengusap-usap lengan Aya dan perut Aya.


"KAK AYA HAMIL!?"


Aya menepis tangab Ivan yang ada di perutnya kasar.


"DEDEK BAYI APAAN, HAH? YAKALI BARU BUAT SEKALI LANGSUNG JADI!" teriak Aya kesal.


"Dua kali, Yang," koreksi Ivan yang membuat Aya makin marah.


"Bodo amat."


"Ssshh..." ringis Aya sedikit menunduk.


"Kak Aya?"


"Ivan...sakit," rengek Aya.


Ivan tertawa sebentar kemudian langsung mengangkat tubuh Aya dengan bridal style. Menggendong Aya menuju kamarnya. "Aku kasar banget ya tadi?" tanyanya hati-hati.


Aya mengangguk di pelukan Ivan.


"Tapi enak, kan?" tanya Ivan tanpa disaring.


"Diem!"


Setelah itu, Ivan mendapat cubitan sayang dari Aya.


......................


"Kak Aya, masih sakit?" Kepala Alea menyembul dari balik pintu.


"Hmm?"


Aya yang sedang membaca buku di kasur mengangkat wajahnya. Menatap Alea yang kini berjalan ke arahnya.


"Gimana?" tanya Alea tak jelas.


"Ngomong pake konteks, sayang," sindir Aya.


Alea tertawa. "Sakit, kak?"


"Lo kalau cuma mau ngomong soal itu mending keluar," usir Aya.


"Yee serius, masih sakit?"

__ADS_1


"Pertanyaan lo nggak penting."


"Punya kak Ivan besar banget, ya?"


Mendengar itu, Aya reflek menimpuk muka Alea dengan buku yang sedang dibacanya. "ANJING LO!" umpatnya.


"SAKIT, KAK!" teriak Alea saat sudut buku tebal milik Aya mengenai sudut bibirnya.


"Lo diajarin siapa ngomong kayak gitu, hah?" Meskipun marah, Aya tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya karena malu atas pertanyaan Alea tadi.


"Nggak ada."


"Lo masih SMP, ya. Nggak usah tau hal-hal kayak gitu."


"Kak Aya masih SMA tapi udah ngelakuin itu."


Aya tertohok. Tidak menyangka kalau Alea justru membalasnya dengan kalimat yang sangat menusuk. Dia langsung diam dengan bibir melengkung ke bawah


"Ya habisnya enak," gumam Aya pelan sambil mengerucutkan bibirnya.


Sialnya, gumaman Aya barusan di dengar oleh Alea. Membuat remaja usia 15 tahun itu memekik heboh.


"WOAHHH!"


"DIEEMM!!"


"Sakit, tapi enak ya, kak?" Alea menaik turunkan alisnya. "Jadi penasaran, deh. Bentar aku panggil kak Ivan dulu."


"Heh, mau ngapain?" teriak Aya panik. Tapi dia tidak bisa mencegah Alea karena dia masih kesulitan berjalan.


Beberapa saat kemudian, Alea datang kembali ke kamar. Aya mengumpat dalam hati saat melihat Ivan ikut berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak pernah bisa berpikir positif dengan rencana Alea. Pasti kali ini bocil itu akan melakukan hal random seperti biasanya.


"Kak Aya, ada kertas bekas nggak?" tanya Alea.


Aya memicing curiga. "Cari di meja belajar sana." Dia kemudian beralih pada Ivan yang kini duduk di dekatnya.


"Dia mau ngapain?" tanya Ivan.


Aya menggeleng tidak tahu. Dia sebenarnya masih sedikit canggung dan malu di dekat Ivan. Masih ada rasa tidak percaya kalau cowok di depannya ini sudah menjadi kekasihnya. Bagaimana bisa dia bersikap biasa kalau sebelum berpacaran saja mereka tidak pernah saling berbicara?


"Mukamu merah gitu, masih panas, ya?" Ivan menyentuh dahi Aya.


Aya menggeleng. "Udah mendingan, kamunya yang malah demam sekarang," kata Aya. Dia mengusap rahang Ivan yang terlihat tegas.


"Cuma pusing, mau pilek kayaknya," ujar Ivan. Kemudian merebahkan dirinya dengan paha Aya sebagai bantal.


"Kak Ivan, pinjem kaki dong," kata Alea.


Dia kembali mendekat ke arah Aya dengan sebuah kertas di tangannya. Kertas itu sudah dia lipat hingga berbentuk segitiga. Aya mengernyit melihatnya.


"Pinjem anjir bilangnya," ujar Ivan. "Buat apa sih?"


"Mau ngukur sesuatu." Alea nyengir lebar sambil menunjukkan kertas dipegangnya.


Ivan yang melihat itu sontak terbangun. "Weh, babi," umpat Ivan.


Alea tertawa keras. Dia kemudian berjongkok di dekat kaki Ivan. Menempelkan kertas yang dibawanya tadi ke kuku jempol kaki milik Ivan. Kemudian menyobek ujung kertas itu sama panjang dengan kuku jempol cowok itu.


"Duh, Yang. Ini bocah kenapa bisa tau kek gini, sih?"


"Eung?" Aya menatap Ivan penasaran.


"Nah, jadi gini," kata Alea. Dia membuka lipatan kertas yang sudah disobek tadi hingga terlihat sebuah lubang di tengah kertas itu. "Hmm, besar ya? Pantes kak Aya sampe nggak bisa jalan," terang Alea sambil menahan tawa.


"Sayang~ kadang kayak gitu buat cara ngeliat seberapa besar anu," kata Ivan pasrah. Lelah melihat kelakuan Alea.


Blush


Pipi Aya sempurna memerah setelah melihat maksud Alea dan Ivan.


"GOBLOK IHHH!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2