Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Kora-Kora


__ADS_3

Pagi ini, pukul 04.00 Aya sudah bangun. Bi Ning benar-benar tidak datang hari ini. Jadi, untuk seterusnya Aya yang harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga disini.


Aya mulai menyiapkan makanan untuk mereka berempat. Pukul 04.45, pekerjaan memasak itu selesai. Aya naik ke kamarnya dan mengmbil baju seragam yang sialnya dia lupa untuk disetrika.


"Al, bangun!" panggil Aya di depan pintu kamar Alea. Di tangannya kini sudah ada baju OSIS miliknya yang akan ia setrika.


Setelah mengetuk pintu berkali-kali, Alea akhirnya membuka pintu dengan malas. Aya langsung disambut dengan muka khas bangun tidur milik Alea dan rambut acak-acakannya.


"Apa?" tanya Alea malas.


"Aku mau nyetrika, seragammu udah disetrika? Kalau belum sekalian," kata Aya.


Alea tak menjawab, dia berbalik dan masuk lagi ke dalam kamar. Kembali beberapa detik kemudian dengan baju OSIS miliknya. "Nitip, ya. Makasih."


Setelah berkata demikian, Alea langsung menutup pintu kamarnya.


"Heh, mau ngapain kamu?" teriak Aya.


"Mau lanjut tidur," balas Alea dari dalam kamar.


"Enak aja, bangun! Bantuin aku buat nyapu atau ngapain gitu minimal," teriak Aya lagi.


"Ini baru jam 5 kurang, kak. Aku mau lanjut tidur dulu."


Aya menghentakkan kakinya kesal. Kemudian dia beralih ke kamar yang ada di seberang kamarnya.


"Akbar? Udah bangun?" panggil Aya.


Tak perlu menunggu terlalu lama hingga Akbar membuka pintu kamarnya. Dia mengucek matanya dan bertanya dengan suara khas orang bangun tidur. "Eung? Kak Aya butuh bantuan?"


Aya tertawa kecil. "Nggak, kok. Seragam kamu udah disetrika? Kalau belum biar kakak setrikain sekalian."


"Sekarang, kak?" tanya Akbar bingung.


Aya mengangguk.


"Aku setrika sendiri aja, kak. Di ruang laundry, kan? Bentar aku ambil seragamnya dulu."


"Eh, nggak usah. Biar kakak aja nggak papa. Kamu lanjut tidur aja," cegah Aya.


Kalau dibilang pilih kasih dengan Alea memang benar. Di antara mereka berempat, Akbar yang paling muda dan Aya yang paling tua. Tidak heran kalau Aya lebih sayang pada Akbar. Toh, Alea itu sudah terlalu dekat dengannya dan kadang bersikap tidak sopan. Tidak ada gunanya memanjakan Alea.


"Eung? Nggak papa?"


"Nggak papa," jawab Aya meyakinkan.

__ADS_1


Akbar kemudian mengambil seragamnya. Setelah itu, Aya beralih pada kamar Ivan. Dia berdiri sebentar di depan kamar Ivan. Menguatkan diri sebelum mengetuk pintu kamar Ivan pelan. Jantungnya mulai berdetak tak karuan.


Tok Tok Tok


Baru saja Aya mengetuk pintu. Pintu kamar Ivan terbuka. Menampilkan sosok Ivan dengan muka bantalnya.


"Mau ngapain?" tanya Ivan dengan suara seraknya khas bangun tidur.


Aya memeluk seragam ditangannya kuat. Kakinya seakan tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Ini pertama kalinya Aya melihat penampilan Ivan saat bangun tidur. Dan suara serak Ivan benar-benar tidak baik untuk Aya.


"M-mau nyetrika seragam, punyamu udah?"


"Belum, sih," jawab Ivan.


"Yaudah, sekalian aja," tawar Aya.


"Lo mau nyetrikain seragam gue?"


Aya mengangguk sebagai jawaban.


"Nggak usah, gue bisa sendiri," kata Ivan datar. Setelah itu, tanpa menunggu respon Aya, Ivan langsung menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.


Aya masih mematung di depan kamar Ivan selama beberapa detik. Jadi, kemana Ivan yang seharian kemarin sudah membuatnya melayang?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sarapan, seperti biasa, Akbar akan berangkat bersama Ivan. Sedangkan Aya dan Alea bersama sopir. Selama di mobil, Alea terus mencerca Aya dengan berbagai pertanyaan seputar Ivan.


"Kenapa lagi sekarang? Bukannya kemarin udah biasa aja, ya?" tanya Alea.


"Apanya? Ivan?" Aya balik bertanya. Matanya sibuk menatap layar HP di tangannya.


"Ya, siapa lagi?"


"Oh, soal Ivan, dia emang begitu, kan," Aya menoleh menatap Alea.


"Begitu gimana?"


"Aneh, kadang bikin baper, kadang juga biasa aja, kadang juga bisa nyakitin," balas Aya santai. "Capek nggak tuh? Hahaha."


"Terus, sekarang mau gimana?"


"Nanya mulu daritadi. Yaudah gitu aja, emang dasar aku yang kegeeran. Dia juga nggak niat baperin atau nyakitin aku pasti. Akunya yang salah," decak Aya malas.


"Masih mau nunggu?" tanya Alea sekali lagi.

__ADS_1


"Nggak, capek," balas Aya cepat. "Kamu pernah naik kora-kora?" tanya Aya kemudian.


Alea mengernyit heran. Apalagi saat melihat Aya yang kini tersenyum setan. Kadang Aya memang serandom ini. Bagaimana bisa dia menanyakan kora-kora saat baru saja mereka membahas soal Ivan?


"Kita naik bareng, kak. Kita mabuk bareng juga, kak Aya malah muntah," jawab Alea malas.


Aya menjetikkan tangannya. "Nah, suka sama Ivan itu berasa naik kora-kora. Naik turun di tempat doang. Kadang tinggi, habis itu dihempas. Naik lagi, turun lagi. Pusing. Kalau orang bilang suka sama seseorang kayak naik rollercoaster, ini aku kayak naik kora-kora. Rollercoaster bisa pindah tempat dan bakal sampe ke tempat tujuan, kan? Kora-kora nggak, stuck dan cuma gitu-gitu aja. Kek hubunganku sama Ivan. Kalau semisal aku nunggu, ya kayak aku yang pasrah nunggu kora-kora berhenti, yang akhirnya aku muntah. Sakit, kan?" jelas Aya panjang lebar.


Alea menatap Aya yang kini tersenyum seperti orang gila dengan tatapan datar. Dalam hati sangat kagum dengan pemikiran random Aya.


"Ya, terus mau berhenti disini? Loncat gitu ditengah-tengah kora-kora yang lagi gerak?" tanya Alea. Oh, jangan pikir Alea itu waras. Dia sama gilanya dengan Aya.


"Iya mungkin, daripada entar sakit ye kan?"


"Mati dong, kalau loncat?"


"Oh iya."


Nah, kan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore harinya, setelah jam sekolah berakhir, Aya tidak langsung pulang. Ada diskusi sebentar dengan kelompok belajar untuk tugas hari berikutnya. Tidak lama sebenarnya. Hanya setengah jam. Aya baru keluar dari gerbang sekolah pukul empat sore dan langsung menuju halte dekat sekolahnya.


Sialnya, saat tinggal 50 meter dari halte, bus yang biasa dia naikki lewat. Aya sudah tidak punya tenaga untuk mengejar bus itu dan hanya bisa pasrah untuk menunggu bus selanjutnya datang. Lebih sialnya, hingga setengah jam berlalu, bus yang ditunggunya tak kunjung lewat.


Aya menghentakkan kakinya kesal sambil sesekali melihat jam di layar HP. Sudah pukul setengah lima dan dia masih di halte. Ada beberapa pesan dari Alea yang menanyakan kenapa Aya belum pulang. Dan Aya hanya membalas singkat dengan bilang dia masih menunggu bus.


5 menit menunggu, bus tak kunjung datang. Aya nyaris menelpon pak sopir saat dia melihat sebuah motor Nmax hitam berhenti di depan halte.


"Eh?" Aya terkejut. Dia bukannya tidak tahu siapa yang ada di depannya.


"Aya, masih nunggu bus? Mau bareng aja?" tawar orang itu, Arvi, teman sekelasnya.


"Hah, nggak usah. Rumahku jauh loh, apalagi nggak searah sama rumahmu," tolak Aya sopan.


"Nggak papa, habis ini juga main ke rumahnya Rivan. Udah sore loh, yuk naik!" ujar Arvi.


Aya tersenyum canggung. Aya tau jarak rumah Arvi ke sekolah bahkan lebih jauh dari jarak rumah Aya ke sekolah. Apalagi rumah Arvi berlawanan arah dengan rumahnya. Meskipun Arvi bilang akan main dulu, tapi rumah Rivan dan rumah Aya juga jauh.


"Naik aja sih, lo udah nunggu lama juga busnya belum dateng juga kan?" bujuk Arvi lagi. "Gue nggak nerima penolakan, naik!"


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Aya menerima tawaran Arvi. Dia tidak tahu juga busnya akan datang kapan. Hari sudah semakin sore, dan Arvi juga bilang dia sama sekali tidak kerepotan. Jadilah, tidak ada alasan lagi bagi Aya untuk menolak tawaran Arvi.


Sementara Arvi, dia tersenyum tipis di balik kaca helmnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2