
Malam ini hujan deras. Dan Ivan tidak ada di rumah. Cowok itu pergi sejak sore tadi dan belum pulang sampai sekarang. Aya cemas, begitupun Akbar dan Alea. Ini sudah pukul sepuluh malam dan Ivan belum ada tanda-tanda untuk pulang.
Aya duduk memeluk lutut di atas ranjang sambil menggigiti kukunya. Alea duduk disampingnya sementara Akbar berdiri sambil berjalan mondar-mandir dengan tangan memegang HP. Berusaha untuk menghubungi Ivan.
"Gimana?" tanya Aya lemah.
"Nggak diangkat. Chatnya pun nggak dibales," jawab Akbar.
"Ck, hujan deres loh," kata Aya dengan nada khawatir.
"Mungkin nginep dirumah temennya," hibur Alea.
"Semisal emang nginep di rumah temennya juga harusnya dia ngabarin Akbar." Aya mengusap hidungnya yang berair.
Akbar masih mencoba menghubungi Ivan. Atau beberapa orang yang dia kenal yang mungkin juga tahu dimana Ivan sekarang.
"Kak Aya, aku boleh tanya sesuatu?" bisik Alea.
"Apa?"
"Siapa yang ngasih kak Aya bubur tadi pagi? Kak Aya pake plester penurun demam itu sendiri?" tanya Alea.
Aya mengerjap pelan. Sekali lagi mengusap hidungnya yang terus mengeluarkan ingus. Kemudian menggeleng pelan. "Aku nggak tau siapa yang ngasih. Tadi aku entah pingsan atau tidur, terus bangun-bangun udah ada bubur sama susu di nakas," balas Aya.
"Kak Aya tau instastory-nya kak Arial?" tanya Alea lagi.
Aya mengangguk. Masih belum paham kenapa Alea menanyakan hal itu.
"Udah paham sampe sini?"
"Paham apa?"
Alea menggeram kesal. Dia ingin sekali memukul kepala Aya, tapi dia ingat kalau Aya masih sakit.
"Bisa kak Aya hubungin soal isi instastory kak Arial sama siapa yang ngasih kak Aya bubur?" desis Alea.
"Hubungannya apa? Aku tau kok maksud kamu, cuma aku nggak mau kegeeran aja," kata Aya.
__ADS_1
"Hah, fiks ini mah kak Ivan pergi gara-gara cemburu ngeliat kak Arvi tadi," kata Alea.
"Ssshhh, jangan bikin aku tambah pusing. Aku nggak mau terlalu berharap," sangkal Aya.
Alea berdecak kesal. Dia bangkit dari duduknya dan berbicara pada Akbar. "Udahlah, mungkin kak Ivan emang nggak pulang malem ini. Masih marah kali?"
"Lah, marah kenapa?"
Alea yang sudah berada di dekat pintu berbalik. Lalu menunjuk Aya.
"Kak, aku tau kak Aya itu orangnya peka banget. Dan aku yakin kak Aya udah ngerangkai banyak kemungkinan kenapa kak Ivan pergi malam ini. Kak Aya pasti sempet mikir kalau kak Ivan marah karena cemburu, kak Aya tau itu tapi kak Aya nggak mau percaya kalau itu emang terjadi. Kak Aya justru maksain diri buat jangan terlalu kegeeran," teriak Alea kesal.
"Bar, beneran kalau kak Ivan ada disini aku pengen teriak di depan mukanya kak Ivan dan bilang kalau KAK IVAN TOLOL!" Alea berbalik dan membanting pintu kamar Aya keras.
"Kak Aya, kalau seandainya aku punya pacar galak, gimana?" cicit Akbar tanpa sadar.
"Hah?"
"Nggak papa, nggak jadi. Aku balik kamar dulu ya, kak."
......................
Ivan belum pulang sampai sekarang. Aya tidak tahu sekarang Ivan sekolah atau tidak. Seingatnya, Ivan pergi masih memakai seragam.
Sedang enak-enaknya tidur, bel rumah berbunyi. Aya berdecak malas. Sekarang masih jam delapan. Siapa pula yang mau bertamu? Sebenarnya Aya tidak ingin ke bawah--tubuhnya masih berat untuk diajak berjalan. Tapi dia ingat kalau dia sendirian di rumah.
Aya berjalan pelan menuju intercom dan menjawab sebentar pada tamu di bawah sana. Setelah itu, Aya turun ke bawah. Masih dengan celana training panjang berwarna hitam dan hoodie oversize berwarna putih. Lengkap dengan masker di wajahnya.
Sesampainya di gerbang, Aya segera membukanya dengan susah payah. Bayangkan saja, dia sedang sakit dan harus berjalan dari lantai dua sampai gerbang depan.
"Dengan kak Aya?" kata seseorang dengan baju driver ojek online.
Aya mengernyitkan dahinya. Dia tidak merasa memesan sesuatu secara online.
"Pesanan atas nama Arial A.R." Driver ojol itu menyerahkan kantung plastik yang ada ditangannya. Kemudian tanpa menunggu respon Aya, dia langsung bergegas pergi.
Aya berdiri linglung di depan gerbang. "Arial A.R? Ck, terus kalau kayak gini gue harus ngebohongin diri sendiri lagi dengan bilang kalau ini bukan dari Ivan?"
__ADS_1
Aya berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah. Mendudukkan dirinya di ruang makan. Dia mengusap wajahnya kasar sambil melihat bungkusan makanan di hadapannya.
"Gue orangnya kelewat peka sampe kadang kegeeran. Tapi kalau ini gue nggak tau lagi," gumam Aya.
"Kalau emang dari Ivan, mari berpikir kalau dia cuma khawatir karna gue sendirian di rumah dan nggak ada makanan. Otakku, tolong jauhkan pikiran halumu soal Ivan suka sama gue." Aya memukul-mukul pelan kepalanya.
..................
Hingga malam hari, Ivan belum juga pulang. Akbar sudah puluhan kali menghubungi Ivan dan hasilnya sama saja. Tidak diangkat atau tidak dibalas. Aya sendiri sudah tidak peduli. Toh, dia yakin kalau Ivan sedang bersama Arial sekarang.
Sekarang sudah pukul setengah dua belas malam. Akbar dan Alea sudah masuk ke kamarnya masing-masing sejak pukul sepuluh tadi. Sementara Aya justru tidak bisa tidur. Ivan masih belum pulang dan entah kenapa Aya jadi kesal sendiri.
Setengah jam hanya bergulingan di kasur, Aya memilih untuk keluar kamarnya. Dia berjalan menuju ruang depan dan duduk di sofa dpan TV. Tidak tahu kenapa dia justru ke sini, tapi Aya hanya berpikir kalau Ivan mungkin akan pulang.
Cklek!
Pintu utama terbuka lebar. Aya segera bangkit dari duduknya. Menatap sosok yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan terkejut. Sementara ya di tatap tak kalah terkejut.
"Dari mana?" lirih Aya. Dia mulai menggigil kedinginan saat Ivan tak kunjung menutup pintu.
"Bukan urusan lo," jawab Ivan datar. Dia menutup pintu dan berjalan mendekati Aya. "Lo ngapain disini?"
Aya hanya menggeleng. Tubuhnya bergetar kedinginan.
Tiba-tiba Ivan mengulurkan tangannya ke pipi Aya. Membuat Aya membelalak kaget. Tanpa sadar dia melangkah mundur.
Ivan yang melihat itu langsung menarik pinggang Aya. Membuat tubuh mereka saling menempel. Aya bisa merasakan hembusan napas Ivan sekarang. Bisa mencium bau rokok yang bercampur dengan bau khas Ivan.
Aya merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Dia ingin mendorong Ivan menjauh tapi dia juga merasa nyaman di posisi ini. Apalagi saat sebelah tangan Ivan terangkat menyentuh pipinya.
Aya mendongak. Menatap wajah Ivan yang begitu dekat dengannya sekarang. Dia mengerjapkan matanya. Bibirnya membuka sedikit untuk mengambil napas karena hidungnya masih mampet.
Ivan mendekatkan wajahnya ke arah Aya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Aya menahan napasnya. Wajahnya memanas juga seluruh tubuhnya. Lupa kalau beberapa detik yang lalu dia menggigil kedinginan.
Tiba-tiba Ivan menjatuhkan kepalanya di pundak Aya. Aya semakin terkejut. Dia takut kalau Ivan bisa mendengar detak jantungnya yang semakin cepat.
"I-ivan," cicit Aya.
__ADS_1
"Lo masih sakit, Ya. Tolong jangan bikin gue gila," bisik Ivan tepat ditelinga Aya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...