
Akbar mendengus malas. Ucapannya tadi terpotong karena ada orang yang menekan bel rumah. Makanya sekarang dia sedang menuju ke bawah karena disuruh Alea. Mentang-mentang dia sendiri yang cowok, dia juga yang di korbankan.
Akbar membuka pintu gerbang dan langsung mendapati sosok Arvi di depannya.
"Ehmm, Aya ada di dalem?" tanya Arvi.
Akbar masih diam. Dia menatap Arvi malas. Seolah tidak suka melihat cowok itu ada disini sekarang.
"Ngapain nyari kak Aya?" tanya Akbar sedikit membentak.
"Santai dong, gue cuma mau jenguk dia. Hari ini dia nggak sekolah karena sakit," balas Arvi kesal.
"Kak Aya nggak disini, dia ada di rumah orang tuanya," bohong Akbar.
"Lah, emang ini rumahnya siapa?"
Belum sempat Akbar menjawab pertanyaan Arvi, Alea datang dan menepuk pundak Akbar keras.
"Heh, kak Aya tanya yang dateng siapa. Lama banget," kata Alea.
Akbar menoleh ke arah Alea dan melotot galak. Sementara Alea yang tidak tahu apa-apa hanya mengernyit heran.
"Eh, Aya di dalem?" tanya Arvi semangat.
Alea menoleh. "Iya, di dalem kamar, tuh."
"Bisa tolong anterin kesana?"
Aya mengangguk. "Yaudah, ayo!"
Aya berjalan ke dalam rumah diikuti oleh Arvi di belakangnya. Sementara Akbar sudah misuh-misuh sambil menutup gerbang.
Sesampainya di depan kamar Aya, Alea mempersilahkan Arvi untuk masih lebih dulu. Alea sendiri kemudian langsung ditarik oleh Akbar ke lantai bawah.
"Kok si Arvi-Arvi itu malah kamu suruh masuk, sih?" bentak Akbar.
Alea menatap datar. "Emangnya kenapa?"
"Itu cowok suka sama kak Aya, kan?"
"Mungkin, berita bagus, kan?"
"Berita bagus darimananya?"
"Ya bagus, kak Aya bisa belajar suka sama kak Arvi dan ngelupain kak Ivan."
"Mana bisa begitu?"
"Bisa lah, daripada kak Aya cuma disakitin terus sama kak Ivan."
"Ck, kak Ivan, sih. Bodoh." Akbar mengusap wajahnya sambil bergumam kesal.
"Kamu kenapa kayak benci banget sih, sama kak Arvi?" tanya Alea heran.
"Ya soalnya kak Ivan--" Akbar tidak meneruskan ucapannya.
"Kak Ivan kenapa?"
__ADS_1
"Soalnya kak Ivan itu, eummm."
"Kak Ivan kenapa?" desak Alea.
Akbar menatap Alea ragu. "Jangan bilang kak Aya," bisiknya.
"Nggak. Kalau kamu kasih tau, aku mungkin bisa ngerti kenapa kamu benci sama kak Arvi. Jujur aja meski kak Aya sering disakitin kak Ivan, aku lebih setuju kak Aya sama kak Ivan."
Akbar mendekatkan tubuhnya ke arah Alea lalu membisikkan sesuatu di telinga Alea.
"Duh, kak Ivan kek asu," umpat Alea pelan setelah mendengar apa yang dibisikkan Akbar barusan.
...............
Sementara di dalam kamar Aya. Aya terkejut saat melihat Arvi masuk ke dalam kamarnya.
"Arvi? Eh, bukannya ini hari Rabu, ya? Kok udah pulang?" Aya berusaha mendudukkan tubuhnya.
Arvi segera berjalan mendekat. Dia membantu Aya untuk duduk. Cowok itu menata beberapa bantal di belakang tubuh Aya agar Aya bisa bersandar dengan nyaman.
"Jam pelajaran dikurangi, soalnya guru-guru ada acara. Makanya pulang lebih awal," jawab Arvi sambil tersenyum.
"Tadi langsung kesini, ya? Masih pake seragam gitu," kata Aya saat melihat Arvi masih memakai celana hitam dan kemeja flanel kotak-kotak untuk menutupi baju atasannya.
"Hmm, gue khawatir waktu tau lo sakit. Makanya tadi dari sekolah langsung kesini. Sorry gue nggak bawain apa-apa." Arvi mengusap tengkuknya.
"Nggak papa, udah seneng gue dijenguk." Aya terkekeh pelan.
"Keadaan lo gimana?" Arvi menjulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Aya. Tapi belum sempat tangan Arvi menyentuh Aya, pintu kamar Aya dibuka kasar.
"KAK AYA, MASIH PUSING?" teriak Akbar di ambang pintu.
"Harusnya udah enggak, tapi gara-gara kalian aku pusing lagi," kata Aya kesal.
"Hehe, kita cuma khawatir sama kak Aya." Akbar nyengir lebar.
"Ehm, Aya. Mereka siapa?" tanya Arvi. Dalam hati sudah kesal setengah mati karena waktu berduannya dengan Aya jadi terganggu.
"Tetangga gue dulu, tapi sekarang tinggal disini," jawab Aya. Dia menatap Akbar dan Alea tajam bermaksud untuk mengusir mereka berdua. Tapi mereka tidak paham dan malah duduk di kursi dekat pintu balkon kamar Aya.
"Tinggal disini? Lo disini tinggal sama siapa, sih?"
"Kita berempat disini, aku, Akbar, kak Aya sama kak Ivan," jawab Alea bangga.
"Cuma berempat?" tanya Arvi memastikan.
"Iya, aku Akbar, terus ini Alea. Sama satu lagi kak Ivan." Giliran Akbar yang bersuara. Tidak memberi kesempatan pada Aya untuk menjawab.
"Lo kok boleh tinggal bareng sama orang asing kek gitu," ujar Arvi.
"Bukan orang asing, mere--" Ucapan Aya terpotong saat Akbar menyelanya.
"Dih, emang Mama kita berempat yang nyaranin kita buat tinggal bareng," potong Akbar.
"Iya, lagian kita tuh, bukan orang asing tau," sewot Alea.
Arvi menatap Aya heran. "Kalian beneran tinggal bareng di rumah ini? Cuma kalian berempat? Jatuhnya kayak lo ngurus tiga bocil dong."
__ADS_1
"Kok tiga bocil?" sela Akbar.
Arvi berbalik dan menatap sinis ke arah Akbar. Sementara yang ditatap hanya menjulurkan lidahnya.
"Lah si Ivan itu?"
"Yee, itu tuh pacarnya kak Aya," sahut Alea.
Aya melotot ke arah Alea tidak terima. Sementara Alea dan Akbar hanya cekikikan melihat ekspresi wajah Arvi.
"P-pacar?"
"H-hah, bukan. Gue nggak punya pacar."
"Aku aduin kak Ivan loh, kalau kak Aya nggak ngakuin kak Ivan sebagai pacar," goda Alea.
"Apaan, anjir. Lo kenapa sih, Al hari ini?"
"Nggak papa, aku kenapa?" Alea balas bertanya.
"Ck, nggak usah didengerin mereka tuh, maklum lah, bocil. Kalau ngomong suka asal," terang Aya.
Arvi menghela napas lega. Senang kalau memang benar Aya belum memiliki pacar.
"Gue disini emang tinggal bareng mereka, sama Ivan juga. Mama kita yang nyaranin buat tinggal bareng, jangan tanya alasannya kenapa. Kalau lo tau alasan aslinya sumpah nggak mutu banget," lanjut Aya sambil tertawa kecil.
"Si Ivan beneran bukan pacar lo, kan?" tanya Arvi memastikan. "Nggak lucu banget kalau ternyata dia beneran pacar lo. Susah entar gue ngerebutnya. Saingannya yang serumah soalnya," canda Arvi.
Aya tertawa. "Apaan sih, lo? Enggak, Ivan bukan pacar gue kok, itu bocil berdua aja yang ngasal."
"Ye, tapi kan kak Aya suka sama kak Ivan," balas Alea.
Aya mengumpat dalam hati. Dia melempar bantal leher miliknya ke arah Alea. Alea berhasil menghindar dan menjulurkan lidahnya.
"Pokoknya nggak usah dengerin mereka berdua," kata Aya pada Arvi.
"Kak Aya!" protes Aya dan Akbar.
"Tapi btw, lo kenapa mau aja disuruh tinggal pisah sama orang tua gini, mana sama cowok asing juga," heran Arvi.
Aya mengangkat bahu. "Gue juga nggak tau kenapa mau-mau aja dipaksa Mama."
"Dih, bilang aja sebenernya kak Aya seneng karena serumah sama kak Ivan," teriak Alea. Akbar disebelahnya mengangguk-angguk semangat.
Aya mengacungkan jari tengahnya ke arah Alea. Arvi tertawa kecil melihat Aya.
"Lo masih pusing? Tiduran aja deh, mending," ujar Arvi sambil menyentuh dahi Aya.
"Makin pusing ngeliat tuh bocil berdua," sindir Aya.
Aya membenarkan posisinya. Arvi mendekat ke arah Aya dan membantunya untuk kembali tiduran. Saat itulah, pintu kamar Aya terbuka.
"Aya?"
Aya menegakkan tubuhnya lagi. Melihat Ivan yang kini sudah berdiri di ambang pintu dengan kondisi sedikit berantakan. Dia masih nemakai seragam identitasnya dengan hoodie hitamnya yang dia sampirkan di bahu. Di tangan kanannya ada sekantung plastik yang entah berisi apa.
"Oh, lagi sama pacarnya. Sorry kalau gitu," ucap Ivan dingin.
__ADS_1
Setelah itu, Ivan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...