Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Sakit


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya, suasana rumah besar itu masih cukup canggung. Aya masih tidak berani untuk berbicara dengan Ivan. Begitupun Alea dengan Akbar. Ivan masih selalu pulang malam dan Akbar hanya akan berbicara jika perlu. Aya selalu pulang sore dan Alea akan lebih memilih pergi dengan temannya atau berdiam diri di kamar saat Aya belum pulang.


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Atau mungkin sengaja menyibukkan diri. Membuat mereka hanya bisa saling bertemu saat pagi atau malam hari.


Tapi tiap malam, Aya selalu menunggu Ivan pulang. Duduk di ruang depan sampai Ivan pulang dan setelahnya dia baru beranjak ke kamar. Tidak peduli entah Ivan akan meliriknya atau tidak.


Hari ini hari Sabtu. Akbar dan Alea sudah berangkat sejak tadi. Untuk pertama kalinya, Akbar dan Alea berangkat bersama. Aya tadi masih sempat mengejek Alea karena duduk bersama Akbar di jok tengah. Menertawakan muka merah Alea yang sangat terlihat jelas.


"Hah, gabut," gumam Aya.


Karena hari ini hari Sabtu, maka dia libur. Begitupun dengan Ivan. Bi Ning juga kalau hari Sabtu libur. Jadilah sekarang Aya hanya rebahan di kasurnya dan tidak tahu harus melakukan apa.


Tiba-tiba perut Aya berbunyi. Dia sadar kalau dia baru minum susu tadi pagi dan belum sempat sarapan. Alea dan Akbar menolak untuk sarapan jadi Aya juga tidak sarapan. Mengingat itu, Aya segera bangkit dari tidurnya kemudian melangkah ke arah pintu.


Baru saja Aya hendak mengunci pintu, pintu kamar Ivan terbuka. Aya reflek terdiam. Dia menatap Ivan yang kini juga menatapnya sedikit terkejut. Pagi ini Ivan hanya memakai hoodie hitam dan celana pendek hitam. Membuatnya tampak begitu sempurna di mata Aya.


Aya masih menatap Ivan selama beberapa detik. Kemudian saat tersadar, Aya segera mengalihkan pandangannya. Dia berlari kecil melewati Ivan yang masih berdiri di depan kamar. Aya menuruni tangga sambil memegang dadanya. Jantungnya masih berdetak tak karuan.


"Pliss, ganteng banget."


Sesampainya di ruang makan, Aya langsung meloncat-loncat senang. Dia menggigit bibirnya untuk menahan pekikannya. Pikirannya masih tertuju pada Ivan yang terlihat sangat tampan pagi ini. Rambutnya yang dinaikkan ke atas. Rahang tegas milik Ivan. Dan jangan lupakan bibir pink miliknya.


"Oke, Aya. Jangan mikir macem-macem, ayo kita masak!"


Setelah mendapatkan kewarasannya kembali, Aya langsung berkutat dengan bahan-bahan makanan yang ingin dia masak kali ini. Saking sibuknnya, Aya tidak menyadari kau Ivan sudah berdiri di ujung tangga.


"Lo masak?" suara berat milik Ivan menggantung di langit-langit.

__ADS_1


Aya demi mendengar suara itu reflek mencengkerem ujung meja. Dia bisa saja luruh ke bawah kalau tidak berpegangan. Tangan kanannya memukul-mukul pelan dadanya. Merasakan sakit karena jantungnya berdetak begitu keras.


"Aya?" suara Ivan terdengar lagi.


Aya tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia masih tidak mau berbalik. Matanya entah kenapa tiba-tiba panas dan mengeluarkan air mata. Aya tahu ini berlebihan, tapi ini pertama kalinya Ivan berbicara padanya. Pertama kali Ivan memanggil namanya. Setelah hampir satu tahun Aya menyukai cowok itu, pagi ini Ivan berbicara padanya. Ivan sendiri yang mengajaknya bicara.


Aya menarik napas panjang. Mengusap air mata yang masih mengalir di pipi tembamnya. Kemudian berbalik dan menatap ke arah Ivan.


"Ya?" ujar Aya. Dalam hati Aya ingin mengutuk dirinya sendiri karena demi apapun suaranya barusan terdengar sangat datar.


"Lo masak? Kalau iya, gue buatin sekalian," kata Ivan tak kalah datar. Tuhan, Aya ingin menangis lagi sekarang.


Aya hanya mengangguk sebagai jawaban. Lantas buru-buru berbalik melanjutkan masakannya.


"Oh ya, lo bisa ganti pakaian dulu? Gue risih liat lo pake celana pendek banget kek gitu," ucap Ivan tiba-tiba.


Aya menunduk. Dia hanya memakai celana pendek setengah paha dan kaos oversize. Membuatnya terlihat seperti tidak memakai celana. Jangan lupakan rambutnya yang hanya dia ikat asal-asalan. Aya pikir Ivan tidak akan memedulikannya. Tapi kini Ivan baru saja bilang kalau dia risih melihatnya. Aya benar-benar menangis sekarang.


Aya melirik Ivan yang makan dengan tenang di depannya. Entahlah, Aya tidak tahu harus bereaksi apa. Dia terlampau bahagia sekarang. Kalau saja ada kata yang bisa menggambarkan bahagianya sekarang lebih dari kata 'sangat bahagia', maka Aya akan menggunakan itu. Dan jujur saja saat ini Aya benar-benar berusaha menahan tangis bahagianya.


"Lo masih suka sama gue?" tanya Ivan dingin.


Aya tersedak. Dia buru-buru meraih air minum dan menegukkan cepat. Matanya terbelalak menatap Ivan yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil bersedekap. Sorot mata Ivan terlihat tajam dan membuat Aya merasa terintimidasi.


Lengang selama beberapa saat. Aya masih memproses pertanyaan yang dilontarkan Ivan barusan dan berpikir harus menjawab apa.


"Jawab aja, sih," kata Ivan lagi.

__ADS_1


Tubuh Aya semakin menegang. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia masih sangat mencintai cowok kurang ajar di depannya ini. Tapi mau ditaruh di mana harga dirinya kalau dia mengaku masih menyukai Ivan. Sedangkan Aya sangat tahu kalau Ivan tidak dan tidak akan pernah membalas perasaanya.


Ivan masih dengan sabar menunggu jawaban Aya. Menatap gerak-gerik Aya yang sebenarnya sudah sangat jelas memperlihatkan perasaan gadis itu yang sebenarnya.


"Gue nggak suka sama lo, lo tahu, kan?" desis Ivan saat Aya tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Mendengar hal itu, Aya menyeringai miris. Dia merasakan sakit di dadanya. Dia tahu, sangat tahu hal itu. Ivan pernah bilang kalimat yang sama di DM 3 bulan lalu saat Aya mengungkapkan perasaannya. Aya pernah merasakan sakit yang sebelumnya. Tapi mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut Ivan ternyata masih terasa sakit.


Aya terkekeh pelan, "Iya, aku tahu. Lagian aku juga udah nggak suka sama kamu."


Ivan mengangguk puas. "Bagus deh, kalau emang lo udah nggak suka sama gue, berarti lo tahu apa yang harus lo lakuin, kan?" Ivan mengangkat alisnya.


Aya mengangguk. Dia mendongak untuk mencegah air matanya keluar. Sementara Ivan sudah beranjak dari duduknya. Dia meraih HP dan kunci motornya, kemudian pergi dari ruang makan. Beberapa saat kemudian, Aya bisa mendengar suara motor Ivan yang mulai menjauh


Tangis Aya yang sudah ditahannya dari tadi sekarang pecah. Suara isakan tangis miliknya memecah keheningan di rumah besar itu. Aya meremat dadanya. Mengaku kalau dia masih menyukai Ivan pun tidak akan ada gunanya. Bisa jadi dia akan menerima fakta yang lebih menyakitkan kalau dia mengaku masih menyukai Ivan.


Aya masih bergeming di tempatnya. Air mata maih terus mengalir di pipinya. Baru saja dia merasa sangat bahagia karena Ivan mau berbicara padanya. Kini dia dihadapkan oleh kenyataan bahwa Ivan memang membenci perasaan yang Aya rasakan untuk Ivan. Dengan kata lain,Ivan benci kalau Aya menyukainya.


Dugaan Aya selama ini benar. Dia sudah merangkai berbagai skenario buruk mengenaI Ivan. Tapi tetap saja saat salah atu dari kemungkinan buruk itu menjadi kenyataan, rasa sakit itu masih sangat terasa.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan muncul di layar HP Aya. Dia sekilas membaca pesan itu.


Mamaku


Ay, mama sama mamanya Ivan bakalan kesana siang ini

__ADS_1


Jangan lupa masak ya...


Aya melotot kaget. Dia mengusap wajahnya kasar. Cobaan apa lagi sekarang?


__ADS_2