Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Flashback pt.4


__ADS_3

Arial tertawa paling keras saat Ivan masuk ke dalam kelas setelah dihukum dengan kondisi kacau. Peluh membasahi seluruh tubuhnya dan seragamnya sudah acak-acakkan. Dia melempar Arial dengan kunci motornya lalu mendudukkan diri disampingnya.


"Yah, gagal nikung gue kalau lo effort gini," tawa Arial.


Ivan menyandarkan kepalanya di atas meja. "Bacot," sinisnya.


"Pokoknya jangan sampai kalah sama yang sesekolah," lanjut Arial masih sambil tertawa.


"Lo diem ya, anjing. Capek gue," dengus Ivan.


"Haha...btw, entar pulang lebih awal katanya," jelas Arial.


"Jam berapa?"


"Setengah dua kali ya? Kayaknya jam segitu sih."


"Oke, nanti anterin gue ke apotek dulu."


"Dih."


......................


Sorenya sepulang sekolah, Ivan meminta Arial untuk menemaninya ke apotek.


"Lo emang tau Aya sakit apa? Lo aja tau kalau dia sakit dari Akbar, kan?" tanya Arial saat mereka berdua sudah sampai di Apotek.


Ivan melepas helmnya. "Aya nggak bisa minum obat tanpa resep dokter," katanya sambil lalu.


"Lah terus lo ke apotek mau beli apaan? Pengaman?"


Ivan berbalik dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Arial karena ucapan gila temannya itu.


"Heh!"


"Gue mau beli paracetamol. Aya cuma bisa minum itu," jawab Ivan malas.


Arial mengangguk paham. Dia menunggu Ivan di atas motornya. Beberala saat kemudian, Ivan kembali dengan satu kantung plastik berukuran sedang.


"Katanya cuma beli paracetamol."


"Gue nggak tau Aya suka yang mana, makanya semua jenis paracetamol gue beli."


"Si tolol."


......................


Setelah sampai di rumah, Ivan langsung bergegas menuju kamar Aya. Tapi begitu dia sampai di depan pintu kamar Aya, dia bisa melihat cowok asing di dekat Aya.


"Oh, lagi sama pacarnya. Sorry kalau gitu," kata Ivan dingin.


Dia meremat kuat plastik yang dibawanya. Wajahnya mengeras karena marah. Tanpa berkata-kata apa lagi, dia berbalik pergi. Ivan masuk ke kamar dan mengambil kunci motornya. Lalu pergi menuju rumah Arial setelah sebelumnya sempat membuang bungkusan obat di tempat sampah.


Sesampainya di rumah Arial, Ivan langsung masuk ke kamar Arial seenaknya tanpa ijin.


"Asu! Lo ngapain kesjni?" ujar Arial terkejut.


"Mau ngungsi, gue pinjem baju ya?" Ivan melangkah ke arah lemari dan asal mengambil baju milik Arial.


"Untung temen, kalau nggak udah gue iket di rel kerata api lo," sungut Arial. "Lo belum jawab pertanyaan gue btw."

__ADS_1


"Pertanyaan apa? Kalau alasan gue kesini, itu karena di rumah ada si Arvi. Males banget gue," jawab Ivan. Dia merebahkan dirinya di sofa yang ada di kamar Arial.


"Oh, keduluan yang satu sekolah sama Aya, ya? Hahaha..." Arial tertawa mengejek.


Ivan tidak menjawab. Dia menutup wajahnya menggunakan lengannya. Dia hanya ingin mencari ketenangan.


......................


"Yal, pinjem HP dong," kata Ivan saat mereka berada di sekolah.


Ivan tidak pulang tadi pagi. Toh dia pegi kerumah Arial masih menggunakan seragam. Jadi, dia tidak perlu pulang untuk mengambil seragamnya.


"Buat apaan?"


"Pesen makan," jawab Ivan singkat.


Arial menyerahkan HP-nya. Sudah biasa kalau Ivan meminjam HP-nya untuk memesan makanan.


"Oke, udah." Ivan mengembalikan HP milik Arial setelah memesan makanan.


"Pesen apa lo?"


"Makanan, buat Aya."


"LAH SI GOBLOK!"


"Pinjem nama, elah. Gue malu kalau ketahuan gue yang pesen."


"Ya kan, Aya tau kalau gue temen lo tolol. Dia juga nggak mungkin mikir gue yang inisiatif mesenin dia makanan." Arial benar-benar ingin memukul kepala Ivan agar sedikit waras.


"Oh iya."


......................


"Entar, nunggu pada tidur semua yang di rumah."


Arial mendecak malas. Dia bukannya tidak suka kalau Ivan berlama-lama di rumahnya. Dia hanya ingin Ivan menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidak kabur seperti ini.


Pukul 12 malam, Ivan akhirnya beranjak pulang.


"Lo nggak papa pulang sendiri?" tanya Arial khawatir. Masalahnya mereka berdua baru saja meminum sebotol bir. Arial tahu Ivan kuat minum, tapi membiarkannya pulang sendiri tengah malam seperti ini juga cukup beresiko.


"Santai, gue masih sadar," jawab Ivan. Dia bukan tipe orang yang akan mabuk hanya dengan sebotol bir.


Arial mengangguk. Dia sendiri sudah mulai tak sadar.


Sesampainya di rumah, Ivan benar-benar terkejut saat melihat Aya masih ada di ruang depan. Dia bisa mendengar suara lirih Aya yang menanyakan dirinya dari mana.


"Bukan urusan lo," jawab Ivan dingin. Dia bukannya masih marah soal kemarin, tapi dia marah karena Aya nekat menunggunya disini padahal dia masih sakit. Ivan bahkan bisa melihat tubuh Aya mulai menggigil.


"Lo ngapain disini?" tanya Ivan retoris.


Ivan menatap Aya yang kini terlihat semakin kedinginan. Dia kemudian menutup pintu lalu melangkah mendekati Aya. Entah karena efek alkohol atau karena apa, Ivan tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Aya.


Ivan benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat Aya menatapnya dengan bibir sedikit terbuka. Entah kenapa Aya terlihat lebih menarik daripada biasanya malam ini. Dan entah pikiran gila mana Ivan justru mendekatkan wajahnya ke wajah Aya. Dia hampir mencium cewek itu kalau saja dia tak langsung sadar.


"Lo masih sakit, Ya. Tolong jangan bikin gue gila." Ivan menyandarkan kepalanya di bahu Aya.


Gue gila karena lo selalu bikin gue nafsu, teriak Ivan dalam hati.

__ADS_1


Sialnya, bau tubuh Aya yang sudah menjadi candunya justru membuat pikirannya melayang kemana-mana. Ivan tak tahan lagi dan nekat mencium leher Aya. Bahkan menyesapnya hingga meninggalkan bekas.


"Nghh."


Ivan menyeringai tipis saat Aya mendorongnya menjauh. "Baru leher, belum bibir atau yang lain. Kenapa udah ngedesah gitu?"


"Leher lo, sensitif banget, hmm?" kata Ivan sambil berjalan mendekati Aya.


Tapi sebelum itu Aya sudah lebih dulu berlari pergi setelah sebelumnya berteriak pada Ivan.


"Hmm, gue emang gila, Sayang," monolog Ivan sambil menyeringai lebih lebar.


......................


Hari Jum'atnya, Ivan bermaksud untuk menjelaskan semuanya pada Aya. Dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Setelah sekian lama dia menjadi pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Aya padahal dia tahu Aya juga merasakan hal yang sama.


Tapi sialnya, siang itu dia malah melihat Aya diantar pulang oleh Arvi.


"Yang dianterin pacarnya sampe rumah, seneng ya?" kata Ivan menahan kesal.


"Pacarnya effort banget ya, nganterin sampe rumah padahal rumahnya jauh," lanjut Ivan saat Aya sudah berdiri di depannya. Dia benci pada dirinya sendiri saat melihat Aya yang bisa tertawa karena Arvi sedangkan saat bersamanya dia justru hanya menyakiti Aya.


"Maksud kamu siapa, sih? Arvi? Dia bukan pacarku."


Ada rasa senang saat Aya mengatakan itu, tapi Ivan masih tidak terima dengan kenyataan kalau Arvi mengantar Aya pulang.


"Bukan pacar tapi nganterin sampe rumah"


Ivan bisa melihat wajah Aya yang memerah. Entah karena kesal atau apa.


"Setidaknya dia nggak nyium cewek yang bukan pacarnya tepat di bibir."


Ivan mengeraskan rahangnya. Tidak terima saat Aya justru mengungkit kesalahannya kemarin.


"Lo bilang apa barusan?" Dia mencengkeram kuat tangan Aya.


"Lo sadar nggak sih, kalau lo itu aneh banget. Lo kadang ngebaperin gue, tapi kadang lo juga biasa aja. Lo kadang kayak cemburu tiap kali gue deket sama cowok lain, tapi lo sendiri nyium cewek lain di depan mata gue. LO ANGGEP GUE APA, VAN?!" bentak Aya. "Oke, mungkin emang selama ini gue yang kegeeran. Lo nggak bermaksud buat ngebaperin gue, nggak bermaksud buat nyakitin gue. Anggap aja emang gue yang salah paham dan kegeeran."


Dan Ivan, hanya bisa diam tanpa membantah. Dia tahu, dia yang selama ini hanya menarik ulur Aya seolah cewek itu tak merasakan lelah. Hanya karena Ivan tahu Aya juga menyukainya, dia justru bersikap seenaknya pada Aya.


......................


"Lo bisa mabuk tolol kalau minum sebanyak itu," sinis Arial saat melihat beberapa botol berserakan di depan Ivan.


"Ck, masih sadar ini," dengus Ivan. Dia memang masih sadar tapi kepalanya sudah mulai pusing.


"Ya bener kata Aya kalau dia ngatain lo cuma narik ulur, lo aja nggak ngasih kejelasan," timpal Farel sambil merebut botol alkohol kesekian yang sedang diminum Ivan.


"Hah, lo pada mau bantuin gue?" tanya Ivan.


"Pengennya sih, enggak. Tapi karena muka melas lo minta dihujat, jadi ya gimana lagi," jawab Arial asal.


"Serius, njing!"


"Ck, bantu apaan?"


Ivan tersenyum setan. "Tolong bikin Aya kesini. Apapun caranya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2