Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Khawatir


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 16.15 saat Aya sampai di rumah. Sepi karena Bi Ning sudah pergi sejak siang tadi. Pak sopir pun juga langsung pulang setelah menjemput Alea dan Akbar tadi siang. Makanya Aya pulang naik bis dan berhenti di halte depan komplek.


"Baru pulang, kak?" tanya seseorang.


Aya menoleh dan melihat Akbar yang sedang tiduran di sofa depan televisi. "Hah?" tanya Aya. Masih terkejut karena Akbar bertanya padanya.


"Baru pulang? Kok sore banget?"


"Hah..oh..iya, tadi bisnya lama banget datangnya," jawab Aya. Dia melepas sepatu yang dipakainya dan melemparkan tasnya di salah satu sofa.


"Bi Ning tadi pesen, kalau kak Aya mau makan, Bi Ning udah masak tadi siang. Tinggal dipanasin aja, soalnya katanya kak Aya cuma mau makan pas sore doang," terang Akbar.


Aya mengangguk. "Alea mana?"


"Pergi, sama temen-temennya."


Sekali lagi Aya hanya mengangguk. Tidak tau harus menjawab apa. Terlebih suasana canggung diantara mereka berdua.


Aya mengedarkan pandangan. Melirik Akbar yang kembali sibuk dengan handphone miliknya. Aya menggigit bibir. Ragu-ragu untuk melontarkan pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Akbar.


"Ehmm, Akbar...itu ehmm... Ivan udah pulang?" tanya Aya pelan.


Akbar meletakkan handphonenya kemudian bangkit untuk duduk. Dia menatap Aya yang sekarang terlihat salah tingkah. Aya bisa melihat senyuman tipis di bibir Akbar.


"Belum sih, mungkin nongkrong dulu," jawab Akbar masih dengan senyum di bibirnya.


Aya semakin salah tingkah saat Akbar terus menatapnya dengan tatapan menggoda. Dia segera bangkit dari duduknya lalu mengambil tas dan sepatu miliknya.


"Oke, aku ke kamar dulu."


Setelah berkata demikian, Aya segera kabur ke lantai atas. Sepanjang jalan terus mengumpati Akbar dalam hati. Apa-apaan maksud senyum tadi? Aya cuma bertanya soal Ivan sudah pulang atau belum, kan? Aya rasa tidak ada yang salah. Lalu kenapa Akbar tersenyum seperti itu? Apa perasaan Aya kepada Ivan terlihat jelas?


Sesampainya di kamar, Aya langsung mandi lalu berganti pakaian yang lebih nyaman. Melupakan rasa laparnya dan berpikir kalau nanti dia akan ikut makan malam saja. Dalam hati Aya bertekad untuk tidak menanyakan apapun lagi tentang Ivan pada Akbar.


...........


Tok tok tok


Aya membuka matanya pelan saat mendengar suara ketukan brutal di pintu kamarnya. Aya melirik jam dinding. Pukul 18.45. Aya terlonjak bangun. Mengumpat pelan karena dia ketiduran. Lalu buru-buru membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Hmm, aku kira mati," sindir Alea begitu Aya membuka pintu kamarnya.


"Ngantuk habis mandi tadi," ujar Aya sambil nyengir kuda.


"Aku laper dan cuma ada Akbar di bawah, sialan," umpat Alea.


"Ivan belum pulang?"


"Setauku belum, motornya nggak ada tuh di garasi."


Aya menghela napas pelan. Bertanya-tanya kenapa Ivan belum sampai rumah. Padahal setahu Aya, jam pulang SMA-nya dan SMA Ivan itu sama yaitu pukul setengah empat. Tetapi memang biasanya Ivan main dulu bersama teman-temannya dan baru pulang pukul lima sore. Tapi, sekarang bahkan sudah hampir pukul tujuh malam dan Ivan belum pulang.


"Nongkrong sama Arial," celetuk Alea saat melihat Aya melamun.


"Dih, sok tahu," dengus Aya.


"Lah, kak Ivan kalau nggak pergi sama kak Arial, sama siapa lagi? Soulmate mereka tuh," balas Alea.


"Ya ini udah jam 7 bego, masih nongkrong?"


"Nggak tau lah, bodo amat. Aku laper, buruan turun. Udah ditungguin juga," ujar Alea lalu berbalik pergi menuju lantai satu.


Aya berjalan lunglai menuju ruang makan. Disana sudah ada Alea dan Akbar yang saling diam. Akbar terlihat sibuk bermain game online di HP-nya. Sedangkan Alea diam-diam mencuri pandang ke arah Akbar.


"Oh, kak Aya. Kita makan sayuran yang dimasak Bi Ning tadi siang nggak papa, kan?" Akbar meletakkan HP-nya dan menatap Aya yang masih berdiri di ujung tangga.


Aya berjalan mendekat. Dia mengangguk pelan dan tidak berniat berkomentar apapun. Tanpa sadar matanya terus menatap ke arah pintu depan. Masih berharap kalau Ivan akan pulang dan muncul dari balik pintu.


"Ehmm...nggak papa kita makan dulu?" tanya Aya. Tidak berharap banyak akan ada yang mendengar. Dia mendudukkan dirinya di samping Alea.


"Ya kalau aku sih, iya," sinis Alea. Dengan acuh dia mengambil piring dan mulai mengambil nasi.


"Terus dia gimana, bi?" desis Aya berbisik pada Alea. Jangan salah, Aya memanggil Alea dengan sebutan 'Bi' itu maksudnya kependekkan dari 'Babi'


"Kak Ivan pasti udah makan di luar kok," ujar Akbar santai sambil mengunyah makanannya.


"Hah?" pekik Aya terkejut.


"Kalau kak Aya khawatir karena kak Ivan belum pulang, tenang aja. Kak Ivan tadi bilang sama aku kalau dia lagi main di rumah temennya. Dan mungkin udah makan juga disana," jawab Akbar. Dia masih sibuk dengan makanannya dan mengatakan hal itu tanpa menatap Aya sedikitpun.

__ADS_1


Aya mengangguk kaku. Dia menetap Alea yang kini juga menatapnya.


"Haha...mampus," bisik Alea sambil tersenyum mengejek.


..........


Jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Setelah makan malam yang berlangsung canggung tadi, Aya langsung mencuci piring bekas mereka makan. Membiarkan Akbar pergi dan menahan Alea untuk membantunya. Bukannya pilih kasih, tapi akan terasa tak nyaman kalau Akbar harus bergabung dengan mereka berdua.


Setelah mencuci piring, sekarang Aya sedang bersantai di ruang depan. Dia tiduran di sofa sambil bermain HP. Sementara Alea duduk bersila di karpet dan menonton TV sambil memakan camilan.


Ini akal-akalan Aya sebenarnya. Dia sengaja memaksa Alea untuk menemaninya di ruang depan. Padahal biasanya mereka juga tidak pernah menonton TV dan lebih memilih untuk berada di kamar sambil bermain HP. Tapi karena Ivan belum juga pulang, Aya berinisiatif untuk mennunggu kepulangan cowok itu di ruang depan.


"Hah!" Aya menghela napas kasar lalu bangkit dari posisinya yang semula tiduran. Alea yang melihat itu hanya melirik sekilas. Sudah terlampau hafal dengan tingkah Aya.


"Dia kemana, sih? Jam berapa ini? Dikira aku nggak khawatir apa?" sungut Aya. Dia menoleh ke arah Alea yang masih sibuk dengan layar TV tanpa memedulikannya.


"Ishh, Ivan tuh, lupa kalau dia tinggal disini apa gimana, sih? Aku khawatir, anjir. Kangen juga, hikss...," monolog Aya sekali lagi. Sedikit berharap kalau Alea akan meresponnya. Tapi nihil, Alea sama sekali tidak memedulikan Aya.


"Al!" teriak Aya. Kesal karena sedari tadi diabaikan oleh Alea.


"Apa?" jawab Alea malas. Masih dengan tatapan matanya yang mengarah ke layar TV.


"Ivan dimana? Aku khawatir loh," rengek Aya pelan sambil mengerucutkan bibirnya.


Alea melirik Aya malas, kemudian tangannya terangkat menunjuk pintu. "Tuh, dia."


Aya menoleh ke arah pintu masuk. Disana sudah ada Ivan yang kini menatapnya datar. Cowok itu masih memakai seragam sekolah dan hoodie coklat miliknya. Persis seperti ketika berangkat sekolah tadi pagi. Tangan kirinya menenteng tas sekolahnya. Sedangkan di tangan kanannya ada rokok.


Ivan menghisap rokoknya dengan santai kemudian berjalan melewati ruang depan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Aya. Sempurna mengabaikan Aya yang sudah menunggunya dari tadi.


Sementara Aya mematung di tempatnya. Dia menoleh ke arah tangga dan memastikan kalau Ivan sudah naik. Setelah yakin, dia langsung mengguncang tubuh Alea brutal.


"Ivan nggak denger waktu aku bilang aku khawatir sama dia, kan?" tanya Aya. Bodoh sekali dia sampai tak mendengar suara motor Ivan tadi.


Alea mengangkat bahu, "Nggak tau, sih. Solanya waktu kak Aya bilang kek gitu tadi, kak Ivan udah dateng."


"****!" umpat Aya. Dia jadi malu sendiri kalau Ivan benar-benar mendengar apa yang dia katakan tadi.


"Udah, kan? Kak Ivan udah pulang, jadi aku mau balik ke kamar." Alea mematikan TV kemudian beranjak meninggalkan Aya.

__ADS_1


"Al, heh, tungguin!"


__ADS_2