
Aya masih berkutat di dapur saat Alea dan Akbar pulang dari sekolah. Mereka pulang dijemput sopir yang hari ini memang hanya bekerja untuk mengantar jemput Alea dan Akbar. Jadi setelah menjemput Alea dan Akbar, pak sopir langsung pulang.
"Kak Aya kenapa masak banyak banget, deh?" Alea melongok melihat apa yang sedang di kerjakan Aya.
"Ck, pergi sana! Ganti baju dulu, kamu ganggu banget disini," sungut Aya. Berhati-hati memindahkan mangkuk besar berisi sup panas.
"Ye, makanya jawab dulu kenapa kak Aya masak banyak banget," balas Alea.
"Mama sama Mamanya Ivan mau kesini siang ini," jawab Aya malas.
Alea tersenyum menggoda. "Hmm jadi Mama sama Mama mertuanya kak Aya mau dateng? Pantes pencitraan sok-sokan masak."
"Emang disuruh ya anjing. Lo pergi atau gue siram kuah sup, hah?" umpat Aya. Dia ingin sekali menghajar muka menyebalkan Alea tapi tangannya kini sibuk membumbui ayam.
Alea tertawa terbahak melihat Aya yang kini terlihat marah. Dia lantas berlari menuju lantai atas sebelum dia benar-benar menjadi sasaran kemarahan Aya.
Baru saja Alea pergi, sekarang giliran Akbar yang duduk di meja makan sambil menatap semua makanan yang tersaji dengan heran.
"Kak Aya kenapa masak banyak banget, deh?" tanya Akbar.
Aya menghela napas lelah. Pertanyaan yang sama dan nada yang sama dengan apa yang dilontarkan Alea tadi. Aya berbalik dan menatap Akbar dengan senyuman mengerikan di bibirnya.
"Dari pada banyak tanya, mending sekarang kamu bantuin kakak."
"Bantuin apa?" tanya Akbar polos.
"Bilangin ke Ivan, suruh pulang sekarang. Mamanya mau dateng siang ini," suruh Aya. Hanya Ivan yang bisa dia andalkan saat ini. dia tidak mempunya nomor HP ivan dan tentunya dia juga tidak akan berani menghubungi Ivan. Terlebih setelah kejadian tadi pagi.
Akbar mengangguk. Dia meraih HP-nya dan melakukan apa yang Aya suruh.
"Yang dateng cuma tante Anisa doang, kak?" tanya Akbar lagi.
"Nggak, sama mamaku juga."
"Dadakan banget kak bilangnya," kata Alea yang kini sudah bergabung di ruang makan.
"Nah, maka dari itu. Pokoknya nanti kita harus pura-pura akrab. Jangan sampai ketahuan mama kalau selama ini kita masih jarang komunikasi. Terutama kalian berdua. Aku suka canggung kalau kalian jadi satu. Berasa aku sendiri yang bicara," jelas Aya panjang lebar.
Akbar dan Alea menatap Aya datar. Aya yang ditatap seperti itu balas melotot galak. "Kenapa ngeliatin kek gitu?"
"Bisa ngaca? Selama ini yang bikin canggung itu justru kak Aya sama kak Ivan. Kalian itu kayak saling benci gitu," sindir Alea.
__ADS_1
"Aku juga udah berusaha akrab sama Alea, sama kak Aya juga. Cuma emang gara-gara kak Aya sama kak Ivan aja yang sampai sekarang masih belum pernah ngobrol." Akbar mengangkat bahu.
Aya merasa terpojok sekarang. Dia tidak bisa mengelak sekarang karena apa yang dikatakan oleh dua bocil di depannya ini memang benar.
"Ck, aku bisa aja ngobrol sama Ivan. Cuma aku sungkan aja," bela Aya. Bisa saja mencari alasan.
"Halah," ejek Alea.
"Dih, kamu juga nggak pernah berani ngobrol sama Akbar ya, katanya kamu hmpphh..." Ucapan Aya terpotong saat Alea tiba-tiba membungkam mulutnya.
Aya berusaha berontak. Tapi energi Alea juga tak kalah besar. Dia menatap Akbar meminta pertolongan yang hanya dibalas oeleh juluran lidah dari yang lebih muda.
"Hmmmpphhh hmmpphh." Aya masih berusaha melepaskan diri sampai tidak sadar bahwa dua wanita dewasa yang dia tunggu sudah datang.
"Ck, ck, seru banget bercandanya sampe mama mencet bel berkali-kali nggak dibukain," kata Mama Via, mamanya Aya.
Alea reflek melepaskan tangannya yang ada di mulut Aya. Dia membungkuk sopan ke arah Mamanya Aya dan Mamanya Ivan. Aya di sampingnya hanya mencibir saat melihat perubahan sifat Alea itu.
Aya kemudian berjalan mendekat dan memeluk Mamanya. Sang mma tersenyum lalu membalas pelukan sang anak.
"Gimana seminggu ini?"
"Nggak gimana-gimana, biasa aja," jawab Aya. Dia melepaskan pelukannya kemudian berpindah menatap tante Anisa; mencium tangan wanita dewasa itu.
Aya yang mendengar itu langsung membeku. Dia memberi kode pada Akbar untuk menjawab pertanyaan itu. Untungnya Akbar langsung paham dengan kode itu.
"Kak Ivan lagi main, tante. Mungkin habis ini pulang," terang Akbar.
Aya tersenyum miris. Tentu saja selain main ke rumah temannya, Ivan juga berniat menghindari Aya. Aya sendiri tidak yakin pakah cowok itu akan pulang siang ini. Karena Aya pikir, Ivan tidak akan pulang hari ini.
"Ivan nggak macem-macem, kan selama ini?" tanya tante Anisa lagi.
Aya tersenyum sambil menggeleng. "Nggak, tante. Paling cuma suka pulang malem aja." Aya tertawa kecil di ujung kalimatnya.
Tante Anisa terlihat menghela napas pelan. "Hah, dasar anak itu. Biar nanti tante bilang ke dia."
"Ehmm, mama sama tante mau istirahat dulu? Sambil nunggu aku selesai masak," tawar Aya.
Sang mama mengangguk. Aya baru saja hendak mengambil alih barang bawaan mamanya saat Alea mencegahnya.
"Aku aja kak, kan kak Aya lagi masak. Akbar, ayo!"
__ADS_1
Akbar ikut mengambil alih barang-barang tante Anisa. Alea dan Akbar kemudian mengantarkan kedua wanita dewasa itu ke kamar tamu.
...........
Pukul 13.00. Mereka berlima berkumpul di meja makan. Sudah ada berbagai macam makanan yang tersaji di meja makan. Aya tersenyum bangga melihat hasil jerih payahnya. Melupakan sejenak rasa sedihnya tadi pagi.
Ivan sendiri belum pulang sampai sekarang. Aya berkali-kali bertanya pada Akbar lewat tatapan matanya dan hanya dibalas dengan gelengan tak tahu. Aya menggigit bibir cemas. Ivan harus pulang siang ini. Kalau tidak, akan semakin banyak kebohongan yang Aya buat untuk menjawab pertanyaan tante Anisa.
"Ivan kenapa belum pulang juga, ya?"
Baru saja Aya hendak beralasan lagi, pintu depan terbuka lebar. Menampilkan sosok Ivan yang masih memakai pakain tadi pagi. Cowok itu berjalan cepat menuju ruang makan kemudian memeluk tante Anisa dari belakang.
"Mama kenapa nggak ngabarin aku dulu?" ujar Ivan. Dia membungkuk dan menempelkan dagunya pada bahu tante Anisa.
"Pengennya surprise, tapi ternyata kamu nggak ada. Udah duduk dulu, kita nungguin kamu dari tadi tau."
Ivan menggeleng. Semakin erat memeluk sang Mama.
Aya mengulum bibirnya menahan senyum. Dia benar-benar lega karena Ivan mau pulang. Tangannya terkepal gemas di bawah meja melihat interaksi antara Ivan dan tante Anisa. Ivan yang dia lihat sekarang terlihat sangat lucu dan jauh berbeda dengan Ivan yang biasa dia lihat.
"Duduk, Ivan!" perintah tante Anisa mutlak.
Ivan hanya tertawa lalu melepaskan pelukannya. Kemudian duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Aya. Mereka pun memulai acara makan siang itu.
"Hmm, kamu nyiapin ini semua semua sendiri, Ya?" tanya Mama Via.
Aya mengangguk. "Iya lah. Mana tadi harus ke supermarket dulu karena nggak ada bahan makanan," sindir Aya.
Mamanya hanya tertawa. Dia meneloh ke arah tante Anisa. "Gimana masakannya Aya?"
"Enak, udah cocok jadi mantu idaman haha," canda tante Anisa.
Aya tersedak. Dia tidak menyangkan kalau tante Anisa akan berbicara seperti itu. Tante Anisa yang melihat Aya tersedak langsung menyodorkan segelas air putih. Aya menerimanya dan meneguknya cepat.
"Ma, itu gelasku. Udah aku minum juga!" protes Ivan.
Aya yang mendengar itu reflek menyemburkan air yang masih ada di mulutnya.
"AYA IHH JOROK!!"
"KAK AYA!"
__ADS_1
"HAHAHA."