
30 menit setelah Aya diberi tahu lokasi Ivan, sekarang dia sudah berada di sebuah rumah yang terlihat ramai. Aya tidak sempat berganti baju, dia masih mengenakan celana pendek dan hoodie oversize. Tadi dia buru-buru memesan taksi online dan segera ke alamat yang sudah dikirim.
Aya masih berada di depan gerbang dan masih ragu untuk masuk. Di belakangnya, masih ada taksi yang dia suruh menunggu.
"Aya?"
Aya bisa melihat seseorang berjalan mendekati pagar. Dia tahu itu Arial. Meski baru pertama kali ini dia bertemu Arial secara langsung, tapi Aya sudah lebih dari hafal dengan wajah cowok itu.
"Lo langsung kesini banget?" tanya Arial saat melihat kondisi Aya. "Duh, kalau Ivan tau, gue bisa disantet nih, gara-gara nyuruh lo kesini padahal lo masih sakit. Mana lo cuma pake celana pendek gitu," lanjut Arial berbasa-basi.
"Ehm, Ivan dimana?" tanya Aya. Tubuhnya sudah bergetar kedinginan.
"Di samping, yuk!"
Aya berjalan mengekori Arial. Mereka berdua menuju halaman samping rumah yang masih ramai. Aya pikir tempat ini semacam basecamp anak tongkrongan.
Aya mengedarkan pandangannya. Beberapa pasang mata mulai menatap penasaran ke arah Aya. Aya menarik tudung hoodienya untuk menyembunyikan wajahnya.
"Tuh, tidur dia habis ngamuk tadi," tunjuk Arial pada Ivan yang tidur dengan tenang di salah satu kursi panjang.
Aya berjongkok di dekat Ivan. Menatap wajah damai Ivan yang sedang tertidur. Dia mengusap pipi Ivan lembut. Kemudian menoleh ke arah Arial.
"Bisa bantu bawa Ivan ke taksi?"
Arial mengangguk. Dia dan dua orang temannya kemudian mulai mengangkat tubuh Ivan ke taksi yang masih menunggu di depan rumah.
"Makasih," ucap Aya pada Arial dan dua orang lainnya.
"Hmm, santai. Gue yang harusnya makasih karena lo mau kesini. Ivan dari tadi manggil-manggil nama lo terus," jelas Arial.
Aya menatap Arial dengan penuh tanda tanya.
"Iya, cuma nama lo yang keluar dari mulutnya. Dia bucin asal lo tau," tawa Arial.
"K-kenapa harus aku?"
"Ivan suka sama lo, lo nggak tau?" tanya salah satu teman Arial.
Aya tidak menggeleng, tidak juga mengangguk. Dia masih mencerna apa yang baru saja dia dengar.
"Kita setongkrongan bahkan udah hafal setengah mati sama lo gara-gara dia selalu ngomongin tentang lo."
"A-aku nggak tau," lirih Aya.
"Hah, Ivan emang goblok sih, masalah itu biar Ivan yang jelasin sendiri ke lo," kata Arial. "Yaudah lo balik aja, udah mulai kedinginan kan lo?"
Aya mengangguk. Kemudian setelah berpamitan, dia segera masuk ke dalam taksi. Beberapa saat kemudian, taksi itu pun melaju menuju rumah Aya.
__ADS_1
Di dalam mobil, Aya terus menatap Ivan yang masih tertidur. Dia menggenggam tangan Ivan dan mengusap-usap tangan cowok itu lembut. Tiba-tiba, Ivan terbangun.
"A-aya?"
Aya hanya berdeham singkat.
"Aya," panggil Ivan.
"Apa?"
"Gue suka sama lo. Lo tau kan?"
Tubuh Aya menegang. Dia tidak tahu harus merespon apa. Semuanya bercampur dalam hatinya. Perasaan senang, sedih, marah, dan lainnya.
"Kamu masih mabuk," ujar Aya kemudian.
...................
Akbar dan Alea membantu Aya untuk memapah Ivan ke dalam kamarnya. Aya tahu ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh mereka berdua. Tapi Aya masih enggan membuka mulut. Jadi, mereka memilih untuk pergi dari kamar Ivan dan membiarkan Aya dan Ivan hanya berdua.
"Mau minum dulu?" tawar Aya. Dia menatap Ivan yang kini sudah tiduran di kasur.
Ivan menggeleng. "Gue...mau muntah." Setelah itu dia segera bangkit berlari menuju kamar mandi.
Aya mengikuti Ivan dan melihat cowok itu sudah jongkok di dekat kloset memuntahkan isi perutnya. Aya ikut jongkok di sebelahnya dan mengurut tengkuk Ivan.
Di perjalanan menuju kamar Ivan, dia berpapasan dengan Alea.
"Itu buat kak Ivan?" tanya Alea saat melihat Aya membawa secangkir teh.
"Iya, muntah dia," jawab Aya.
"Ck, kalau nggak lagi mabuk juga kak Ivan udah kupukul. Nggak asik kalau sekarang kak Ivan aku pukul tapi nantinya dia lupa," sungut Alea.
Aya tertawa pelan. "Tenang, udah ada yang ngewakilin."
"Siapa?" Mata Alea berbinar.
Aya hanya mengangkat bahu. Kemudian berlalu menuju kamar Ivan. Mengabaikan teriakan protes Alea di belakangnya.
"Ivan?" panggil Aya. Dia meletakkan cangkir teh yang dibawanya di atas nakas. Kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Ivan berdiri di depan wastafel. Dia mencuci muka dan berkumur-kumur. "Sini," suruh Ivan.
Aya mengerjap pelan. Suara Ivan terdengar lebih berat daripada biasanya. "Itu minumnya kutar--"
Ucapan Aya terpotong saat Ivan tiba-tiba menariknya dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di dekat wastafel. Ivan melingkarkan tangannya di pinggang Aya dan menatap wajah Aya yang kini sejajar dengan wajahnya.
__ADS_1
"Cantik," gumamnya.
"Ivan, minggir," lirih Aya. Dia berusaha mendorong tubuh Ivan dengan tenaganya yang tidak seberapa.
"Sssttt, lo cukup diem," bisik Ivan di dekat telinga Aya.
"Ahhh," desah Aya saat tiba-tiba Ivan menggigit daun telinganya.
Ivan berpindah ke leher Aya. Dia menghisap dan menggigit leher Aya gemas. Tangannya tak tinggal diam dengan mengusap-usap punggung Aya sensual.
"Ahhh eumhh." Aya mendongakkan kepalanya saat Ivan semakin gencar memberi tanda di lehernya. Dia meremat bahu Ivan kuat untuk menyalurkan rasa nikmat yang dia rasakan.
"Leher lo emang sesensitif itu?"
Ivan menjauhkan tubuhnya dari Aya. Dia bisa melihat leher Aya yang kini sudah penuh dengan tanda yang dia buat. Tangannya terangkat untuk merengkuh tengkuk Aya dan membawanya mendekat.
Cup!
Aya awalnya terkejut saat bibir mereka berdua bertemu. Tapi kemudian dia memejamkan matanya saat merasakan bibir Ivan yang mulai bergerak perlahan. Menikmati ciuman Ivan yang lembut tapi sarat akan nafsu.
Ivan ******* bibir Aya dengan penuh nafsu. Sesekali dia menggigit bibir mungil Aya yang terasa manis dan lembut. Tangan kanannya masih menahan tengkuk Aya sedangkan tangan kirinya mulai menelusup di balik hoodie yang Aya pakai.
Ciuman itu terasa semakin menuntut. Aya membuka mulutnya saat Ivan menggigit bibirnya kuat. Membiarkan lidah Ivan masuk lebih dalam. Cowok itu semakin memperdalam ciuman mereka dengan mengajak Aya untuk berperang lidah. Aya sudah pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Ivan. Membiarkan cowok itu memimpin permainan.
"Mmpphh," desah Aya disela ciuman mereka saat tangan Ivan menyingkap kaos yang dipakainya dan mengusap perutnya lembut.
Ciuman itu terlepas saat Aya mendorong Ivan menjauh karena pasokan oksigennya menipis. Benang saliva tercipta diantara mereka. Aya terengah-engah dengan bibir sedikit terbuka dan lelehan saliva yang entah milik siapa di sudut bibirnya.
Pemandangan itu tak luput dari Ivan. Cowok itu justru semakin bernafsu melihat kondisi Aya sekarang. Belum lagi efek alkohol yang masih ada ditubuhnya. Ivan kembali ******* bibir Aya lalu mengangkat tubuh Aya. Mereka berjalan keluar kamar mandi masih dengan bibir yang saling *******.
"Akh!" pekik Aya saat Ivan membanting tubuhnya di kasur.
Ivan merangkak di atas tubuh Aya dengan seringai menyeramkan tercetak di bibirnya. Matanya sudah tertutupi oleh nafsu. Aya hanya bisa menelan ludah di bawah Ivan.
"I-ivan," kata Aya panik saat Ivan mulai melepas hoodie yang Aya pakai. Menyisakan kaos tipis yang masih menutupi tubuh Aya.
Ivan menyingkap kaos itu lalu merendahkan tubuhnya. Mengecupi perut dan pinggang polos Aya dengan lembut. Tak lupa untuk meninggalkan jejak di sana.
"Ahh Ivanhh." Aya meremat rambut Ivan. Kepalanya mendongak ke atas.
Ivan menjauhkan tubuhnya saat Aya sudah merasa melayang. Dia melepaskan hoodie yang dia pakai dan melemparkannya ke sembarang arah. Membuat Aya sekali lagi hanya bisa menelan ludah gugup melihat tubuh topless Ivan. Dada bidang dan perut berotot Ivan kini terlihat jelas. Aya sudah panas dingin melihatnya.
Ivan kemudian merendahkan tubuhnya, lalu berbisik di telinga Aya. "Malam ini, lo milik gue," bisiknya seduktif kemudian menjilat daun telinga Aya.
Aya merinding dibuatnya. Tapi kemudian dia justru mengucapkan kata yang membuat Ivan semakin tertantang.
"I'm yours."
__ADS_1