Dipaksa Serumah

Dipaksa Serumah
Flashback pt.3


__ADS_3

Entah apa pasalnya, pagi ini Ivan bangun jan lima pagi. Biasanya juga jam enam kurang seperempat baru bangun. Dia masih duduk mengumpulkan nyawanya saat dia melihat sebuah bayangan berhenti di depan kamarnya. Dia bisa melihatnya dari celah di bawah pintu.


Ivan mengernyit saat orang itu tak kunjung mengetuk pintunya atau membuka pintunya. Kalau itu Mamanya, pasti sudah masuk sejak tadi. Dengan malas, Ivan melangkah ke pintu dan membuka pintu pelan. Akan tetapi saat pintu terbuka, dia sama sekali tidak menemukan siapapun.


Ivan mengedarkan pandangannya dan melihat pintu kamar Aya baru saja tertutup. Dia menyeringai senang. Itu artinya, Aya yang baru saja berdiri di depannya.


Ivan melangkah ke kamar Aya dan berdiri di depan pintu. Menunggu cewek itu keluar kamar lagi.


Cklek!


"K-kamu ngapain d-disini?" Aya terlihat terkejut saat melihat Ivan berdiri di depan pintu kamar. Bahkan keranjang pakajan yang dia pegang sampai jatuh.


"Nggak papa, sih. Gue cuma mau mastiin aja," jawab Ivan asal. Dia juga sebenarnya tidak tahu kenapa dia berdiri di depan kamar Aya.


"M-mastiin a-apa?" tanya Aya.


Nggak tahu, gue cuma pengen liat lo, jawab Ivan dalam hati.


"Mau nyuci?" Ivan justru bertanya hal yang tidak penting.


"Iya, kamu mau sekalian?"


Ivan berusaha menahan senyum.


"Nggak," jawab Ivan singkat lalu berlalu pergi. Tidak kuat melihat wajah gugup Aya yang benar-benar terlihat lucu.


Udah cocok kalau gue jadiin istri, pikir Ivan asal.


......................


Saat di ruang laundry, Ivan sebenarnya sok-sokan saja mau mencuci. Dia mana bisa menggunakan mesin cuci. Hanya karena dia tau kalau Aya ada di ruang laundry makanya dia kesana.


"Aya, ini gimana?"


"Apanya yang gimana?"


"Ini pencet yang mana?"


Ivan bersorak dalam hati saat Aya mendekatinya. Apalagi saat Aya menjelaskan cara kerja mesin cuci padanya. Ivan bahkan sama sekali tidak memperhatikan. Dia justru sibuk melihat bibir Aya yang sibuk menjelaskan padanya.


Pengen gue sosor kan jadinya, pikir Ivan kotor.


Apalagi saat Aya berbalik dan mendongak menatapnya. Posisinya yang seperti mengungkung Aya benar-benar membuat Ivan mati-matian untuk tidak langsung mencium bibir pink Aya.


'Tahan, belum jadi pacar'


Alhasil, saat Aya meninggalkannya, Ivan sama sekali tidak paham bagaimana menggunakan mesin cuci itu.


......................


"Bentar, bentar, ih kenapa tinggi banget, sih, pegel."


Ivan tersenyum gemas di dekat pintu dapur saat melihat Aya yang berjinjit sambil meloncat kecil untuk meraih mie.


"Dasar pendek." Ivan akhirnya memilih untuk membantu Aya mengambil mie. Dengan dalih kalau dia juga ingin mie. Padahal sebenarnya dia hanya ingin dekat-dekat dengan Aya.


"Buatin buat gue sekalian, ya," ujarnya modus.


......................


Saat pagi hari, Ivan benar-benar terkejut saat Aya tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.


"Mau ngapain?"


Ivan menatap Aya dari atas sampai bawah. Pagi ini Aya hanya menggunakan kaos tipis yang sedikit menerawang. Dan hal itu benar-benar membuat Ivan tidak fokus. Dia bahkan tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan Aya selanjutnya. Ivan hanya berharap cewek itu segera pergi dari hadapannya.


"Nggak usah, gue bisa sendiri," kata Ivan. Lalu segera masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Yah, jadi bangun kan si kecil," gumam Ivan sambil menunduk setelah menutup pintu.


......................


Ivan benar-benar dibuat kesal sore harinya. Hari itu dia memilih langsung pulang karena sedang malas nongkrong. Tapi justru dirinya dihadapkan dengan kenyataan bahwa Aya pulang diantar Arvi. Apalagi saat makan malam, Akbar justru sengaja membahas Arvi di depannya.


"Gue selesai," kata Ivan datar. Dia benar-benar malas mendengar tentang Arvi lebih lanjut. Kesal karena takut kalau Aya akan berpaling darinya dan memilih Arvi. Cemburu? Tentu saja. Bagaimana dia tidak cemburu kalau cewek yang disukainya pulang bersama orang lain?


......................


Sore berikutnya, Ivan tidak tahu kenapa teman sekelasnya, Berlian, tiba-tiba datang ke rumahnya. Setahunya, dia hanya memberi tahu kalau dia pindah rumah pada Arial dan Farel. Jadi, kedatangan Berlian sore itu benar-benar tidak terduga.


"Berlian? Lo ngapain disini?" tanya Ivan heran saat melihat Berlian ada di depan gerbang rumahnya.


Berlian tersenyum manis. "Gue nyariin lo di rumah lama lo tau."


"Hmm, terus lo ngapain ke sini?"


"Nggak disuruh masuk dulu?"


Ivan berdecak. Tapi kemudian dia menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Berlian untuk masuk ke dalam rumah. Ivan melirik jam tangan sekilas. Pukul 16.05. Dia hanya berharap kalau Aya tidak pulang sampai Berlian pergi.


"Oke, intinya lo mau ngapain disini?" tanya Ivan tanpa basi-basi.


"Nggak tau. Gue mau main sih," jawab Berlian.


"Main ap--"


Cup


Ivan membelalakkan matanya saat Berlian tiba-tiba mencium bibirnya. Dia hendak mendorong cewek itu tapi tengkuknya ditahan kuat. Saat itulah pintu utama terbuka.


****, Aya, umpat Ivan dalam hati.


Ivan menatap Aya yang terlihat terkejut. Ada binar kesedihan di mata cewek itu. Ivan kembali mengumpat dalam hati. Sekali lagi, dia justru membuat cewek itu sakit hati.


"Anjing!" umpatnya sambil menunjuk Berlian.


Berlian tertawa sok manis. "Bibir lo manis loh, lain kali lagi, ya?"


"Jangan harap ya, *****!"


Berlian merengut. Tapi kemudian dia berdiri lalu membungkuk di depan Ivan. "Hmm, jangan gitu, nanti suka loh. Yaudah bye, gue pulang dulu."


Ivan tidak peduli saat Berlian pergi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah Aya. Kali ini, bagaimana caranya agar cewek itu tidak salah paham lagi? Ivan menggusak kasar rambutnya.


......................


Pagi harinya, Ivan berniat untuk bertemu dengan Berlian. Tidak di sekolah. Akan berbahaya jika mereka bertemu di sekolah. Pasti akan muncul berbagaj rumor yang menurut Ivan sangat menjijikkan. Mengingat bagaimana perilaku Berlian dan koneksinya di sekolah. Makanya Ivan memilih untuk bertemu di cafe dekat sekolah.


"Gue tunggu di parkiran," kata Arial.


Ivan hanya mengangguk dan berjalan ke meja di mana sudah ada Berlian di sana.


"Hai," sapa Berlian semangat. Dia berdiri dan hendak mencium pipi Ivan, tapi Ivan lebih dulu menepisnya.


"Gue nggak suka basa-basi. Maksud lo kemarin apa?" tanya Ivan to the point.


Berlian tertawa. "Kenapa, sih?"


"Gue nggak suka aja." Ivan mengangkat bahunya.


"Gue suka sama lo, masih kurang jelas?"


Ivan menghela napas kasar. "Dan gue nggak suka sama lo. Jangan pernah dateng ke rumah gue seenaknya kayak kemarin."


"Gue bakalan buat lo suka sama gue."

__ADS_1


Ivan mendecih. Dia kemudian bangkit dan berbalik pergi.


"Cewek kemarin, dia pacar lo?" tanya Berlian yang membuat Ivan langsung berhenti.


"Iya," balas Ivan singkat lalu berjalan keluar cafe.


Ivan berjalan mendekati Arial yang masih duduk di atas motornya. Tapi matanya menangkat sebuah siluet mobil yang dia kenal.


Ivan mengumpat. "Aya," desisnya.


Dia membuka HP-nya dan melihat ada beberapa pesan belum dibaca. Diantaranya Akbar dan pak sopir.


Akbar


Kak Aya sakit, tapi dia maksain sekolah


Matanya bengkak tadi pagi


Kakak tau kan kenapa-_-


Pak sopir


Den, non Aya sakit


Dia minta balik ke rumah habis nganterin den Akbar


Kayaknya Non Aya ngeliat den Ivan di cafe barusan


Ivan yakin pak sopir mengirim pesan padanya sambil menyetir. Berarti yang barusan dia lihat, memang benar mobil yang mengantar Akbar. Dan Aya ada di dalamnya.


"Yal, lo ngedukung gue sama Aya, kan?" ujar Ivan buru-buru.


Arial menaikkan alisnya heran. "Gue lebih suka Aya buat gue sih," jawab Arial.


"Bodo amat, intinya gue mau pinjem motor lo. Ada urusan penting sama Aya," kata Ivan. Dia merebut kunci motor Arial lalu menggesr tubub Arial yang berdiri di dekat motornya.


"Lah, terus gue ke sekolah gimana?" protes Arial saat Ivan sudah naik ke atas motornya.


"Deket itu, lo tinggal jalan. Atau kalau mau, nebeng Berlian," tawa Ivan. Setelah itu motornya melaju meninggalkan Arial yang masih berteriak tidak terima di belakang sana.


......................


Ivan mampir untuk membeli bubur sebentar sebelum pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Ivan meletakkan bubur yang dibelinya di meja makan kemudian naik ke lantai atas. Menuju kamar Aya yang pintunya terbuka lebar.


"Hiks, mau berhenti suka sama Ivan."


Samar-samar Ivan bisa mendengar suara Aya yang kini sedang tengkurap di atas kasur.


"Kenapa?" tanya Ivan. "Lo nggak boleh berhenti suka sama gue, Aya," lanjutnya pelan.


Ivan tersenyum kecil saat Aya terlihat tidak sadar kalau dirinya ada di dekat pintu. Tapi kemudian dia langsung berlari panik saat tubuh Aya ambruk di atas kasur. Pingsan.


"Aya!" panggil Ivan panik. Dia menepuk-nepuk pipi Aya pelan.


Ivan lalu membenarkan posisi Aya menjadi tidur dengan benar. Menaikkan selimutnya hingga sebatas leher. Ivan kemudian berlari menuju kotak P3K dan mengambil sebuah plester penurun demam.


"Panas banget, lo sakit gara-gara gue, ya," monolog Ivan sambil mengusap lembut pipi Aya.


Dia kemudian bangkit dan menuju dapur. Membuat segelas susu hangat lalu membawanya kamar Aya bersama dengan bubur yang dibelinya tadi.


Ivan kembali duduk di pinggir ranjang. Menggenggam tangan Aya yang terlihat mungil dibanding tangannya. Sesekali dia akan mengusap pipi Aya lembut saat cewek itu terlihat gelisah dalam tidurnya.


"Maaf, gue belum berani bilang kalau gue suka sama lo. Justru gue malah nyakitin lo terus," sesal Ivan.


Ivan masih menemani Aya sampai jam menunjukkan pukul 07.05. Baru dia sadar, kalau dia sudah sangat terlambat masuk sekolah.


"Gue sekolah dulu, cepet sembuh...Sayang."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2