
Pagi harinya Aya bangun kesiangan. Pukul enam kurang seperempat dia baru bangun. Itupun setelah Alea membangunkannya dengan menggedor pintu kamar secara brutal. Salahkan Ivan yang yang membuatnya tidak bisa tidur semalam dan baru bisa benar-benar tidur pukul empat tadi.
"KAK AYA, UDAH BELUM, ANJIR?" Suara Alea terdengar lagi.
Aya yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mandi kilat mendengus. Dia melempar sepatunya ke arah pintu dan menimbulkan suara keras.
Brak!!
"WEH, MALAH NGAMUK. CEPETAN ANJIR, UDAH JAM 6 INI!" teriak Alea.
"LO KALAU MASIH BERISIK, GUE SUMPEL KAOS KAKI YE ANJING!" balas Aya tak kalah keras.
"INI KITA NGGAK SARAPAN GARA-GARA KAK AYA BANGUN KESIANGAN TAU!" Sekarang giliran suara Akbar yang terdengar.
Aya mendengus malas. Dia sibuk memakai seragamnya dan tidak berniat membalas teriakan dua setan kecil itu.
"KAK AYA!"
Aya mengepalkan tangannya. Dia yang masih memakai sepatu langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar. Kaki kanannya sudah memakai sepatu. Sedangkan sepatu kirinya masih berada di tangannya. Siap untuk dilemparkan ke mulut-mulut setan yang sudah mengganggunya pagi ini.
Cklek!
"Bacot, sekali lagi berisik gue lebarin itu mulut pake pisau daging," ancam Aya. Dia mengacungkan sepatunya ke arah Akbar dan Alea yang sekarang nyengir ke arah Aya.
"Heh, curut. Daripada bacot disini, mending bantuin gue bikin sarapan," kata oknum kurang ajar yang menjadi tersangka utama kenapa Aya bangun kesiangan pagi ini
Ivan sudah berdiri di dekat tangga sambil membawa spatula di tangan kanannya. Cowok itu masih memakai celana pendek dan hoodie hitam. Jelas sekali kalau dia belum mandi.
"Kok, belum mandi?" gumam Aya tanpa sadar.
"Gue? Santai gue mah, masih jam 6 juga," jawab Ivan. "Oh iya, gue cuma bikin roti isi, jangan protes. Penting gue udah tanggung jawab," lanjut Ivan sambil menyeringai tipis ke arah Aya. Setelah itu, dia berbalik dan turun menuju dapur.
Alea dan Akbar serentak menoleh ke arah Aya.
"Apa?" Aya melotot galak ke arah Alea dan Akbar.
"Bentar, tanggung jawab apaan?" tanya Akbar.
"Hmm, aku ketinggalan sesuatu, nih," selidik Alea.
Aya menghela napas pelan. Tangannya terkepal kuat. Dalam hati dia sudah menyumpahi Ivan dengan segala jenis umpatan. Ingin sekali dia menghajar muka menyebalkan Ivan tadi. Ivan bilang apa tadi? Tanggung jawab? Aya menghentakkan kakinya kesal. Jangan sampai dia baper lagi.
"Kenapa masih disini?" tanya Aya kesal saat Alea dan Akbar masih berdiri di depannya.
"Maksud kak Ivan tadi apaan deh?" tanya Akbar sekali lagi.
__ADS_1
"Hmm, daripada nanya hal yang nggak penting, mending kalian masuk kamar terus pake sepatu kalian, okey? Kalian nyuruh aku buat cepet-cepet tapi kalian sendiri belum siap, hah?" Aya tersenyum lebar. Kelewat lebar hingga membuat Alea dan Akbar bergidik ngeri.
Akbar nyengir kemudian berbalik menuju kamarnya sendiri. Sementara Alea masih menatap Aya dengan tatapan menyelidik.
"Utang cerita ye kak," kata Alea.
"Dih, emang mau aku ceritain soal apa? Dongeng?" ujar Aya santai.
Alea hanya mendengus kemudian berbalik menuju kamarnya.
.........
Jam sudah menunjukkan pukul 6.25 saat Aya dan Akbar selesai sarapan. Kalau Alea jangan ditanya. Dia masih sibuk dengan sarapannya dan memakannya dengan pelan. Sedangkang Ivan, dia masuk ke kamarnya setekah mangambil jatah sarapannya dan memakannya sambil berjalan.
5 menit kemudian, Ivan turun dari tangga dengan pakaian lengkap. Pagi ini dia memakai hoodie berwarna abu-abu untuk menutupi atasan seragamnya. Dia masih sambil mengunyah roti isi yang dia buat.
"Bar, mau berangkat sekarang?" tanya Ivan.
"Iyalah, udah dari tadi aku nungguin kak Ivan," jawab Akbar.
Mereka berdua kemudian berlalu menuju garasi. Meninggalkan Aya dan Alea yang masih berada di ruang makan.
Aya menoleh ke arah Alea yang masih sarapan dengan tenang. "Jam setengah 7 babi, lo mau bikin gue telat?" desis Aya.
"Bentar," jawab Alea.
"Ck, jangan diburu-buruin entar malah lama."
"Dahlah, pak sopir suruh nganterin gue dulu. Lo belakangan."
Aya beranjak berdiri kemudian berjalan menuju halaman rumah. Sudah ada pak sopir yang menunggunya di sana. Di samping mobil ada Ivan yang sedang memanaskan motornya.
"Weh, nanti aku berangkat jam berapa kalau nganterin kak Aya dulu," teriak Alea. Dia berlari dari dalam rumah kemudian mengunci pintu depan dengan terburu-buru.
"Makanya buruan." Aya menghentakkan kakinya kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya ini udah."
Aya dan Alea segera masuk mobil. Setelah sebelumnya Aya sempat berpamitan pada Akbar. Iya, Akbar. Karena Aya tidak mungkin berpamitan dengan Ivan, dia terlalu malu.
"Tanggung jawab apa?" tanya Alea tiba-tiba saat mobil sudah melaju menuju sekolah Alea.
"Tanggung jawab apaan anjir, lo ngomong pake konteks dong," ujar Aya.
"Kak Ivan ada salah sama kak Aya. Kok dia tadi masak buat pertanggung jawaban dia?"
__ADS_1
Aya mengangkat bahunya acuh. "Dia mungkin tau kalau aku kesiangan gara-gara dia."
"Bentarr, maksudnya?"
"Tadi malam kumat itu anjing satu," kata Aya sambil tangannya sibuk mencari-cari snack di bagasi.
"Ngebaperin kak Aya lagi?" tanya Alea. Tangannya ikut mencomot snack yang dimakan Aya.
"Bukan cuma ngebaperin lagi, dia meluk aku," ujar Aya santai.
"ANJING!!" pekik Alea keras. Membut pak sopir ikut terkejut dan mengerem mendadak.
"Santai dong, babi." Aya menoyor kepala Alea keras.
"YA GIMAN--"
"Nggak usah teriak elah." Sekali lagi, Aya menoyor kepala Aya.
"Ck, gimana ceritanya kak Ivan meluk kak Aya? Orang gila."
"Ya nggak meluk aku juga sih, dia cuma ngangkat tubuh aku buat bantuin ngambil kopi. Tapi ya tangannya ngelingker di pinggangku."
"ASU!"
"WEH BAHASAMU!!"
"YA KAK IVAN MINTA BANGET DIUMPAT!"
"YA NGGAK USAH TERIAK!"
"Ehm, non, ini udah sampai." Ucapan pak sopir membuat perdebatan meereka terhenti.
....................
Sore harinya, Aya naik bus seperti biasanya. Sebenarnya Arvi sudah menawarinya untuk pulang bersama, tapi Aya menolaknya dengan halus. Aya juga sadar diri, meskipun Arvi bilang tidak masalah, tetap saja kalau harus mengantar Aya, Arvi pasti kerepotan.
Makanya sekarang Aya sedang berjalan dari halte depan komplek menuju rumahnya. Tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar 200 meter. Dia berjalan santai di sepanjang trotoar sambil sesekali melihat HP-nya. Tersenyum ramah padaa setiap orang yang ditemuinya.
Beberapa meter sebelum sampai rumahnya, Aya melihat sebuah motor yang melewatinya. Dua orang cewek berseragam SMA. Dengan logo sekolah yang sama dengan milik Ivan di lengan kirinya. Aya ingin tidak peduli, tapi saat melihat motor itu berbelok di tikungan yang sama menuju rumahnya, Aya jadi penasaran. Apalagi sesaat kemudian motor matic itu kembali dan hanya ada satu orang yang menaikkinya.
Aya berjalan cepat menuju rumahnya. Dia membuka pintu pagar rumahnya. Dia melihat pintu utama terbuka dan ada sepasang sepatu perempuan di dekat tangga. Setidaknya sampai saat ini, dugaan Aya memang benar. Dua cewek tadi adalah teman Ivan. Tapi kenapa yang satu ini masih disini?
Aya melepas sepatunya kemudian berjalan ke dalam. Dan apa yang dia liht di dalam sungguh membuatnya ingin menangis.
Di ruang depan, ada Ivan dan seorang cewek--yang Aya yakin cewek yang sama dengan cewek yang dia lihat tadi--sedang berciuman. Sekali lagi, mereka ciuman. Tepat di bibir. Dan satu hal yang membuat Aya merasa lebih hancur adalah Ivan menatap dirinya.
__ADS_1
Ya, mata Ivan menatap ke arah Aya.