
"Lo tau, gue bener-bener pengen mukulin lo sampe mati tau nggak?"
Ivan tak menjawab. Dia masih tengkurap dan membenamkan wajahnya di lipatan tangan. Mengabaikan ucapan Arial barusan. Ivan tidak peduli. Dia masih ingin menyesali ucapan bodohnya tadi pada Aya.
"Bunuh orang dosa nggak sih?" timpal Farel.
"Nggak kayaknya," sahut Arial penuh dendam.
Cowok itu benar-benar kesal setengah mati saat Ivan menceritakan apa yang terjadi di rumahnya barusan. Setengah jam yang lalu, Ivan tiba-tiba datang ke rumahnya. Ini hari libur, bukan hal aneh kalau Ivan pergi ke rumahnya. Yang aneh adalah muka Ivan yang terlihat kusut. Makanya Arial mencoba bertanya dan alasannya benar-benar membuat Arial dan Farel yang mendengarnya ingin membunuh Ivan saat itu juga.
"Bantuin kek, kasih saran gitu," rengek Ivan.
Farek reflek melemparnya dengan putung rokok saat melihat wajah menjijikkan Ivan.
"Saran gue mending lo bunuh diri," jawab Farel asal. "Biar kita nggak ribet juga."
"Anjing lo!" umpat Ivan. Dia bangkit duduk dan menatap kedua temannya dengan wajah memelas.
"Lo yang anjing. Lo kalau udah goblok, ya goblok aja. Nggak usah tolol sama bego diembat juga," sungut Arial. "Kalau gue jadi Aya, nggak akan gue suka sama cowok kek lo."
"Gila sih lo, udah 3 bulan yang lalu lo tolak, sekarang lo malah ngomong kayak gitu ke Aya," tambah Farel.
"Bantuuuiiinnn," ujar Ivan memelas.
"Nggak ada bisa dibantuin juga. Salah siapa lo bilang kalau udah nggak suka sama Aya."
"GUE SUKA SAMA AYA ANJING, UDAH DARI JAMAN SD."
"Terus?"
"Nggak tau:("
"Halal dipukul kok, Rel."
Ivan kembali bergulingan di karpet. Mereka sekarang berkumpul di kamar Arial. Niat dia datang kesini sebenarnya ingin meminta saran, tapi tidak ada gunanya. Siapa yang mau memberi saran pada Ivan kalau semua itu berasal dari kebodohannya sendiri.
"Ini terus gue gimana?" tanya Ivan. Dia mengubah posisinya menjadi terlentang di atas karpet.
"Nggak tau," jawab Arial dan Farel bersamaan.
"Babi."
Ivan masih mengungsi di rumah Arial hingga siang hari. Tidak ingin pulang kalau Akbar belum pulang sekolah. Meski Arial sudah berusaha untuk mengusirnya, tapi hingga pukul setengah dua belas, Ivan masih nangkring di kamarnya.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar HP Ivan. Dia mengambil HP-nya dengan malas. Lalu melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Akbar
Kak, dimana?
Disuruh kak Aya pulang, soalnya tante Anisa mau kesini siang ini.
Setelah membaca pesan itu, Ivan langsung menoleh ke arah dua temannya.
"Yal? Rel?" panggil Ivan.
"Hmm?"
"Paan?"
"Gue disuruh balik sama Aya. Nyokap gue mau kerumah," jelas Ivan.
"Nah, yaudah balik sono," balas Arial semangat.
__ADS_1
"Kok lo kek ngusir?"
"Emang."
Ivan mengumpat. Dia beralih pada Farel dan berharap temannya memberikan respon yang lebih baik.
"Apa? Saran gue ya lo pulang," ujar Farel santai.
"Terus gue harus gimana kalau ketemu Aya?"
"Biasa aja, kan lo nggak suka sama dia," timpal Arial jengkel.
"Sialan!!"
......................
"Mama kenapa nggak ngabarin aku dulu?"
Ivan baru pulang pukul 13.00. Dia langsung memeluk Mamanya dari belakang saat wanita itu duduk di kursi meja makan. Matanya sesekali melirik ke arah Aya yang lebih sering menunduk. Dan satu hal yang menyakitkan untuknya adalah mata Aya yang masih terlihat sembab.
"Pengennya surprise, tapi ternyata kamu nggak ada. Udah duduk dulu, kita nungguin kamu dari tadi tau."
Ivan justru menggeleng. Dia masih ragu untuk duduk. Bagaimana tidak? Kursi yang masih kosong hanya ada di sebelah Aya.
"Duduk, Ivan!"
Ivan tertawa, kemudian menurut pada Mamanya. Dia duduk di samping Aya dan fokus pada makanannya. Tidak begitu tertarik dengan pembicaraan yang ada. Sampai akhirnya Mamanya mengucapkan hal yang tidak terduga.
"Enak, udah cocok jadi mantu idaman haha."
Ivan menelan ludahnya. Berusaha agar tidak terlalu terkejut dengan berdeham kecil. Justru Aya yang tersedak. Ivan hendak meraih air minum saat Mamanya justru lebih dulu memberi Aya gelasnya.
"Ma, itu gelasku. Udah aku minum juga!" protes Ivan.
Yah, ciuman nggak langsung, lanjutnya dalam hati.
......................
Sore harinya, Ivan lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar.
"Ivan?" panggil Mamanya dari luar.
Ivan mendengus malas. "Masuk aja, Ma. Nggak aku kunci."
"Anak durhaka, bukannya dibukain," ujar Mamanya kesal.
Ivan mendudukkan dirinya di kasur. Dia hanya melirik Mamanya malas. "Kan nggak dikunci," bela Ivan.
"Ya sopan santunmu itu dimana? Minima Mamanya dibukain pintu."
"Halah, biasanya kalau di rumah juga asal masuk kamar. Aku lagi ganti baju juga Mama biasa aja masuk kamar," dengus Ivan.
Ctak!
"Aduh!" Ivan mengaduh kesakitan saat kepalanya di pukul pelan oleh sang Mama.
"Ck, kamu nggak mau cerita gitu sama Mama?"
"Cerita apa?"
"Ya nggak tau, kan kamu yang mau cerita."
Ivan diam. Meski di dalam hati sudah mengeluarkan berbagai umpatan. Mau diumpat secara langsung tapi takut dikutuk jadi anjing.
"Ivan suruh cerita apa Mama? Kan, kalau soal kegiatan Ivan selama seminggu ini tadi udah," kata Ivan sok-sokan lembut.
__ADS_1
"Kamu ada apa sama Aya?" tanya Mamanya curiga.
Yah, insting seorang ibu terhadap anaknya memang berbeda. Langsung pada intinya dan tidak basa-basi.
Ivan menghela napas pelan. Berpikir sejenak untuk bercerita pada Mamanya.
"Ma, aku mau cerita tapi Mama jangan marah," ujar Ivan akhirnya.
"Nggak janji."
"Janji dulu," desak Ivan.
"Iya, cepeten mau cerita apa?"
"Aku suka sama Aya, bentar jangan dipotong," kata Ivan memulai ceritanya.
"Mama udah tau," balas Mamanya santai. "Oke, lanjut."
"Udah dari lama, terus..."
Ivan memulai ceritanya. Dia merebahkan diri di pangkuan Mamanya saat bercerita. Berkali-kali Mamanya berusaha memotong atau protes. Sampai akhirnya Ivan bercerita kejadian tadi pagi.
"Ivan," panggil Mamanya lembut. Tangannya mengusap rambut Ivan dengan penuh sayang.
Ivan menatap Mamanya dari bawah. Kok, gue curiga ya, batin Ivan.
"Kamu mau nyoret sendiri namamu di KK, atau Mama yang nyoret namamu, hmm?"
Ivan langsung bangkit dari tidurnya. Menatap Mamanya horor. "Tadi Mama udah janji nggak bakal marah!"
"Iya, Mama nggak marah. Cuma mau nawarin kamu aja," balas Mamanya sambil tersenyum devil.
"Ma," kata Ivan memelas.
"Ck, apa? Nyesel?"
"Takut kalau dia beneran udah nggak suka sama aku."
"Intinya kamu mau Mama ngapain?"
"Bantuin, tolong bantuin aku biar Aya tetep mau nunggu aku. Nanti biar aku yang nyelesain semuanya."
"Kenapa bukan kamu sendiri yang bilang ke Aya?" tantang Mamanya.
"Ma, pliss. Mama mau kehilangan calon menantu kayak Aya?" Ivan memelas.
"Nggak lah, kalau kamu goblok kayak gini, mending Mama jodohin Aya sama kakakmu."
"MAMA!"
"Ck, iya Mama bantuin. Tapi janji dulu sama Mama kalau nantinya kamu nggak bakal nyakitin Aya lagi. Kalau sekali lagi kamu nyakitin Aya dan Mama tau, awas aja!"
"Iya, aku janji."
..................
"Gimana?"
"Mama udah nyuruh Aya nunggu kamu."
"Dia mau?"
"Nggak tau."
"Yah, Mama. Terus gimana?"
__ADS_1
"Ya, nggak tau. Kamu urus aja sendiri. Mama udah ngelakuin bagian Mama."
"Mama:("