
Pagi ini mendung. Masih di pertengahan bulan Januari yang itu artinya musim penghujan masih berlangsung untuk beberala waktu. Cuaca dingin sejak pagi ditambah dengan hari ini hari minggu membuat Aya malas untuk beraktivitas. Tapi justru karena ini hari libur, Aya masih memiliki banyak tugas hari ini.
Pagi-pagi pukul enam Aya pergi ke dapur. Masih menggunakan pakaian hangat untuk tidur dan belum sempat cuci muka, Aya kemudian menyiapkan bahan untuk sarapan mereka berempat nanti. Hanya membuat roti panggang dan segelas susu sebenarnya. Mengingat Ivan, Akbar, dan Alea itu tidak terbiasa sarapan.
Setelah semuanya siap, Aya pergi ke lantai atas untuk membangunkan tiga orang itu. Aya membuka kamar Ivan yang tidak dikunci. Cowok itu masih meringkuk dibalik selimut. Aya tersenyum dan berjalan ke arahnya.
"Ivan, bangun yuk!" panggil Aya pelan. Dia menyibak selimut Ivan dan membuat cowok itu menggeliat pelan.
"Hngg, Sayang?" ujar Ivan dengan suara serak.
Aya mengulum bibirnya. Masih belum terbiasa dengan panggilan Ivan untuknya. Dan hal itu selalu berhasil untuk membuat pipi Aya memanas karena malu.
Aya mengusap lembut dahi Ivan dan merasakan tubuh kekasihnya itu sudah tak sepanas tadi malam. "Masih pusing?" tanyanya.
Ivan justru merapatkan tubuhnya ke tubuh Aya. Memeluk pinggang cewek itu dari samping. "Nggak, tapi pilek," jawabnya.
"Yaudah, bangun dulu yuk, sarapan habis itu minum obat," kata Aya.
Ivan menggeleng. Mengusakkan wajahnya di perut Aya.
"Mau aku bawain kesini sarapannya?" tawar Aya.
"Nggak mau, maunya peluk kamu aja," ujar Ivan manja.
Aya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini pertama kalinya dia melihat Ivan sakit. Dia tidak menyangka kalau Ivan akan semanja ini kalau sedang sakit.
"Aku harus bersihin rumah tau," kata Aya.
"Nggak boleh." Ivan menatap Aya dari bawah. Melengkungkan bibirnya sedih.
"Manja," cibir Aya. "Udah lepasin dulu, aku mau bangunin Alea sana Akbar dulu, habis itu aku bawain sarapan kamu kesini."
"Kamu udah sembuh emangnya?" tanya Ivan.
"Udah, cuma tinggal pilek sama pusing dikit," jawab Aya.
"Yaudah bobo aja."
"Maunya gitu, tapi aku masih punya beberapa tanggung jawab," ujar Aya. "Ini aku lepasin dulu." Aya berusaha melepaskan tangan Ivan yang memeluk erat pinggangnya.
Ivan merengut. Tapi kemudian melepaskan pelukannya. Beranjak duduk dan menatap Aya lekat. "Cium dulu," ujarnya manja.
Sebagai balasannya, Aya menepuk bibir Ivan pelan kemudian beranjak pergi. "Tunggu bentar nanti aku kesini lagi," ujarnya.
"Sayang!"
Aya tidak peduli dan tetap berjalan keluar kamar. Tapi begitu keluar kamar Ivan, sudah ada Alea yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah khas bangun tidur.
"Hmm, mentang-mentang udah jadi pacarnya, sekarang yang dibangunin pertama kak Ivan, yee." Alea menguap lebar. Menyindir Aya yang baru saja keluar kamar.
"Kamu kalau mau dibangunin sama Akbar nanti aku bilangin," jawab Aya santai.
"Ya."
Aya tertawa sekilas. "Kalau gitu bisa minta tolong bangunin Akbar nggak?"
"Nggak salah kak Aya nyuruh aku buat bangunin Akbar?" Alea balik bertanya.
"Aku udah berbaik hati ngasih kamu kesempatan biar bisa lebih deket sama Akbar loh," ujar Aya.
"Nggak dulu, makasih." Setelah berujar demikian Alea langsung berbalik pergi. Tapi Aya sudah langsung menarik pergelangan tangan Alea kuat.
"Belum pernah liat muka Akbar pas bangun tidur secara langsung, kan?"
__ADS_1
Alea memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Aya.
"Bangunin sana, aku tunggu di meja makan."
Aya mengerling pada Alea sebelum dirinya pergi ke lantai bawah. Sementara Alea hanya bisa menghela napas pasrah meski diam-diam dia sedang berusaha mengutkan hati.
......................
"Kak Ivan nggak ikut sarapan, kak?" tanya Akbar di tengah acara sarapan mereka bertiga.
Aya menggeleng. "Nggak, sakit dia."
"Kak Aya udah nggak sakit?" tanya Alea ambigu.
Aya memicing curiga. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat Alea. Tapi karena Alea yang mengatakannya, Aya jadi tidak bisa berpikir jernih. Pokoknya kalau sama Alea, Aya hanya ingin bernegatif thinking.
"Ya gini, masih pilek sama pusing," jawab Aya akhirnya.
"Tau, bukan yang itu tapi," ujar Alea sambil menahan tawa. "Udah nggak sakit kak, yang bawah?"
Akbar yang mendengar itu ikut tertawa. "Sumpah bukan aku yang ngajarin, kak."
"Bacot," umpat Aya.
Akbar dan Alea tertawa melihat muka masam Aya.
"Kalian habis ini cuci piring ya," ujar Aya tiba-tiba. "Nggak boleh protes, habis itu kalian bersih-bersih rumah kayak biasa."
"Kak," keluh Alea.
"Terus kak Aya ngapain habis ini?" tanya Akbar.
"Nyuci baju sama nyetrikain seragam kalian," jawab Aya.
"Iya aku liatin entar."
"Dih."
Ting tong!
Terdengar suara bel rumah. Aya mengernyit, seingatnya Mamanya atau yang lain tidak bilang kalau akan kesini.
"Biar aku aja yang buka, kalian kalau udah selesai langsung cuci piring. Oh iya, itu yang ada di piring sendiri punya Ivan," kata Aya. Kemudian beranjak ke halaman rumah.
Langit terlihat mendung dan mungkin sebentar lagi akan hujan. Makanya Aya heran juga siapa yang mau bertamu di tengah cuaca yang sedang tudak bagus seperti ini.
"Hai!"
Begitu Aya membuka pagar rumahnya, dia langsung disambut oleh Arial dan Farel.
"Oh, hai," balas Aya sedikit kaku. Maklum saja, mereka baru dua kali ini bertemu secara langsung.
"Ivan ada di dalem, kak?" tanya Arial. Bagaimanapun juga mereka lebih muda daripada Aya.
"Iya, di kamar. Lagi sakit," balas Aya.
"Bisa sakit juga dia, pantes semalem nggak ke tongkrongan," ujar Farel.
Aya tertawa kecil. Kemudian mempersilahkan dua cowok itu untuk masuk ke dalam rumah. Mengantar mereka ke kamar Ivan.
"Dia di dalem, masuk aja, aku mau ke dapur dulu," kata Aya setelah sampai di depan kamar Ivan.
Arial dan Farel mengangguk sekilas. Arial membuka pintu kamar Ivan yang memang tidak dikunci. Mereka bisa melihat Ivan yang masih meringkuk di balik selimut.
__ADS_1
"Weh, sakit lo?" Arial menjatuhkan dirinya ke atas kasur Ivan.
"Anjing!" Ivan mengerang. Merasakan kepalanya berdenyut sakit saat ranjangnya bergoyang karena Arial.
"Lo kenapa bisa sakit deh?"
Untungnya masih ada Farel yang sedikit lebih waras dibandingkan dengan Ivan dan Arial. Jadi dia duduk di kursi meja belajar Ivan yang sudah dia seret ke dekat kasur.
"Lo berdua ngapain disini, anjing," dengus Ivan.
"Udah dijenguk bukannya bilang makasih," sinis Arial.
"Hmm, Aya mana?"
Farel mencibir. "Di dapur, lo nggak ditolak Aya kan, sampe bisa sakit kek gini?"
Sebagai balasannya, Ivan justru menyeringai lebar. Membuat kedua temannya bergidik ngeri. "Haha, yakali gue ditolak," tawanya.
"Beneran jadi lo sama Aya?" Arial melotot.
Ivan mengangguk bangga. "Iya dong."
"Anjir, kok Aya mau sih, sama modelan kek lo?" heran Farel.
Mendengar itu, Ivan langsung melempar bantal miliknya ke arah Farel. Membuat Farel berteriak protes. Dia hendak menerjang Ivan sebelum Arial mencegahnya.
"Bentar, gue penasaran Aya lo apain kemarin malem?" tanya Arial.
Ivan bangkit duduk. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala kasur. "Ya gitu, gue lepas kendali." Ivan mengangkat bahunya.
"Heh, bangsat. Lo nggak making love sama Aya, kan?" desis Farel.
"Sayangnya iya," jawab Ivan.
"Bajingan, lo mah emang bajingan. Gila lo ngerusak Aya," tunjuk Arial kesal. Ada nada marah di kalimatnya.
"Aya suka, njing. Darimananya gue ngerusak Aya?"
"Lo aja yang nafsuan," dengus Farel.
"Aya nggak nolak sumpah. Dia nyerahin diri," bela Ivan.
Arial tak tahan untuk tidak memukul Ivan. Dia memukul belakang kepala Ivan sedikit keras. Membuat Ivan reflek mengumlat keras saat merasakan kepalanya semakin sakit.
"Heh goblok, bukan berarti karena dia keliatan suka, terus dia beneran suka sama apa yang lo lakuin ke dia," kata Arial.
"Dia ngejaga kehormatannya selama ini dan lo seenaknya ngambil saat kalian baru aja jadian, bangsat emang lo mah," imbuh Farel kesal. Dia sudah meremat bantal milik Ivan sebagai pelampiasan amarahnya pada Ivan.
"Lo keluar dimana? Berapa kali?"
Ivan mengumpat pelan mendengar pertanyaan temannya. "Di dalem mungkin? Gue nggak tau berapa kali tapi kemarin pagi gue ngelakuin lagi."
"Si bangsat, lo nggak mikir kedepannya? Gimana kalau Aya hamil?" tanya Arial.
"Gue bakalan tanggung jawab kalau Aya hamil." Ivan memijit pelipisnya.
"Bukan masalah tanggung jawabnya doang goblok, Aya udah kelas dua belas dan hampir lulus. Masa depannya yang jadi taruhan," geram Farel.
Ivan terdiam. Farel dan Arial benar. Bagaimana kalau Aya sampai hamil? Dia bukannya tidak mau bertanggung jawab, tapi bagaimana dengan masa depan Aya. Dia sama sekali tidak memikirkannya sebelum ini.
"Terus gue harus gimana?" tanya Ivan setelah terdiam lama.
"Kita nggak tau, liat aja kedepannya gimana."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...