
Begitu sampai di rumah, Aya langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Kakinya masih nenggantung di pinggiran kasur. Dia masih memakai seragam identitasnya dan terlalu malas untuk mengganti baju. Bahkan terlalu lelah untuk sekedar menutup pintu kamar yang masih terbuka lebar. Toh tidak ada siapapun dirumahnya sekarang.
Aya meraih bantal di dekatnya. Kemudian berguling ke samping dan membenamkan wajahnya di bantal. Menangis pelan. Lama-kelamaan tangisan itu semakin keras dan membuat tubuhnya bergetar pelan.
"Hiks, mau berhenti suka sama Ivan," monolog Aya tak jelas. Suaranya teredam di balik bantal.
"Kenapa?" Terdengar suara seseorang di pintu kamar Aya.
"Hiks hiks...kok kayak denger suara Ivan?" Aya masih tengkurap. Tangisannya justru semakin keras.
"Ck, gue beli bubur buat lo, ada di meja makan."
Aya menegakkan tubuhnya. Posisi dia membelakangi pintu. Tubuhnya masih tersengal dengan air mata yang masih sesekali mengalir di pipinya. Dia merasa kepalanya semakin sakit dan matanya berkunang-kunang.
"Duh, keknya sakitnya makin parah, mana sampe denger suaranya Ivan juga."
Setelah itu Aya langsung ambruk di kasurnya. Pingsan.
..........
Aya tidak tahu berapa lama dia tertidur. Atau lebih tepatnya pingsan. Yang dia ingat terakhir kali adalah dia tiduran sambil menangis. Dan sekarang sudah pukul sepuluh. Tubuhnya sudah tiduran dengan benar di kasur. Pintu kamarnya sudah tertutup.
Aya perlahan bangkit dari tidurnya. "Perasaan tadi pintunya kebuka, deh. Apa aku tidur sambil jalan, ya?"
Aya mengusap dahinya. Saat itu juga dia sadar kalau ada sesuatu di dahinya. Dia segera meraih HP-nya yang ada di nakas. Kembali dia dibuat heran dengan semangkuk bubur dan segelas susu di atas nakas.
"Ini sebenernya aku sakit apa gila, sih? Gimana ceritanya ada bubur, susu, terus ini kompresan?"
Aya membuka HP-nya dan ingin bertanya pada Alea. Tapi kemudian dia sadar kalau Aya sekolah dan tidak membawa HP. Tiba-tiba muncul notofikasi dari aplikasi instagram.
@Aerialarm baru saja menambahkan cerita
Itu akun instagram temannya Ivan. Aya tidak begitu penasaran sebenarnya. Tapi kemudian dia teringat kalau Arial sering mengupload sebuah story berupa fotonya yang seringnya bersama Ivan. Aya jadi penasaran juga. Kalau semisal itu tentang kejadian tadi pagi, mungkin Aya bisa sekalian cari informasi. Iya, Aya itu masokis. Suka sekali mencari penyakit hati.
Aya membukanya. Dengan secret account tentunya. Hanya ada satu video yang direkam dari lantai atas. Memperlihatkan seseorang yang sedang berlari mengitari lapangan. Dengan backsound tawa mengejek dan sorak-sorakan laki-laki dan perempuan di sekitarnya. Aya mendekatkan HP-nya dan baru dia sadar kalau orang yang berlarian di lapangan itu adalah Ivan. Dan ada sebuah kalimat di video itu.
'Haha, yg dihukum gegara telat masuk sekolah karna harus beliin bubur sama ngompres pacarnya yang sakit dulu. Semangat, pak @ivanrai__'
Aya meremat kuat HP-nya setelah membaca tulisan itu. Kepalanya kembali pusing dan membuat Aya tak kuat duduk. Dia kembali merebahkan dirinya. Sekali lagi dia membuka instagram story milik Arial dan berulang kali membaca kalimat di video itu.
"Bentar-bentar, pacarnya Ivan sakit? Perasaan tadi pagi mereka ketemuan deh," gumam Aya. Itu kalau ada Alea, pasti kepala Aya sudah dipukul.
"Atau tadi temennya pacarnya Ivan? Terus ngasih tahu kalau pacarnya Ivan sakit?" Aya masih sibuk menduga-duga.
__ADS_1
"Eh, tapi cewek tadi itu sama deh, kayak cewek yang kemarin." Aya merengut di akhir kalimatnya.
"Katanya pacarnya Ivan sakit. Mana dibeliin bubur sama di kompres. Hiks, aku juga pengen, aku lagi sakit juga." Aya menggulingkan tubuhnya kesana kemari di atas kasur. Matanya kembali memanas dan siap untuk menangis lagi saat dia tiba-tiba tersadar akan suatu hal.
"BENTARR!!" Aya mendudukkan dirinya dengan cepat. Peduli amat sekarang kepalanya makin sakit.
"Bubur sama kompresan...bubur sama kompresan...terus itu bubur sama susu, ini di dahiku ada kompresan. Bentar, Arial bilang bubur sama kompresan...," ulang Aya bingung.
Aya menopang dagunya. Otaknya tiba-tiba tidak bisa diajak kerjasama. Hingga akhirnya...
"WEH, ANJEENGGG!!" teriak Aya. "INI NGGAK MUNGKIN YANG DIMAKSUD ARIAL ITU GUE, KAN?" Aya menggeleng-gelengkan kepalanya kuat sambil menepuk-nepuk pipinya. Membuat dia meringis setelahnya karena kepalanya makin pusing.
"Haduduh, gila gue. Kegeeran banget astaga. Sshhh...pusing banget huhu, mau bobo lagi aja," kata Aya. Kemudian dia merebahkan dirinya lagi dengan perlahan.
......................
Aya berjalan perlahan menuju pintu kamar dan membukanya pelan. Di tangan kirinya ada nampan berisi gelas kosong dan mangkuk kosong. Bekas mangkuk dan susu tadi. Baru saja dia makan meski bubur dan susu itu sudah dingin.
Cklek!
"WEH, SETAN!"
Aya nyaris menjatuhkan nampan yang dipegangnya saat mendengar suara teriakan Akbar. Aya lupa kalau sekarang sudah jam pulang Akbar dan Alea. Ditambah mereka berdua tidak tahu kalau Aya tidak berangkat sekolah hari ini. Wajar kalau Akbar terkejut kalau Aya tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Tuh, Akbar. Kaget dia," sahut Aya.
"Kak Aya pulang jam berapa, deh?" tanya Akbar. Dia menatap Aya yang masih memakai seragam dengan heran.
"Aku nggak sekolah, habis nganterin kamu tadi langsung pulang. Belum sempet ganti baju soalnya pusing banget."
Alea beringsut mendekat. Dia meletakkan punggung tangannya di dahi Aya yang masih ada plester penurun demam. "Panas banget," ujarnya.
"Nah, kan, dibilangin tadi nggak usah sekolah. Kak Aya nggak makin parah gara-gara masalah tadi pagi, kan?" Duh, Akbar dan mulut licinnya.
"Sshhh...Al bisa minta tolong taruh ini di bak cuci nggak? Aku nggak kuat jalan sampai bawah," ucap Aya mengalihkan pembicaraan. Dia menyodorkan nampan yang dibawanya ke arah Alea.
Tanpa menunggu respon Alea, Aya segera berbalik dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Akbar dan Alea yang masih berada di depan pintu dengan tatapan bertanya.
Beberapa nenit kemudian, Alea dan Akbar masuk ke dalam kamar Aya. Mereka sudah berganti dengan pakaian biasa. Kemudian mendudukkan diri di kursi kecil dekat ranjang Aya.
"Nggak ganti baju dulu, kak?" tanya Akbar.
Aya yang sedang tiduran menggeleng pelan. "Males, pusing."
__ADS_1
"Kak Aya nggak papa?" tanya Akbar sekali lagi dan membuat dia mendapat geplakan sayang di kepalanya dari Alea.
"Aku nggak tau kamu tuh, buta apa gimana. Tapi ini kak Aya jelas sakit, mukanya pucet kek mayat gitu, masih ditanyain nggak papa," sinis Alea.
"Yee, bukan itu yang aku maksud." Akbar mengelus belakang kepalanya yang baru saja dipukul Alea. "Aku mau nanya, kak Aya itu nggak papa setelah liat kak Ivan tadi pagi?"
"Ck, makanya kalau ngomong pake konteks," sungut Alea.
"Kamu yang lemot, nggak peka," balas Akbar tidak terima.
"Kok ngatain?"
"Ya kan, kenyataan."
"Aku nggak papa," potong Aya memutus perdebatan Akbar dan Alea. Makin pusing dia kalau mendengar dua orang itu berdebat tanpa henti.
"Emang tadi pagi kak Ivan kenapa? Kok aku nggak tau." Alea menoleh ke arah Aya.
"Nggak kenapa-kenapa, tadi pagi aku liat dia di cafe deket sekolah dia. Cuma itu." Aya mengangkat bahunya.
"Sama cewek yang kemarin," tambah Akbar.
Aya melotot ke arah Akbar. Sedangkan yang ditatap hanya menyeringai lebar.
"Yang cium--"
"Iya, tapi nggak papa dong, kan sama pacarnya," potong Aya cepat.
"Bukan pacarnya kak Ivan itu," sangkal Akbar.
"Kalau bukan kenapa sampe ciuman? Mana di bibir pula." Alea menatap Akbar galak.
Aya menghela napas lelah. Susah kalau punya teman mulutnya tidak memiliki sensor.
"Pernah liat kak Ivan ngepost foto sama cewe?" tanya Akbar.
"Pernah, sama temen-temen sekelas sih, tapi tangannya Ivan ditaruh di paha salah satu temen cewenya," jawab Aya.
"Nggak ditaruh di atas pahanya itu. Cuma di depannya. Gara-gara kamera yang bikin seolah-olah di atas paha," elak Akbar. Kenapa jadi dia yang ngotot?
"Intinya cewek yang kemarin itu pacarnya kak Ivan," dengus Alea. "Mana ada temen yang ciuman di bibir."
"BUKAN TAU, KAK IVAN NGGAK PUNYA PACAR. DIA SUKANYA SAMA--"
__ADS_1
Ting Tong!