
Aya menggeliat pelan. Cahaya matahari yang masuk lewat sela-sela korden membuatnya terganggu. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Ivan. Menyamankan posisinya di pelukan cowok itu. Baru saja dia ingin kembali terlelap, Aya sadar akan sesuatu.
"****!" Aya bangkit dari tidurnya dengan cepat. "Sshhh, yang tadi malem itu beneran?" Aya meringis saat merasakan sakit di inti tubuhnya.
Aya menarik selimutnya ke atas guna menutupi tubuh polosnya. Dia menoleh ke samping dan melihat Ivan masih tidur pulas dengan kondisi yang sama dengannya, yaitu telanjang. Aya mengalihkan pandangannya. Dia mulai menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Lo udah gila, Ya. Lo gila, Lo--"
"Aya?"
Mampus, batin Aya. Dia segera merebahkan dirinya lagi lalu pura-pura masih tidur saat mendengar suara Ivan. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lalu memunggungi Ivan.
Tangan Ivan justru meraih pinggang Aya dan menariknya. Ivan memeluk tubuh Aya dari belakang sambil sesekali mengecupi bahu polos Aya. Menambah tanda kepemilikkannya disana.
"Good morning, baby," ujarnya serak. "Aku tau kamu udah bangun," lanjutnya.
Aya masih diam bebetapa detik setelahnya. Dia juga masih heran kenapa Ivan tiba-tiba mengganti gaya bicaranya.
"Van, kita beneran..." lirih Aya menggantung.
Ivan berdeham mengiyakan di belakangnya.
"Kenapa?" tanya Aya semakin pelan.
"Hmm? Apanya yang kenapa?"
Aya menggeleng. Dia justru menarik diri dari pelukan Ivan. Aya masih memunggungi cowok itu dan tidak berani menghadap ke belakang. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Ada banyak dugaan buruk di kepalanya sekarang.
"Eh, kenapa nangis? Hadap sini coba?" Ivan memaksa tubuh Aya untuk berbalik.
Ivan tersenyum gemas saat melihat bibir mungil Aya yang mengeluarkan isakan kecil. Belum lagi hidungnya yang memerah dan pipi tembamnya yang basah oleh air mata. Ivan segera menarik Aya ke dalam pelukannya. Mengusap punggung Aya dengan penuh kasih sayang.
"Hey, aku ngelakuin itu bukan semata-mata karena aku mabuk tadi malem. Aku bahkan sadar seratus persen waktu ngelakuin hal itu sama kamu. Aku udah bilang aku suka sama kamu, aku nggak akan ninggalin kamu," bisik Ivan tepat di telinga Aya.
"Aku...hiks, aku takut," kata Aya.
"Takut kenapa? Aku bakalan tanggung jawab kalau ada apa-apa sama kamu. Aku minta maaf kalau aku maksa kamu tadi malem, tapi kamu kayak suka dan nyerahin diri kamu gitu aja tadi malem. Aku mana kuat."
Mendengar itu, pipi Aya memanas. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Dia memukul bahu Ivan agak keras membuat Ivan tertawa sambil melepas pelukannya.
Cup
Ivan mengecup bibir Aya cepat. Membuat pipi Aya semakin panas.
"Manis kayak orangnya," kata Ivan.
"Oh iya, sekarang jam berapa?" Dia melirik jam tangan yang dia pakai. "Jam setengah delapan. Akbar sama Alea juga udah berangkat pasti. Mumpung libur mau bobo lagi? Kita baru tidur jam tiga tadi. Atau mau dilanjut yang semalem?" lanjut Ivan menggoda.
Aya melotot sambil mencubit perut Ivan. Cowok itu memekik kecil sambil mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
"Aku mau mandi," ujar Aya.
"Mandi? Mau bareng aja nggak biar lebih cepet?" tawar Ivan.
Aya sudah mengangkat tangannya guna memukul Ivan lagi. Tapi Ivan segera bangkit dari kasur dan meraih celana pendeknya yang ada di lantai. Melihat itu Aya langsung memalingkan wajahnya. Tolong ingatkan Ivan kalau dia masih telanjang.
"Kan kamu juga udah ngeliat semuanya, Ay," kata Ivan sambil memakai celananya.
"Bodo amat," sahut Aya kesal.
"Yaudah, ayo turun. Katanya mau mandi?"
"Ambilin baju dulu, kek. Yakali aku ke kamar mandi pake selimut gini," bentak Aya. Nah, kan galaknya jadi keluar.
"Nggak usah pake baju, kan mau mandi juga. Lagian aku udah liat semuanya, udah nyicipin juga," goda Ivan.
"IVAN!" teriak Aya. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.
"Wajahnya merah tuh, haha. Udah turun aja."
"Lo pikir gampang? Punya gue sakit, anjing!" umpat Aya. Bagian bawah tubuhnya memang sangat sakit sekarang. Dia mungkin akan kesusahan berjalan.
Ivan tertawa. Dia mendekati Aya lalu secara tiba-tiba mengangkat tubuh Aya secara bridal style. Kemudian membawanya ke kamar mandi. Membuat tubuh telanjang Aya terekspos.
"IVAN!" teriak Aya. Dia mengalungkan tangannya dan membenamkan wajahnya di leher Ivan.
"Ck, turunin gue."
"Emang bisa jalan?"
"Aku malu," cicit Aya.
"Malu kenapa? Cuma kita berdua disini."
Ivan menurunkan tubuh Aya di bathub yang sudah terisi air. Aya menekuk lututnya lalu menyilangkan tangannya di depan dada. Sementara Ivan melepas celananya kemudian ikut masuk ke dalam bathub. Cowok itu mendekat ke arah Aya.
"IVAN LO MAU NGAPAIN ANJING!"
"Sssttt, kita lanjutin yang semalem, ya?"
......................
Setelah kegiatan panas mereka di kamar mandi tadi, sekarang Aya sedang bermalas-malasan di kamar Ivan. Ivan duduk di depannya dan bersandar pada kepala kasur. Lalu Aya duduk dipangkuannya.
"Huatchim!" Aya mengusap hidungnya yang memerah setelah bersin.
"Badan kamu kenapa panas lagi sih, Ay?"
"Menurutmu? Berapa jam kita di kamar mandi barusan?" sindir Aya.
__ADS_1
Ivan nyengir kuda. Sekarang sudah pukul setengah sebelas. Dan kegiatan mereka baru selesai setengah jam yang lalu. Itu artinya mereka di kamar mandi selama dua jam setengah.
"Ya maaf, habisnya kamu en—"
"Nggak usah dilanjutin," potong Aya. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Ivan untuk mencari kehangatan.
Ivan membenarkan posisinya agar Aya menjadi lebih nyaman. Dia memeluk Aya dan membiarkan Aya untuk bersandar di dadanya.
"Dingin," gumam Aya.
Ivan membenarkan letak selimutnya agar bisa menutupi tubuh Aya. Dia semakin erat memeluk Aya dan sesekali mengecup pucuk kepala Aya.
"Tubuh kamu kenapa ikut panas?" Aya menatap Ivan dari bawah.
"Nggak tuh."
"Panas, sama panasnya kayak aku." Aya menangkup pipi Ivan dan merasakan suhu badan Ivan meningkat.
"Itu karena tangan kamu yang panas."
"Ck, kamu demam. Ih, suruh siapa nyium bibir aku padahal aku masih sakit. Terus tadi juga tidur nggak pake baju. Habis itu malah berjam-jam di kamar mandi." Aya mendumal kesal. Tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
Ivan hanya tertawa kecil mendengar ucapan Aya. Kemudian dia mengecup bibir Aya dan ********** sebentar.
"Heh, nanti ketularan." Aya memukul bahu Ivan pelan.
"Ya kan emang udah ketularan."
"Oh, iya."
Ivan mencubit hidung Aya gemas. Kemudian kembali merengkuh tubuh Aya dan memeluknya. "Yaudah, bobo lagi aja ya, sekarang."
Aya menurut. Dia membenarkan posisinya di pelukan Ivan. Menyamankan posisinya yang bersandar pada dada bidang cowok itu.
"Ehm, Ivan. Aku boleh nanya sesuatu?" kata Aya setelah terdiam beberapa saat.
Ivan bergumam pendek dengan mata tertutup. Mempersilahkan Aya untuk melanjutkan ucapannya.
"Kamu...kamu beneran suka sama aku?" tanya Aya yang semakin pelan di ujung kalimatnya.
Ivan membuka matanya. "Kenapa nanya kayak gitu?"
"Kalau kamu emang suka sama aku, kenapa selama ini kamu bersikap seolah kamu nggak suka sama aku? Kenapa kamu bersikap aneh dan malah narik ulur aku?"
Ivan tidak menjawab. Dia masih menatap manik mata Aya yang menatapnya penuh harap. Sampai kemudian dia bersuara.
"Kamu mau denger penjelasanku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1