
Beberapa hari sebelumnya, Raka sangat jarang menghubungi indah, kalaupun Indah yang terlebih dahulu menghubungi, Raka pasti hanya berbicara dengan singkat lalu memutuskan telpon, kalau Indah mengirimkan sebuah pesan chat, maka Raka membalasnya dengan singkat saja bahkan Raka tidak pernah menemui Indah kecuali pada saat ia hendak mengantarkan uang untuk membayar baju pesanan Indah dan pada saat ia hendak mengambil baju miliknya yang dipesankan oleh Indah, ya hanya pada saat itu saja. Akan tetapi, tidak dengan akhir-akhir ini, akhir-akhir ini Raka lebih sering menemui Indah dan selalu memanjakannya.
Hari itu, pada tanggal 23 maret, Indah dan Raka kembali mengunjungi sebuah taman yang sangat berarti bagi kisah hubungan mereka. Dibawah pohon yang sama pada saat mereka pertama kali menyatukan hati mereka. Dibawah pohon itu menjadi tempat mereka mengobrol, saling bertukar kebahagiaan suka maupun duka.
Hari itu mereka kembali berpiknik disana, dengan menikmati cemilan kesukaan mereka yaitu bakso bakar dan dua botol air mineral, mereka bersantai duduk bersebelahan dibawah pohon itu.
"Ka, panggil Indah dengan manja.
" Iya, kenapa? Tanya Raka dengan senyum yang mengembang dari kedua belah pipinya yang gemuk.
"Kenapasih akhir-akhir ini kamu tu aneh banget? Tanya Indah yang membuat mata Raka terbelalak seakan hendak keluar dari tempatnya.
" Udah ya sayang, gak usah bahas masalah itu lagi ya. Ujar Raka yang enggan membahas pertanyaan dari Indah. "Ndah, kita lanjut makan aja ya. " Nanti suatu saat kamu juga akan ngerti kok.
Indah yang tak mendapatkan jawaban dari Raka hanya bisa mengangguk, ia tak ingin merusak momen kebersamaan mereka dengan terus bertanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau aku suap? Tanya Raka kepada Indah menawarkan diri untuk menyuapi Indah. " Yang, ini suapan terakhir,sebelum aku pergi. Dengan bersusah payah Raka melanjutkan ucapannya dan dengan sekuat mungkin ia menahan air mata yang hendak keluar dari balik kelopak matanya.
Sedangkan Indah hanya mengangguk tersenyum, sembari menahan air mata haru bahagia. " Akhirnya Raka ku kembali lagi, gumam Indah lirih didalam hati.
"Sayang, ayo kita selfie sambil saling suap, untuk kenangan. Ujar raka sembari mengarahkan kamera depan handphone nya kearah mereka.
Hari itu, mereka lalui bersama dengan penuh canda tawa. Raka kembali bersikap seperti biasanya, hanya saja wajahnya yang Datar dan sendu masih bisa terlihat oleh mata.
"Sudah sore, kita pulang yuk. Ajak Raka kepada Indah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Sesampainya mereka dirumah Indah, Raka pamit untuk pulang kerumahnya.
"Sayang, aku pulang dulu ya. Ujar Raka dengan lemah lembut dan dengan tatapan penuh kasih sayang.
" Iya, Hati-hati ya, Pesan raka kepada Indah.
__ADS_1
"Iya sayang, jaga diri kamu baik-baik ya. Lagi-lagi pesan itu yang keluar dari mulut Raka.
" Kamu jangan bandel ya! Ujar Raka sembari mengusap puncak kepala Indah.
"Iya, jawab indah dengan singkat dan tersenyum.
Sore itu Raka pamit pulang dengan melambaikan tangan yang dibalas dengan lambaian pula oleh Indah. Entah kenapa, sore itu Indah sangat berat melepas kepergian Raka untuk pulang kerumahnya. Rasnya Indah sangat ingin menghabiskan waktu bersama Raka lebih lama lagi. Entah kenapa, kerinduan Indah terhadap Raka tak bisa dihapuskan lagi meskipun hari itu mereka menghabiskan waktu seharian hanya berdua saja.
Pada malam harinya, indah sedang berbaring dikamarnya, ia sedang meng scroll beranda Facebook nya. Gerakan jarinya yang mengusap layar handphone nya terhenti tepat pada postingan Raka, ia memandangi postingan Raka yang mengunggah poto mereka sedang saling menyuapi bakso bakar satu sama lain. Raka mengunggah poto mereka ditaman tadi siang dengan caption:
"SUAPAN TERAKHIR UNTUK INDAH"
😍😍😍😘MY LOVELY😘😍😍😍
😢😢😢😢
__ADS_1
Entah kenapa disaat memandangi dan membaca unggahan Raka, hati indah seperti merasakan sebuah firasat yang belum ia mengerti maknanya. Indah merasa sangat takut akan kepergian Raka, tapi ia tak menghiraukan perasaannya itu, ia pikir mungkin saja ia terbawa suasana, karena Raka hendak pergi meninggalkannya untuk berkuliah di tempat yang jauh darinya, itulah sebabnya ia tetap berusaha tenang.