
Menurut keterangan dan data dari Tari, akhirnya polisi meringkus juragan Baron beserta ke empat anak buahnya. Akhirnya kasus pembunuhan terhadap Almarhum Raka terungkap juga. Indah menangis histeris pada saat menyaksikan rekonstruksi ulang kasus pembunuhan yang didalangi oleh juragan Baron yang dibantu oleh Tari teman Indah sendiri. Saat itu, hati Indah terasa seperti tersayat sayat ketika mengetahui bahwa Tari lah yang sudah membantu rencana pembunuhan kekasihnya itu. Indah sangat hancur dan merasa iba mengingat kematian Raka yang sangat tragis, apa lagi pada saat ia menyaksikan rekonstruksi ulang kasus pembunuhan kekasihnya tersebut, ia jadi tau bahwa kepala Raka terpecah dikarenakan oleh hantaman batu besar. Indah tak sanggup membayangkan betapa tersiksa nya kekasihnya itu pada saat mereka memukuli kepalanya. Indah terus menangis, menyebut-nyebut nama Raka tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
Disisi lain, kedua orang tua Tari juga sedang menangis meratapi kebodohan mereka. Mereka menyesal sudah terpedaya oleh Juragan Baron. Apalagi pada saat diinterogasi oleh polisi, Tari mengakui bahwa juragan Baron sudah menculik dan menyekapnya selama empat hari empat malam. Hati mereka semakin hancur, dikala mereka mengetahui putri semata wayang mereka sudah terenggut keperawanan nya. Mereka sangat menyesal, karena kebodohan mereka akhirnya masa depan putri mereka hancur dan berakhir didalam penjara.
******
Dua bulan sudah, setelah kematian Raka. Lambat laun, Indah sudah bisa mengikhlaskan kepergian Raka. Indah sudah tidak pernah mengigau lagi, dikit demi sedikit kesedihannya mulai berangsur memudar, Indah sudah bisa menerima kenyataan bahwa Raka sudah tiada.Setiap saat ia selalu mendoakan Almarhum kekasihnya itu agar amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
Pada suatu pagi, Indah berniat untuk mengunjungi suatu tempat. Indah ingin pergi kesebuah taman, dimana pada saat itu tempat itulah yang menjadi saksi kebersamaan mereka hingga saat-saat terakhir ajal hendak menjemput Raka. Dipagi itu, Indah sudah bersiap-siap untuk berpiknik ditaman itu.
__ADS_1
Dengan menggelar tikar dan menu sarapan pagi yang sama pada saat ia berpiknik dengan Raka. Hari itu, Indah mengenang kebersamaan mereka pada saat Raka masih hidup. Masih teringat jelas di ingatannya, bayangan-bayangan kebersamaan mereka. Terlintas sejenak diingatan Indah kebersamaan mereka dihari terakhir Raka. Masih ingat jelas diingatan Indah, tentang Raka yang sudah mengganti sandi handphone miliknya dengan nomor 30052020, barulah ia menyadari bahwa nomor sandi yang baru digantikan oleh Raka tersebut adalah perpaduan dari sebuah tanggal, bulan dan tahun. Bila nomor sandi tersebut di baca dengan tanggal dan bulan, maka sandi itu akan menjadi tiga puluh maret dua ribu dua puluh. Barulah Indah menyadari, bahwa nomor sandi handphone milik Raka menunjukkan hari kematiannya sendiri. Seketika Indah menangis pilu, ia teringat kembali akan hari duka itu. Ia teringat bagaimana jasad Raka terbujur kaku tak berdaya dengan kepala yang sudah terpecah. Hati Indah kembali perih bagai luka yang tersiram oleh cuka, cukup sakit ia rasakan. Indah kembali membuka galeri dihandphone miliknya, ia mulai melihat-lihat poto kebersamaan mereka. Satu persatu ia amati poto-poto mereka dengan diiringi air mata ia mengusap dan membelai poto Raka di layar handphone nya.
"Ka, aku rindu kamu. Ucap Indah dengan lirih sembari membelai poto raka dilayar handphone nya. " Ka, aku akan selalu ingat nasehat dan pesan kamu. Kamu jangan khawatirin aku lagi ya, kamu yang tenang ya disana. Aku baik-baik aja sayang ku, my lovely.
Setelah ia mengunjungi taman tersebut, rasa rindunya akan kehadiran Raka sedikit bisa terobati. Setelah puas menumpahkan tangis rindunya, ia merasa lega dan tidak menangis lagi. Hari sudah agak sore, Indah memutuskan untuk pulang. Karena sejak dari sebelum berangkat ia berniat hendak ziarah ke makam Raka,mak sbelum pulang, ia berniat hendak mengunjungi makam Raka yang terletak tidak jauh dari kediaman orang tua Raka.
Sesampainya di area pemakaman, Indah langsung menuju makam Raka dan langsung duduk bersimpuh disamping makam Raka lalu membaca surah yasin melalui buku yasin yang sengaja ia bawa dari rumah.
"Sayang, kamu yang tenang ya, aku akan selalu ingat pesan dan nasehat kamu. Sayang kamu jangan khawatir lagi ya. Indah bicara dengan Nisan yang bertuliskan Mau. Raka Ardiansyah sebuah nama dari pemiliknya. Ia seolah-olah berbicara dengan Raka sendiri. Indah bicara dengan lirih, ia menceritakan tentang hari-hari nya setelah kematian Raka. Tak lupa ia bercerita tentang Tari yang sudah masuk penjara.
__ADS_1
******
Disisi lain, pada saat orang tua Tari membesuk Tari. Mereka sangat sedih melihat keadaan Tari, tubuhnya kurus da pucat. Tubuhnya terlihat kurang sehat.
seketika Pak Nurdin dan Bu Romlah panik, karena tiba-tiba Tari pingsan. Petugas membawa Tari kerumah sakit tahanan dan memeriksakan kondisi Tari. Disana sudah ada kedua orang tuanya yang sedari tadi duduk disamping Tari yang masih terbaring lemah.
Beberapa saat kemudian, Dokter memanggil kedua orang tua Tari dan memberitahu kalau saat ini Tari sedang mengandung. Seakan bumi berhenti berputar, mereka mendengar berita itu. Hati mereka semakin hancur dan semakin merasa bersalah. Mereka terus menyalahkan diri mereka atas apa yang menimpa putri mereka.
Rasanya mereka tidak sanggup untuk memberi tahu kepada putri mereka tentang apa yang terjadi sebenarnya. Mereka terus menangis meratapi nasib putri mereka. Mereka terus menciumi tangan lemah putri mereka yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Bu, apa sebaiknya gak usah kita kasih tau dulu ya ke Tari kalau sebenarnya dia hamil. Ujar pak Nurdin meminta pendapat istrinya di sela-sela tangis nya.
" Entah lah pak, Ibu juga bingung. Takutnya nanti Tari merasa sangat hancur kalau ia tau tentang kehamilannya. Tari yang sedari tadi sebenarnya sudah sadarkan diri, mendengar semua pembicaraan kedua orang tuanya. Hanya saja ia merasa enggan untuk membuka mata. Tari sangat membenci kedua orang tuanya, karena dia menganggap apa 6terjadi padanya saat itu adalah kesalahan kedua orang tuanya.