Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 1


__ADS_3

Alur kehidupan manusia selalu berputar seperti roda, terkadang dop roda berada di atas, terkadang juga berada di bawah, namun tak jarang berada diposisi tengah-tengah, dan setiap manusia serta semua isi semesta adalah rahasia illahi, yang tidak bisa dicerna oleh nalar manusia, setiap yang hidup hanya bisa melakoni peran yang sudah diberikan pada kita oleh sang empunya kehidupan.



Namanya Marwah, wanita dengan usia di awal 40 tahun, hampir setiap hari sebelum adzan subuh memanggil, selalu menyusuri jalan-jalan kampung padat penduduk, hingga komplek perumahan mewah yang letaknya tak jauh dari tempatnya tinggal.



Berjalan dengan langkah terseok, membawa karung berisi barang-barang rongsokan dari hasil memulung. Kaki kiri Marwah memang sudah tidak sempurna, cacat akibat kecelakaan. beberapa tahun silam, saat ia sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, walaupun kondisinya sudah tidak seperti dulu, wanita dengan kulit bersih itu tetap berjuang mencari nafkah demi ketiga anaknya.



Jangan ditanya tentang suaminya, akan panjang diceritakan kalau membahas kisah perjalanan pernikahan Marwah, memiliki tiga anak yang masih usia sekolah, tentu menjadi tanggung jawab yang besar bagi Marwah, anak pertamanya seorag lelaki, mempunyai cita-cita sebagai tentara, sedang anak kedua seorang perempuan, yang mempunyai keinginan menjadi seorang dokter saat besar nanti, supaya bisa mengobati kaki ibunya, dan si bungsu juga seorang perempuan, hanya ingin menjadi pengusaha sambil menemani ibunya hingga tutup usia, sungguh cita-cita dan keinginan yang lumrah bagi setiap anak, namun tidak dengan anak-anak Marwah yang hanya seorang pemulung, itu keinginan terbesar untuk mereka.



Setiap kali mendengar anak-anaknya bercerita tentang harapan serta masa depan mereka sambil belajar, sebagai seorang ibu, Marwah hanya bisa mengaminkan dalam hati ucapan doa mereka, dan selalu meminta pada Rabb-nya untuk mengabulkan cita-cita anak-anaknya yang selalu bisa *nerimo ing pandum* (menerima keadaan yang ada).



Tidak dapat dipungkiri, bahwa keadaan ekonomi mereka yang boleh dibilang miskin, terkadang membuat Marwah menangis dalam sujudnya, namun keyakinan dalam hati pada Allah Ta'allah yang mampu membuat dirinya percaya, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.



Suami Marwah adalah seorang sopir angkutan umum kota, setiap hari memang lelaki yang menikahinya 15 tahun yang silam setiap hari pulang, namun penghasilan yang tidak menentu membuar Sudrajad memberikan uang belanja yang tidak pasti nominalnya pada sang istri.



Apalagi selama pandemi ini, kota tempat tinggal mereka sedang menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) untuk memutus penyebaran virus jahat yang sedang melanda seluruh dunia, praktis hal ini juga berpengaruh pada kehidupan masyarakat, bahkan angkuta umum juga tidak boleh lagi beroprasi, hanya penghasilan Maewah dari mengumpulak barang-barang bekas saja yang mereka andalakn untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1



Pada awal-awal diberlakukannya PSBB, kondisi keuangan keluarga Marwah semakin terpuruk, barang-barang hasil mulung yang sudah terkumpul tidak laku dijual, karena para pengepul barang bekas sudah tidak mau membeli barang dari pemulung kecil seperti Marwah, belum lagi ia juga sering kena tegur petugas gabungan yang sedang melakukan patroli, untuk mengingatkan masyarakat supaya tetap tinggal di rumah saja, bukan abai dengan keberadaan virus yang sedang merajalela, namun jika ia tetap tinggal di rumah dan tidak memulung, anak-anaknya akan makan apa?.



Resah, gelisah merajai hati dan pikiran, namun tidak mau pasrah begitu saja dengan keadaan yang sedang tidak berpihak, dengan langkah teeseok, terus menyusuri jalan yang biasa dilalui untuk mengais rejeki, melongokan kepala disetiap tempat sampah, lalu mengaisnya dengan penuh harap ada sisa makanan yang masih layak dimakan untuk ketiga anaknya.



Jangan tanya, apa tidak mendapat bantuan?, memang saat ini banyak bantuan yang dikeluarkan pihak pemerintah, baik pusat ataupun daerah, entah berupa sembako atau uang tunai, namun nyatanya sampai saat ini keluarga Marwah tidak pernah menerimanya, entah salah siapa? entah karena apa?, ia sudah tidak mau peduli dengan segala macam bantuan, yang nyatanya tidak pernah ia dan keluarganya terima, yang ada dalam pikiranya sekarang, bagaimana anak-anak bisa makan dengan rejeki yang hallal.



Peluh telah membasahi baju lusuh yang ia kenakan, nyeri dari kaki kirinya pun tak dirasa, pengobatan untuk kakinya sudah diupayakan semaksimal mungkin, namum karena terbentur biaya maka dengan terpaksa, terapi yang harus dijalani seminggu sekalipun tidak bisa dilanjutkan lagi, asuransi kesehatan dari pemeeintah memang diperolehnya, namun untuk biaya ongkos perjalanan ke RSCM yang harus ganti angkot tiga kali dari tempat tinggalnya, terasa berat untuknya.




Sebuah mobil mewah BMW seri terbaru, berwarna hitam mengkilap berhenti tak jauh dari tempat Marwah beristirahat, seorang wanita paruh baya, dengan tampilan elegan khas nyonya-nyonya gedongan keluar dari pintu penumpang, melangkah mendekat kearah wanita yang sebenarnya cukup cerdas namun nasib baik sedang tidak berpihak padanya.



Diikuti seorang lelaki yang adalah sopirnya, sambil membawa dua kantong belanjaan telah berdiri di samping Marwah.



"Permisi Mbak," halus terdengar suara ibu penumpang mobil tadi.

__ADS_1



"I--iya," terkejut Marwah saat mendengar sapaan dari wanita yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.



"Maaf Mbak, ini ada sedikit rejeki untuk mbak dan keluarga," kata ibu itu sambil menyerahkan kantong pertama pada Marwah, diikuti sang sopir menyerahkan kantong kedua.



"Alhamdulillah, terimakasih Bu, semoga Ibu dan keluraga selalu dilimpahi kesehatan dan rejeki yang lancar," ucap tulus Marwah diiringi doa dalam hati untuk ibu yang sudah berbaik hati padanya.



"Aamiin, terimakasih Mbak, maaf saya pamit dulu, permisi."



"Sekali lagi terimakasih Bu, silahkah, hati-hati di jalan bu."



Marwah memandang kepergian ibu yang sudah menyelamatkan keluarganya dari kelaparan beberapa hari kedepan, segera dimasukan kantong belanjaan pemberian si ibu tadi dalam karung yang biasa terisi barang-barang bekas hasil mulung, dengan terseok namun terasa ringan Marwah melangkah pulang.



Sesampainya di rumah, segera dibukanya dua kantong belanjaan yang berisi sembako, serta beberapa jenis sayur dan buah, bahkan ada telur juga daging ayam, sungguh Marwah tidak bisa membayangkan, betapa bahagianya anak-anaknya hari ini bisa makan dengan lauk enak, alhamdulillah ya Rabb nikmat mana yang kau dustakan, jika Allah sudah menyediakan apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan.


__ADS_1


tbc.


__ADS_2