
Berlari dan terus berlari, sejauh mungkin untuk menghindari aksi anarki yang sudah semakin tak kerdendali, menyusuri gang-gang sempit, lorong becek sudah tidak mereka perdulikan, dalam benak mereka hanya berlari sejauh mungkin.
hahhh....hahhh....
Nafas terengah dari keduanya, peluh membasahi seragam mereka, merasa sudah cukup jauh dari suasana kericuhan tadi, mereka menghentikan larinya dibawah pohon akasia, tak jauh dari tempat mereka mengistirahatkan tubuh letih sehabis maraton tanpa hadiah, ada sebuah warung kelontong.
Sang pemuda meminta ijin membeli air mineral untuk mereka, air mineral pemberian temannya tadi tak sengaja terbuang saat berlari.
"Tunggu di sini, aku beli minum dulu di warung situ." gadis yang masih terengah dengan wajah ketakutan hanya bisa mengangguk.
"Nih minum dulu," sang pemuda sudah kembali dengan membawa dua botol air mineral, sebungkus roti sebagai pengganjal perut.
Ditatapnya pemuda yang duduk bersila di hadapannya, membukakan segel tutup air mineral lalu memberikan padanya. Ada ketulusan dari kedalaman manik hitam milik sang penolong, senyum tulus tercetak di wajah manisnya.
Dengan tangan gemetar diterimanya botol air mineral, sambil berucap, "Terimakasih."
"Sama-sama, aku Marko," jawab pemuda yang bernama Marko sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Maaf jika membuatmu takut, aku sekolah di STM Merdeka, jurusan outomotif cari aja disana, kalau kamu takut aku akan berbuat jahat padamu," Marko menarik tangannya yang terulur memberi penjelasan.
Masih dengan gaya yang santai Marko menikmati roti juga air minum yang tersisa setengahnya, tatapan matanya tak lepas dari gadis yang sedang menikmati rotinya juga sambil menunduk.
"O ya, rumah kamu daerah mana? nanti aku antar, kalau capekmu sudah hilang," kembali suara pemuda berpostur tinggi memecah keheningan diantara mereka.
"Rumahku di Menteng," akhirnya untuk kedua kalinya terdengar suara merdu gadis yang sungguh cantik menurut Marko.
"Oke, aku antar, habiskan dulu roti juga minumnya."
"Baik, terimakasih sebelumnya sudah membantuku," lirih suara gadis berkepang namun sudah terlukis senyum di wajah ayunya.
"Sama-sama, sudah dua kali lho kamu minta maaf."
"Tapi kamu sudah menyelamatkan aku."
"Aku kan juga lari dari sana, kebetulan lihat kamu yang kebingungan sampai berlari kearah yang salah, ya sudah, reflek nurani ini bergerak membawamu, begitu saja," Marko mencoba menjelaskan, agar gadis yang ternyata berlesung pipit saat tersenyum tidak merasa sungkan dan salah paham.
Ditatapnya lekat pemuda yang sudah membawanya lari serta menyelamatkan nyawanya itu, memang tak terlihat seperti orang jahat, sorot ketulusan terpancar dari sorot mata yang tajam.
"Aku memang ganteng, jangan dilihatin terus, bisa jatuh cinta nanti," terkekeh pemuda itu sudah berani menggoda gadis yang belum meperkenalkan namanya itu dengan candaan.
"Ish, apa sih, pede banget," ucap gadis itu dengan bibir maju beberapa senti.
__ADS_1
"Ceile, kalo ngambeg tambah cantik ternyata," semakin tertawa lepas saat sukses menggoda mahkluk cantik yang semakin membuatnya jatuh cinta.
"Nyebelin, ayo anter pulang," tegasnya untuk menutupi rasa malunya pada pemuda yang ternyata ganteng saat dilihat dengan seksama.
"Yakin udah mau pulang? nggak pengen sama aku dulu? entar kangen lo," goda Marko lagi sambil membantu gadis itu berdiri.
Mata gadis ayu itu membulat, saat mendengar perkataan pemuda yang bandananya sudah terlepas untuk menyeka peluh diwajah cantiknya tadi, Marko justru terkekeh senang telah berhasil menggoda gadis kepang kuda.
Berjalan beriringan menyusuri jalan-jalan kampung yang terasa asing bagi gadis yang belum genap berusian 17 tahun itu, dirinya hanya mengekor pemuda yang tak mau melepas genggaman tangannya.
"Ko..."
"Iya, ada apa?" Marko menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.
"Maaf, aku capek," ucap jujur gadis yang rupanya tak pernah berjalan jauh.
Pemuda berhidung mancung itu segera jongkok, lalu berkata, "Ayo aku gendong."
"Tapi...," terlihat keraguan di wajah letih gadis itu.
"Ayo, udah sore, nanti kemalaman, orang tuamu pasti khawatir," Marko mencoba memberikan pengertian pada gadis itu.
"Pegangan yang kuat, takut kamu jatuh."
"Iya---makasih ya, sudah banyak membantuku," ucap lirih gadis itu di dekat telinga Marko, hal itu sukses membuat degup jantungnya berdetak semakin cepat.
"I--iya, sudah jadi kewajiban kita saling tolong kan."
Sepasang anak manusia yang mulai merasakan getaran di hati masing-masing, sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga sampailah mereka di pangkalan taksi, Marko mengantar gadis kepang kuda itu sampai kerumah ditemani keheningan.
"Ko," terdengar suara gadis kepang kuda memanggil pemuda yang duduk di sebelahnya.
"Hmmm."
"Makasih ya."
"Sudah lebih dari dua kali kamu bilang itu, udah nggak usah terlalu dipikirin, gadis berkepang," ucap Marko tegas agar gadis yang di sampingnya tidak terus menerus berterimakasih padanya.
"Namaku Marwah, seenaknya aja panggil gadis berkepang," bibir mungil gadis yang ternyata bernama Marwah itu mengerucut.
"Kamu kan nggak bilang siapa namamu dari tadi."
__ADS_1
"Kamunya nggak nanya."
"Namanya kenalan itu sebutin nama, la kamunya nggak mau sebutin nama, ya udah panggil gadis berkepang aja."
"Marwah, Ko, Marwah, ih nyebelin." dicubitnya lengan kekar Marko.
"Aduuuh....duuh...., sakit tahu, cantik-cantik kejem." Marko mengusap lengan yang terasa perih.
"Eh....maaf, sakit ya?" dengan wajah merasa bersalah Marwah mengusap perlahan bekas aksinya.
Melihat gadis di sebelahnya begitu khawatir dengan keadaanya yang sebenarnya tidak apa-apa, sifat jahilnyan langsung kambuh, senyum smrik tercetak di sudut bibirnya.
"Iya, sakit baget," wajah kesakitan ditunjukkan pemuda ganteng itu, dalam hati padahal terkekeh melihat kepolosan Marwah.
"Ya ampun, kok jadi lebam gini, perasaan nggak kenceng banget lo, ke rumah sakit ya?" ,kepanikan terlihat jelas di wajah Marwah.
"Eh, nggak usah, cuma luka gini, entar dikompres juga hilang, tenang aja," terkejut Marko dengan usulan gadis cantik, yang terlihat khawatir pada dirinya.
"Beneran, nggak apa-apa?"
"Iya, nggak apa-apa, cowok tu ga boleh lembek, harus kuat, biar bisa ngelindungin kamu."
"Apaan sih, gombal banget." pipi halus terawat milik Marwah bersemu merah.
Tak terasa perjalanan mereka sudah memasuki perumahan tempat tinggal Marwah, rumah-rumah mewah berjajar rapi, membuat Marko kagum dengan tata letak perumahan yang ditinggali pengusaha dan pejabat.
"Pak, no 10 ya," ucap Marwah pada Sopir taksi yang mereka tumpangi.
"Baik non."
Taksi berhenti tepat di depan rumah berpagar tinggi, dengan pintu gerbang besar, mereka berdua turun dari taksi, Marwah meminta sopir taksi untuk menunggu sebentar, sedang dirinya mendekat ke pos satpam dan sepertinya meminjam uang pada penjaga rumahnya itu.
Setelah membayar argo taksi yang mereka tumpangi, Marwah mengajak Marko masuk ke dalam rumah, pemuda yang terbiasa hidup dengan kesedehanaan, begitu mengagumi arsitektur bagunan yang berdiri megah dengan dua lantai, halaman yang luas dengan taman yang tertata apik.
Tak sadar langkah kaki pemuda yang selalu melihatkan gigi gingsulnya saat tersenyum, menyusuri taman yang dipenuhi bermacam jenis tumbuhan dan beraneka bunga.
"Hei....siap kamu?" ,terdengar suara yang cukup membuat Marko terkejut.
🌿🌿🌿🌿🌿
siapa ya kira-kira yang menyapa Marko? tunggu di episode selanjutnya.
__ADS_1