
Dengan menguatkan hati Marwah mengajak ketiga anaknya untuk segera meninggalkan rumah Marko, mereka berempat beriringan menuruni tangga menuju ruang tengah di mana Bu Siwi dan Marko terakhir berada di sana namun saat Marwah sampai di ruangan besar itu tak telihat orang yang dicarinya.
Marwah menyuruh Fahmi juga kedua adiknya menunggu di ruang tengah sedang dirinya mencari keberadaan Marko juga Bu Siwi untuk berpamitan, hanya Bi Narti yang terlihat .
"Bi, Marko kemana?" tanya Marwah pada wanita paruh baya yang begitu baik pada Marwah dan ketiga anaknya.
"Bapak di ruang kerjanya, Mbak," jawab Bi Narti keheranan mendapati Marwah berkemas beserta dengan anak-anaknya, bahkan memanggil majikannya hanya dengan menyebut nama tanpa embel-embel 'Mas' ingin menanyakan ada hal apa namun dirinya terlalu takut untuk mencapuri usrusan orang lain apalagi calon majikannya.
"Sama Bu Siwi?" kembali Marwah mengajukan pertanyaan setelah beberapa langkah meninggalkan dapur.
"Ibu sepuh sudah pulang Mbak, hanya sebentar tadi," terang Bi Narti.
"Baik Bi, terimakasih informasinya, saya ke ruang kerja Marko dulu," pamit Marwah pada Bi Narti .
Wanita yang sedang terluka hatinya itu melangkah dengan mantap keruangan kerja Marko. Di hadapannya berdiri pintu kokoh berwarna coklat tua di baliknya ada seorang yang begitu disayanginya namun juga membuat hatinya hancur secara bersamaan karena penolakan ibu lelaki itu. Airmata terasa menggenang mengaburkan pandangannya, ia tidak boleh terlihat lemah harus kuat menghadapi apapun yang menjadi keputusannya nanti.
Disekanya genanang airmata yang hampir jatuh, menenangkan diri sejenak lalu mengetuk pintu di depannya.
Tok....tok....tok
"Masuk!" terdengar suara dari balik pintu.
__ADS_1
"Maaf jika aku mengganggu, Mas," ucap Marwah setelah berdiri di seberang meja kerja Marko.
"Nggak, ada apa?" tanya Marko sambil menutup laptop untuknya menyibukan diri setelah pertengkaran dengan ibunya tadi.
"Mas, sebelumnya aku minta maaf kalau karena keberadaanku juga anak-anak bikin Mas sama Ibu jadi ribut, aku juga mau ngucapin terimakasih sudah banyak membatu keluarga ku bahkan kami juga sering merepotkan," ucap Marwah dengan menahan rasa sesak didadanya.
"Sudah ngomongnya?" tanya Marko dengan menatap intens pada wajah ayu Marwah.
"Sekalian aku mau pamit Mas, anak-anak minta pulang," kembali terdengar suara Marwah dikesunyaian ruangan yang bergaya minimalis.
"Mau aku antar sekarang apa nanti?" Marko tak mau ambil pusing dengan menahan Marwah untuk tetap tinggal. Dia tahu bagaimana sifat wanita yang berdiri di hadapannya, sekuat apa dia melarang pasti wanita penguasa hatinya itu akan mengutarakan alasan yang telak membantah pernyataannya.
Tanpa mendengar jawaban dari lelaki yang begitu diharapkannya Marwah beranjak dari tempatnya untuk keluar. Marko tahu jika wanita yang sedang melangkah pergi terluka kembali hatinya, bergegas ia bengkit dari duduknya menuju ke arah Marwah. Tepat sesaat jemari Marwah menggenggam handel pintu Marko merengkuh tubuh kurus wanita itu dari belakang.
"Maaf aku tidak membelamu di depan ibu tadi, tolong jangan pergi! aku tak sanggup hidup tanpa dirimu juga anak-anak," bergetar suara Marko begitu dekat dengan telinga Marwah.
Tak bisa menahan segala rasa yang berkecamuk di dada pertahanan Marwah pun jebol, tangisnya sudah tidah bisa di bendung lagi. Marko memutar tubuh Marwah untuk menghadap ke arahnya, di rengkuh kembali tubuh yang tergetar karena tangis.
"Biarkan aku dan anak-anak pulang Mas, aku nggak mau membuat hati ibu terluka, kebahagian ibu yang paling penting buat Mas kan?" ucap Marwah dengan derai airmata.
"Aku akan menjelaskan pada ibu, meyakinkan ibu kalau kamu yang terbaik Dek, bantu aku untuk mengatakan itu pada ibu," mohon Marko pada Marwah.
__ADS_1
"Aku takut Mas, takut jika hubungan ini dilanjutkan hanya akan melukai kita semua," semakin terisak Marwah mengutarakan kekhawatiran hatinya.
"Lihat aku, kita akan hadapi ini bersama, aku tidak akan mundur jika tangan kita saling menggenggam untuk menguatkan," tegas Marko mengatakan itu sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah sembab Marwah.
Ibu tiga anak itu hanya mampu menelisik dikedalaman mata yang sorotnya setajam elang mengincar buruannya, hanya ada ketulusan dan keseriusan dengan apa yang dikatakannya tadi.
"Gimana, siap menemui ibu?" Marko kembali bertanya pada wanita yang sedari tadi menatapnya lekat.
"Bismillah, asal bersama Mas insyaallah aku siap," jawab Marwah mantap.
"Nanti sore aku jemput, sekarang bereskan baju-baju kamu dan anak-anak ke almari lagi," ucap Marko sarkas.
"Kok Mas tahu aku udah kemas-kemas?" Marwah keheranan dengan Marko yang mengetahui dirinya dan anak-anak sudah paking baju.
"Aku kenal kamu nggak sehari dua hari, Dek," jawab Marko sambil melangkah keluar ruang kerja. Marwah hanya menatapnya dengan mode cengo.
"Mas....! kita belum selesai bicara!" teriak Marwah sambil mengejar Marko ke garasi mobil.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1