
"Ma---mas....?" ,bergetar suara Marwah saat menyapa penelpon di seberang ujung telpon.
"Alhamdulillah, kamu masih ingat suaraku, gimana kabar kamu? oh...ya, aku sudah menjadwalkan pengobatan juga terapi untuk kakimu, bagaimana? bisakan? ,lusa biar dijemput sopir."
"Mas, maaf nggak perlu, aku bisa berobat sendiri, sekali lagi maaf, aku nggak mau menambah masalah dengan suamiku, aku mohon pengertiannya, mas," terdengar gugup dan gemetar suara Marwah, tak dipungkiri jika masih ada getar-getar dihatinya walau hanya mendengar suara lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya, namun ia sadar dan cukup tahu diri, bahwa sekarang keadaan telah berubah.
"Terserah kamu kalau begitu, tapi aku melakukan ini semata-mata hanya demi rasa kemanusiaan," sekali lagi suara lelaki itu memberikan pilihan pada Marwah.
"Mas, maaf ponselnya mau dipakai daring anak-anak, aku tutup dulu telponnya."
"Oke, besok aku kirim ponsel untuk anak-anak, biar tidak ada alasan apapun saat aku ingin bicara padamu, aku paling nggak suka mendengar banyak alasan, assalamualaikum," terdengar nada kesal dari suara penelpon diseberang.
"Alaikumsalam," lirih Marwah membalas salam, yang ia tahu pasti jika suaranya sudah tak terdengar si penelpon.
Setelah mengembalikan ponsel pada Fahmi, Marwah melangkah kedalam kamar, pikirannya hanya terisi wajah lelaki yang baru saja menelponnya, bayang-bayang masa lalu, seakan menghantui lagi, tiba-tiba pening terasa menyerang kepalanya, saat ini yang ia butuhkan hanyalah tidur, sejenak melupakan kepenatan dipikirannya.
🌹🌹🌹🌹
"Katakan siapa yang memberikan ponsel pada anak-anak?" ,bentakan Sudrajad yang memenuhi rumah kontrakan kecil mereka.
"JAWAB, PEREMPUAN MURAHAN!"
Plak....plak.... terdengar dua kali tamparan mendarat di wajah tirus Marwah, Sudrajad kalap saat mengetahui anak-anak mereka mendapat ponsel, masing-masing satu, dengan harga yang lumayan fantastis tiap ponselnya.
Dirinya tahu kalau itu pemberian laki-laki yang ada hubungan dengan istrinya, namun ia tak punya cukup bukti, bahkan saat ingin menangkap basah perselingkuhan Marwah, tak pernah mendapatkan hasil, karena istrinya itu tidak pernah bertemu dengan lelaki manapun.
"BRENGSEK SEMUA, BRENGSEK....!" ,teriakan Sudrajad yang sarat kemarahan semakin memenuhi rumah petakan, bahkan terdengar hingga keluar rumah.
__ADS_1
Marwah hanya bisa pasrah dengan keadaan, menjelaskan apapun saat suaminya dalam keadaan emosi seperti ini, hanya sia-sia belaka, alhamdulillah saat terjadi keributan anak-anak mereka sedang berada di rumah Bu RT, nebeng wifi untuk sekolah daring.
"Sekali lagi aku lihat ada barang-barang baru dari lelaki itu, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang, PAHAM?"
Marwah hanya bisa mengangguk, dengan bercucuran airmata, tubuhnya terasa membeku, rasa trauma mendengar teriakan, bentakan, caci maki, membuatnya merasa tak berdaya, hanya isak tangis yang masih mampu membuatnya tersadar dengan kenyataan.
Merasa puas telah melampiaskan kemarahan pada istrinya, Sudrajad segera beranjak dari rumah petak mereka, Marwah masih bersimpuh dan tergugu dengan memeluk erat kaki meja, satu-satunya yang berada diruangan sempit itu.
"Gusti Allah, ampuni hamba yang banyak dosa ini," sungguh pilu, terdengar ratap tangis dari bibir Marwah yang disudutnya masih mengeluarkan darah, akibat tamparan Sudrajad tadi.
Hanya bisa beristiqfar terus menerus, tak kuasa menahan kesedihan dan rasa takut akibat trauma yang mendera, tubuh kurus yang tergerus problematika kehidupan itu akhirnya tumbang, tak sadarkan diri sekian lama dalam posisi sedirian di rumah, membuat Marwah tersadar kembali tanpa ada siapa-siapa yang menolongnya.
Pening masih merajai kepalanya, badannya pun terasa remuk, kedua pipinya masih terasa panas, saat melihat bayangan dirinya dikaca almari perabot, kacau, hanya itu yang terlintas dalam pikirannya saat menatap bayang dirinya dipantulan cermin.
Darah mengering disudut bibirnya, bekas telapak tangan suaminya masih tergambar jelas dikedua pipinya, wajah sembab yang dibanjiri airmata, sungguh miris melihat keadaannya sekarang ini.
Hanya pada sang Khaliq, Marwah berani mengadukan segala rasa yang menghimpit didada, tangis yang susah payah ditahannya, kembali menyesak, bulir bening tak dapat ditahan lagi, dan kembali pecah di atas sajadah, tempatnya bersujud.
Hari berganti, sudah hampir seminggu sejak kejadian pertengkaran pagi itu, Sudrajad tidak pulang ke rumah, entah tidur dimana, praktis tidak ada pemasukan dari suaminya, hanya mengandalkan penghasilannya sendiri.
Siang ini sepulangnya Marwah menyeterika di rumah tetangga, di depan rumahnya terparkir sepeda motor keluaran terbaru, dan terdengar suara tawa seorang perempuan.
"Assalamualaikum," ucap Marwah saat memasuki rumahnya, dan terlihat Sudrajad sedang bersama seorang wanita, duduk bedampingan dengan gestur tubuh yang menunjukka kalau mereka ada hubungan.
"Baru pulang kamu, istri macam apa, suami pulang malah cuma melotot aja, ambilin minum, es teh yang manis, dua."
Tanpa memberi jawaban, Marwah masuk kedalam, membuatkan minuman untuk suami dan tamunya.
__ADS_1
"Astagfirulloh, Pak! apa yang bapak lakukan? kalau mau main perempuan silahkan, tapi jangan kotori rumah ini dengan kelakuan bejadmu, pak!"
Marwah begitu terkejut, melihat suaminya melakukan hal tak senonoh, dengan teman wanitanya, saat ia mengantarkan minuman untuk mereka.
"Pasti, aku akan pergi dari sini, aku juga sudah muak dengan kehidupan yang miskin, aku pulang hanya ingin mengambil baju-bajuku," Sudrajad pun melangkah ke arah kamar untuk mengemasi barang-barangnya.
"Kalau bapak mau menikah lagi, tolong ceraikan aku dulu," dengan gemetar Marwah menuntut status yang jelas dari suaminya.
"Oke, mulai hari ini, kamu Nusaibah Marwah binti Subroto Atmojo,, aku talak tiga, kita sudah bukan suami istri lagi."
"Masyaallah, kenapa kamu tega sama istri kamu, Sudrajad?" ,teriak bu RT dari arah pintu.
"Kamu memang laki-laki brengsek, tidak bertanggungjawab, minggat kamu dari kampung ini," teriak bu RT, sambil mendorong Sudrajad sampai terjatuh.
"Bu, sampean nggak usah ikut campur urusan keluarga saya, urus aja keluarga sampean sendiri," teriakan Sudrajad tak kalah nyaring dengan Bu RT.
"Saya perlu ikut campur, karena Marwah warga saya, kamu selama menikah dengan Marwah selalu hidup seenakmu sendiri, lelaki nggak bertanggung jawab seperti kamu, lebih baik segera angkat kaki dari sini, sebelum saya panggilkan warga dan linmas, untuk ngusir kamu," panjang lebar Bu RT mencecar Sudrajad dengan kata-kata yang cukup membuat darahnya mendidih.
"Oke, oke, saya akan segera angkat kaki dari sini, dan tidak akan pernah menginjakkan kaki dilingkungan kumuh ini lagi," segera setelah mengatakan itu, Sudrajat pergi dari rumah yang sudah 15 tahun ditempatinya bersama Marwah dan anak-anaknya.
Sepeninggal Sudrajad dan teman wanitanya, Bu RT baru sadar, jika Marwah sudah tergeletak pingsan, dengan darah mengalir dari pelipisnya, mungkin terbentur saat wanita yang sedang nelangsa itu terjatuh.
"Astagfirullohalazim, Marwah...."
🌿🌿🌿🌿🌿
Bagaimana kisah Marwah selanjutnya, tunggu diepisode selanjutnya.
__ADS_1