Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 19


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Marko, ada beberapa penjaga yang melakukan penjagaan berlapis, tidak ada yang boleh masuk tanpa seijin dirinya, semua demi keselamatan dua anak yang sedang berada di rumahnya.


Fahmi dan Rahma begitu senang saat tinggal di rumah om baik mereka, menempati kamar yang cukup luas, kolam renang air hangat yang bisa digunakan kapan saja, berbagai makanan ringan, buah hingga susu berkalsium tinggi untuk tumbuh kembang mereka sudah tersedia.


Kebahagian terpancar dari wajah dua kakak beradik itu, mereka seperti anak emas bagi Marko. Bi Narti, kepala ART di rumah Marko sangat senang sekaligus agak bertanya tanya saat majikanya itu membawa pulang dua anak yang dikatakan akan menjadi anaknya.


"Bi, nitip Fahmi sama Rahma ya, urus segala keperluan mereka, bikin mereka senyaman mungkin," perintah Marko pada Bi Narti.


"Baik Tuan, tapi maaf kalau boleh Bibi tahu, mereka siapa?" rasa penasaran mengelayut di hati wanita yang sudah bekerja pada Marko sejak rumah ini mulai ditempati.


"Doakan Bi, insyaallah mereka akan menjadi anak anak saya," jawab Marko dengan senyum terlukis di wajah tampannya.


"Alhamdulillah, semoga disergerakan Tuan, aamiin."


"Aamiin, makasih Bi."


Sesegera mungkin Marko menuju kantornya untuk bertemu dengan beberapa anak buahnya berkoordinasi mencari siapa pelaku peneror keluarga Marwah.


Dalam perjalanan menuju kantor pikiran Marko berkecamuk, terus menerka kira kira siapa di balik peneroran ini, seingat dirinya Marwah tidak punya musuh, kalau menyangkut dirinya berarti dari orang yang mengenalnya dan mengetahui hubungannya dengan Marwah.


"Jack, kira kira siapa yang melakukan ini?" tanya Marko meminta pendapat pada Jaka.


"Sebelumnya saya minta maaf Pak, kejadian peneroran sebelum Mbak Marwah pindah sebenarnya saya tahu, namun Mbak Marwah melarang saya untuk mengatakan pada Bapak."


"Sial, masih saja seperti itu dari dulu, nggak mau jujur kalau ada masalah, malah lari dan bersembunyi, emang ada kejadian apa sampai dia harus menghindariku?"


"Ini Pak," Jaka menyerahkan ponsel yang menampilkan foto kertas ancaman pada Marwah. "Kertas itu membungkus batu dan di lempar ke kaca jendela rumah Mbak Marwah, hingga kaca jendelanya pecah."


"Ada yang luka nggak waktu itu?" Marko merasa geram setelan membaca ancaman yang tertulis di kertas.


"Alhamdulillah enggak Pak, cuma Nisa sama Rahma sedikit ketakutan."


"Waktu kejadian kamu disana?"


"Selang beberap menit Pak, saya baru datang."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti sesampainya di kantor, kumpulkan anak anak, koordinasi, cari tahu pelakunya, tugas ini tanggung jawab kamu."


"Baik Pak."


"Cari sampai dapat, dan bawa kehadapan ku pelakunya."


"Siap Pak."


"Mau coba main main dengan ku rupanya, tunggu saja setelah ketemu nanti," gerutu Marko, namun masih terdengar di telingan Jaka.


Sesampainya di kantor, Marko memasuki ruangan metting yang di sana sudah ada beberapa orang dengan badan tegap terlatih secara fisik, mereka juga mempunyai kemampuan intelijen dan terorganisir secara legal dengan ijij Kemenhumkam.


"Assalamualaikum, selamat sore, maaf saya meminta kalian untuk datang sore ini, ada beberapa tugas yang harus kalian kerjakan," Marko mulai memberikan arahan pada anak buahnya.


"Di bawah koordinasi Jaka tolong kalian cari orang yang berani mengusik keluarga saya, secepatnya temukan orang itu, bawa kehadapan saya hidup hidup," Marko menegaskan perintahnya


"Baik Pak," jawab mereka


Setelah memberikan arahan pada orang orang kepercayaannya, Marko segera ke rumah sakit, rasa khawatir pada Nisa masih menyelimuti hatinya, walau dirinya tahu kalau gadis kecil itu sudah mendapat perawatan dari dokter.


🌹🌹🌹🌹


"Coba tadi aku lebih berani bertindak, pasti anak itu hanya tinggal nama," kembali bibir sexy-nya mengeluarkan ocehan.


Sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tengah wanita cantik yang ternyata Sinta itu mengomel sendiri, rupanya selama ini dokter cantik itu sudah mencari tahu tentang kehidupan pribadi Marko, hingga mengetahui tentang Marwah dan keluarganya.


"Lihat saja nanti kalau wanita itu masih saja mendekati Mas Marko, aku bebar bebar bisa berbuat lebih dari sekarang."


🌹🌹🌹🌹


Marwah sedang menyuapi Nisa makan malam saat Marko sampai di sana, dirinya membawa makan malam untuk wanita yang selalu ada di hatinya itu.


"Assalamualaikum, anak soleha lagi apa ya," sapa Marko pada Nisa dengan mimik dan suara yang dibuat buat, hingga gadis kecil itu tertawa dengan kedatangan Om yang selalu di sayangnya.


"Alaikumsalam," Marwah menjawab sambil terasenyum melihat tingkah konyol lelaki yang sudah banyak berkorban untuk keluarganya.

__ADS_1


"Nisa baru makan Om," kembali Marwah menjawab.


"Dek, makan dulu gih, rendang jengkol, sambel ijo sama daun singkong rebus," ujar Marko sambil menyerahkan kotak bekal yang dibawanya dari rumah tadi.


"Repot repot Mas, emang nggak ditanya bibi bawain makanan buat aku?" Marwah menerima kotak bekal berwarna ungu dengan merek yang sering bikin emak emak emosi kalau hilang.


"Enggak repot, sekalian masak juga, bibi nggak se-kepo itu lah dengan urusanku, lagian mana berani nanya nanya."


"Mas main pecat sih kalau ada yang kepo."


"Enggak lah, mereka justru lebih memahami posisisku, urusan juga kerjaanku kan banyak, jadi ga sempet buat bahas hal hal yang nggaj terlallu penting."


"Mas udah makan?" Marwah bertanya sambil membuka kotak makan yang seketika menguarkan aroma rendang jengkol penggugah selera.


"Udah tadi sama Jaka, juga yang lainnya, sudah kamu makan saja nggak usah mikir macam macam."


"Iya Mas."


Nisa sudah tertidur saat ibunya sedang menikmati makan malam, sedang Marko masih sibuk dengan laptop yang berada di pangkuannya, masih memantau beberapa projec baru yang memang sedang dikerjakannya.


Marko sedang melebarkan jangkauan usahanya ke bidang properti, melihat kebutuhan hunian semakin meningkat di perkotaan, bahkan sudah sampai di daerah, sekaligus mempersiapkan investasi untuk Fahmi dan ke dua adiknya, entah kenapa dirinya merasa harus ikut bertanggung jawab untuk mada depan ketiga anak itu.


Ekor mata Marko sesekali melihat ke arah ranjang, di mana ada Marwah sedang duduk di samping Nisa membaca mushaf yang selalu dibawanya, rasa kagum, sayang, simpati semakin besar tumbuh di hatinya untuk wanita yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.


Malam ini Marko pulang ke rumah hampir tengah malam setelah memastikan keadaan di rumah sakit aman untuk Marwah juga Nisa, tubuh letihnya segera direbahkan ke tempat tidur, seperti baru saja memejamkan mata, ponselnya sudah menjerit jerit tanda ada panggilan masuk.


Mas, Nisa diculik mas, terdengar suara Marwah penuh rasa khawatir bercampur tangis.


"Kok bisa? anak anak pada kemana?"


Di bahas nanti aja Mas, cari Nisa dulu, jerit Marwah.


"Oke aku segera kesana, kamu yang tenang."


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Siapa kira kira penculik Nisa?


__ADS_2