
"Emak nggak apa-apa Nis, ayo buruan ganti bajunya, keburu dokternya datang, malu kan?" ucap Marwah mencoba menutupi kegugupannya.
"Baik Mak, Nisa seneng banget ada Om Marko di sini," unkap polos Nisa pada ibunya.
"Tapi Om Marko nggak bisa setiap saat bisa nemenin Nisa, kan harus kerja, harus ketemu keluarganya," Marwah memberi penjelasan pada gadis kecilnya.
"Mak, emak nikah aja sama Om Marko, jadi kita bisa sama-sama terus," kembali Nisa mengungkapkan pemikiran yang terlalu lugu.
"Eh, nggak bisa be---,"
"Insyaallah, Nisa doain aja yang terbaik untuk Emak sama Om," belum selesai Marwah menjawab pernyataan Nisa, sudah terpotong suara Marko yang baru selesai mandi.
"Mas, apaan sih, jangan memberi harapan kalau nggak bakal bisa terwujud," cecar Marwah pada Marko.
"Nisa punya harapan, dan apa salahnya kita sebagai orang tua membantu mewujudkan harapan itu, apalagi mereka juga butuh sosok seorang ayah," Marko mencoba memberi pengertian pada wanita yang terkesan rikuh membicarakan masalah ini.
Tak berapa lama dokter yang menangani Nisa datang, melakukan serangkaian pemeriksaan terutama pada bagian tangan yang retak, setelah dirasa kondisi gadis cilik itu sudah membaik, maka dokterpun memperbolehkan Nisa pulang.
__ADS_1
Marko bergegas menyelesaikan urusan administrasi, sedang Marwah membereskan pakaian juga barang-barang yang akan dibawa pulang. Nisa merasa sangat senang karena sudah bisa pulang, karena merasa bosan di kamar rumah sakit terus.
"Dek, nanti pulang ke rumah Mas dulu aja ya?" ucap Marko setelah kembali dari kasir.
"Nggak usah Mas, biar kami pulang ke rumah, sudah banyak merepotkan Mas," tolak halus Marwah.
"Penerornya belum ketemu lo, yakin tetap mau pulang ke rumah, kalian hanya tinggal berempat tanpa ada lelaki dewasa yang menjaga," kembali Marko menjelaskan keadaan yang belum aman.
Jujur rasa khawatir juga ketakutan seketika menggelayut di hati wanita yang raut wajahnya berubah sendu seketika, masih sambil memasukkan beberapa baju Nisa yang tersisa ia menatap lekat lelaki yang juga sedang memandangnya.
"Apalagi yang membuatmu ragu?" tanya Marko.
"Mas, maaf sebelumnya, bukan aku nggak mau menerima kebaikanmu, jujur aku juga takut kalau peneror itu beraksi lagi, namun kita tidak bisa pungkiri kalau status di antara aku dan kamu bukan mahram, pasti akan timbul fitnah kalau tinggal seatap, Mas."
"Apa kamu sudah siap kalau kita menikah?" pertanyaan tak terduga begitu saja keluar dari bibir lelaki yang menatap Marwag intens.
"Ma---maksud Mas, gimana?" Marwah balik bertanya.
__ADS_1
"Ya kita menikah, aku dan kamu," kembali Marko mejelaskan.
"Tap---tapi Mas, ibu gimana? sudah lama kami tidak bertemu, apa beliau bisa menerima anak-anak?" terdengar jelas nada khawatir keluar dari Marwah.
Sejenak Marko terdiam, benar yang dikatakan Marwah, bagaimana reaksi ibunya jika mereka bertemu kembali setelah sekian lama, apalagi pertrmuan terakhir mereka diwarnai kemarahan dari pihak sang ibu.
"Nanti bisa dibicarakan, insyaallah ibu bisa menerima kamu juga anak-anak, nggak usah terlalu mengkhawatirkan hal itu," Marko mencoba memberi ketenangan pada Marwah.
"Tetep aja aku takut Mas, terakhir ketemu ibu marah-marah sama aku lo, Mas nggak ingat? bahkan terang-terangan ngusir aku." sendu terlihat perubahan wajah Marwah.
"Ingat, tapi itukan sudah lama kejadiannya, sebelum kamu menikah, di coba dulu ketemu ibu, aku temani, mau kan?"
"Tapi jangan sekarang, tunggu aku siap."
"Iya, ya sudah ayo pulang kasihan Nisa, lama nunggu," ajak Marko.
🌿🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
bersambung
jangan lupa like juga komen, biar Mak semangat up-nya