Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 14


__ADS_3

Beberapa hari terakhir Marwah dibantu ketiga anaknya mengepak dan mulai memindahkan barang-barang mereka ke kontrakan yang baru, beberapa tetangga yang peduli ikut membantu, tak memakan waktu lama, dalam tiga hari keluarga mereka sudah menempati rumah kontrakan di gang belakang.


Tidak jauh sebenarnya, boleh dibilang malah saling memunggunggi posisi dua kontrakan tersebut, yang membuatnya jauh, harus memutar jalan, tetapi anak-anak Marwah lebih senang lewat jalan tembus di samping rumah, memang masih jalan tanah, karena merupakan lahan kosong, tetapi bisa mempermudah akses jalan untuk mereka.


Marwah berpesan pada tetangga kanan kiri di kontrakan yang lama, jika ada yang mencari atau menanyakan keberadaan mereka supaya mengatakan tidak tahu, sebenarnya ia tidak mau membuat para tetangga berbohong, semua demi keselamatan keluarganya.


Mendapat dukungan dari ketua RT, tetangga-tetangga Marwah pun mengiyakan apa yang dimintanya, mereka memang peduli pada wanita yang selalu baik pada tetangga sekitarnya, tidak pernah usil dengan urusan orang lain, bahkan cenderung cuek, dirinya hanya sibuk dengan keluarganya saja.


Sudah hampir dua minggu Marwah menempati kontrakan yang baru, sudah beberapa kali Jaka menyambangi kontrakannya yang lama, namun tidak bertemu dengan wanita yang sudah membuat sang bos tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan.


Hampir semua tetangga Marwah yang ditanya tentang keberadaan keluarga itu tutup mulut, rasa ketakutan lebih mendominasi jika masih harus berhubungan dengan Marko, walau ibu tiga anak itu tahu jika lelaki yang sudah begitu baik pada keluarganya tidak akan tinggal diam dengan aksi teror yang diterimanya.


Namun lebih baik mencegah dari pada terlambat bertindak, alhamdulillah pemerintah sudah melonggarkan peraturan PSBB, Marwah semakin giat bekerja, barang-barang bekas yang dikumpulkan semakin banyak, para pengepul juga sudah mulai bergeliat lagi.


Saat ini dirinya hanya fokus pada pekerjaan juga anak-anaknya, hingga datang surat panggilan dari Pengadilan Agama, rupanya Sudrajad benar-benar mengajukan gugat cerai, perih sudah pasti, tapi buat apa diratapi, toh suaminya tidak akan kembali.


Menata kehidupan baru dengan ketiga anaknya adalah prioritas utama Marwah sekarang, beberapa tetangga yang terkena PHK imbas dari pandemik yang sedang melanda mulai ikut mengumpulkan barang bekas juga, mereka sepakat menyetorkan pada Marwah, sebelum di jual pada pengepul besar.


Dengan mode yang seperti ini, pemasukan Marwah semakin meningkat, Rahma juga Nisa selalu membantu ibu mereka memilah barang bekas yang terkumpul, Fahmi tetap dengan pekerjaannya di toko sembako Pak Manaf.


🌹🌹🌹🌹


Sementara di sebuah ruang kerja berpendingin, seorang lelaki sedang marah-marah pada beberapa orang yang terlihat seperti bodyguard,


"Mencari seorang wanita saja kalian tidak becus, sudah sebulan saya tugaskan ini pada kalian, tapi tidak ada hasil apapun, sangat mengecewakan," teriakan lelaki itu menggema diseluruh ruangan.


"Kalau kalian masih mau kerja sama saya, cari mereka sampai dapat! dan jangan kembali sebelum mendapat hasil apa-apa, PAHAM KALIAN?" ,kembali bentakan terdengar.

__ADS_1


"Paham, Pak," serentak jawaban keluar dari empat orang lelaki berbadan tegap.


"Lanjutkan tugas kalian."


"Baik Pak, kami permisi," ucap salah satu dari mereka.


"Hmmmm."


Dihempaskan tubuh tegapnya ke sofa berwarna maroon, yang berada di sudut ruangan, menyandarkan punggung lebarnya sambil memijit kedua pelipis dengan jarinya, tak lama terdengar suara ketukan pintu.


knok....knok....knok....


"Masuk!" ,suara lantang terdengar dari dalam ruangan yang didominasi warna hitam putih yang terkesan maskulin.


"Permisi Pak, ada Mbak Sinta ingin bertemu," jelas wanita berhijab yang merupakan sekertarisnya.


"Ck, ngapain lagi ke sini," gerutu lelaki yang tiba-tiba bewajah masam. "Ya sudah, suruh masuk, 10 menit waktu yang saya berikan, setelah itu kamu masuk, pura-pura saya ada meeting penting, oke?"


"Mas, apa kabar?" ,tanya wanita yang selalu berpenampilan modis dan terkesan sexy itu saat sudah berada dalam ruangan Marko.


"Biasakan ucap salam, nggak pernah diajarain apa?" ,cicit Marko dengan nada dingin.


"Maaf, lupa, makan siang yuk Mas," kembali Sinta berkata sambil mendekat pada lelaki yang sudah memasang tampang masam.


"Ada perlu apa datang kesini?" ,dengan masih bersikap cuek dan dingin Marko menanggapi kedatangan dokter cantik yang duduk di hadapannya.


"Kan tadi udah ngomong, mau ngajak makan siang," nada manja terdengar jelas dari suara Sinta.

__ADS_1


"Maaf, insyaallah aku puasa." alasan paling tepat untuk menolak ajakan wanita yang selalu melakukan perawatan kecantikan dari ujung kepala sampai kaki.


"Serius Mas? ini hari apa kok puasa?" ,Sinta merasa jika Marko membohongi dirinya.


"Makanya kalau TPA tu dengerin ustadznya, jangan ngoceh sendiri, well sudah dua bulan terakhir aku melakukan puasa Daud, dan hari ini aku sedang menjalankannya," panjang lebar Marko memberi penjelasan.


"Terus kapan ada waktu untuk kita berdua?" ,Sinta terkesan merajuk.


"Sorry, I don't have time unnecessary things, sebentar lagi aku juga ada metting, jadi maaf aku harus keluar," usir halus Marko pada Sinta.


"Ck, ya udah, aku pulang." Sinta meninggalkan ruangan Marko dengan rasa dongkol yang menggunung.


Nyebelin banget sih, untung cinta, kalo nggak udah aku dukunin, Sinta menggerutu dalam hati.


Sepeninggal Sinta kembali Marko merasa gelisah, kemana kamu Mar? kenapa menghilang begitu saja? apa yang terjadi? resah dalam hatinya saat mengetahui wanita yang di sayangi menghilang begitu saja.


Berwudhu lalu bersujud di atas sajadahnya, hanya itu yang bisa dilakukannya, berkeluh pada sang Khaliq, menceritakan segala gundah gulananya, meminta petunjuk kemana harus mencari Marwah beserta anak-anaknya, memohon dipertemukan lagi dengan kekasih hatinya.


Buliran bening membasahi kedua pipinya, menyadari begitu egois dirinya saat banyak meninta pada Rabb-nya, sedangkan dirinya selalu melakukan kekhilafan, melakukan dosa bahkan kemaksiatan, sungguh diri merasa tidak tahu berterimakasih.


Selepas bercengkerama dengan sang empunya kehidupan, Marko meninggalkan gedung berlantai 4, bangunan yang didirikan dari hasil jerih payahnya hampir 10 tahun terakhir berdiri kokoh di pinggiran kota Jakarta, sengaja dipilih lokasi yang jauh dari keramaian kota.


Fortuner All Nu keluaran terbaru beranjar dari parkiran, membawa si empunya menyusuri jalan menuju perkampungan di mana wanita yang sangay dirindukan seharusnya berada.


Mobil berwarna hitam mengkilap itu diparkirkan di ujung gang, pemiliknya berjalan menuju rumah kontrakan yang sedang di renovasi, memperhatikan segala aktifitas para pekerja bangunan, semakin lama pandangannya mengabur.


Air mata tak bisa ditahan, sesak didadanya menahan rindu yang mendera, rasa kehilangan lebih mendominasi, luka yang terbuka lagi karena sikap abainya, haruskah akan berakhir seperti ini, terpuruk dalam kesepian, bergelung dengan rasa kehilangan, sungguh bodoh kamu Marko teriaknya dalam hati, masih dengan wajah sembabnya.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿


Haruskah Marko kecewa lagi? tunggu kelanjutannya ya


__ADS_2